NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sugar daddy
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: A.J Lim

​"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
​Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
​Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Badai di Taman Kampus

Pagi itu, pelataran kampus tempat Luna, Rania, dan Kenan menimba ilmu tampak ramai. Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang sedang menjalani program magang di Janitra Group, kedatangan mereka hari ini khusus untuk melakukan bimbingan laporan bersama dosen pembimbing. Tak terasa, masa magang mereka tinggal satu bulan lagi.

Di sepanjang koridor menuju gedung fakultas, Kenan berjalan bersisian dengan Rania. Perubahan sikap pemuda itu sangat kentara. Tanpa ragu, Kenan membawakan map berkas tebal milik Rania, sesekali menyibak helai rambut gadis itu yang tertiup angin dengan tatapan teramat lembut.

Beberapa teman seangkatan Kenan yang nongkrong di depan sekretariat himpunan sampai melotot heran.

"Bentar, bentar... itu si Kenan seriusan sama Rania?" bisik Budi pada temannya. "Bukannya dari awal semester dia gila-gilaan ngejar si Aluna? Kok mendadak belok ke sahabatnya sendiri?"

"Dengki aja lu," celetuk temannya seraya tertawa. "Tapi jujur, mereka keliatan pas banget sih. Kenan makin kelihatan dewasa."

Selesai urusan bimbingan yang berjalan lancar, Luna dan Rania memutuskan untuk bersantai di bawah rindangnya pohon taman belakang kampus sambil menikmati es teh manis. Sementara itu, Kenan pamit sebentar ke ruang jurusan untuk menemui ketua Hima.

Luna menyandarkan punggungnya di bangku taman, mendesah panjang. "Duh, Ran... baru semalam pindah ke rumah sendiri, rasanya hampa banget. Gue kangen banget tinggal di penthouse-nya Om Marko."

Rania terkekeh, menyenggol lengan Luna. "Bucin banget sih lu! Padahal tiap hari juga ketemu di kantor. Nikmati aja dulu momen kangennya, biar pas ketemu makin manis."

"Tapi beda, Ran! Biasanya pagi-pagi gue bisa liat dia pake piyama sambil seduh kopi... sekarang cuma bisa liat dari layar HP," omel Luna mengerucutkan bibirnya gemas.

Namun, momen obrolan santai itu mendadak hancur seketika.

Brak!

Sebuah tas mahal dihantamkan kasar ke atas meja kayu taman. Celina—mahasiswi dari jurusan manajemen yang terkenal sangat menyukai Kenan—berdiri di depan mereka dengan raut wajah memerah padam. Di belakangnya, tiga orang temannya ikut berdiri bersedekap dada dengan tatapan permusuhan.

"Wah, hebat ya lu, Rania!" seru Celina lantang, menarik perhatian beberapa mahasiswa di sekitar taman. "Dasar cewek gak tahu diri! Pura-pura polos, tapi ternyata tukang tikung!"

Rania tersentak kaget, berdiri dari duduknya. "Maksud lu apa ya, Cel?"

"Gak usah sok suci lu!" bentak Celina menunjuk muka Rania dengan telunjuknya. "Lu sengaja kan manfaatin momen pas Kenan patah hati sama Aluna buat gatelin dia?! Lu murahan banget ya, nyamber cowok yang jelas-jelas incaran orang lain!"

Mendengar kata 'murahan' dan 'gatel', darah Luna seketika mendidih. Bukan Luna namanya jika membiarkan sahabat dekatnya ditindas begitu saja di depan umum.

Luna langsung berdiri tegak, pasang badan di depan Rania seraya menepis kasar tangan Celina.

"Jaga mulut lu ya, Celina!" gertak Luna menatap mata Celina tajam. "Siapa yang lu bilang tukang tikung?! Kenan itu punya hak mau dekat sama siapa aja! Lu siapa emangnya? Pacarnya juga bukan, sok-sokan ngerasa kepemilikan!"

Celina menggeram kesal. "Lu gak usah ikut campur ya, Luna! Ini urusan gue sama cewek benalu di belakang lu itu!"

"Urusan Rania itu urusan gue juga!" potong Luna emosi, maju satu langkah memotong jarak. "Lu yang gak tahu malu! Udah kalah saing, malah ngelabrak orang sembarangan. Mending lu bawa geng ulat bulu lu ini pergi dari sini sebelum gue bikin malu sekalian!"

"Kurang ajar lu ya!"

Tanpa diduga, Celina melayangkan tangannya hendak menampar Luna. Namun dengan refleks cepat, Luna menangkis cengkeraman tangan Celina, lalu mendorong tubuh gadis itu hingga terhuyung ke belakang. Teman-teman Celina yang tak terima langsung maju hendak mengeroyok Luna dan Rania.

Keributan hebat pun tak terelakkan di tengah taman kampus!

Satu jam kemudian.

Atmosfer di dalam ruang Dekan Fakultas Ekonomi terasa begitu tegang dan mencekik. Sang Dekan duduk di balik meja kerjanya dengan raut wajah sangat keruh, menatap lima mahasiswi yang berdiri berjejer di depannya.

Kenan yang baru saja mendengar kabar perkelahian itu berlari serabutan memasuki koridor rektorat bersama beberapa teman prianya. Pintu ruang dekan terbuka, memunculkan Luna, Rania, Celina, dan gengnya yang baru selesai disidang.

Mata Kenan dan teman-temannya seketika membelalak sempurna saat melihat kondisi mereka.

Celina tampak begitu mengenaskan. Rambut hair extension-nya acak-acakan tak beraturan, riasan wajahnya luntur, dan baju mewahnya kusut dengan beberapa kancing atas yang terlepas. Sementara teman-temannya meringis memegangi lengan dan pundak.

Sebaliknya, Luna berdiri dengan sangat anggun walau ikatan rambutnya sedikit kendur. Rania di sampingnya tampak merapikan kemejanya yang sedikit tersingkap.

"Anjir... itu si Celina dihajar habis-habisan sama Luna?" bisik Budi di belakang Kenan dengan nada takjub bercampur ngeri. "Gila, si Luna kalo ngamuk serem banget..."

Kenan menghembuskan napas lega sekaligus salut melihat ketangguhan kedua gadis itu. Ia melangkah cepat menghampiri mereka. "Rania, Luna! Kalian gak apa-apa kan? Ada yang luka?"

"Gue gak apa-apa, Ken," jawab Rania pelan, masih sedikit syok.

Luna mengibaskan tangannya santai. "Luka kecil doang di telapak tangan. Tapi tenang, si ulat bulu sama gengnya udah kapok tuh dipanggil dekan plus dapet surat peringatan."

Sambil berjalan menuju area parkiran, Luna menyenggol lengan Rania jahil. "Inget ya, Ran... jadi cewek tuh jangan terlalu lembek. Mulai sekarang kalau ada pelakor atau cewek-cewek gak jelas kayak Celina yang mau usik hubungan lu sama Kenan, langsung lawan! Jangan kasih kendor sedikit pun."

Rania terkekeh pelan, mengangguk mantap. "Siap, Ibu Komandan!"

Sesuai kesepakatan, Kenan mengantarkan Luna pulang terlebih dahulu ke rumah keluarga Raharja menggunakan mobilnya. Setelah memastikan Luna masuk ke dalam rumah dengan aman, Kenan melanjutkan perjalanan untuk mengantar Rania pulang ke rumahnya di kawasan Jakarta Selatan.

Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa hangat. Kenan tak henti-hentinya menggenggam jemari Rania saat berhenti di lampu merah, meminta maaf karena tak berada di lokasi saat keributan terjadi.

"Maafin aku ya, Ran... Harusnya aku ada di sana tadi buat ngelindungin kamu," tutur Kenan tulus.

Rania tersenyum manis, menggeleng pelan. "Gak apa-apa, Ken. Ada Luna kok tadi yang pasang badan. Tapi aku seneng... kamu sepeduli ini sama aku."

Sekitar empat puluh lima menit membelah kemacetan, mobil sedan milik Kenan akhirnya berhenti tepat di depan gerbang rumah keluarga Rania.

"Mampir dulu yuk, Ken. Mama pasti udah masak buat makan siang," ajak Rania lembut seraya melepas sabuk pengamannya.

"Boleh deh, sekalian aku mau sowan sama Om dan Tante," jawab Kenan tersenyum.

Mereka berdua berjalan bersisian melintasi halaman depan rumah yang asri. Rania mendorong pintu utama yang tidak terkunci rapat.

"Mama... Rania pulang nih," sapa Rania lantang seraya melangkah masuk ke ruang tamu.

Namun, langkah Kenan yang mengekor di belakang Rania mendadak terhenti kaku. Pria itu membeku di tempat, matanya membelalak lebar menatap dua sosok paruh baya yang sedang duduk santai di sofa ruang tamu sambil menyesap cangkir teh.

Di sana, orang tua Kenan sendiri sedang duduk berbincang akrab dengan kedua orang tua Rania!

"Lho, Kenan?" seru Ibu Kenan kaget bercampur gembira saat menoleh ke arah pintu. "Kok kamu bisa pulang bareng Rania?"

Kenan berdiri mematung dengan mulut sedikit menganga, matanya berpindah-pindah menatap orang tuanya dan orang tua Rania bergantian.

Ada hubungan rahasia apa yang sebenarnya terjalin di antara kedua keluarga mereka selama ini tanpa sepengetahuan Kenan dan Rania?

1
Adiba Adisa
ada ada aja nih pak tua 😄
Adiba Adisa
kayanya akal akalan marko aja, biar acara nembak kenan gagal 😄
Adiba Adisa
pasti nyesek banget tuh aluna
A.J Lim
ditunggu kelanjutannya yaa kak
Reni Anjarwani
doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor
A.J Lim: siap kak, terimakasih udh mampir
total 1 replies
A.J Lim
iya kak, ke makan gengsi nya 🤭
Adiba Adisa
luna bakalan ngaku ngga yaa
Adiba Adisa
panik sendiri kan om marko 😄
Adiba Adisa
hayoh loh ketahuan kan 🤭
Adiba Adisa
bagus ngga ngebosenin, bab awal udh dibikin penasaran kelanjutan nya
Adiba Adisa
bab awal udah bikin panas dingin 😄
Adiba Adisa: lanjutkan kak, ditunggu bab selanjutnya
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!