Xiao Yu dipaksa ikut pemilihan selir oleh orangtuanya demi mengangkat derajat keluarga. Padahal gadis ini ingin masuk militer.
Akhirnya ia ikut pemilihan selir dengan berpura-pura bodoh. Tapi sungguh suatu hal ajaib. Dia justru terpilih.
Ternyata pangeran Zhang Li sengaja memilih selir bodoh untuk protes pada raja bahwa ia lelah terus disuruh mencari seorang pendamping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20
Tatapan mata Selir Huo Yan dan Selir Kui mendadak memicing tajam melihat keakraban Selir Lan dengan para prajurit.
Merasa ingin mencairkan suasana dan berbagi kebaikan dengan para selir senior, Selir Lan melangkah mendekati Selir Huo Yan dan Selir Kui dengan tenang dan sopan di depan banyak pasang mata.
"Kakak Huo, Kakak Kui..." panggil Selir Lan ramah seraya menyodorkan nampan. "Ini ramuan khusus dari wilayah asalku agar tubuh tetap hangat di udara hutan ini. Silakan dicoba."
Selir Huo Yan melirik cangkir itu dengan pandangan kaku. Di depan seluruh rombongan, ia tegak berdiri dengan angkuh.
"Ramuan obat?" tanya Selir Huo Yan kaku. "Apakah kau sudah mendaftarkan ramuan ini ke Pusat Kesehatan Istana untuk diverifikasi, Selir Lan?"
Selir Lan mengerjap pelan, mempertahankan raut wajahnya yang tenang dan anggun. "T-tidak... Ini hanya ramuan herbal biasa yang aku buat sendiri."
"Tidak terdaftar?" desak Selir Huo Yan tajam. "Aku tidak akan pernah meminum ramuan yang tidak punya jaminan keselamatan seperti itu. Jangan sembarangan membagikan hal tak jelas jika tidak ingin dituduh meracuni penghuni istana!"
Meski disindir di depan publik, Selir Lan tidak tampak patah semangat. Ia menunduk sopan menjaga martabatnya. "Terima kasih atas tegurannya, Kakak Huo. Aku akan mengingat aturan ini dengan baik."
Melihat suasana kaku itu, Xiao Yu melangkah maju seraya tersenyum hangat. "Selir Lan, teguran Kakak Huo ada benarnya, tapi aku tahu niatmu tulus. Bolehkah aku meminta satu cangkir? Udara sore ini cukup dingin."
Selir Lan tersenyum tulus. "Tentu saja, Xiao Yu."
Tanpa ragu, Xiao Yu meminum ramuan itu sampai habis di hadapan semua orang, menegaskan dukungannya pada Selir Lan. Selir Huo dan selir Kui tersenyum sinis. Saat malam menjelang mereka membubarkan diri kembali ke tenda masing-masing.
*
*
*
Terompet tanduk bergema nyaring membelah udara pagi Hutan Selatan. Suasana perkemahan sangat meriah. Pangeran Zhang Li beserta pasukan pengawal berzirah telah bersiap di atas kuda mereka untuk memulai Perburuan Agung.
Para selir berkumpul di area paviliun terbuka untuk menyaksikan pelepasan rombongan pemburu.
Sebelum acara resmi dimulai, Selir Kui melirik ke arah Mei-Lin untuk memberi sinyal tersembunyi. Mei-Lin yang mengerti langsung berjalan tergesa-gesa menghampiri pelayan pribadi Selir Lan.
"Hei, A-chui! Tenda logistik butuh bantuan untuk memindahkan tempat bara api Selir Senior. Cepat bantu ke sana sekarang!" seru Mei-Lin dengan nada memerintah yang dibuat-buat.
A-chui tampak ragu-ragu karena harus meninggalkan junjungannya sendirian. "T-tapi Selir Lan..."
"Selir Lan ada di sini bersama para selir lain, tidak akan terjadi apa-apa. Cepat!" potong Mei-Lin tajam.
Terpaksa, A-chui menunduk patuh lalu bergegas pergi. Begitu pelayan itu menghilang dari pandangan, Selir Kui melangkah mendekati Selir Lan yang sedang berdiri menyendiri.
"Niatmu kemarin sangat baik, Adik Lan," bisik Selir Kui dengan senyum manis yang penuh kepalsuan. "Kata-kata Kakak Huo Yan memang terlalu tajam, tapi jika kau ingin ramuanmu tidak diragukan lagi olehnya kau hanya perlu menunjukkan bahan dasarnya yang murni."
Selir Lan mempertimbangkannya. Menunjukkan bahan murni adalah cara elegan untuk memperlihatkan pada Selir Huo Yan bahwa ramuannya aman.
"Kebetulan aku tahu tempat tumbuhan segar itu tumbuh di tepi hutan sebelah kanan. Mari, aku temani kau mengambil sebentar," imbuh selir Kui.
"Apakah tempatnya dekat, Kakak Kui?" tanya Selir Lan.
"Sangat dekat, hanya di balik pepohonan itu," bohong Selir Kui manis.
Tanpa curiga, Selir Lan berjalan berdampingan bersama Selir Kui menuju tepi hutan. Namun, begitu memasuki area berpohon rapat dan kabut pagi mulai turun dengan pekat, Selir Kui sengaja memperlambat langkahnya.
Ketika perhatian Selir Lan teralih memetik dedaunan herbal, Selir Kui diam-diam berbalik arah dan menyelinap pergi.
"Ayo kita pergi. Biarkan Selir Lan sendirian di jalur hutan liar ini, Mei-Lin," ajak Selir Kui pelan.
"Baik, Nona." Mereka tertawa puas melihat jebakan mereka berhasil.
Tak jauh di area tribun, acara pelepasan pemburu telah dimulai. Xiao Yu menyapu pandangan ke sekeliling dan mendadak memicingkan mata.
Selir Lan dan Selir Kui tidak ada di tempat, batin Xiao Yu curiga.
*
*
*
Waktu berlalu. Selir Kui kembali ke tribun sendirian dengan wajah tenang tanpa dosa. Xiao Yu yang mengamati gerak-gerik itu melangkah mendekati Selir Huo Yan dan Selir Kui.
"Kakak Kui, di mana Selir Lan? Bukankah tadi Kakak bersamanya?" tanya Xiao Yu cermat.
"Aku tidak tahu," sahut Selir Kui acuh tak acuh.
"Kenapa tidak tahu?" desak Xiao Yu.
"Kenapa kamu memaksaku? Kalau tidak tahu, ya tidak tahu!" bentak Selir Kui mulai sewot.
Selir Huo Yan yang mendengar itu langsung mengibaskan kipasnya dan menyela dengan nada dingin. "Mengapa kau pusing mengurusi Selir Lan, Adik Yu? Paling dia hanya sedang sibuk dengan tumbuhan desanya dan terlambat. Tidak usah membesar-besarkan hal sepele dan mengganggu jalannya acara."
"Maaf, Kak Huo." Xiao Yu menunduk sopan.
Selir Kui menyunggingkan senyum tipis yang halus melihat Xiao Yu ditegur. Namun, Xiao Yu tidak tinggal diam. Ia menyelinap mundur ke area belakang paviliun.
Bao'er bergegas mengikuti langkah junjungannya dengan raut panik. "Nona Yu... Anda benar-benar mau menyusul Selir Lan ke dalam hutan?" bisiknya seraya menyejajari langkah Xiao Yu.
"Ada yang tidak beres, Bao'er. Selir Kui kembali sendirian dengan raut puas," ujar Xiao Yu dingin seraya memastikan ikatan jubah dan kerapian panah ringkas yang tersembunyi di balik pakaiannya.
Bao'er menelan ludah. Sebagai pelayan setia, ia tahu betul betapa mematikannya keahlian memanah Xiao Yu, dan justru hal itulah yang membuatnya cemas.
"Aku tahu kemampuan memanahmu tidak ada tandingannya," bisik Bao'er cemas. "Tapi jika kamu sampai terpaksa menggunakan busur di dalam sana dan ada yang melihatnya... rahasia mu bisa terbongkar! Lagi pula, kabut di luar sana makin pekat."
Xiao Yu menepuk pelan bahu Bao'er untuk menenangkannya. "Karena itulah kau harus tetap di sini. Kau adalah alibiku."
"Yu'er...?" bisik Bao'er.
"Tetaplah di tribun. Jika Selir Kui atau Selir Huo bertanya, katakan aku sedang kembali ke tenda untuk menyeduh obat perut. Jangan biarkan siapa pun curiga sampai aku kembali membawa Selir Lan."
Bao'er menghela napas panjang lalu mengangguk mantap. "Baik. Hati-hati, Yu'er."
Xiao Yu mengangguk.
Dengan alibi yang sudah diatur rapi bersama Bao'er, Xiao Yu melompati pembatas dan menerobos masuk ke jalur hutan tempat Selir Lan dan Selir Kui tadi berjalan.
Namun, begitu melangkah lebih dalam, Xiao Yu menghentikan langkahnya. Matanya memicing meneliti rimbunnya pepohonan di hadapannya.
"Sial... jalur ini membingungkan," gumam Xiao Yu kesal.