NovelToon NovelToon
Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Single Mom
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN

Namaku Kirana, 22 tahun.

Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.

Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.

"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"

Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.

Aku pikir hidupku sudah selesai.

Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.

Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:

"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."

Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?

Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 LAHIRAN ANAK PEREMPUANKU DI RUMAH SAKIT BESAR

5 bulan setelah akad KUA resmi Jumat jam 9 pagi di KUA Jombang itu, perutku sudah 9 bulan 1 minggu.

Buncit besar seperti bawa 2 semangka. Kalau jalan harus pegang pinggang, kalau tidur harus miring kiri, kalau pipis 10 menit sekali karena kepala bayi perempuan sudah masuk panggul.

Foto USG 16 weeks 2 days baby girl yang dulu ditempel pakai kardus di dinding kontrakan cat hijau 400 ribu sebulan, sekarang sudah ada 4 foto USG baru: 20 weeks, 24 weeks, 28 weeks, 32 weeks, semua perempuan, semua sehat, semua diambil gratis pakai BPJS yang didaftarkan Arga waktu masih jadi kuli bangunan di kota.

Kontrakan cat hijau yang dulu mau diusir Pak Lurah kontrakan karena tidak ada buku nikah KUA, sekarang aman karena ada buku nikah hijau 2 buku di bawah bantal. Ibu-ibu kontrakan sebelah yang dulu lapor, sekarang tiap sore bawain bubur kacang hijau buat aku yang hamil tua.

Salsa yang ternyata anak kandung Arga dan Mira, sekarang umur 2 tahun 5 bulan, sudah panggil aku Ibu dengan lancar, panggil Arga Bapak, panggil Mbah Sarti Buyut. Salsa sudah tidak takut lagi sama Mbah Sarti yang dulu bawa sapu lidi.

Arga sekarang bukan kuli bangunan lagi. Sejak nikah KUA resmi, Arga diterima jadi satpam di Puskesmas besar Jombang, gaji 1,5 juta sebulan, cukup buat bayar kontrakan 400 ribu, beli telur 1 kilo tiap hari, susu hamil, dan nabung buat lahiran di rumah sakit besar, bukan di puskesmas, biar tidak pendarahan seperti Mira ibu kandung Salsa yang meninggal 2 tahun lalu di rumah bocor Mbah Wiryo.

Jam 2 pagi, 15 Oktober 2026, perutku yang 9 bulan 1 minggu itu mules.

Bukan mules lapar seperti dulu waktu diasingkan 4 bulan cuma makan tempe. Tapi mules melilit dari punggung sampai perut bawah, 5 menit sekali.

Aku bangunkan Arga yang tidur di lantai tikar pandan jarak 1 meter, masih jaga syarat kedua tidur pisah kasur sampai anak lahir.

"Mas, Mas bangun Mas, perutku mules Mas, 5 menit sekali Mas," bisikku pelan, keringat dingin.

Arga langsung bangun, panik, lihat jam dinding kontrakan jam 2.15 pagi.

"Kir, ini kontraksi, Kir! Ayo ke rumah sakit besar sekarang! Bapak sudah pesan ojek mobil 2 bulan lalu buat hari ini!"

Arga gendong Salsa yang masih tidur ngorok kecil, aku gendong tas kain isi daster, mukena sobek, buku nikah hijau, BPJS, dan baju bayi biru 35 ribu pemberian Rendo yang dulu dilempar kasar tapi sekarang sudah dicuci bersih buat adiknya.

Ojek mobil Avanza putih datang jam 2.30 pagi, supirnya Pak Slamet teman Pak Karim.

Perjalanan 20 menit dari kontrakan cat hijau ke Rumah Sakit Besar Jombang kota. Jalan sepi, hujan rintik-rintik, seperti malam pertama aku diasingkan ke rumah bocor Mbah Wiryo 9 bulan lalu.

Sampai di IGD Rumah Sakit Besar jam 3 pagi, suster jaga langsung bawa aku ke ruang bersalin pakai kursi roda.

"Nama? Umur? Hamil berapa bulan?" tanya suster.

"Kirana, 20 tahun, hamil 9 bulan 1 minggu, anak pertama, tapi sudah punya anak titipan 2 tahun 5 bulan," jawabku sambil mules.

Arga di luar ruang bersalin, tidak boleh masuk karena aturan rumah sakit, cuma boleh tunggu di luar. Salsa digendong Bu Minah yang sudah ditelepon Arga jam 2 pagi dan datang naik angkot pagi-pagi.

Jam 4 pagi pembukaan 3, jam 5 pagi pembukaan 6, jam 6 pagi pembukaan 8, sakitnya luar biasa, seperti mau mati.

Aku ingat Mira. Pak Karim bilang Mira meninggal pendarahan di rumah bocor yang sama tempat aku diasingkan 4 bulan dulu, karena kurang gizi dan tidak ada dokter. Aku takut aku juga meninggal seperti Mira.

"Bu Bidan, saya takut mati seperti Mira, Bu. Mira meninggal pendarahan di rumah bocor, Bu," kataku ke Bu Bidan yang pakai masker.

Bu Bidan pegang tanganku.

"Kirana, kamu tidak akan mati seperti Mira. Kamu di rumah sakit besar, ada dokter, ada infus, ada darah kalau butuh. Kamu makan telur tiap hari 1 kilo, susu hamil, tidak kurang gizi seperti Mira. Kamu kuat, Kirana. Anak perempuanmu sudah 9 bulan 1 minggu nunggu kamu, Kirana."

Jam 7.15 pagi, 15 Oktober 2026, pembukaan 10.

"Kirana, dorong ya, dorong kuat, lihat Ibu, tarik napas, dorong!"

Aku dorong sekuat tenaga, pegang besi ranjang bersalin, keringat bercucuran, teriak keras sampai ruang bersalin gemetar.

Satu dorongan, dua dorongan, tiga dorongan.

Dan terdengar suara tangisan bayi keras.

"Oek... oek... oek..."

Bayi perempuan, berat 2,8 kilo, panjang 48 cm, sehat, tidak kurang gizi, kulit putih kemerahan, rambut hitam lebat, hidung mancung seperti aku, mata besar seperti Salsa.

Bu Bidan taruh bayi di dada ku.

"Selamat ya Kirana, anak perempuan, sehat, cantik seperti ibunya."

Aku peluk bayi perempuan itu, nangis keras, air susu langsung keluar deras.

Anak perempuan yang dulu cuma bayangan hitam putih di foto USG 16 weeks 2 days baby girl, yang dulu ditakutkan tidak punya akte karena ibunya diasingkan karena hamil duluan tanpa buku nikah KUA, sekarang lahir di rumah sakit besar, sehat, tidak pendarahan seperti Mira.

Jam 8 pagi Arga masuk ruang bersalin, boleh masuk karena sudah lahir.

Arga lihat bayi perempuan di dada ku, langsung nangis. Pertama kalinya Arga nangis keras setelah 2 tahun tidak nangis sejak Mira meninggal.

"Kir, anak kita perempuan, Kir. Cantik, Kir. Sehat, Kir. Tidak seperti Mira yang meninggal, Kir. Kamu selamat, Kir."

Aku kasih bayi ke Arga, Arga gendong gemetar, tangan kasar satpam puskesmas gemetar gendong bayi 2,8 kilo.

Salsa yang masuk sama Bu Minah, lihat adik bayi, langsung bilang "Adik, adik bayi, adik perempuan..."

Salsa cium kening adiknya. Kakak tiri yang ternyata kakak kandung seayah, cium adik tirinya yang ternyata adik seayah juga, karena dua-duanya anak Arga di mata negara setelah buku nikah hijau.

Siang jam 12, Pak Karim, Mbah Sarti, Bu Minah, dan Rendo datang ke rumah sakit besar bawa ayam kampung goreng dan bubur kacang hijau.

Mbah Sarti yang dulu mengusir aku 9 bulan lalu dari Wonorejo karena hamil duluan, sekarang gendong bayi perempuan cicitnya, nangis.

"Kirana, maafkan Mbah ya Nduk, Mbah sudah asingkan kamu 9 bulan di rumah bocor karena hamil duluan. Sekarang cicit Mbah perempuan sudah lahir selamat, sehat, tidak pendarahan seperti Mira. Maafkan Mbah."

Rendo yang dulu hamilin aku, bilang belum tentu anakku, kabur ke Kalimantan, dobrak pagar bambu, lempar baju bayi biru 35 ribu kasar, sekarang lihat bayi perempuan itu dari jauh, tidak berani dekat.

"Kirana, selamat ya. Anak perempuanmu cantik. Maafkan aku yang dulu tidak tanggung jawab. Uang 500 ribu yang aku kasih waktu akad KUA kemarin buat beli susu, semoga cukup."

Aku angguk ke Rendo. Tidak dendam lagi. Karena anak perempuanku sekarang sudah punya ayah sah di buku nikah hijau: Arga bin Karim, satpam puskesmas, bukan Rendo.

Sore jam 4 aku boleh pulang ke kontrakan cat hijau 400 ribu sebulan, naik ojek mobil Avanza putih lagi.

Di kontrakan, foto USG 16 weeks baby girl di dinding kardus aku copot, ganti dengan foto bayi perempuan asli yang baru lahir 2,8 kilo.

Baju bayi biru 35 ribu pemberian Rendo yang dilempar kasar 5 bulan lalu, sekarang dipakai bayi perempuan ku, pas, tidak kebesaran.

Buku nikah hijau masih di bawah bantal, sekarang tambah akte lahir bayi perempuan yang baru jadi: nama Aisyah Humaira Karim, anak sah Arga dan Kirana.

Malam jam 9, Salsa tidur di kasur tipis peluk boneka kain sobek, Aisyah tidur di samping aku di kasur tipis, Arga tidur di lantai tikar pandan jarak 1 meter, masih jaga syarat kedua meskipun sudah punya anak sah.

Tapi malam ini tidak ada lagi pengasingan. Tidak ada lagi diusir warung Bu Lasmi, tidak ada rumah bocor Mbah Wiryo lantai tanah, tidak ada dobrak pagar Rendo, tidak ada ancaman Pak Lurah kontrakan, tidak ada kutukan Kembang Kantil.

Hanya ada kontrakan cat hijau 400 ribu sebulan yang tidak bocor, foto bayi perempuan 2,8 kilo di dinding, buku nikah hijau dan akte lahir di bawah bantal, dan 2 anak perempuan: Salsa 2 tahun 5 bulan anak Ibu Tiri yang ternyata anak kandung suami, dan Aisyah 1 hari anak kandung.

Dari diasingkan karena hamil duluan 9 bulan lalu di rumah bocor Mbah Wiryo, sekarang jadi Ibu 2 anak perempuan di kontrakan kota yang punya buku nikah hijau.

Pengasinganku selesai malam ini.

Dan itu cukup buat malam ini.

---

1
Hasan Basri
alur cerita gx jelas
Ve Love: wah dibagian mana ini, aku suka kritiknya 🙏
total 1 replies
evana gusani
baru mampir
Ve Love: makasih ya udah mau mampir 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!