NovelToon NovelToon
Cuma Kamu

Cuma Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:751
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Teguran sang Sahabat

Dua hari berlalu. Kilau cahaya matahari pagi menembus kaca-kaca tinggi showroom otomotif papan atas milik keluarga Lazuardi.

Di tengah jajaran mobil mewah berspesifikasi tinggi, Rezvan melangkah tergesa-gesa dengan setelan jas abu-abu gelap yang terpotong sangat pas di tubuh tegapnya.

Tangan kirinya memegang iPad, sementara tangan kanannya menempelkan ponsel di telinga, merespons laporan penting dari koleganya.

"Oke, pastikan semua dokumen kerjasama joint-venture itu sudah ada di meja saya sebelum jam dua siang," tegas Rezvan dengan nada dingin khas eksekutif muda.

Di koridor utama showroom, Bianka berjalan anggun mengayunkan tas brand ternama. Ia baru saja selesai mengurus servis rutin bulanan mobil mewahnya.

Tatapannya yang acuh tak sengaja menangkap sosok pria bertubuh jangkung yang sedang bertelepon itu. Potongan wajah Rezvan yang tegas, rahang yang kokoh, serta aura wibawa yang terpancar kuat seketika memikat perhatian Bianka.

Pria itu tampak seperti sosok CEO karismatik yang sering ia lihat di drama Korea favoritnya.

Brak!

Karena Rezvan terburu-buru dan Bianka yang sengaja tak menghindar, keduanya bertabrakan di tikungan koridor. Ponsel di tangan Bianka terlempar jatuh ke lantai marmer.

Rezvan memegang bahu Bianka refleks agar wanita itu tidak terjatuh, sementara mata mereka beradu. Untuk beberapa detik yang hening, keduanya saling bertatapan. Bianka tertegun menatap lekat paras tampan Rezvan dari jarak sedekat ini.

"Pak Rezvan, mobil jemputan untuk meeting Bapak sudah siap di depan," panggil suara asisten Rezvan yang tiba-tiba muncul, memecah hening.

Rezvan tersadar seketika. Ia melepaskan pegangannya dan mundur satu langkah. "Maafkan saya. Saya sedang terburu-buru," ucap Rezvan penuh penyesalan.

Bianka yang tak ingin melewatkan kesempatan emas ini segera memegang bahunya dengan raut meringis dramatis.

"Aduh... bahu saya sakit banget. Kamu kalau jalan pakai mata dong!" gertak Bianka pura-pura meringis kesakitan.

Rezvan mengernyit cemas. "Saya sungguh minta maaf atas ketidaknyamanannya. Ponsel Anda juga terjatuh..." Rezvan menatap asistennya yang sigap mengambil ponsel Bianka.

Karena jam meeting sudah sangat mendesak, Rezvan menatap Bianka tajam namun profesional.

"Nama saya Rezvan. Silakan hubungi saya atau asisten saya jika ada hal serius atau cedera akibat kejadian ini. Kami akan bertanggung jawab penuh. Sekali lagi saya minta maaf, saya harus berangkat sekarang."

Asisten Rezvan dengan cekatan menyerahkan selembar kartu nama eksklusif berembos emas kepada Bianka sebelum berjalan cepat menyusul atasannya.

Bianka mematung melihat punggung Rezvan yang menghilang di balik pintu kaca. Jari-jarinya mengelus permukaan kartu nama bertuliskan: Rezvan Aditama Santoso - Chief Executive Officer.

Senyum penuh intrik dan ketertarikan perlahan mengembang di bibirnya. Kepala Bianka mulai berputar memikirkan berbagai rencana manis untuk mendekati pria tampan berkelas itu.

"Woi, Bianka! Ngapain lu senyum-senyum sendiri melamun di tengah jalan?" tegur sahabatnya yang baru saja keluar dari toilet.

Bianka menoleh dengan binar mata berbinar-binar, memamerkan kartu nama di tangannya. "Lu telat sih! Gue baru aja ketemu sama pria paling tampan dan berkarisma yang pernah gue temuin. Beneran kayak CEO di drama Korea, tau enggak! Fix, gue harus bikin dia lirik gue."

.

.

.

Di tempat lain, di dalam ruang kerja megah bernuansa kayu mahoni milik Damian Sumargo, suasana terasa begitu hening.

Zahira duduk kaku di kursi kulit di hadapan papinya. Di atas meja kayu, tersaji cangkir teh hangat yang asapnya masih mengepul tipis.

Sehari sebelumnya, Damian melakukan pertemuan tertutup dengan Pak Lazuardi. Dalam perbincangan antar dua pria dewasa dan kepala keluarga tersebut, Lazuardi dengan tegas menyentil nurani Damian.

"Damian, kalau kamu terus-terusan mengabaikan Zahira dan tidak bisa bersikap adil sebagai ayah, jangan salahkan saya kalau saya yang mengambil Zahira sebagai anak saya sendiri. Sedikit banyak saya tahu bagaimana perjuangan dan rasa sakit yang disimpan anak itu dari putri saya. Pilih dan lihat baik-baik, apa yang paling penting dalam sebuah keluarga. Maaf Damian. Kalau saya harus ikut campur urusan keluargamu,"

Teguran Lazuardi hari itu benar-benar menampar harga diri Damian sebagai seorang kepala keluarga.

Damian menatap putri tertuanya dengan tatapan yang jauh lebih lunak dari biasanya. Rasa bersalah dan harga dirinya sebagai pria terombang-ambing. Ia tak ingin dinilai sebagai ayah yang tidak bertanggung jawab atas hidup anak kandungnya sendiri.

"Zahira..." panggil Damian, suaranya terdengar berat dan sarat penyesalan. "Papi ingin kamu kembali tinggal di rumah utama. Papi juga ingin kamu bekerja di perusahaan Papi. Papi mau memberikan semua fasilitas yang selayaknya kamu dapatkan."

Zahira menunduk, meremas jarinya ragu. "Papi... Zahira tidak mau merepotkan dan memicu perselisihan lagi dengan Mami atau Bianka..."

"Papi berjanji, Ra," potong Damian cepat. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan. "Papi berjanji akan menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak Papi. Papi akan memperlakukan kamu sama persis seperti Papi memperlakukan Bianka dan Vidi. Papi tidak akan membeda-bedakan kalian lagi."

Damian menghela napas panjang, matanya menyirat kerinduan yang dalam. "Lagipula... kasihan adikmu, Vidi. Sejak kamu tidak tinggal di rumah, Vidi lebih banyak mengurung diri di dalam kamar. Dia cuma keluar kalau sekadar makan atau kalau Papi panggil untuk mengobrol sebentar di ruang keluarga. Rumah rasanya sepi dan dingin tanpa kamu, Ra."

Mendengar nama Vidi disebut, rasa hangat sekaligus sesak menghantam dada Zahira. Wajah adiknya yang mengurung diri di kamar terus membayangi pikirannya.

Ketulusan dan kepasrahan dalam nada bicara papinya membuat Zahira merasa sangat bersalah. Ia merasa seperti anak yang durhaka jika harus menolak permohonan tulus seorang ayah yang sedang berusaha memperbaiki kesalahannya.

Zahira mendongak, matanya berkaca-kaca. "Baik, Papi... Zahira mau pulang ke rumah."

Senyum lega yang jarang sekali terlihat di wajah tegas Damian akhirnya terukir.

"Terima kasih, Nak," tutur Damian tulus. "Sore ini juga, Papi sendiri yang akan datang ke rumah keluarga Lazuardi untuk berpamitan dan mengucapkan terima kasih langsung kepada mereka karena sudah menjagamu. Papi harus menjaga kehormatan dan harga diri keluarga kita dengan cara yang benar."

Zahira mengangguk pelan dengan senyum tipis. Keputusannya untuk pulang mungkin akan membuka lembaran baru yang tidak mudah, namun bayangan untuk kembali memeluk Vidi dan melihat niat baik papinya memberikan sedikit rasa hangat di hatinya yang telah lama dingin.

1
sunaryati jarum
Semoga lulus dengan nilai sempurna dengan predikat Cumlaude, Zahira
fazry_fazriyah: aamiin....

terima kasih doakan selalu Zahira ya
total 1 replies
Best
apa sih si Imelda ini, jahat
Best
Mampir lagi Thor. semangat up ceritanya...✨
Best
lanjut Thor... semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!