NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Rival

Menikah Dengan Rival

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rii_Risa

"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"

"Mau."

Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.

Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.

Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.

Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Sesampainya di bandara, Erlangga langsung melangkah lebar menuju area kedatangan internasional. Matanya yang tajam menyapu sekeliling, mencari sosok yang tidak begitu penting baginya.

Tak butuh waktu lama, tatapannya langsung terkunci pada seorang wanita berambut pirang sebahu, yang sedang duduk di kursi tunggu dengan di temani dua koper besarnya.

Belum sempat Erlangga bereaksi, Kimberly, wanita berwajah bule khas Australia itu sudah lebih dulu menyadari kehadirannya.

"Erlanggaaa!" pekiknya dengan suara yang melengking. Ia langsung melompat berdiri dan setengah berlari menghampiri Erlangga.

"Mana Rafael? Kok kamu sendirian?"

"Dia masih meeting," jawab Erlangga datar.

Kimberly langsung melipat kedua tangannya di depan dada dengan raut wajah yang mendadak cemberut. "Tuh, kan! Aku sudah tebak dari awal. Dia memang tidak pernah peduli padaku!" gerutunya.

"Rafael nyuruh lo nunggu di kantor gue. Setelah meeting-nya selesai, dia bakal jemput lo."

Tanpa menunggu respons dari Kimberly, Erlangga langsung membalikkan badannya. Ia melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Kimberly yang masih terpaku di tempat.

Melihat punggung Erlangga yang mulai menjauh, mata Kimberly langsung membelalak panik. "Erlangga, tunggu!" teriaknya histeris.

Dengan langkah panik, ia langsung berlari mengambil dua kopernya. Ia terpaksa menyeret barang-barang bawaannya itu sendirian.

Sementara Erlangga, pria itu mendadak tuli. Ia justru mempercepat langkahnya tanpa menoleh sedikit pun.

Begitu tiba di depan mobilnya, Erlangga langsung menekan tombol remote dan membuka pintu bagasi.

Sementara Kimberly, wanita itu baru saja muncul di ujung jalur parkiran. Wajahnya terlihat memerah karena kelelahan, nafasnya terengah-engah, dan bibirnya semakin mengerucut masam.

"Kok kamu ninggalin aku, sih?! Berat tau, bawa koper-koper ini sendirian!" omelnya begitu sampai di depan Erlangga.

Erlangga langsung mengangkat sebelah alisnya. "Tapi lo bisa, kan? Hitung-hitung biar lo belajar mandiri."

Kimberly langsung membelalakkan matanya tak percaya. Ia tiba-tiba mengangkat kedua telapak tangannya ke depan wajah Erlangga, memperlihatkan kulitnya yang sedikit memerah.

"Tapi tangan aku jadi lecet, Erlangga! Lihat nih!" rengeknya. "Kalau Rafael sampai tahu tangan aku lecet gara-gara kamu... Pasti dia langsung marah besar!"

Erlangga hanya menatap telapak tangan itu datar, lalu menepisnya perlahan. "Kalau dia sampai marah besar sama gue, gue bakal bunuh dia. Gampang, kan?"

Setelah mengucapkan itu, Erlangga langsung berjalan ke arah pintu kemudi, meninggalkan Kimberly sendirian di depan bagasi yang masih terbuka.

Akhirnya wanita itu terpaksa mengangkat kopernya satu per satu sendirian ke dalam bagasi.

Setelah bagasi tertutup, Kimberly langsung melangkah ke arah pintu penumpang. Melihat Erlangga yang sudah duduk manis di kursi kemudi, Kimberly langsung mengetuk kaca mobil dengan buku jarinya.

Tuk! Tuk! Tuk!

Di dalam mobil, Erlangga yang sedang melonggarkan ikatan dasinya itu langsung menoleh. Ia menekan tombol untuk menurunkan kaca mobil, lalu menatap ke arah Kimberly.

"Erlangga! Aku nggak bisa buka pintunya," keluh Kimberly sambil memegang gagang pintu mobil.

Erlangga langsung menghela nafas pelan. "Tinggal lo tarik. Pintunya nggak dikunci."

"Tapi tangan aku sakit, nggak bisa kalau buka pintu mobil ini sendiri..."

"Ck... Benar-benar menyusahkan!" geram Erlangga.

Pria itu langsung keluar dari mobil. Ia melangkah lebar menghampiri Kimberly, lalu menyambar gagang pintu itu dengan sentakan kasar, dan membukakannya lebar-lebar tanpa memandang wajah wanita itu.

Kimberly langsung tersenyum lebar, lalu ia segera menyelinap masuk ke dalam mobil.

"Lain kali, kalau lo nggak bisa apa-apa sendiri, nggak usah datang ke sini," desis Erlangga tajam, sebelum membanting pintu mobil dengan keras.

Brak!

Erlangga kembali melangkah ke arah kemudi. Ia segera masuk ke dalam mobil, dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

**

Di tempat lain, sudah dua jam lamanya Kara terlantar di tepi trotoar jalan raya. Ia mondar-mandir ke kanan dan ke kiri sambil sesekali menghentakkan kakinya kesal.

Ia akhirnya memutuskan untuk tetap bertahan dan menunggu Erlangga di sana, daripada ia harus pulang jalan kaki.

"Pergi ke mana sih si Erlangga itu? Masa udah dua jam nggak datang-datang! Mana tempat ini makin panas lagi," gerutunya sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke arah wajah.

Lalu, Kara melirik ke arah gedung Maheswara Group dengan tatapan benci. "Kalau bukan karena lo kaya raya, ogah banget gue ngemis-ngemis nungguin lo kayak gini!"

Di saat Kara masih sibuk menggerutu, tiba-tiba matanya menangkap siluet mobil mewah Erlangga yang berbelok mulus ke arah area lobi utama kantor Maheswara Group.

"Nah, datang juga tuh orangnya!"

Raut kesal di wajah Kara seketika menghilang. Ia langsung melangkah cepat, bersiap menghampiri mobil Erlangga yang baru saja berhenti dengan sempurna di area lobi.

Namun, langkah kaki Kara mendadak terhenti. Dari jarak beberapa meter, matanya menangkap pemandangan Erlangga yang sedang keluar dari mobil, lalu melangkah memutari kap dan membuka pintu penumpang.

Seorang wanita berambut pirang kemudian keluar dari sana sambil melemparkan senyum manis kepada Erlangga.

"Lah, siapa tuh cewek?" gumam Kara dengan mata yang membelalak heran. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, sambil memicingkan matanya untuk memindai penampilan wanita asing tersebut.

Senyum sinis perlahan terbit di bibir Kara. "Oh... Jadi lo keluar tadi lagi jemput pacar lo ini?" batinnya sambil terkekeh pelan.

Kara tahu ini adalah momen yang pas untuk melancarkan aksinya. Ia akan mengambil keuntungan dari situasi ini, dan akan membuat Erlangga merasa bersalah, atau paling tidak, mempermudah jalannya untuk meminta maaf soal insiden semalam.

Tanpa ragu, Kara langsung mengangkat tangan, dan mengacak-acak rambutnya sendiri hingga sedikit berantakan. Lalu ia berkedip beberapa kali sampai matanya mulai berkaca-kaca.

"Waktunya bereaksi," gumam Kara sambil menampilkan wajah yang memelas. Lalu ia melangkah lebar menghampiri Erlangga dan wanita pirang tersebut.

Dengan suara yang sengaja dibuat bergetar, Kara langsung berteriak.

"Erlangga..."

1
Fulayah Haddad
Bagus, Amazing..........👍👍🤗😉😉 lanjut lg dong Thor, ditungguuu.............😉👌👌🫰🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!