NovelToon NovelToon
Kaisar Kematian Mo Xie

Kaisar Kematian Mo Xie

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Ini adalah cerita tentang seorang Putra Suci dari aliran lurus yang dikhianati gurunya sendiri. Tubuhnya dihancurkan dan tulangnya dicabut satu per satu sebelum ia dibuang hidup-hidup ke dasar Kegelapan.

Namun, ia tidak memilih mati.

Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, ia mencabut tulang fananya yang rapuh dan menggantinya dengan tulang para musuh yang telah ia bunuh.

Setiap tulang menjadi sumber kekuatan baru. Setiap rasa sakit membawanya selangkah lebih dekat pada jalan kultivasi yang menentang kehendak langit.

Di sisinya berdiri seorang iblis wanita yang menguasai Seni Darah. Dengan sihir terlarang itu, ia menyatukan kembali tubuh sang Putra Suci yang telah hancur dari dalam.

Bersama, mereka menapaki jalan berdarah menuju Surga Sembilan Lapis.

Ia tidak kembali untuk menuntut keadilan.

Ia kembali untuk mencabut tulang punggung para dewa dan menjadikannya singgasana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Kepompong Darah dan Tulang Emas

Hutan Kabut Ilusi bukan tempat bagi makhluk hidup.

Batang-batang pohonnya membengkok seperti jari mayat yang mencuat dari tanah. Daunnya meneteskan getah hitam beracun, sementara kabut tebal di antara pepohonan mampu membuat seorang kultivator kehilangan arah hingga mati kelaparan.

Namun bagi Xue Ling'er, tempat terkutuk ini adalah satu-satunya perlindungan mereka dari kemurkaan langit.

Ling'er menyeret tubuh Mo Xie melewati lumpur hitam yang pekat. Napasnya tersengal. Berat tubuh pemuda itu hampir tidak masuk akal.

Tulang Naga Bumi, Kerangka Besi Hitam Kegelapan, sepasang kaki Jenderal Iblis, serta kedua lengan iblisnya membuat tubuh Mo Xie seberat gunung kecil.

Lengan Ling'er nyaris tak sanggup menahannya. Ia terpaksa mengerahkan puluhan benang darah untuk menarik tubuh Mo Xie dari belakang.

Di atas langit hutan, kilatan cahaya emas sesekali menerangi langit malam.

Gelombang kesadaran spiritual turun dari langit dan menyapu hutan.

Para anggota Istana Dao Surgawi telah bergerak.

Kematian penguasa Kota Awan Jatuh membuat mereka mengirim para pelacak tanpa membuang waktu. Setiap sapuan kesadaran spiritual membawa niat membunuh yang pekat. Beberapa burung aneh yang bertengger di pepohonan bahkan jatuh mati setelah tersentuh gelombang tersebut.

Jika fluktuasi Qi dalam tubuh Mo Xie terdeteksi, mereka akan ditemukan dalam sekejap.

"Bertahanlah, monster arogan."

Ling'er menggertakkan gigi dan terus menyeretnya.

Tak lama kemudian, ia menemukan sebuah celah sempit di balik akar pohon beringin purba yang telah membusuk. Tanpa ragu, Ling'er menarik Mo Xie masuk.

Begitu tubuhnya dibaringkan di atas batu dingin, Mo Xie langsung mengejang.

Asap ungu dan abu-abu mengepul dari pori-porinya. Kulit manusia di dada kirinya telah melepuh dan menghitam. Tiga Tulang Rusuk di dalam tubuhnya memancarkan cahaya emas yang berkedip lemah.

Ketiganya sudah retak.

Energi Harimau Kegelapan dari kiri dan Kera Iblis dari kanan terus bertabrakan di dalam tubuh Mo Xie. Jika dibiarkan, kekuatan itu akan menghancurkan jantung dan Dantian-nya.

Ling'er tahu mereka tidak punya waktu. Ia menggigit pergelangan tangannya sendiri.

Darah segar mengalir.

"Bangkit dan telan!"

Ribuan benang darah merah melesat keluar dari tubuhnya. Benang-benang itu menancap pada dinding, lantai, dan langit-langit gua, lalu saling menjalin dengan cepat.

Dalam beberapa tarikan napas, seluruh gua telah tertutup lapisan darah tebal.

Sebuah kepompong darah raksasa terbentuk.

Di dalamnya, fluktuasi Qi Mo Xie perlahan teredam. Benang darah menyerap setiap jejak energi Yin dan Yang yang mencoba keluar dari tubuhnya.

Untuk sementara, mereka aman.

Ling'er jatuh berlutut di samping Mo Xie.

Tatapannya tertuju pada dada pemuda itu.

"Kau selalu memaksaku melakukan hal yang mustahil."

Ia membuka gulungan benang darah di sisinya.

Tulang Punggung Emas milik Tetua Jiwa Baru Lahir muncul di hadapannya.

Tulang itu memancarkan cahaya emas yang suci. Sumsum di dalamnya masih mengandung Qi Yang yang kuat.

Ling'er mengangkat kukunya yang dilapisi Qi darah, lalu memotong bagian tengah tulang tersebut.

Krek!

Percikan cahaya emas menyambar jarinya.

Ia tidak peduli.

Beberapa saat kemudian, di tangannya telah tersisa sepotong tulang emas sepanjang dua jengkal.

Inilah yang akan menjadi penyangga baru bagi tubuh Mo Xie.

Sebelum mulai, Ling'er mengikat kedua lengan iblis Mo Xie dengan benang darah yang tebal. Lengan Kera Iblis dan Harimau Kegelapan dipaku ke lantai batu agar tidak bergerak ketika tubuh Mo Xie memberontak.

Kemudian Ling'er menarik napas panjang.

Kesepuluh jarinya menembus dada Mo Xie.

Krak!

Kulit dan daging yang telah menghitam terbelah.

Darah panas menyembur dan membasahi wajah serta jubah merah Ling'er. Panasnya bahkan membuat kulit pipinya memerah.

Namun Ling'er tidak bergeming.

Tangannya masuk ke dalam rongga dada dan meraih tiga Tulang Rusuk yang telah retak.

Satu per satu, ia mencabutnya.

Krak... Krak... Krak...

Setiap tulang yang terlepas membuat tubuh Mo Xie bergetar hebat.

Meski tak sadarkan diri, ia mengeluarkan geraman rendah. Kedua lengannya meronta hingga benang darah hampir putus.

Tanpa ketiga tulang itu sebagai penahan, energi Harimau Kegelapan dan Kera Iblis langsung bertabrakan di sekitar jantungnya.

Dantian Mo Xie kembali bergetar.

"Tahan!" Ling'er berteriak. "Tahan rasa sakit itu, bodoh!"

Ia melempar ketiga tulang yang telah hancur, lalu mengambil potongan Tulang Punggung Emas.

Tanpa ragu, ia menancapkannya ke tengah dada Mo Xie.

Bukan sebagai tulang rusuk.

Tulang itu ditempatkan tepat di tengah, menggantikan tulang dada fana yang sudah tak mampu menahan kekuatan tubuhnya.

Saat Tulang Punggung Emas menyentuh jantung dan paru-paru Mo Xie...

Cahaya emas meledak memenuhi kepompong darah.

Qi Yang dari sumsum tulang Inti Jiwa bertabrakan dengan kekuatan dua tulang iblis kuno.

Ledakan energi mengguncang seluruh gua.

Mo Xie terbangun seketika. Matanya terbuka lebar. Tatapannya merah pekat.

Tubuhnya melengkung akibat rasa sakit yang menembus hingga ke tulang.

Ia membuka mulut, tetapi hanya suara serak yang keluar. Tenggorokannya seakan terbakar oleh panas dari dalam tubuhnya sendiri.

Ling'er menekan kedua tangannya ke dada Mo Xie.

"Tatap aku!"

Mo Xie menoleh.

"Jangan tutup matamu!"

Wajah Ling'er telah berlumuran darah. Namun tatapannya tetap teguh.

Mo Xie menatap mata wanita itu.

Di tengah rasa sakit yang hampir merenggut kesadarannya, ia melihat bayangannya sendiri di sana.

Seekor monster yang menolak mati.

Ling'er belum selesai.

Ribuan jarum darah muncul dari telapak tangannya dan menembus dada Mo Xie. Benang-benang merah itu melilit Tulang Punggung Emas, lalu menjahitnya pada tulang dan daging di sekitarnya.

Satu demi satu benang menembus tubuh Mo Xie.

Ling'er bahkan menghubungkan sumsum dari kedua lengan iblis dengan Tulang Punggung Emas.

Ia menjadikan tulang emas itu sebagai penahan bagi dua kekuatan iblis.

Setiap kali energi Harimau Kegelapan dan Kera Iblis mengamuk, Tulang Punggung Emas akan menyerap sebagian kekuatan tersebut. Qi Yang di dalamnya kemudian memurnikannya sebelum mengalirkannya kembali ke meridian Mo Xie.

Dengan cara itu, dua kekuatan yang sebelumnya saling menghancurkan perlahan dipaksa tunduk.

Proses itu berlangsung sangat lama.

Bagi Mo Xie, setiap tarikan napas terasa seperti satu tahun.

Giginya menggigit bibir hingga darah mengalir. Tubuhnya terus bergetar, tetapi matanya tidak pernah meninggalkan Ling'er.

Perlahan, kejangannya mereda.

Cahaya emas di dadanya mulai redup.

Daging yang terbelah perlahan menutup dan menyatu kembali. Tubuh Mo Xie menelan Tulang Punggung Emas itu ke dalam dirinya.

Bekas luka yang tersisa membentuk pola seperti akar teratai iblis di tengah dadanya.

Aura di dalam kepompong berubah.

Panas yang sebelumnya membakar perlahan menghilang.

Sebagai gantinya, hawa dingin yang pekat memenuhi gua hingga napas Ling'er berubah menjadi kabut putih.

Berhasil.

Tulang Punggung Emas telah menekan kekuatan Kera Iblis dan Harimau Kegelapan.

Bukan hanya menekannya.

Ia juga membuat kedua kekuatan itu mengalir dalam satu keselarasan yang aneh.

Benang darah yang mengikat kedua lengan Mo Xie mulai mengendur dan luruh menjadi genangan darah.

Ling'er akhirnya duduk di sampingnya.

Seluruh tenaganya terkuras. Namun senyum tipis muncul di wajah pucatnya.

Beberapa saat kemudian, tubuh Mo Xie bergerak. Ia bangkit perlahan dan duduk di atas batu.

Dada telanjangnya kini dihiasi pola hitam kemerahan seperti akar teratai.

Mo Xie memutar lehernya.

Krek!

Suara tulang dan logam bergema di dalam kepompong.

Ia mengangkat kedua lengannya.

Di kiri, lengan Harimau Kegelapan. Di kanan, lengan Kera Iblis berlapis tulang kelam.

Kedua tangannya mengepal bersamaan. Udara di dalam kepompong bergetar.

Tidak ada lagi penolakan, tidak ada lagi benturan liar.

Dua kekuatan iblis kuno itu akhirnya berada di bawah kendalinya.

Mo Xie menoleh kepada Ling'er.

Matanya telah berubah.

Iris dan bagian putih matanya kini tampak seperti jurang malam yang dipenuhi serpihan cahaya merah.

Tatapannya tenang, terlalu tenang.

Seolah seluruh kegilaan di dalam dirinya telah ditempa menjadi satu kehendak dingin.

"Kau membakarku hidup-hidup, Ling'er."

Suara Mo Xie tak lagi serak.

Suaranya dalam dan berat. Di baliknya terdengar gema samar seperti bisikan dua iblis kuno.

Ling'er terkekeh pelan.

"Dan kau tetap hidup untuk membalasnya." Ia mengangkat wajahnya. "Aku sudah mengikat jantungmu pada tulang musuhmu. Jangan sia-siakan jahitanku."

Mo Xie menyeringai. Ia berdiri dan menepuk dadanya.

Tulang emas itu berdenyut samar di balik daging.

"Istana Dao Surgawi baru saja kehilangan seorang kultivator Jiwa Baru Lahir."

Tatapannya menembus dinding kepompong darah.

"Tapi setelah kekuatan ini benar-benar menyatu..." Senyumnya semakin lebar. "Kita tidak perlu lagi berlari dari para pengejar."

Mo Xie melangkah menuju dinding kepompong.

"Di dalam kabut ini, kitalah yang akan memburu mereka."

Di luar kepompong, langit Hutan Kabut Ilusi dipenuhi bayangan manusia.

Puluhan kultivator pelacak turun dari langit dan menyebar di antara pepohonan. Kesadaran spiritual mereka menyapu setiap jengkal tanah, mencari pembunuh penguasa Kota Awan Jatuh.

Mereka tidak tahu apa yang sedang mereka cari.

Mereka mengira sedang memburu seorang buronan yang terluka.

Padahal, di dalam gua tersembunyi itu, seekor monster baru saja bangkit.

1
Adi Rbg
bagus alur ceritanya tidak berbelit-belit!
Celestial Quill: Jangan lupa baca PERJALANAN DEWA ALKEMIS DI ALAM PRIMORDIAL juga ya, cerita ini ada hubungan dengan mo Xie yang sudah masuk ke alam primordial. 👍
total 2 replies
Ihwan12
Bagus
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: mampir KA
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!