NovelToon NovelToon
JERAT CINTA SANG MAFIA

JERAT CINTA SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:975
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada membobol brankas mafia... adalah jatuh cinta pada pemiliknya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perangkap Sang Penguasa

​Hujan peluru dan debu beton yang memekakkan telinga mengiringi langkah mereka menyusuri lorong evakuasi darurat. Devan bergerak memimpin di depan, menembak presisi setiap pergerakan musuh yang mencoba menghadang. Tangan kirinya mencengkeram jemari Aria begitu kuat, memaksanya terus berlari menyeimbangi langkah lebarnya.

​Namun, Aria bukanlah wanita yang mudah menyerahkan nasibnya pada orang lain, apalagi pada seorang bos mafia kejam seperti Devan Argantara.

​Saat mereka berhasil menembus pintu keluar darurat menuju area parkir bawah tanah yang temaram, kepulan asap tebal dari granat asap milik anak buah Devan memenuhi udara. Suasana mendadak menjadi abu-abu dan buta. Pandangan terbatas, suara batuk dan derap langkah kaki bersahut-sahutan dalam kekacauan.

​Ini kesempatanku, batin Aria.

​Dengan gerakan secepat kilat, Aria menarik jemarinya dari genggaman Devan. Memanfaatkan kepulan asap tebal sebagai pelindung, ia melakukan gerakan berputar dan melompat ke balik deretan mobil-mobil mewah yang terparkir. Ia menahan napas, menekan tubuhnya erat-erat ke pintu mobil Mercedes-Benz hitam, membiarkan Devan dan pasukan bersenjatanya terus maju menerobos pintu keluar menuju area jalan raya.

​Aria tersenyum tipis di balik kegelapan. Jarinya meraba kantong tersembunyi di balik lipatan gaun beludrunya. The Scarlet Tear masih ada di sana, dingin dan terasa begitu berharga.

​"Selamat tinggal, Devan Argantara," bisik Aria sangat pelan.

​Tanpa membuang waktu, Aria mengabaikan rasa sakit pada kakinya yang kini tanpa alas. Ia mengendap-endap menuju jalur evakuasi sekunder—sebuah lorong servis kecil di sebelah utara parkiran basement yang terhubung langsung dengan saluran pembuangan kota. Jalur pelarian rahasia yang sudah ia pelajari dari peta cetak biru bangunan ini sejak tiga hari lalu.

​Langkah kakinya yang tanpa suara membawanya menyusuri lorong sempit berbau lembap dan semen basah. Cahaya penerangan di lorong ini sangat minim, hanya mengandalkan satu dua lampu neon yang berkedip-kedip redup. Suara bising pertempuran di atas perlahan mulai tersamar oleh gemercik air pipa.

​Tinggal sepuluh meter lagi sebelum pintu besi menuju saluran pembuangan luar. Aria sudah membayangkan kebebasannya, bayaran fantastis dari pembeli gelap, dan kehidupan tenang di luar jangkauan klan Vane maupun Devan.

​Namun, tepat saat tangannya hendak menyentuh gagang pintu besi tua itu, suara ketukan pelan berirama menghantam dinding beton di belakangnya.

​TAP. TAP. TAP.

​Aria membeku. Seluruh bulu kuduk di lehernya berdiri tegak. Insting bertahannya menjeritkan bahaya tingkat tinggi.

​"Kamu sungguh berpikir lorong sekunder ini tidak ada dalam pengawasanku, Little Bird?"

​Suara itu. Berat, dingin, dan sangat berkuasa. Suara yang bergema dengan tenang di dalam ruang sempit berbeton tersebut.

​Aria berbalik dengan cepat, mengarahkan pisau lipat taktisnya ke depan dalam posisi bertarung. Di ujung lorong, bersandar santai pada dinding beton dengan kedua tangan terbenam di saku celananya, berdiri Devan Argantara. Tidak ada satu pun anak buahnya di sana. Pria itu sendirian, namun aromanya saja sudah cukup untuk menguasai seluruh ruangan.

​Pakaian Devan sedikit berdebu, dengan noda darah tipis di kerah kemejanya—darah musuh-musuhnya. Rambut hitamnya sedikit berantakan, tetapi tatapan matanya tajam luar biasa, berkilat bahaya di bawah remang lampu neon.

​"Bagaimana bisa...?" gumam Aria, matanya menyipit penuh kewaspadaan. Ia yakin betul Devan tadi berlari ke arah pintu keluar utama bersama timnya.

​Devan melangkah maju secara perlahan. Setiap tapak sepatunya terdengar seperti detak lonceng kematian bagi kebebasan Aria. "Aku yang merancang denah keandalan gedung ini ketika klan Vane merebutnya dua tahun lalu. Aku tahu setiap lubang tikus yang ada di tempat ini, Aria."

​Dada Aria berdesir hebat saat Devan menyebut nama aslinya. Ia tidak pernah memberitahukan namanya. Pria ini ternyata sudah melacak latar belakangnya bahkan sebelum pertemuan mereka malam ini.

​"Mencoba kabur dariku di tengah pertempuran adalah keputusan yang sangat berani... sekaligus sangat bodoh," lanjut Devan. Jarak mereka kini hanya tersisa tiga langkah.

​"Aku bukan bagian dari permainanmu, Devan!" cetus Aria tajam, mengacungkan pisaunya tepat ke arah dada Devan. "Aku membobol brankas itu untuk diriku sendiri. Kalung ini milikku. Biarkan aku lewat, atau aku pastikan pisau ini merobek urat lehermu!"

​Devan tidak berhenti. Pria itu justru maju satu langkah lagi, membuat ujung pisau tajam milik Aria menekan tepat di kain kemeja hitam yang melapisi dadanya. Devan menunduk sedikit, menatap mata Aria yang berkilat marah dan penuh perlawanan. Sama sekali tidak ada raut takut di wajah tampan bergaris tegas itu.

​"Silakan coba," bisik Devan dingin. "Tapi ingat satu hal. Begitu kamu menggores kulitku, kamu tidak akan pernah keluar dari kota ini dalam keadaan bernapas."

​Aria mengepalkan jemarinya di gagang pisau. Ia menimbang opsi dalam hitungan milidetik. Menyerang Devan secara fisik adalah tindakan berisiko tinggi; pria ini terlatih dalam pertempuran jarak dekat tingkat mematikan. Tapi menyerah begitu saja juga bukan pilihan seorang Aria.

​Dengan gerak tipu yang cepat, Aria mengayunkan pisaunya ke arah wajah Devan untuk memancing reaksi, sementara kaki kanannya melakukan tendangan lurus mematikan ke arah perut pria itu.

​Serangan yang sangat presisi! Namun Devan bukan lawan sembarangan.

​Dengan refleks luar biasa, Devan memiringkan kepalanya menghindari sabetan pisau, lalu menangkap pergelangan kaki Aria sebelum tendangan itu mengenai sasaran. Sebelum Aria sempat menarik kembali kakinya, Devan mendorong tubuh wanita itu ke depan.

​BAM!

​Punggung Aria menabrak pintu besi dingin di belakangnya. Pisau di tangannya terlempar jatuh ke lantai, berdenting nyaring sebelum menggelinding jauh ke kegelapan.

​Kedua pergelangan tangan Aria kini dikunci rapat di atas kepalanya oleh satu tangan kokoh milik Devan. Tubuh jangkung dan berotot pria itu menempel erat, mengurung pergerakan Aria sepenuhnya sampai tidak ada celah untuk bergerak. Napas hangat Devan yang beraroma woody dan sedikit mesiu menerpa wajah Aria.

​"Aplikasi aksi solo yang impresif," bisik Devan tepat di depan bibir Aria. "Tapi kamu lupa satu aturan dasar di dunia bawah, Little Bird. Jangan pernah mencoba menipu seseorang yang memegang kendali atas ruang gerakmu."

​Aria mencoba menghentakkan tubuhnya, berontak dengan sisa tenaganya, tetapi kuncian Devan bagaikan rantai besi yang mustahil ditembus. Kelelahan setelah meretas, beraksi, dan berlari mulai menggerogoti stamina fisiknya.

​"Lepaskan aku, Devan..." desis Aria, napasnya terengah-engah, dadanya naik turun bersentuhan dengan dada bidang Devan. Matanya menatap Devan dengan amarah berselimut kejengkelan yang mendalam.

​Devan menurunkan pandangannya ke arah bibir Aria yang terengah, lalu kembali mengunci pandangan matanya. Perlahan, tangan bebas Devan menyelinap ke lipatan gaun beludru Aria, meraba dengan pasti hingga jemarinya menyentuh kantong tersembunyi tersebut.

​Dengan gerakan lambat dan penuh dominasi, Devan menarik keluar kalung berlian The Scarlet Tear.

​Kilau merah berkilauan terpancar di antara jemari Devan yang panjang dan tegap. Devan mengangkat kalung itu di depan mata Aria, menatapnya dengan senyum kaku yang penuh kemenangan.

​"Permata yang indah," ujar Devan pelan. "Tapi sayang, pemiliknya malam ini terlalu naif jika berpikir bisa membawanya lari dariku."

​Devan memasukkan kalung bernilai triliunan itu ke dalam saku jas hitamnya sendiri. Ia kemudian menatap Aria rapat-rapt, mengikis jarak di antara mereka hingga hidung mereka saling bersentuhan.

​"Tertangkap basah, Aria," bisik Devan dengan suara berat yang menggetarkan dada. "Mulai detik ini, barang ini milikku... dan kamu, berada di bawah kendaliku."

1
Ariany Sudjana
wah mantap ini Aria dan Devan bisa jadi pasangan mafia tangguh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!