Riu Han melangkah keluar dari pintu teleportasi yang menghubungkan Alam Bawah ke Dunia Atas, namun terpisah dari dua sahabatnya, Genbu si Kura-kura Hitam dan Bai Wing si Harimau Putih, karena sistem pengiriman yang acak. Sendirian di hamparan bunga asing, ia bergegas menuju arah kepulan asap untuk mencari petunjuk.
Kedatangan Riu Han ternyata memancarkan Aura Giok Nirvana yang telah hilang selama dua puluh tahun, menarik perhatian dua penguasa di tempat itu — masing-masing mengutus orang kepercayaan mereka, Bai Mo dan Zi Lan, untuk mengawasi sosok yang membawa aura tersebut.
Sementara itu, Riu Han tiba di sebuah pondok kayu dan bertemu dengan Su Zan Si, seorang pemburu tunggal yang ternyata juga berasal dari Alam Bawah. Su Zan Si dengan ramah memberikan arahan serta penjelasan penting: mengapa kekuatan dan gerakan Riu Han terasa terbatas di sini, bagaimana energi tubuhnya akan menyesuaikan diri, serta gambaran luas tentang dunia ini yang terdiri dari Empat Wilayah dan puluhan alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: kembali ke kota Chengdu
Langkah Riu Han kembali menyusuri kawasan yang dipenuhi robekan ruang, dan tak lama kemudian matanya berbinar kembali. Terselip di sela-sela luka dunia itu, terlihat logam-logam berkilauan — sama seperti yang ia temukan sebelumnya. Sebagian tertanam jauh di dalam tanah, namun robekan ruang yang terjadi ribuan tahun lalu seakan membukanya, membiarkannya terlihat dan terjangkau. Jika dunia ini tidak pernah hancur, harta-harta ini mungkin akan tetap tersembunyi selamanya, tak diketahui siapa pun.
Riu Han tentu tidak akan menyia-nyiakan keberuntungan ini. Dengan pemahamannya tentang penempaan dan formasi, ia mengenali setiap jenis logam itu sekilas. Bukan benda biasa — ini adalah bahan-bahan kelas atas, yang paling dicari oleh para ahli penempa dan pembentuk formasi. Logam seperti ini bukan sekadar untuk membuat senjata tajam; ia menjadi tulang punggung formasi yang kokoh dan tahan lama. Semakin murni bahannya, semakin kuat dan awet formasi yang dibangun. Bagi siapa pun yang mendalami seni ini, logam kelas atas adalah harta yang tak ternilai harganya.
Ia bergerak cepat, menyapu satu kawasan demi kawasan, memungut dan menyimpannya ke dalam Cincin Ruang. Pekerjaan ini berulang-ulang, memang terasa agak membosankan, namun membiarkannya begitu saja sungguh tidak masuk akal — harta karun tergeletak di tempat yang tak ada orang lain yang bisa menjangkaunya. Ia menghabiskan waktu cukup lama untuk memastikan tidak ada yang terlewat, hingga akhirnya, setelah menilik sekeliling dengan puas, ia memutuskan perjalanan di bagian ini telah selesai.
Riu Han melangkah menuju batas dunia ini. Di kejauhan, dinding batu raksasa menjulang tinggi, seakan membentuk cangkang pelindung yang kokoh di sekeliling seluruh alam reruntuhan. Ia mencari-cari jejak portal yang pernah ia gunakan untuk masuk, namun berkeliling cukup lama, pintu itu tak kunjung ditemukan.
"Ehem... Anak muda, apa yang sedang kau cari?"
Suara itu terdengar begitu dekat, namun Riu Han sama sekali tidak menyadari kehadiran siapa pun. Ia menoleh seketika, jantungnya berdetak kencang. Tidak jauh darinya berdiri dua orang berusia paruh baya — seorang pria dan seorang wanita. Penampilan mereka sederhana, tenang, namun kehadiran mereka begitu samar, seakan menyatu dengan udara di sekelilingnya.
Ahli sejati, batin Riu Han. Jika mereka berniat jahat, ia mungkin sudah tiada tanpa sempat berteriak.
Dua orang itu tersenyum melihat ekspresi kagetnya, seakan memahami apa yang melintas di pikiran pemuda itu.
"Maaf jika kami mengagetkanmu," ucap pria paruh baya itu dengan nada yang lembut namun berwibawa. "Kebetulan kami berdua sedang melintasi tempat ini, dan melihatmu seakan mencari sesuatu di dinding batu itu. Apakah kami benar?"
Riu Han menarik napas, lalu memberi salam dengan sopan. "Maafkan ketidaksopanan saya, Senior. Hanya saja kehadiran kalian begitu tiba-tiba... saya berpikir, jika kalian berniat membunuhku, saya mungkin sudah tiada saat itu juga."
Tawa halus terdengar dari kedua orang itu. Keramahan dan kesopanan Riu Han membuat mereka makin tertarik.
"Anak muda," tanya wanita itu, suaranya lembut dan menenangkan, "apakah kau mencari jalan keluar?"
"Benar, Senior," jawab Riu Han dengan tulus. "Nama saya Riu Han. Saya sedang mencari pintu untuk kembali."
"Kebetulan sekali," ucap pria itu sambil menunjuk ke arah sebuah celah di dinding batu yang tersembunyi di balik tumpukan batu besar. "Kami pun hendak pergi. Ikutlah bersama kami."
Wanita itu tersenyum ramah, menatap Riu Han dengan pandangan yang hangat, seakan melihat seseorang yang ia kenal. Ia tidak banyak bicara, namun kebaikannya terlihat jelas dari caranya melangkah memberi jalan.
Mereka berjalan menuju dinding batu yang menjulang itu. Sepanjang jalan, pria itu bercerita dengan santai. "Namamu Riu Han... kemana tujuanmu setelah ini?"
"Saya menuju Kota Chengdu, Senior," jawab Riu Han.
"Kau menetap di sana?"
"Sementara saja, saya berasal dari tempat yang jauh."
Pria itu mengangguk pelan, seakan memahami. Ia tidak menekan pertanyaan lebih lanjut, namun kehangatan dalam suaranya membuat Riu Han merasa tenang. Ia bisa merasakan — kedua orang ini tidak memiliki niat buruk. Energi mereka murni, stabil, dan damai.
Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah bagian dinding yang dihiasi ukiran simbol kuno yang samar. Riu Han mengangguk dalam hati — di sinilah pintu keluarnya, tersembunyi dengan sangat baik. Pria itu mengeluarkan sepotong batu roh kelas atas, meletakkannya ke dalam lekukan batu yang telah disediakan. Cahaya mengalir mengikuti setiap ukiran, menyebar perlahan, hingga terbukalah sebuah portal hitam tegak setinggi tiga meter di hadapan mereka.
"Masuklah," ajak pria itu.
Ia melangkah lebih dulu, diikuti wanita itu, lalu Riu Han. Seketika itu juga pemandangan di sekelilingnya berubah. Mereka berdiri di tempat terbuka, masih di dalam kawasan reruntuhan namun di bagian yang lebih luas, tempat terdapat formasi teleportasi umum yang menghubungkan ke dunia luar.
"Ini adalah gerbang utama," jelas pria itu sambil menunjuk portal yang kini menyala lembut. "Setiap orang yang melintasi pintu ini akan dikirim ke sekeliling Kota Chengdu, bukan langsung ke dalamnya. Dan posisi pendarannya akan acak bagi masing-masing orang."
Ia kembali meletakkan batu roh ke dalam formasi, dan pintu terbuka sekali lagi. "Sampai jumpa, Riu Han. Hati-hati di jalan."
"Terima kasih banyak, Senior," ucap Riu Han tulus, memberi hormat sekali lagi.
Ia melangkah masuk, dan cahaya menyelimutinya. Saat pandangannya kembali jernih, ia berdiri di atas padang rumput yang luas, angin berhembus sejuk, dan di kejauhan, gerbang Kota Chengdu tampak jelas. Ia tidak jauh — hanya sekitar seperempat jam berjalan kaki.
Riu Han melangkah menuju gerbang itu. Sore mulai menjelang, dan antrean di pintu gerbang masih cukup panjang. Sesampainya di depan petugas, ia mengeluarkan tanda pengenalnya — lencana anggota Persekutuan Alkemis yang ia peroleh di Kota Chengdu. Petugas itu memeriksanya sejenak, lalu wajahnya menjadi lebih hormat.
Lanjut Up Thor..
Tetap semangat Thor 💪💪