Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Maka jadikanlah mereka sebagai musuh mu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat
Pertemanan dan pertemuan antara Sabdo dengan Kayi kian lama semakin lengket.
Sabdo sudah tidak malu-malu lagi bermain bersama Kayi sampai datang ke rumahnya.
Pemukiman orang-orang di dalam hutan yang jauh.
"Kayi mana?",
Sepulang sekolah Sabdo langsung masuk ke hutan tanpa tidur siang.
"Tunggu sebentar",
"Kayi masih di dalam kamar",
Sabdo sudah kenal baik dengan keluarga Kayi.
Yang barusan tadi adalah kakak perempuan Kayi.
Ada yang unik di kampung ini.
Semua perempuannya yang sudah dewasa memakai kain semacam syal di leher mereka.
Seperti ada yang ditutup-tutupi.
Mereka bilang supaya tidak digigit serangga.
Katanya di dalam hutan ini ada serangga yang khusus menggigit leher perempuan yang sudah dewasa.
Sabdo sudah beberapa kali diajak makan bersama keluarga Kayi.
Tapi ada satu hidangan yang Sabdo tidak suka lantas tidak pernah menyentuhnya.
Sudah menjadi kebiasaan orang-orang di sini suka makan daging yang masih bau darah.
Sabdo berpikir mereka masaknya kurang matang sempurna.
"Tempat apa itu Kayi?",
"Ayo kita masuk ke sana",
"Tidak boleh Sabdo",
"Gua itu khusus tempat orang-orang sembahyang",
"Jadi mereka berdoa di dalam gua?",
"Memangnya kepercayaan mereka apa?",
"Aku juga tidak tahu",
"Aku juga belum diajari agama kami apa",
"Apakah kamu sudah bilang sama orang tua kamu mau ikut pergi ke sekolah bersamaku?",
"Aku sudah bilang",
"Tapi kata mereka, tradisi orang-orang di sini memang tidak usah sekolah",
"Kami hidup menutup diri dari dunia luar",
Tidak hanya Sabdo yang suka main ke rumah Kayi.
Sebaliknya Kayi juga sudah mulai berani main ke rumah Sabdo.
"Ini apa?",
"Itu pensil warna",
"Bagus kan?",
Sabdo memperolehnya dari punya teman-teman di sekolah yang sudah bosan.
"Kamu mau coba?",
"Seperti ini caranya",
Kayi sangat senang ketika diajak mencorat-coret diding kayu rumah Sabdo dengan pensil yang warna-warni.
"Ini warna apa?",
"Itu warna jeruk (orange)",
"Orang tua kamu tidak akan marah?",
"Tenang saja",
"Mereka tidak akan marah",
"Aku memang tidak punya buku gambar",
"Ayo aku tunjukkan",
Sabdo mengajak Kayi ke kamarnya.
"Wah bagus sekali",
Kayi melihat dinding kamar Sabdo yang penuh coretan masterpiece.
"Ini semua kamu yang gambar?",
"Aku dan saudara-saudara ku",
"Sudah sore",
"Aku pulang dulu ya",
Kayi selalu berpamitan sebelum Prawiro dan Lentik sampai rumah.
Pada suatu hari libur Sabdo berkunjung ke rumah Kayi pagi-pagi.
Ia membawa oleh-oleh berupa jajan yang dibeli dari kantin sekolah.
Sabdo menabung dengan menyisihkan uang sakunya selama sebulan.
"Kayi mana?",
Pertanyaan Sabdo yang sebelumnya selalu ada jawabannya itu.
Hari ini tidak berbalas.
"Kenapa mata kamu?",
Sabdo memperhatikan mata kakak perempuan Kayi yang sembab.
Sabdo tahu kalau itu adalah bekas menangis.
Karena tidak menemukan Kayi di rumahnya.
Sabdo berkeliling pemukiman.
Dalam hatinya Sabdo tiba-tiba merasa sendu.
Orang-orang di sini biasanya terlihat lalu lalang.
Tapi kenapa pagi hari ini begitu sepi?
Kemana orang-orang?
Sabdo melewati depan gua yang katanya tempat sembahyang.
Sabdo belum pernah masuk ke dalam sana karena terlarang.
Sabdo mendengar suara orang-orang seperti sedang merapal doa bersama-sama.
Jangan-jangan mereka sedang sembahyang?
Jangan-jangan Kayi sudah mulai belajar agama mereka.
Sabdo penasaran mau melihatnya.
Seperti apa ritual kepercayaan mereka?
Sabdo dengan nekat masuk ke dalam gua yang dari luarnya gelap.
Sampai di dalamnya juga tetap gelap.
"Kayi... ",
Sabdo patah hati.
Anak kecil itu melihat sahabatnya sudah ditumbalkan.
Kayi anak perempuan yang malang, tewas di tangan keluarga dan orang-orang dekatnya sendiri.
"Kayi... ",
Tiba-tiba pandangan mata Sabdo kabur dan gelap.
Malam harinya Sabdo terbangun sudah berada di atas tempat tidur kamarnya.
Ada Lentik, ibu Sabdo yang terjaga.
"Mulai besok kamu jangan main ke sana lagi",
"Mereka siapa Bu?",
"Mereka orang-orang yang tidak baik",
"Jahat",