Tiga tahun lalu, Maya seorang gadis desa yang polos dan tulus melangkah ke kota membawa impian sederhana: membangun keluarga kecil yang bahagia bersama suaminya. Mengabdi penuh sebagai istri dan menantu, Maya dengan sabar menelan setiap cemoohan, perbedaan perlakuan, dan sikap pilih kasih dari sang ibu mertua yang selalu mengagung-agungkan menantu kayanya.
Bagi Maya, diam dan mengalah adalah kunci keharmonisan. Namun, kepasrahannya justru dimanfaatkan. Di rumah itu, Maya tak lebih dari seorang pelayan yang tenaganya diperas, sementara hak dan perasaannya terus diinjak-injak oleh keluarga parasit yang manipulative. Ketika masalah besar datang dan pengorbanannya kembali dibalas dengan pengkhianatan serta tuduhan keji, mata Maya akhirnya terbuka: kesabaran tanpa batas hanya akan membunuhnya perlahan.
Kini, Maya harus memilih: tetap bertahan dalam cengkeraman keluarga mertua yang toxic demi mempertahankan rumah tangganya, atau memberanikan diri patah arah untuk melepaskan jerat belenggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semangkuk bakso
Suara ketukan pintu terdengar di kamar Maya. Ketukannya pelan, ragu-ragu, tapi konsisten.
"Maya, buka pintunya, Sayang," ucap Arya dari luar. Suaranya terdengar lembut, dipenuhi nada membujuk yang biasa ia gunakan kalau tahu istrinya sedang terluka.
Maya tak menyahut. Tangannya masih sibuk melipat tumpukan baju yang baru saja ia angkat dari jemuran belakang, baju-bajunya dan baju Arya yang baunya selalu ia kenal. Rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang, membuat tenggorokannya terlalu sempit hanya untuk sekadar menyahut.
"Maya, kamu lagi tidur?" ucap Arya lagi dari balik pintu. Pria itu menghela napas pendek. "Mas mau ambil ponsel..." sambungnya, mencari alasan agar pintunya segera dibuka.
Maya menghentikan gerakannya sejenak. Setelah selesai merapikan tumpukan baju itu ke dalam lemari kayu, ia menghela napas panjang untuk menetralkan emosinya. Ia melangkah pelan lalu membuka pintu kamar.
"Ada apa, Mas?" tanya Maya dengan wajah sedikit cemberut, menunduk menatap lantai.
Arya melangkah masuk, langsung memegang kedua bahu Maya. Matanya menatap sang istri dengan raut wajah serba salah. "Maya, kamu jangan seperti tadi. Itu gak sopan, apalagi ada Mas Mansur dan Mbak Sinta."
Maya tak menyahut. Kata-kata teguran itu meluncur begitu mudah dari mulut suaminya, seolah-olah dialah satu-satunya pihak yang bersalah. Maya hanya menatap kosong lantai marmer kamar yang telah ia tempati selama tiga tahun ini, lantai dingin yang terasa makin mengikis kehangatan rumah tangganya.
Melihat respons dingin istrinya, Arya tahu Maya sedang merajuk berat. Pria itu mengelus rambut Maya, lalu memikirkan cara untuk mengembalikan senyum di wajah istrinya.
"Nanti sore Mas ajak keluar, ya? Kita makan bakso di tempat biasa," bisik Arya manis, berusaha merayu.
Mendengar kata 'makan bakso', dada Maya mendadak berdesir hangat. Maya tentu saja senang. Meskipun cuma makan bakso di luar, setidaknya dia bisa keluar sebentar dari rumah ini, menghirup udara segar, dan lepas dari tatapan menghakimi keluarga mertuanya.
"Beneran ya, Mas?" tanya Maya dengan mata berbinar, rasa kesalnya mendadak luntur seketika.
Arya tersenyum lega melihat binar di mata istrinya. "Iya, tapi kamu janji ya jangan begitu lagi di depan Ibu sama Bapak."
Maya menatap Arya, lalu mengangguk pelan. "Iya, Mas," jawab Maya penurut, kembali menjadi istri yang selalu mengalah demi menyenangkan hati suaminya.
Pukul lima sore pun tiba. Langit di luar jendela mulai bersepuh warna jingga yang hangat.
Maya sudah bersiap di dalam kamar. Ia mengenakan gamis sederhana berwarna biru muda, baju terbaik yang jarang ia pakai kecuali untuk momen-momen spesial. Wajahnya yang biasa polos kini dipoles tipis dengan pelembab dan sedikit lipstik. Senyum manis tak berhenti terukir di bibirnya. Bagi Maya, diajak keluar walau hanya untuk makan bakso di pinggir jalan terasa bagaikan liburan mewah yang membebaskannya dari kurungan rumah ini.
Dengan langkah ringan, Maya turun menyusuri anak tangga. Tangannya sibuk merapikan tas selempang kecilnya.
Namun, menginjakkan kaki di ruang tamu, langkah Maya mendadak terhenti. Binar di matanya redup seketika.
Di sana, Arya sudah berdiri rapi mengenakan kemeja kasual. Tetapi ia tidak sendirian. Bu Rika, Pak Hendra, dan Rara juga sudah tampak rapi dengan pakaian terbaik mereka. Santi dan Masur pun terlihat baru saja berdiri dari sofa, siap untuk pergi.
"Lho, Maya? Mau ke mana kamu rapi-rapi begitu?" tanya Bu Rika dengan kening berkerut heran, menatap Maya dari atas sampai bawah dengan pandangan menilai.
Maya menatap Arya dengan tatapan bingung. "Mas... katanya kita mau keluar makan bakso?"
Arya tampak salah tingkah. Wajahnya mendadak tegang, matanya bergerak gelisah melirik sang ibu lalu beralih menatap Maya dengan raut memohon. Ia melangkah mendekati Maya dan berbisik sangat pelan dengan nada serba salah.
"Duh, May... maaf banget," bisik Arya sambil memegang lengan Maya. "Tadi Mbak Santi mendadak ajak makan malam di restoran seafood baru di pusat kota. Masur yang traktir semua. Ibu sama Rara pengin ikut, Bapak juga. Mas nggak enak kalau nggak ikut mendampingi."
"Tapi Mas kan sudah janji sama aku..." kata Maya, suaranya bergetar pelan. Ada kepedihan yang menumpuk di balik kata-katanya.
"Ya ampun, Maya! Cuma bakso aja kok dipermasalahkan!" potong Bu Rika sengit dari arah pintu, telinganya yang tajam rupanya menangkap percakapan mereka. "Ini Masur mau traktir di restoran mahal, lho! Arya itu adik yang baik, ya harus ikut meramaikan. Kamu di rumah saja, jaga rumah sekalian panaskan sisa opor tadi siang buat makan malammu!"
"Tapi Bu, mas Arya sudah janji dari siang" Maya mencoba membela haknya.
"Maya!" bentak Bu Rika, menyela tanpa ampun. "Kamu mau ngajarin Arya jadi anak durhaka yang lebih milih menuruti istri daripada ibunya? Cuma masalah bakso murah aja kamu mau bikin acara keluarga ini berantakan?!"
Pak Hendra hanya berdehem cuek di sudut ruangan sambil memutar-mutar kunci mobil, tak berniat melarang istrinya. Rara mendengus malas sambil sibuk bermain ponsel, sementara Santi menatap Maya dengan senyum tipis yang terkesan merendahkan.
Arya makin panik ketakutan. Bayangan menjadi anak durhaka langsung menguasai pikirannya. Pria itu buru-buru memegang kedua bahu Maya, menatap istrinya dengan raut memohon yang sudah terbiasa Maya lihat.
"May, tolong mengalah ya? Kasihan Ibu, nanti tensinya naik," bisik Arya penuh bujukan. "Nanti pas pulang Mas belikan bakso bungkus, ya? Kamu makan di rumah saja. Nurut ya, Sayang? Demi Mas... jangan bikin malu di depan mas Mansur sama Mbak Santi."
Arya meremas pelan bahu Maya, menuntut pengorbanan yang kesekian kalinya.
Maya menatap lurus ke dalam mata suaminya. Tidak ada ketegasan di sana. Hanya ada sosok lelaki yang menyayanginya tapi terlalu penakut untuk membelanya, suami yang selalu menumbalkan perasaan istrinya demi predikat "anak berbakti".
"Nggak usah dibelikan, Mas," jawab Maya datar. Suaranya terdengar sangat tenang, namun terasa begitu dingin. Tangannya pelan-pelan menyapu tangan Arya, melepaskan pegangan suaminya dari bahunya. "Kalian pergi saja."
"Nah, gitu dong! Jadi menantu itu harus tahu diri dan penurut," sahut Bu Rika puas. "Ayo Arya, cepat! Nanti keburu penuh restoran seafood-nya!"
Arya mengelus pipi Maya sebentar dengan raut merasa bersalah. "Mas pergi dulu ya, sayang. Nanti Mas usahakan mampir belikan bakso."
Satu per satu dari mereka berjalan keluar. Pintu depan ditutup rapat dengan dentuman keras, menyisakan keheningan yang mendadak mencekam di rumah dua lantai tersebut.
Maya berdiri sendirian di tengah ruang tamu yang sepi. Baju biru mudanya yang rapi terasa seperti lelucon. Ia berjalan pelan menuju dapur, melihat sisa makanan siang yang mengendap dingin di atas meja.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama dihinakan, Maya tidak menangis. Air matanya seolah mengering digantikan oleh sesuatu yang lain. Maya menarik kursi, duduk sendirian di kegelapan dapur, lalu menatap jam dinding yang berdetik nyaring.
Janji semangkuk bakso yang diingkari itu bukan sekadar batalnya jalan-jalan sore tetapi menjadi paku terakhir yang menancap pada rasa sabar dan cinta penurutnya selama tiga tahun ini.