Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.
Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.
Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.
Itu bukan cinta. Itu transaksi.
Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.
Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 UCAPAN TERIMA KASIH DAN MALAM ITU
Hari-hari setelah penyelamatan itu adalah pusaran kesibukan yang senyap.
Mansion Prakoso berubah menjadi markas dadakan: anak buah Bara keluar-masuk membawa laporan, pengacara menyusun dokumen dengan tergesa, dan Bramantyo menghabiskan berjam-jam di telepon dengan kenalan-kenalan lama yang ia kira sudah hilang selamanya.
Namun di tengah pusaran itu, ada satu oase ketenangan: kamar Ratna.
Maya menghabiskan hampir sepanjang hari di sana, duduk di sisi ranjang ibunya, menggenggam tangannya sementara sang ibu tidur atau menatap langit-langit dengan pandangan hampa.
Dokter pribadi, seorang pria penyabar bermarga Suryana, mengatakan bahwa penculikan itu adalah kemunduran, tapi bukan kekalahan. Ratna butuh waktu. Butuh merasa aman. Dan yang terpenting, ia butuh sesuatu yang Maya tak tahu cara memberinya: keyakinan bahwa semua itu tak akan pernah terulang.
Pada hari ketiga, Ratna meminta bertemu Bara.
Maya mengerjap, terkejut.
"Bara? Untuk apa, Ma?"
Ratna duduk di ranjang, punggungnya bersandar pada tumpukan bantal, rambut kelabunya dikepang oleh Marta tadi pagi. Matanya, yang dulu begitu keruh, kini menyimpan kilau yang baru.
"Untuk berterima kasih," jawabnya. "Dan untuk meminta maaf."
"Maaf? Kenapa?"
Ratna menghela napas. Ia meraih tangan Maya dan menggenggamnya.
"Karena menghakiminya tanpa mengenalnya. Karena takut padanya. Karena mengiranya seorang monster. Laki-laki itu mempertaruhkan nyawanya demi Mama. Laki-laki yang tak berutang apa pun pada Mama. Laki-laki yang Mama perlakukan seperti musuh. Dan dia... dia datang menjemput Mama. Dia tak melakukannya demi uang, Nak. Bukan karena kewajiban. Dia melakukannya karena dia suamimu. Dan karena, meski kamu tak mau melihatnya, dia mencintaimu."
Maya membuka mulut hendak membantah, tapi kata-kata tak kunjung keluar.
Dia mencintaimu.
Tiga kata. Begitu sederhana. Begitu besar.
"Mama..." ia memulai, tapi Ratna memotongnya.
"Jangan bilang tidak. Mama sudah menikah hampir tiga puluh tahun. Mama tahu bagaimana seorang laki-laki menatap perempuan yang ia cintai. Dan Bara menatapmu seperti itu. Sejak hari pertama Mama melihatnya, di rumah ini, saat Mama nyaris tak mampu membuka mata, Mama sudah melihatnya. Dia menatapmu seolah kamu satu-satunya hal baik di dunia yang penuh kebusukan ini. Dan itu, Nak, itu tak bisa dipura-purakan."
Mata Maya terasa panas.
"Ini bukan cinta, Ma. Ini kontrak."
"Kontrak tak membuat seorang laki-laki berdarah demi kamu. Kontrak tak membuat seorang laki-laki meninggalkan kerajaannya untuk menyelamatkan ibu dari istrinya. Kontrak tak membuat seorang laki-laki mengecup keningmu sebelum berangkat ke medan perang. Itu hal yang lain. Dan kamu tahu itu."
Maya tak sanggup menjawab. Karena jauh di lubuk hati, di sudut yang gelap dan penuh takut itu, ia tahu ibunya benar.
* * *
Bara menyanggupi bertemu Ratna sore itu juga.
Maya membiarkan mereka berdua saja, meski setiap serat dalam dirinya ingin tinggal, ingin mendengar, ingin tahu apa yang akan dikatakan ibunya. Tapi Ratna meminta ruang berdua, dan Maya menghormati keinginan itu.
Ia tinggal di lorong, punggungnya bersandar ke dinding, lengan bersedekap di dada, mendengarkan gumaman yang sampai dari balik pintu.
Mulanya, nyaris tak terdengar apa-apa. Lalu, suara Ratna, jernih dan mantap, jauh berbeda dari bisikan bergetar hari-hari sebelumnya.
"Duduklah, Bara. Aku tidak menggigit."
Hening. Lalu, suara berat lelaki itu, menjawab sesuatu yang tak sampai Maya tangkap.
"Aku ingin berterima kasih," ucap Ratna. "Atas apa yang kamu lakukan. Karena mempertaruhkan nyawamu demi perempuan yang bahkan tak sanggup menatap wajahmu."
"Saya tak punya pilihan lain," jawab Bara, dan kali ini Maya mendengarnya jelas. "Dia ibu dari istri saya."
"Dan hanya itu? Sekadar kewajiban?"
Hening lagi. Lebih panjang.
"Bukan," Bara mengakui. "Bukan cuma itu."
"Lalu apa?"
Maya menahan napas.
"Putri Anda," ucap Bara, dan suaranya terdengar berbeda, lebih lembut, nyaris rapuh. "Putri Anda memohon saya menolongnya. Dan saya tak bisa berkata tidak. Saya tak bisa berkata tidak saat dia meminta uang jaminan. Saya tak bisa berkata tidak saat dia meminta saya menikahinya. Saya tak bisa berkata tidak saat dia meminta saya membawa ibunya pulang dengan selamat. Dan saya tahu suatu hari dia akan meminta sesuatu yang tak sanggup saya berikan. Dan hari itu... hari itu saya akan hancur berkeping-keping. Tapi sampai saat itu tiba, saya akan terus berkata ya. Karena dialah satu-satunya orang di dunia ini yang meminta sesuatu pada saya tanpa mengharapkan imbalan apa pun."
Keheningan yang menyusul terasa pekat, sarat oleh emosi yang nyaris tak sanggup Maya cerna.
"Kamu mencintainya," ucap Ratna, dan itu bukan pertanyaan.
"Saya tak tahu apa itu mencintai," jawab Bara. "Tak ada yang pernah mengajari saya. Tapi saya tahu saya tak ingin sesuatu yang buruk menimpanya. Saya tahu saya lebih memilih menghadapi seribu musuh daripada melihatnya menangis. Saya tahu ketika dia tidur di dekat saya... bukan di ranjang saya, tapi dekat... saya bisa beristirahat. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, saya bisa beristirahat. Kalau itu yang disebut mencintai, maka ya. Saya mencintainya."
Maya menutup mulutnya dengan tangan agar tak bersuara. Air mata bergulir di pipinya tanpa mampu ia hentikan.
"Dan dia?" tanya Ratna. "Dia tahu semua ini?"
"Tidak. Dan mungkin tak akan pernah tahu."
"Kenapa tidak?"
"Karena saya tak datang ke dunia ini untuk bahagia," ucap Bara, dengan kepahitan yang membekukan darah Maya. "Saya datang untuk bertahan hidup. Dan kalau bertahan hidup berarti dia tak pernah tahu apa yang saya rasakan, biar begitu adanya. Tapi saya akan melindunginya. Selamanya. Itu saya sumpahkan."
Maya tak sanggup mendengar lebih jauh.
Ia menjauh dari pintu dan berjalan menyusuri lorong dengan kaki gemetar, merasa lantai bergoyang di bawah telapaknya. Ia masuk ke kamarnya, menutup pintu, merosot ke ranjang, dan menangis.
Ia menangis bukan karena sedih.
Ia menangis karena, untuk pertama kalinya dalam sekian lama, ada seseorang yang benar-benar mencintainya. Dan orang itu adalah lelaki yang paling tak ia sangka.