Jauh sebelum sejarah manusia dimulai, Dewi Angin Utara telah menjaga bumi dari balik bayang-bayang.
Namun ketika perang besar mengancam Agharta, Utara harus berpisah dari Zhuin, sosok yang telah dicintainya sejak ribuan tahun lalu.
Zhuin akan terus Ada, dengan berbagai wujudnya.
Dan setiap kehidupan, dia akan melupakan Utara.
Sementara Utara tetap mengingatnya.
Satu Dewi. Satu jiwa. Ribuan kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: IDENTITAS BERUANG KECIL
Pada suatu pagi yang cerah, anak beruang itu tampak sudah bisa berlarian dengan sangat lincah dan normal di halaman. Feng Yao yang kala itu sedang sibuk menyiram tanaman bunga spiritualnya spontan menolehkan kepala.
"Wah, rupanya kakimu sudah sehat sepenuhnya ya, beruang kecil?" sapa Feng Yao riang.
Mendengar suara itu, si beruang kecil langsung mengerem langkahnya. Ia berbalik, lalu berlari kencang menghampiri Feng Yao, berputar-putar mengitari kaki gadis itu seolah sedang memamerkan kesembuhannya dengan suka cita.
Feng Yao tertawa renyah melihat tingkah jenaka tersebut. "Pelan-pelan jalannya, nanti kakimu bisa terkilir lagi."
Alih-alih menurut, anak beruang hitam itu justru tampak semakin bersemangat. Ia memutari halaman luar pondok sebanyak beberapa kali dengan kecepatan penuh, sebelum akhirnya menghentikan tubuhnya tepat di depan ujung sepatu Feng Yao.
Feng Yao memiringkan kepalanya sedikit, merasa heran. "Ada apa?"
Anak beruang itu menatap matanya dalam-dalam. Sesaat kemudian
Wusss!
Secercah cahaya hitam pekat mendadak meledak, menyelimuti seluruh tubuh mungil beruang tersebut. Dalam hitungan detik, siluet binatang itu memanjang dan melebar, bertransformasi menjadi sosok pria dewasa berbadan tinggi tegap dengan rahang kokoh.
Feng Yao yang terkejut spontan mengambil langkah mundur setengah depa. Sepasang matanya membelalak sempurna.
"Eh?"
Pria tampan itu kini tengah mengambil posisi berlutut satu kaki tepat di hadapannya. Ia mengangkat wajah, menatap Feng Yao dengan sorot mata yang teramat serius. "Aku Xiong Yan, Nona."
Feng Yao mengerjapkan matanya berulang kali, mencoba mencerna keadaan. Pandangannya bergerak linglung, menatap titik kosong tempat beruang kecil tadi berada, lalu kembali menatap pria perkasa di depannya. "...Kau?"
Xiong Yan mengangguk tegas.
"Beruang kecil yang kemarin?"
"Ya, itu aku."
Feng Yao tertegun sesaat, lidahnya mendadak kelu. "Jadi... selama beberapa hari ini, kau adalah beruang yang aku rawat dan kuberi makan itu?"
"Benar."
" Aku Beifeng Yao, dari Agarth"
Feng Yao mengamati penampilan pria itu dari ujung rambut hingga ujung kaki secara saksama. Kau... ternyata sesosok siluman tingkat tinggi yang bisa mewujud manusia."
" Agarth..... itu dimana, wilayah klan apa?"
tanya xiong yan polos.Tapi beifeng hanya tersenyum. " tempatku sudah lama musnah dan aku mengembara. " ucap beifeng lembut.
Xiong Yan kembali mengangguk tegak. "Aku adalah pemimpin dari Klan Beruang Hitam di pegunungan ini." Ia kemudian menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat.
"Terima kasih banyak atas segala kebaikanmu yang telah sudi menolong dan merawatku."
Sisa-sisa kebingungan masih tergambar jelas di wajah manis Feng Yao. "Lalu, kenapa kau tidak berterus terang saja sejak awal pertemuan kita?"
Xiong Yan terdiam sesaat, menimbang kata-kata. Pertanyaan inilah yang sebenarnya terus berkecamuk di kepalanya selama menghabiskan waktu di pondok ini. "Karena... aku sedang terluka dan kau yang menolongku"
Feng Yao mengangkat sebelah alisnya, bersiap memotong. Namun, Xiong Yan dengan cepat menyambung kalimatnya. "Tapi, aku juga tidak mau terus-menerus membohongimu dengan identitasku."
Ia menatap lurus ke dalam manik mata Feng Yao dengan guratan ketulusan.
Feng Yao menatap wajah serius itu selama beberapa detik, sebelum akhirnya seulas senyuman kecil yang maklum terukir di sudut bibirnya. "Setidaknya, kau berani jujur sekarang."
Xiong Yan menghela napas lega dan mengangguk. "Dan ada satu hal lagi yang harus kukatakan." Ia mengacungkan telunjuknya, menunjuk ke arah bentangan hutan di sekitar mereka. "Wilayah tanah tempat kau mendirikan pondok bambu ini, sebenarnya masuk ke dalam peta kekuasaan Klan Beruang Hitam."
Feng Yao langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling pembatas hutan dengan cemas. "Ini wilayah kekuasaanmu?"
"Benar," jawab Xiong Yan pasti. "Namun kau sama sekali tidak perlu risau atau merasa terancam. Selama keberadaanmu di sini tidak mengusik atau merugikan anggota klanku, aku jamin tidak akan ada satu makhluk pun yang berani mengusirmu dari tempat ini."
Feng Yao mengangguk-angguk paham, beban di pundaknya seketika terangkat. "Oh... jadi begitu rupanya."
Ia kemudian kembali memfokuskan tatapannya pada wajah Xiong Yan. "Kalau begitu, senang bisa resmi berkenalan denganmu, Xiong Yan."
Untuk sesaat, Xiong Yan terpaku di tempatnya, hanya bisa menatap wajah manis itu tanpa berkedip. Entah sihir apa yang bekerja, namun mendengar namanya diucapkan secara langsung oleh bibir lembut Feng Yao sukses membuat dadanya kembali berdesir aneh.
Deg.
Merasa salah tingkah, Xiong Yan segera memalingkan wajahnya ke arah lain dan berdeham pelan. "Senang berkenalan denganmu juga, Beifeng Yao."
Beifeng Yao tersenyum hangat. Wajahnya yang polos tampak terlihat berkali-kali lipat lebih menggemaskan tatkala sebuah ide jahil mendadak melintasi benaknya.
"Wah..."
Ia mengambil satu langkah lebar, memangkas jarak di antara mereka hingga berdiri sangat dekat di depan Xiong Yan. "Jadi, kau ini benar-benar beruang kecil yang menggemaskan itu ya."
Sebelum Xiong Yan sempat mencerna arah pembicaraan atau membaca gerakannya, kedua tangan ramping Feng Yao sudah melesat maju ke depan.
Cekrek.
Kedua belah pipi kokoh milik sang pemimpin klan beruang itu langsung dicubit dan ditarik gemas oleh jemari Feng Yao.
Xiong Yan seketika membeku layaknya patung es. "..."
Beifeng Yao tertawa renyah dengan mata menyipit senang. "Pantas saja saat berwujud beruang kemarin wajahmu kelihatan sangat lucu!"
"Beifeng Yao..." suara Xiong Yan keluar dengan nada kaku dan bergetar menahan gejolak aneh.
Namun bukannya menyudahi, rasa penasaran Feng Yao justru semakin membubung tinggi. Ia malah menarik kedua pipi pria itu sedikit ke arah kanan, lalu menariknya lagi ke arah kiri bergantian. "Wah, teksturnya benar-benar mirip!"
Perlahan tapi pasti, rona merah menjalar hebat, membakar kedua pipi Xiong Yan. Sang panglima tangguh yang biasanya ditakuti dan disegani oleh seantero jagat Klan Beruang Hitam, kini hanya bisa berdiri pasrah dengan tubuh sekaku papan kayu, membiarkan wajahnya dijadikan mainan tarikan oleh seorang gadis asing.
Beifeng Yao mendadak menghentikan gerakannya. "Eh?" Ia mencondongkan tubuh, meneliti rona merah di wajah Xiong Yan dari dekat. "Kau sedang sakit?"
"Tidak," jawab Xiong Yan pendek dengan suara serak.
"Lalu kenapa wajahmu memerah sampai seperti ini?"
Xiong Yan dengan cepat menyentak kepalanya, memalingkan wajah ke arah samping demi menyembunyikan rasa malunya yang sudah di ubun ubun. "Darahku gampang ... panas."
Beifeng Yao reflek mendongakkan kepala, menatap bentangan langit pagi yang bersih. Angin pegunungan yang berembus saat itu justru terasa cukup menusuk tulang. "Panas? Padahal udara pagi ini sedingin ini?"
"...Ya, panas," keukeuh Xiong Yan tak mau kalah.
"Aneh sekali, padahal ini dingin."
Xiong Yan memilih bungkam seribu bahasa. Ia tentu tidak akan pernah sudi mengakui bahwa penyebab utama yang membuat suhu wajahnya mendadak meledak panas bukanlah karena faktor cuaca alam, melainkan akibat ulah seorang gadis yang dengan beraninya mencubit pipinya dari jarak sedekat ini sembari melempar senyuman mematikan.
Beifeng Yao akhirnya menarik kembali kedua tangannya. Ia terkekeh geli melihat kepasrahan pria itu. "Kau lucu juga ya."
Xiong Yan langsung menolehkan wajahnya kembali dengan cepat. "Apa?"
"Kau," ulang Feng Yao singkat sembari menunjuk hidung pria itu.
"..." Xiong Yan kembali terbungkam. Satu kata sederhana yang keluar dari mulut gadis itu entah mengapa rasanya jauh lebih mematikan dan sanggup melumpuhkan seluruh urat sarafnya ketimbang hantaman ilmu kesaktian spiritual tingkat tinggi mana pun.
Beifeng Yao kemudian melembutkan tatapannya, tersenyum tulus. "Terima kasih karena sudah sudi berterus terang dan memberi tahu identitas aslimu kepadaku."
Xiong Yan mengangguk pelan, berusaha mengontrol detak jantungnya yang masih karut-marut. "Sudah menjadi kewajibanku. Tidak seharusnya aku terus menyembunyikan hal sepenting itu darimu."
Feng Yao memiringkan kepalanya ke satu sisi. "Kalau begitu, mulai detik ini dan seterusnya, kau tidak boleh berubah menjadi wujud beruang kecil lagi di depanku."
Xiong Yan mengernyitkan dahi, merasa sedikit kecewa. "Kenapa begitu?"
"Karena sekarang aku sudah tahu kalau kau adalah Xiong Yan," sahut Feng Yao riang. Senyumnya terkembang manis. "Jadi, kalau kau berniat ingin berkunjung ke sini lagi, datanglah sebagai sosok Xiong Yan yang asli."
Deg.
Jantung Xiong Yan kembali berulah, berdegup kencang di luar ritme normal. Ia buru-buru berdeham keras demi menetralisir rasa gugupnya. "Baiklah."
Namun, baru saja keheningan tercipta, Feng Yao mendadak teringat akan satu hal krusial.
"Oh iya, tunggu dulu."
Xiong Yan menolehkan telinga. "Hmm?"
"Kalau kau memang seorang pemimpin besar di Klan Beruang Hitam... itu artinya kau adalah orang yang sangat sibuk dan punya banyak urusan, bukan?"
"Bisa dikatakan cukup sibuk," aku Xiong Yan jujur.
"Lalu... kenapa selama beberapa hari belakangan ini kau malah sengaja menghabiskan waktumu dengan menyamar jadi beruang kecil malas dan tidur-tiduran di halaman pondokku?" tanya Feng Yao menyelidik dengan tatapan menuntut jawaban.
Xiong Yan seketika membeku. "..."
Feng Yao berlipat dada, setia menunggu untaian kalimat yang akan keluar dari mulut pria itu.
Xiong Yan memalingkan wajahnya ke arah semak-semak, menghindari kontak mata langsung.
"Itu... itu murni karena aku ingin memastikan bahwa luka di kakiku benar-benar sudah sembuh total sebelum aku kembali memimpin."
Feng Yao mengangguk-angguk polos, menerima alasan klise itu tanpa curiga sedikit pun.
"Oh, jadi begitu."
Di sampingnya, Xiong Yan diam-diam mengembuskan napas lega yang amat panjang dari paru-parunya. Beruntung siluman ini sangat polos dan tidak mengejarku dengan pertanyaan yang lebih jauh, batinnya bersyukur.
Pria itu kemudian memutar tubuhnya, bersiap untuk pergi. "Kalau begitu, aku akan segera kembali ke markas wilayah klanku dulu."
Namun baru saja kakinya terayun sejauh dua langkah, suara panggilan Feng Yao kembali memecah udara pagi.
"Xiong Yan."
Langkah kaki pria itu otomatis terkunci. Ia menoleh ke belakang. "Ya?"
Feng Yao melambaikan tangan kecilnya dengan senyum lebar yang menghiasi wajah cantiknya.
"Kalau di kemudian hari kau sampai terluka lagi karena jerat pemburu, kau boleh datang ke pondok ini kapan saja."
Xiong Yan menatap sosok gadis itu lekat-lekat.
"Aku pasti akan mengobatimu lagi sampai sembuh," lanjut Feng Yao tulus.
Untuk beberapa detik yang berharga, Xiong Yan hanya terpaku memandangi siluet gadis itu yang diterpa cahaya matahari pagi. Perlahan, sudut-sudut bibirnya terangkat, membentuk seulas senyuman tipis yang sangat menawan.
"Baik. Aku pegang janjimu."
Ia pun berbalik arah dan melanjutkan langkah kakinya melintasi hutan dengan dada yang terasa jauh lebih ringan.
Namun, baru berjalan beberapa puluh meter meninggalkan pelataran pondok, tangan kanannya tanpa sadar bergerak naik, menyentuh permukaan pipinya sendiri yang bekas ditarik tadi.
Suhu di pipinya ternyata masih terasa sangat hangat.
Xiong Yan mengernyitkan keningnya dalam-dalam, meratapi nasib batinnya yang kini mulai tidak keruan. Entah mengapa, ia mulai menyadari satu kenyataan baru: bahwa mendekati dan berurusan dengan sosok Beifeng Yao ternyata terbukti jauh lebih berbahaya bagi keselamatan jiwanya ketimbang maju ke medan perang melawan musuh bebuyutan mana pun.