NovelToon NovelToon
Najin

Najin

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri / Penyelamat
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: Van pen.

​Pada tahun 1940-an di Jayakarta, Bella Anastasya, seorang pemburu jejak (tracker) tangguh, bertaruh nyawa demi mencari ibunya yang hilang secara misterius selama sepuluh tahun.

​Demi melacak petunjuk, Bella terpaksa bekerja sama dengan Gilang Fahrezi, pengusaha kaya pemilik jaringan informan terbesar di kota. Penelusuran berdarah ini membawa mereka menyusup ke fasilitas militer rahasia, tempat eksperimen parasit ilegal yang mengubah manusia menjadi monster mengerikan. Di sana, Bella harus berjuang melawan ancaman monster sekaligus menghadapi kenyataan pahit tentang takdir sang ibu.

akankah Bella menemukan sang Ibu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Di ruang penyiksaan yang pengap, Ichikawa menyiramkan ember berisi air ke Gilang, bajunya basah kuyup hingga saat air itu masuk kedalam mulut ia sedikit batuk, ia duduk di kursi kayu dan tangannya diikat kebelakang.

Nafasnya  Gilang memburu setelah terkena air,“Bagaimana aku bisa berakhir seperti ini??” batin Gilang sambil terbatuk-batuk. 

Diluar ruangan pintu penyiksaan dua penjaga berdiri dengan seragam militer bergaya rusia dan mengenakan topi pet perwira, pita merah dan emblem di bagian depan. 

“Diam-diam dia mendanai gerakan kemerdekaan, begitu? tanya salah satu penjaga.

“Tidak”, jawab penjaga di sebelahnya menatap. 

“jadi dia itu mata-mata?”, tanya penjaga di sebelahnya lagi, pandangannya lurus ke depan, ia berdiri dengan tagap. 

“Bukan”, setelah itu ia mendekat rekannya, “SELINGKUH”,bisiknya di sisi telinga presisi, ia lalu kembali ke polisi awal dan tersenyum sedikit. 

Rekan di sebelahnya terkejut, “selingkuh?”

Di Dalam ruang, Ichikawa berdiri di hadapan Gilang yang terikat,“Sebulan yang lalu kenapa kau menemuinya di kedai teh?”tanyanya mengangkat kaki lalu duduk di meja. 

“Nyonya Maera mencari secangkir teh keramik putih dan juga piring pepernis” Jawab Gilang, air menetes-netes di rambutnya. 

“kalau enam hari yang lalu di museum bagaimana?” tanyanya lagi seraya mondar-mandir pelan. 

“aku memberitahunya kalau cangkir teh keramik putih dan piring pepernis tidak mudah untuk dicari”, jawab Gilang menggelengkan kepala. 

“Kau juga kirimkan pesan tiga hari yang lalu”ujar Ichikawa. 

“Tiba-tiba aku mendapatkan secangkir teh keramik putih..dan pring pepernis”, gumam Gilang, air dari rambut muncrat di mulutnya saat berbicara. 

“Lalu kau datang ke rumahku kemarin”ucapnya Ichikawa seraya masih mondar-mandir di hadapan Gilang. 

Gilang menatap Ichikawa,“aku susah payang mencarinya, harus aku antar sendiri”ucapnya dengan malah dengan wajah menantang Ichikawa sang komisari. 

Tanpa diduga Ichikawa mengangkat sebelah kakinya dan menendang Gilang hingga terjatuh dari kursinya. Gilang tergeletak bersama kursi. 

Bugh! Bugh! Bugh! 

“Sudah kubilang kau jangan main-main dengan ku, mengerti! Dasar kau orang Jayakarta sialan! Berani-beraninya kau menaksir istri ku?hah?” Amarah Ichikawa sembari menginjak-injak Gilang bertubi-tubi, tanpa henti tapi diam hanya terdiam tidak bisa melakukan apapun.

Nafas Gilang terengah-engah, darah keluar dari bibirnya, entah apa yang diperbuat oleh Gilang hingga membuat Ichikawa sang komisar marah besar, apakah dia benar-benar selingkuh dengan istri Komisaris? 

“Komisaris….sepertinya.. Ada.. uhuk… sedikit… kesalahpahaman”  Perkataan Gilang terbata-bata,matanya terpejam dan nafasnya terengah-engah,ia tidak bisa melakukan apapun,tentu saja karena tangannya diikat. 

Ichikawa menarik kerah Gilang, “Hentikan omongan kosongmu itu! Apa yang kau perbuatan dengan istriku,hah? Katakan yang sebenarnya kepadaku”, geramnya kejam menyentak pakain Gilang. 

Bukannya kesakitan atau meringis, Gilang justru terkekeh,”Ah, kau konyol sekali.. “, mata Gilang berubah tajam menatapnya, “Komisaris Ichikawa” ucapnya pelan, “jangan bilang…kau mencurigai istrimu sendiri?bagaimana bisa kau meragukan wanita terhormat sepertinya? harus ku katakan, ini penghinaan besar bagi nyonya Maera!”, tambahnya. 

Perkataan itu justru menyulut emosi sang Komisaris, “apa maksudmu?”, tegas Ichikawa. 

“apakah tidak masalah jika nyonya Maera tahu.. tentang kesalahpahaman ini Komisaris?Itu maksudku”, gumam Gilang pelan. 

Komisaris itu langsung mengubah wajah raut ketakutan setelah mendengar ucapan Gilang, ia mengingat wajah istrinya, sebab Komisaris itu mencurigai istrinya itu adalah sebuah penghinaan, dia bisa celaka.

Gilang langsung dibebaskan, eksekutor melepaskan kuncian tangan Gilang pada yang ada di kursi, Gilang menggerakkan tangan hingga besi yang memutari pergelangan tangannya jatuh. 

Eksekutor itu menunduk kecil memberi hormat,lalu ia pergi. 

Gilang mengecek kedua lengannya, sementara Ichikawa menatap dingin.

Namun sepertinya Gilang tidak dibebaskannya secara cuma-cuma, dia menunjukkan foto seorang gadis, Gilang disuruh mencarinya, namun Gilang menolak dia tidak mencari wanita penghibur, sebab Gilang sebenarnya tau wanita itu adalah selingkuhannya. 

“Sekarang mari kita langsung ke intinya saja apa yang kau inginkan dariku?” tanya Gilang pelan. 

Ichikawa menunjukkan foto seorang wanita tersenyum yang sedang berdiri di sebelah batang pohon, “Gadis ini hilang, dia tidak kembali satu minggu” ujarnya. 

Gilang memperhatikan foto itu, karena ia mengenal wanita yang ada di foto, entah siapa wanita yang ada difoto itu tapi memang Gilang mengenalnya mungkin.

“Jika kasus orang hilang sepertinya itu pekerjaan polisi” gumam Gilang. 

Ichikawa berjalan lalu menatap dinding,“Bukankah kau sumber informasi utama Jayakarta?” tanya Ichikawa menggorek informasi dari sang informan.

Gilang menengok Ichikawa dengan wajah yang sulit diartikan, “sepertinya itu pekerjaan polisi” monolog Gilang lagi, ia mengucapakan kalimat itu lagi.

“Bukankah kau sumber utama Jayakarta?” Tanya Ichikawa. 

Gilang terkekeh, “Kau menyanjungku”.

“Katanya Orang harus menemui Gilang Fahrezi untuk mendapatkan sesuatu dikota tua, entah itu uang, rumah ataupun orang, apa benar?” tanya Ichikawa seraya berjalan pelan lalu menengok Gilang. 

“Keahlianku menangkap pencuri yang berhutang”, Gilang hendak beranjak, “Bukan wanita penghibu.. “

Namun, saat Gilang hendak berdiri Ichikawa mencengkram pundak Gilang dan memaksanya duduk kembali. 

“Kau harus temukan gadis itu, dan cepat beritahu alasan dia hilang, kemana dia pergi. Dan jika dia kawin lari,.. Temukan juga kekasihnya.” Perintah Ichikawa pada Gilang. 

Gilang menatap Ichikawa dengan wajah serius. 

“Dan yang terpenting jika kau gagal menemukannya.. “

Ruangan tampak hening lalu, “aku mati?” tanya Gilang singkat. 

Tangan Ichikawa memegang pundak Gilang, “Kau akan kehilangan semua yang kau miliki, semua yang kau miliki atas namamu. Rumah, tanah, uang, mobil, Griya harta emas. Pokoknya semuanya,semua akan hilang” ancam Ichikawa, “lalu kemudian kau, dikirim ke medan perang” tambahannya mengancam di hadapan wajah Gilang. 

Gilang mengerutkan alis menatap Ichikawa, Ichikawa melepaskan kedua cengkraman tangannya dan berdiri menjauhi Gilang. 

Gilang hanya termenung, Ichikawa menatap dingin jendela kecil disamping atas Gilang. 

Gilang mengambil napas dalam,“berapa lama waktuku?” tanya nya

Ichikawa menoleh ke Gilang, “sampai bunga sakura berguguran” sahut Ichikawa. 

tatapan Gilang kosong, ia malah terkekeh kecil, “Baiklah, aku mengerti”, ucapnya pelan, senyuman Gilang perlahan pudar. 

1
Tri Rahayu Amoorea
jos
Coco: Terima kasih kakak 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!