NovelToon NovelToon
Gawat Jendral, Istri Gendutmu Ternyata Badas!

Gawat Jendral, Istri Gendutmu Ternyata Badas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:44.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Pernikahan ini hanya ikatan di atas kertas. Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu.”

Duka membeku di hati Arjuna. Sejak kepergian istri tercintanya, jenderal muda yang disegani itu mengubur rapat hatinya untuk siapa pun. Namun, sebuah wasiat terakhir memaksanya menikahi Arunika, perempuan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan menjadi pendamping hidupnya.

Di mata Arjuna, Arunika hanyalah wanita bertubuh gemuk, sederhana dan tak pantas berjalan di sisinya. Ia menerima pernikahan itu semata demi menghormati pesan terakhir mendiang istrinya dan memberikan seorang ibu bagi putra kecil mereka.

Saat Arunika perlahan menaklukkan hati putra kecilnya, sang Jenderal pun mulai goyah.

​Bisakah Arjuna mempertahankan dinding esnya ketika wanita yang ia remehkan justru menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 1

"Pergi dari sini, dasar gendut pembawa sial!"

Suara penuh kebencian itu menggema di ruang keluarga yang biasanya terasa hangat. Namun malam ini, tempat yang seharusnya menjadi rumah bagi Arunika justru berubah menjadi neraka jahanam.

Arunika menatap wanita paruh baya di depannya dengan mata berkaca-kaca. Ibunya sendiri. Sosok yang melahirkannya ke dunia, kini justru menjadi orang pertama yang meludahi harga dirinya dan mengusirnya tanpa ampun.

"Gara-gara kau, ayahmu sekarang sekarat di rumah sakit!" bentak ibunya seraya menunjuk wajah Arunika dengan murka. "Sejak kecil kehadiranmu cuma bawa sial dan aib bagi keluarga ini!"

Arunika mengepalkan tangannya rapat-rapat. Rongga dadanya terasa dihantam palu godam mendengar tuduhan yang begitu keji.

"Sudah kubilang seribu kali, bukan aku pelakunya!" bantah Arunika dengan suara parau yang bergetar hebat. "Aku sama sekali tidak tahu kenapa teh ayah bisa ada racunnya! Sejak sore aku mengurung diri di kamar lantai atas. Aku bahkan tidak menyentuh dapur sedikit pun!"

Namun tak ada satu pun pasang mata di ruangan itu yang mau mendengarkan.

Di sudut sofa, adik tirinya, Intan, berdiri anggun sembari melipat kedua tangan di dada. Senyum miring penuh kemenangan terukir di bibirnya yang bergincu merah merekah.

"Halah, masih saja mencari kambing hitam. Siapa lagi yang ada di rumah ini selain kau? Pelayan sudah kerja belasan tahun, mana mungkin berniat membunuh majikannya sendiri?" cemooh Intan.

Arunika menoleh. "Kau pasti yang sengaja menjebakku, kan?!"

"Menjebak?" Intan tertawa mengejek, lalu melangkah mendekat dengan dagu terangkat pongah. "Aku cuma bicara fakta. Kau iri karena Ayah berniat menyerahkan sebagian saham yayasan padaku, bukan padamu."

"Omong kosong! Kalian bahkan tidak punya bukti rekaman atau apa pun!"

Ibunya melangkah maju, memotong perdebatan itu dengan tatapan jijik. "Aku tidak butuh bukti pengadilan! Cukup melihat tampangmu yang menjijikkan ini, aku muak! Keluar sekarang juga!"

"Tapi ini rumahku juga, Bu!" seru Arunika, menolak melangkah mundur. "Sertifikat rumah ini atas nama almarhum kakek dan Ayah. Aku anak kandung Ayah, aku punya hak tinggal di sini!"

Tangan ibunya melayang ke udara, siap menghantam pipi Arunika. Namun Intan buru-buru menahannya dengan seringai licik.

"Ibu, jangan kotori tangan Ibu dengan menyentuh sampah," bisik Intan manis, sebelum kembali menatap Arunika dengan tatapan mendelik kejam. "Kalau kau menolak pergi malam ini, aku pastikan laporan polisi atas percobaan pembunuhan meluncur atas namamu. Kau mau tidur di sel dingin bersama para kriminal, hah?"

"Kau mengancamku, Intan?" desis Arunika dengan rahang mengetat.

"Tentu saja. Orang menjijikkan sepertimu memang tempatnya di penjara bawah tanah," ejek Intan tanpa ragu. Ia mencondongkan wajahnya, lalu kembali bicara, "Babi gendut sepertimu memang pantas disingkirkan dari keluarga terhormat ini."

Deg!

Kata-kata itu menghunjam tepat di ulu hati Arunika. Sepanjang hidupnya, ia memang kerap dihina karena bentuk fisiknya yang berisi dan gemuk. Namun mendengar sebutan itu meluncur dari adik tirinya sendiri, didukung oleh tatapan setuju sang ibu kandung, meremukkan sisa-sisa kewarasannya.

Tanpa memberinya ruang bernapas, ibunya menyeret sebuah koper lusuh dari sudut tangga dan melemparnya kasar ke lantai.

"Pergi dari pandanganku!" bentak sang ibu seraya mendorong tubuh Arunika keluar pintu depan.

Hujan badai mengguyur pekatnya malam. Petir menyambar silih berganti di langit gelap. Arunika berdiri mematung di teras, memeluk tas ransel kecilnya yang basah oleh tampias air.

Air matanya luruh deras, menyatu dengan dinginnya air hujan yang menusuk hingga ke tulang.

"Ayah," bisiknya tercekat di tenggorokan, menatap pintu yang terkunci rapat. "Kenapa mereka sejahat ini padaku?"

Arunika menyeret kopernya menembus genangan air jalanan. Tubuhnya basah kuyup, rambutnya menempel lepek di pipi, tapi rasa dingin di kulitnya tak sebanding dengan dinginnya hati yang baru saja dikhianati. Ia benar-benar sebatang kara di tengah kota metropolitan.

Tiba-tiba, sorot lampu menyilaukan mata menerobos tirai hujan. Sebuah mobil sedan hitam panjang anti-peluru berhenti mendadak tepat beberapa jengkal di sampingnya.

Dua pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam rapi dan payung besar bergegas turun.

"Nona Arunika?" sapa salah satu pria dengan nada bariton yang tegas.

Arunika tersentak mundur dan bersiap memasang kuda-kuda. "Siapa kalian?! Mau apa lagi?!"

"Kami diperintahkan untuk menjemput nda, Nona," jawab pria itu seraya menundukkan kepala dengan sopan.

"Menjemputku?" Arunika menyipitkan mata curiga. "Jangan macam-macam! Siapa yang menyuruh kalian menculikku?!"

"Kami tidak berniat menyakiti anda sedikit pun," sahut rekannya yang membukakan pintu mobil bagian belakang. "Silakan masuk, Nona. Hujan semakin deras."

"Katakan dulu siapa bos kalian!" tuntut Arunika lantang menembus gemuruh guntur.

"Ikutlah bersama kami, Nona. Anda akan segera mengetahuinya di tempat tujuan."

Arunika menatap sekeliling jalanan yang sunyi dan mencekam. Tubuhnya sudah menggigil kedinginan, tenaganya terkuras habis, dan ia tak punya tempat lain untuk berlindung.

Menghembuskan napas pasrah, ia akhirnya melangkah masuk ke dalam mobil yang hangat dan kedap suara.

Rasa cemas dan ratusan pertanyaan berputar liar di kepala Arunika. Siapa orang yang mengetahui namanya? Mengapa ada orang yang mengirim pengawal berkelas militer untuk menjemput wanita buangan sepertinya?

Setengah jam kemudian, kendaraan itu melintasi gerbang besi raksasa yang dijaga ketat oleh beberapa personel bersenjata laras panjang. Mobil berhenti di pelataran sebuah mansion megah bergaya kolonial yang berdiri kokoh bak benteng istana.

Pintu mobil dibuka. Arunika melangkah turun dengan langkah ragu.

"Ini rumah siapa?" tanya Arunika heran.

"Kediaman pribadi Jenderal," jawab sang pengawal singkat seraya mempersilakannya melangkah.

Dahi Arunika berkerut dalam. "Jenderal?"

"Jenderal Arjuna sudah menunggu anda di ruang kerja utama. Silakan masuk, Nona."

Langkah kaki Arunika membeku sesaat. Jenderal Arjuna? Nama itu menggetarkan gendang telinganya. Siapa yang tak kenal dengan Arjuna? Jenderal bintang dua termuda di negeri ini yang dijulukipria dingin, bertangan besi dan tak kenal ampun di medan pertempuran maupun meja politik.

Namun fakta yang paling menohok benaknya adalah, Arjuna merupakan mendiang suami dari mendiang sahabat karibnya sendiri yang wafat setahun lalu.

Dengan jantung yang berdegup liar tak beraturan, Arunika melangkah memasuki ruang kerja tersebut.

Di hadapan dinding kaca besar yang menghadap langsung ke arah taman luas, seorang pria berpostur tegap berdiri membelakanginya. Kemeja hitamnya digulung hingga siku, memamerkan lengan kekar berurat tegas yang memancarkan aura intimidasi luar biasa.

Mendengar suara langkah sepatu Arunika, pria itu berbalik perlahan. Sepasang manik mata elang yang hitam pekat dan tajam langsung menusuk lurus ke arah mata Arunika, membuat wanita itu refleks menahan napasnya.

Arjuna tidak membuang waktu untuk basa-basi atau menanyakan kabarnya yang basah kuyup. Tanpa sepatah kata pun, pria itu menyambar sebuah map dokumen tebal bersampul kulit dari atas mejanya, lalu melemparkannya ke atas meja marmer tepat di hadapan Arunika.

"Baca itu sekarang," titah Arjuna datar.

Arunika menelan ludah yang terasa kesat di tenggorokannya. Dengan jemari yang masih basah dan gemetar, ia membuka lembar pertama dokumen resmi tersebut. Matanya seketika membelalak sempurna tatkala membaca judul besar yang tertera di sana, Surat Perjanjian Pranikah.

"Apa maksud dari semua ini?" tanya Arunika bingung seraya menatap wajah pria berahang tegas di depannya. "Kenapa membawaku kemari untuk membaca surat seperti ini?"

Arjuna melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka.

"Menikahlah denganku."

1
Muft Smoker
duuuh gx expect ma ekspresi ny trio gx tau diri ,,
udh pindah aj ke dapur itung2 latihan nanti kalo makan di penjara ,, 🤭🤭🤣🤣🤣 ,, biar gx kaget
nining cahyaningrum
/Drool//Drool/
Ita rahmawati
denger GK tuh kalian
Ita rahmawati
iya iya percaya,,hanya karena kasian aja kan 🤣
🇦 🇵 🇷 🇾👎
😫😫😅😅😅😅😅😅🤣🤣🤣🤣🤣giod
🇦 🇵 🇷 🇾👎
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣😅😅😅😀😀😌😌😫😫😫😫
🇦 🇵 🇷 🇾👎
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🇦 🇵 🇷 🇾👎
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Bunda SalVa
dari kasihan lama2 jadi bucin ya Jun 🤭🤭
Sri Rahayu
hahaha. bu Ratna....senjata makan tuan.... bukan Arunika yg hrs makan didapur...tp Ratna Wina dan Damar 🤩🤩🤩🤪🤪🤪... lanjut Thorr😘😘😘
Bunda SalVa
empuk banget kayak donat ya Nakula 😄😄
dyah EkaPratiwi
🤣🤣🤣🤣 arunika😍
Endang Sulistiyowati
senjata makan tuan, rasain tuh. Arunika di lawan
Mundri Astuti
ampun dah si arunika jangan keluarin bar"nya klo di kamar arun😂😂😂
Maria Lina
bagus juna jgn ngalah lgi ok..lanju lgi thor ya ya
dyah EkaPratiwi
gengsinya gede amat jendral
Mundri Astuti
😂😂😂
Sri Rahayu
walah Jendral ga usah malu2 gengsi ngakuin mulai tertarik dgn Arunika... pura2 hanya merasa kasihan 🤪🤪🤪🤩🤩🤩... lanjut Thorf😘😘😘
Endang Sulistiyowati
Rasa kasian yang di tumbuhi bunga2 cinta 🤭
Maria Lina
dsr sunderu li arjuna tar jatuh cintro lo wkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!