"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."
Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.
"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."
Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.
Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Festival Purnama Kadasa
Sembilan ekor gajah berbaris di alun-alun utara sejak subuh, dan belalai mereka dihiasi untaian melati yang lebih panjang dari tubuh manusia.
Dua di antaranya bukan gajah Kagendra. Kulit mereka lebih pucat, gading mereka dibalut lempeng perak berukir, dan pelana di punggung mereka berwarna nila tua. Hadiah dari Medang Utara. Utusan kerajaan itu, seorang lelaki tinggi berjanggut tipis dengan sorban kuning, sudah duduk di panggung tamu sejak matahari terbit. Ia tersenyum kepada setiap orang yang lewat.
Dyah Ayu memperhatikannya dari kejauhan. Senyum yang sama dengan surat yang sangat sopan.
Alun-alun itu sudah berubah menjadi kota kecil dalam semalam. Umbul-umbul janur kuning berderet sepanjang jalan dari Gerbang Wijaya ke Balai Agung, bergoyang di angin pagi. Di bawahnya, para pedagang menggelar tikar. Penjual sate kambing mengipas bara; asapnya menguar, bercampur dengan bau gula aren yang dimasak dalam kuali besar. Seorang saudagar Tiongkok menjajakan kain sutra merah di atas gerobak. Anak-anak berlarian di antara kaki kuda.
Di tengah alun-alun, sebuah pendapa terbuka berdiri di atas umpak batu. Lantainya papan jati baru yang dipelitur sampai memantulkan langit. Di keempat sudutnya, tungku dupa sebesar gentong sudah menyala.
Panggung untuk Tarian Persembahan Sanghyang.
***
Brahmana Agung mengumumkannya di Balai Agung pagi itu, di hadapan Dewan dan para tamu mancanegara.
Lelaki tua itu berjubah putih, kepalanya gundul, dan suaranya bergetar seperti dawai yang terlalu kencang. Ia membaca dari sebuah lontar kuno yang dibawa dari candi leluhur, lontar yang ujung-ujungnya sudah menghitam dimakan usia.
"Penari utama Persembahan Sanghyang pada Purnama Kadasa adalah perempuan yang memegang Pusaka Rudira. Ia yang membawa darah leluhur di lehernya, ia pula yang membawa sembah leluhur di kakinya."
Ia menurunkan lontar itu. Matanya, yang setengah tertutup katarak, mencari-cari di barisan perempuan Keputren di balik tirai emas.
"Menurut adat sejak Prabu pertama," lanjutnya, "pusaka itu dikenakan oleh Permaisuri. Tetapi hamba mendengar, tahun ini, pusaka itu telah berpindah leher."
Bisik-bisik menjalar di antara para menteri. Utusan Medang Utara memiringkan kepala ke arah penerjemahnya.
Di barisan depan Dewan, Rakryan Wiradipa duduk dengan tangan tersembunyi di dalam lengan bajunya yang lebar. Wajahnya tenang. Janggut putihnya tersisir rapi. Dua minggu lalu ia kehilangan menantunya di lantai ini, dan sekutunya Rakryan Jayaprana duduk di seberang ruangan.
Tetapi ia masih duduk di barisan depan. Dan ia masih memegang satu hal yang tidak bisa direbut Raja: adat.
Dari balik tirai emas, Dyah Ayu menyentuh batu Tirta Rudira di lehernya. Batu itu terasa berat pagi ini.
Ia mengerti sekarang. Pusaka yang diberikan Raja untuk menunjukkan siapa miliknya, kini dibalik menjadi tali gantungan.
***
Ia melihat rahang Hayam Vira mengeras di atas dampar kencana.
Raja itu bisa menolak. Ia Raja. Tetapi di depan utusan Medang Utara, di depan para adipati pesisir dan pedagang Cina dan brahmana dari seluruh negeri, Raja yang menolak adat leluhurnya sendiri akan terlihat seperti Raja yang takut pada leluhurnya.
Dan Raja yang takut tidak bisa mengancam siapa pun di seberang Kali Lusi.
Hayam Vira membuka mulutnya.
Dyah Ayu melangkah keluar dari balik tirai sebelum ia sempat bicara.
Seluruh Balai Agung menahan napas. Tidak ada perempuan Keputren yang boleh keluar dari balik tirai selama sidang. Ia berjalan tiga langkah ke depan, lalu berlutut di atas batu andesit, dan menyembah ke arah Brahmana Agung. Bukan ke arah dampar.
"Hamba menerima kehormatan ini dengan seluruh jiwa hamba," ucapnya. Jelas. Cukup keras untuk didengar utusan Medang Utara tanpa penerjemah. "Semoga leluhur Kagendra menerima sembah dari tanah taklukannya."
Ia mengangkat wajahnya. Di atas dampar kencana, mata Hayam Vira menatapnya. Gelap, tajam, dan untuk sesaat, sesuatu di dalamnya tampak hampir marah.
Lalu Raja itu bersandar kembali di singgasananya.
Di barisan menteri, Rakryan Wiradipa menunduk sedikit. Hanya sedikit. Cukup bagi Dyah Ayu untuk melihat sudut bibirnya bergerak di balik janggut putih.
***
"Sembilan sembah," ucap Nyi Sumirah. "Satu untuk setiap arah mata angin, satu untuk langit, satu untuk bumi. Dan tidak ada satu pun yang boleh terlambat dari pukulan gong."
Perempuan itu sudah berusia lebih dari tujuh puluh tahun. Tubuhnya kecil dan bungkuk, tetapi ketika ia mengangkat tangannya untuk menunjukkan gerakan sembah pertama, jari-jarinya melengkung dengan keluwesan yang membuat Dyah Ayu menahan napas.
Ki Bongkok membawanya ke Srigading melalui lorong pelayan, setelah tengah hari. Dua puluh tahun lalu, Nyi Sumirah adalah penari utama mendiang Ratu Kusumawardhani. Ketika Ratu wafat, ia diusir dari Keputren bersama semua abdi Ratu yang lain. Ia kini menjual kembang di pasar Pandean.
"Sampur tidak boleh menyentuh lantai," lanjutnya, memperagakan kibasan selendang tari dengan seutas kain bekas. "Bukan sekali pun. Sampur adalah napas leluhur. Kalau napas itu menyentuh tanah, artinya leluhur sudah mati di tanganmu."
"Dan kalau sampur itu menyentuh lantai?"
Nyi Sumirah menatapnya. Matanya keruh, tetapi tidak berkedip.
"Tiga puluh dua tahun lalu, seorang selir dari Pajang tersandung di sembah ketujuh. Sampurnya jatuh. Gong berhenti." Ia meletakkan kain bekas itu di pangkuannya. "Ia dicambuk di alun-alun keesokan harinya. Empat puluh kali. Ia tidak bangun dari cambuk keempat puluh."
***
Dyah Ayu menghafal sembilan sembah itu sampai matahari tergelincir.
Telapak kakinya lecet. Betisnya kejang dua kali. Pada pengulangan kesebelas, Nyi Sumirah mengangguk sekali, lalu meludahkan sirihnya ke luar jendela tanpa berkata apa-apa.
Lalu Dyah Ayu mulai memetakan.
Lantai. Ia mengirim Ki Bongkok ke alun-alun untuk memeriksa papan pendapa. Lelaki tua itu kembali dengan kabar bahwa seorang abdi sudah mengepel lantai pendapa dua kali pagi tadi dengan air rendaman lerak. Dyah Ayu memintanya kembali dan menabur abu sekam tipis di bawah tikar pandan tempat ia akan menari. Abu sekam menyerap minyak.
Gamelan. Satu pukulan kendang yang terlalu cepat bisa membuat sembah ketujuh terlambat. Ia mengirim pesan kepada Lurah Lembu Peteng melalui penjaga di Srigading. Sebelum senja, seorang prajurit Sayap Dalam berdiri di belakang pengendang, dengan tangan di gagang pedang, sepanjang malam.
Sampur. Sampur yang dikirim dari Keputren berwarna kuning gading, berhias sulaman benang emas di ujungnya. Ia memeriksa setiap jahitan, setiap simpul. Lalu ia meminta Mbok Darmi menjahit sampur kedua yang sama persis dari kain sutra yang dikirim Raja. Ia akan memakai sampur itu di balik kainnya, di sekeliling pinggang, sebagai cadangan.
Busana. Busana tarian Sanghyang adalah pusaka Keputren, disimpan di gedung pusaka dan hanya dikeluarkan sekali setahun. Kain dodot hijau tua bermotif alas-alasan, kemben beludru dengan prada emas, ikat pinggang berlapis perak. Ia tidak bisa menolak memakainya. Menolak busana pusaka sama dengan menolak tarian itu sendiri.
Busana itu tiba di kamar rias pendapa sore hari, dibawa oleh empat dayang dalam peti kayu cendana bersegel. Dyah Ayu membukanya sendiri. Ia membentangkan kain dodot itu di atas tikar, memeriksa setiap lipatannya di bawah cahaya jendela. Ia mengendus kemben beludru itu. Wangi kemenyan dan kapur barus. Tidak ada yang lain.
Bersih.
Terlalu bersih, pikirnya. Untuk perangkap yang dirancang dengan begitu teliti, semua yang bisa ia periksa terlalu bersih.
Ia menyimpan pikiran itu di belakang kepalanya. Seperti batu kerikil di dalam sepatu.
***
Malam purnama naik bulat dan pucat di atas alun-alun.
Kamar rias berada di bangunan kecil di belakang pendapa, dipisahkan oleh selasar beratap ijuk. Ruangannya sempit dan pengap. Empat tungku dupa menyala di setiap sudut, asapnya mengambang tebal di bawah atap sampai mata terasa perih. Sebuah cermin perunggu setinggi tubuh berdiri di dinding timur, buram di tepi-tepinya.
Perias adat Keputren sudah menunggu. Perempuan setengah baya bernama Nyai Endang, dengan dua pembantu muda yang membawa kotak-kotak bedak dan pewarna. Ia ditunjuk oleh Dewan Brahmana, bukan oleh Permaisuri, dan ia sudah merias penari Sanghyang selama lima belas tahun.
Di luar, gamelan mulai ditabuh. Gending pembuka, pelan dan dalam, mengalun dari pendapa. Gong besar berbunyi sekali. Masih ada dua gending lagi sebelum tarian dimulai.
"Gusti Selir harus disucikan dulu dengan tirta dari candi," ucap Nyai Endang, menunjuk ke bilik kecil di balik tirai bambu di ujung ruangan. "Lepas semua kain. Basuh dari ubun-ubun sampai telapak kaki. Lalu kami akan memasang paes."
Dyah Ayu menatap busana tarian yang sudah dibentangkan di atas rak kayu. Dodot hijau tua. Kemben beludru. Ikat pinggang perak.
Ia melepaskan kainnya, menyerahkannya kepada salah satu pembantu, dan melangkah ke balik tirai bambu.
Air tirta itu dingin dan berbau bunga kenanga. Ia menuangkannya dari ubun-ubun dengan gayung batok, membiarkannya mengalir di sepanjang tubuhnya. Ia menghitung sembilan sembah di dalam kepalanya. Satu untuk timur. Satu untuk tenggara.
Di balik tirai bambu, kamar rias itu penuh asap dan suara gamelan.
Nyai Endang sedang membelakangi rak busana, membuka kotak pewarna di dekat cermin. Pembantu pertamanya sedang melipat kain Dyah Ayu dan menyimpannya di peti.
Pembantu kedua, gadis muda bertubuh kurus dengan kemben cokelat polos, berdiri sendirian di samping rak.
Ia menoleh ke tirai bambu. Ke cermin. Ke pembantu pertama yang membungkuk di atas peti.
Lalu, dengan gerakan secepat mencabut sehelai rambut, ia mengeluarkan bumbung bambu kecil dari balik setagennya. Ibu jarinya menekan sumbat sabut kelapa. Dengan ujung bulu ayam yang tersembunyi di dalam bumbung, ia mengoleskan cairan bening yang sedikit berkilat ke bagian dalam kemben beludru. Tepat di lapisan yang akan menempel di dada dan punggung. Lalu ke lipatan dalam kain dodot, di bagian yang akan melilit pinggang dan pinggul.
Cairannya tidak berbau. Tidak berwarna. Hanya meninggalkan kilap tipis yang langsung meresap ke serat kain dan menghilang.
Getah rengas. Diambil dari kulit pohon di hutan rawa pesisir. Tidak ada yang terjadi selama kulit tetap kering dan sejuk.
Tetapi begitu tubuh mulai berkeringat, begitu panas tarian merambat ke kulit, getah itu akan bangun.
Gadis itu menyumbat bumbungnya, menyelipkannya kembali ke setagen, dan mulai merapikan lipatan kain dodot dengan kedua tangannya. Tangannya tidak gemetar sedikit pun.
Di balik tirai bambu, air tirta berhenti mengalir.
Gong besar berbunyi untuk kedua kalinya.
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..