Cerita ini menceritakan seorang gadis yang mengalami peristiwa yang sangat tragis, karena kecelakaan yang dialami nya, dia harus duduk di kursi roda sebagai penyangga hidupnya, entah lelaki mana yang masih mau menerima nya sekarang, dokter mengatakan semuanya sementara, namun ini sudah hampir lima tahun da dirinya masih duduk di kursi roda. Entahlah, hidupnya mungkin akan berakhir seperti itu selamanya, namun di saat detik detik terakhir dalam hal terpuruk nya. Dia datang, seolah membawa harapan yang selama ini dia inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MegaHerdian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8.
Dengan penuh percaya diri, Layla maju ke depan dekat layar presentasi.
“Desain universal bukan sekadar menambah fitur aksesibilitas di akhir proyek” tegas Layla yakin, matanya berbinar penuh semangat saat memulai.
“Kita harus membangun nya dari fondasi awal, aplikasi ini harus ramah untuk lansia yang penglihatannya mulai kabur, mudah di pahami oleh penyandang disabilitas intelektual dan responsif bagi pengguna tunanetra “
Bimo langsung mendukung dengan memberikan masukan teknis berdasarkan pengalaman nya. Rekan tim yang lain bukannya merasa terbebani, mereka justru mencatat setiap poin dengan mata yang ikut berbinar. Atmosfer ruangan penuh dengan energi positif dan kolaborasi yang meledak ledak. Mereka tidak lagi bekerja secara individual, melainkan bergerak sebagai satu kesatuan yang inklusif.
Setiap hari di kantor menjadi petualangan yang dinamis bagi Layla. Tidak ada hari tanpa diskusi yang seru, tawa di ruang istirahat dan kerja keras yang memuaskan. Layla sadar, ia tidak hanya menemukan tempat untuk bekerja dan mencari nafkah, tetapi Layla telah menemukan sebuah rumah tempat karyanya di hargai dan semangat nya bisa berdampak nyata bagi dunia.
—-
Memasuki minggu ke tiga, energi tinggi di dalam tim Layla mendadak membentur dinding tebal. Tantangan besar itu datang saat fase pengujian purwarupa saat aplikasi di mulai.
Ketika Layla dan Bimo menguji sistem navigasi suara untuk pengguna tunanetra, kode pemrograman yang di buat oleh tim developer ternyata mengalami tabrakan sistem. Kontras warna antarmuka yang di rancang untuk membantu pengguna dengan gangguan penglihatan, juga ditolak oleh pihak manajemen pemasaran karena di anggap terlalu kaku dan kurang estetik untuk pasar komersial.
Suasana ruang rapat yang biasanya ceria berubah menjadi tegang. Waktu peluncuran tinggal dua minggu lagi.
“Jika kita mengikuti standar estetika pasar, kita akan mengorbankan aksesibilitas untuk ribuan pengguna disabilitas “ kata Layla.
Walaupun suara bergetar namun dia tetap tegas, Layla tidak ingin prinsip desain universal yang mereka perjuangkan runtuh begitu saja.
Bimo menepuk pundak Layla, memeberinya ketenangan “Tenang Layla, tantangan ini bukan berarti kita harus menyerah pada salah satu pihak. Ini adalah seni dari desain universal, menemukan titik temu di mana keindahan visual dan fungsi aksesibilitas berjalan dengan beriringan”.
Mendengar hal itu, seluruh anggota tim kembali membakar semangat mereka. Mereka menolak untuk pesimis. Malam itu, ruang kerja mereka berubah menjadi medan perang kreativitas yang penuh semangat.
Ada Rian sang desainer grafis yang non disabilitas, duduk berdampingan dengan Layla untuk merombak palet warna. Mereka bereksperimen dengan saturasi baru yang tetap memenuhi standar aksesibilitas internasional, namun terlihat sangat modern dan elegan.
Ada juga Siti, bagian pemrograman, bekerja ekstra keras bersama Bimo untuk menyusun ulang arsitektur kode agar pembaca layar bisa berjalan mulus tanpa memperlambat performa aplikasi.
Keramahan dan semangat tim itu kini menjelma menjadi solidaritas tanpa batas. Tidak ada yang saling menyalahkan saat ada yang mulai lelah, rekan yang lain dengan sigap menyeduhkan kopi atau melontarkan lelucon untuk mencairkan suasana.
Setelah tiga hari berturut turut memeras otak dan bekerja lembur, keajaiban itu akhirnya terjadi, Layla mencoba kembali purwarupa terbaru menggunakan penutup mata. Jarinya bergerak di atas layar dan suara asisten digital merespons dengan sangat mulus, tanpa leg sedikit pun. Di saat yang sama, tampilan visual aplikasi tersebut terlihat sangat memukau bahkan jauh lebih keren dari konsep awal mereka.
“Kita berhasil!” Seru Rian sambil bersorak.
Seluruh ruangan langsung riuh oleh tepuk tangan dan pelukan hangat.
Layla menyeka sudut matanya yang sedikit basah karena rasa haru. Tantangan ini tidak mematahkan mereka, justru membuktikan bahwa ketika sebuah tim yang inklusif menyatukan hati dan pikiran, tidak ada batasan yang bisa mereka dobrak bersama.
Hari presentasi final berjalan dengan sukses besar. Jajaran direksi tidak hanya terpukau oleh visual aplikasi yang modern, tetapi juga terharu saat melihat bagaimana sistem tersebut bekerja dengan sangat inklusif bagi semua orang.
Untuk merayakan pencapaian luar biasa ini, Manajer tim mengejutkan mereka dengan memesan tempat untuk makan malam perayaan di sebuah restoran ramah aksesibilitas yang sangat estetik.
Malam itu, suasana restoran di penuhi oleh gelak tawa dan obrolan hangat dari tim Layla. Tempat yang dipilih memiliki lantai datar tanpa undakan tinggi dan koridor yang luas, membuat Bimo dan Layla bisa menavigasi kursi rodanya dengan sangat leluasa.
Pelayanan restoran yang sangat ramah juga membuat semua orang merasa di hargai dan nyaman.
Di tengah ruangan, sebuah meja panjang telah di penuhi oleh berbagai hidangan lezat yang mengepul hangat. Sesaat setelah semua minuman di tuangkan, sang manajer berdiri sambil mengangkat gelas nya.
“Untuk tim paling tangguh dan inklusif yang pernah saya miliki!” Seru sang manajer dengan mata berbinar bangga.
“Kalian telah membuktikan bahwa keterbatasan adalah ruang inovasi, dan kerja sama kita adalah kuncinya. Cheerss untuk keberhasilan kita!”
“Cheers!” Sahut seluruh anggota tim serentak, diiringi dentingan gelas yang beradu di udara.
Acara makan malam itu berlangsung dengan sangat menyenangkan dan penuh keakraban. Tidak ada lagi sekat antara atasan dan bawahan, maupun antara disabilitas dan non disabilitas.
Ada Rian sang jenaka yang memperagakan kembali ekspresinya saat panik menghadapi deadline, yang langsung memicu tawa renyah dari seluruh meja.
Sedangkan Siti sibuk merekam vidio keseruan mereka untuk kenang-kenangan kesuksesan tim mereka.
Sedangkan Bimo dan Layla duduk berdampingan menikmati hidangan penutup sambil tersenyum lebar melihat betapa solidnya tim mereka.
Di sela-sela tawa, Rian tiba-tiba memberikan sebuah kotak kecil kepada Layla dan Bimo. Ternyata, tim non disabilitas secara diam-diam telah menyiapkan pin emas custom berbentuk liga aplikasi mereka sebagai simbol penghargaan atas kegigihan mereka berdua mempertahankan prinsip desain universal.
“Terimakasih semuanya..” ucap Layla, matanya berkaca-kaca karena haru sekaligus bahagia.
“Aku tidak pernah membayangkan akan menemukan lingkungan kerja yang sehangat dan sekeren ini” tambahnya lagi.
Malam itu mereka sangat bergembira, berfoto bernyanyi dan bermain game sebagai cara melepas penat setelah beberapa hari ini mereka terus lembur yang di mana mereka tidak sempat menikmati hidup dalam beberapa hari terakhir ini.
Layla merasa senang karena kepuasan nya membawa hasil yang begitu memuaskan dan mendatangkan hasil dari kerja kerasnya yang nyata, perlahan beberapa hal buruk yang pernah terjadi pada hidupnya perlahan pupus walaupun tidak benar-benar menghilang, setidaknya ini adalah kehidupan yang menyenangkan dan menenangkan tentunya.
Beribu syukur Layla ucapkan setiap harinya.
Tidak ada yang lebih baik dari ini sebelum nya.
Namun terkadang ada hal yang berada di luar batas ketidaktahuan Layla, semuanya begitu mulus dan rapi seperti yang Layla inginkan hanya saja hal itu membawa beberapa celah yang telah lama Layla tutup dan mulai terbuka lagi.