"Aku yang menciptakan penderitaanmu... maka aku juga yang akan jadi takdir bahagiamu."
Lili tidak pernah menyangka akan bertransmigrasi ke dalam novel buatannya sendiri—menjadi Lilian, seorang pelayan biasa. Mengerikannya, ia datang saat Damian, sang tokoh utama pria, berada di titik terendah.
Dibuang keluarga, posisinya dijarah, dan tunangannya direbut anak angkat yang licik.
Tahu betul penderitaan ciptaannya, Lilian pasang badan. Berbekal 'pengetahuan masa depan', ia membongkar kejahatan anak angkat itu dan menuntun Damian merebut kembali segalanya.
Namun, saat dendam terbalaskan dan Lilian berniat pergi, Damian justru menguncinya erat.
"Kamu yang mengajarkanku cara bangkit, Lilian. Jangan harap bisa pergi setelah merebut hatiku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.28
Langkah kaki mereka membawa Damian dan Lilian menuju ruang makan yang tertata rapi. Di sana, Arthur dan Eleanor sudah duduk menantikan kehadiran mereka. Di sebelah Eleanor, tampak Kara—gadis remaja itu—duduk di kursi roda khusus dengan senyum merekah indah di wajah cantiknya yang mulai kembali berseri.
"Kak Damian! Kak Lilian!" panggil Kara dengan suara yang berbinar lega saat melihat kedatangan mereka. Wajah cantiknya yang kini berusia dua puluh tahun itu tampak jauh lebih segar di atas kursi roda.
"Kara!" Lilian mendahului langkah Damian, berjalan cepat mendekati Kara lalu memeluknya dengan penuh kehangatan. "Kangen banget sama kamu... Gimana kabarnya hari ini?"
"Kangen Kak Lilian juga..." balas Kara sambil tersenyum manis, membalas peluk Lilian. "Kara udah mulai bisa jalan sedikit loh, Kak. Tadi pagi pas sesi terapi udah bisa melangkah beberapa kali."
Eleanor yang duduk di sampingnya mengusap air mata haru melihat putri cantiknya yang sempat kehilangan masa-masa awal kuliahnya akibat koma kini perlahan mulai bangkit kembali.
Arthur berdiri dari kursinya, menatap Damian dengan raut canggung namun sarat akan rasa bersalah dan terima kasih. "Damian... Lilian... Terima kasih sudah mau datang. Mari duduk, kita sarapan bersama."
Damian mengangguk pelan. Meski hubungan mereka belum sepenuhnya pulih seperti keluarga normal, atmosfer di ruang makan itu terasa begitu hangat dan penuh kedamaian. Damian membantu Lilian duduk di sampingnya, sementara Eleanor tak berhenti mengambilkan lauk untuk anak kandung dan calon menantunya itu.
Di tengah kehangatan obrolan keluarga, Lilian teringat obat penyembuh yang diberikan oleh Sistem tadi di mobil.
"Tante... Maksudku, Mommy," panggil Lilian sopan pada Eleanor, membuat wanita paruh baya itu tersenyum tersanjung. "Aku ada bawa suplemen khusus buat bantu proses terapi pemulihan saraf Kara. Ini racikan herbal khusus dari kenalan pengobatanku, aman banget dan bisa dicampur ke minuman Kara tiap pagi."
Lilian mengeluarkan botol kecil berisikan cairan bening itu dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Eleanor.
"Ya ampun, Lilian... Kamu selalu perhatian banget sama keluarga kami," ucap Eleanor terharu, menerima botol itu dengan kedua tangan gemetar. "Terima kasih banyak, Nak."
Damian yang duduk di samping Lilian menatap kekasihnya itu dengan binar mata penuh kebanggaan dan cinta. Ia menggegam tangan Lilian di bawah meja, mengusap punggung tangannya lembut.
Namun, kehangatan momen keluarga itu mendadak terganggu ketika ponsel Damian di atas meja bergetar nyaring. Nama Clara tertera jelas di layar.
"Angkat aja," ucap Lilian lembut.
"Iya," balas Damian seraya menjauh menuju taman belakang.
Di meja makan, Lilian berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, padahal jantungnya sudah berdegup kencang karena rasa curiga yang menyergap.
Tak lama kemudian, Damian kembali. "Mom, Dad... Aku tidak bisa lama-lama. Ada pekerjaan penting yang harus segera aku selesaikan," ujar Damian.
"Pekerjaan apa?" sambar Lilian cepat.
"Proyek ada masalah di lapangan, mungkin aku pulang malam," balas Damian. Setelah berpamitan pada orang tua dan adiknya, Damian bergegas pergi meninggalkan rumah.
"Kamu nginap di sini ya, Li? Kasihan Kara tidak ada temannya," ujar Eleanor memecah keheningan.
"Iya, Mom," balas Lilian seraya mengulas senyum manis. Mereka pun melanjutkan sarapan, sementara Arthur menyusul pamit untuk berangkat bekerja.
*
*
Selesai sarapan, Lilian memutuskan untuk berjalan-jalan sendirian di taman belakang. Ia teringat dulu area ini tampak kosong dan gersang. Namun kini, taman itu terlihat begitu hidup dan berwarna berkat deretan bunga cantik yang ditanam oleh Maya.
"Host," panggil si peri mini yang mendadak muncul melayang di dekatnya.
"Ada apa, Sistem?" tanya Lilian. Antusiasme dalam dirinya tak lagi menggebu-gebu seperti pertama kali ia terlempar ke dalam dunia novel ciptaannya sendiri.
"Portal menuju dunia nyata sudah terbuka, Host. Apakah Anda benar-benar yakin ingin kembali?" tanya si peri mini ragu.
"Iya dong. Uangku di sini sudah banyak, kan? Eh, tapi... transferan dari Damian masuk ke rekening utama tidak?" tanya Lilian memastikan.
"Host ini benar-benar tidak mau rugi ya," terkekeh si peri mini menggeleng-gelengkan kepala.
"Serius, ini demi masa depan yang cerah!"
"Lihat saja nanti, Host," kekeh peri mini lagi, membuat bibir Lilian makin cemberut.
Lilian menghela napas pelan. "Berapa hari lagi aku punya waktu sebelum benar-benar pergi, Sistem?"
"Satu bulan lagi. Tepat di hari perayaan ulang tahun pacaran kalian yang ketiga," jawab si peri mini.
Lilian terdiam, lalu mengangguk pelan. Satu bulan... waktu yang terhitung sangat singkat untuk sebuah perpisahan.
Lilian menghembuskan napas panjang. Tatapannya tertuju pada kelopak bunga mawar yang bermekaran indah di hadapannya. Satu bulan. Waktu yang terasa begitu singkat, namun di saat yang sama terasa seperti hitungan mundur menuju kehancuran hatinya sendiri.
"Kenapa harus pas anniversary, sih?" gumam Lilian pelan, menertawakan takdirnya sendiri. "Sistem, kamu sengaja bikin ending cerita ini makin dramatis, ya?"
"Sistem hanya menjalankan protokol waktu yang sudah terprogram sejak awal Host memasuki dunia ini," sahut si peri mini dengan nada yang mendadak lebih lembut dari biasanya. "Ingat tujuan awal Host, bukan? Pulang ke dunia nyata dan menikmati kekayaan yang sudah Host kumpulkan."
Lilian tersenyum tipis, tapi senyum itu tak sampai ke matanya. Dulu, gagasan untuk pulang ke keluarga Laurent di dunia nyata sambil membawa bergelimang uang adalah satu-satunya hal yang membuatnya bertahan. Tapi sekarang? Kenapa rasanya ada beban seberat batu yang menghimpit dadanya setiap kali membayangkan harus meninggalkan Damian?
"Damian... pria itu bahkan sekarang mulai menutup-nutupi sesuatu."
Lilian menggelengkan kepala cepat, berusaha mengusir pikiran buruk. Ia memutuskan untuk kembali ke dalam rumah dan menghabiskan waktu bersama Kara serta Eleanor agar kepalanya tidak makin pecah memikirkan kebohongan Damian dan hitungan mundur sistem.
Hari berganti malam dengan sangat lambat.
Lilian duduk di tepi tempat tidur di kamar Damian, memperhatikan jarum jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Pintu kamar belum juga terbuka.
Kara sudah tertidur lelap di kamarnya sejak dua jam yang lalu setelah mereka menonton film bersama. Namun Lilian sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali matanya terpejam, bayangan wajah Damian dan ucapan peri mini terus berputar di kepalanya.
Cklek.
Suara engsel pintu kamar berbunyi pelan. Lilian langsung menegakkan posisi duduknya saat melihat sosok tinggi Damian melangkah masuk.
Pria itu tampak sangat lelah. Jas hitamnya sudah dilepas dan disampirkan di lengan, dasinya dilonggarkan, dan kancing teratas kemejanya terbuka. Namun yang membuat dada Lilian berdenyut nyeri bukan raut lelah di wajah Damian—melainkan aroma asing yang samar-samar tercium saat Damian berjalan mendekatinya.
Bersambung ...
buat apa bertahan demi laki² yang tidak mau menikahi'mu
balik wwooii... balikk...
wow....
kejutan....
ada apa ini Li...
Emak Bapak'mu gak nyariin Kamu Li
tarik nafas lewat mulut...
buang lwt bawah...
bbrrooootttt🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
tapi Kamu jadi kaya raya Li
mengganggu aja
dia kau Gagav
kita double date sm mereka
🤣🤣