"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."
Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.
Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.
Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?
Ikuti kisah Kaia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 surat
Klik!
Suara pintu apartemen terbuka, Elio melangkah masuk dengan langkah berat. Lingkar hitam samar tampak menghiasi bawah matanya.
Kemeja putih yang dikenakannya sedikit kusut karena semalaman tidak pulang. Meski tidak memiliki jadwal jaga malam, ia memilih tetap berada di rumah sakit.
Menenggelamkan diri di ruang dokter, membaca jurnal medis terbaru, memeriksa ulang hasil diagnosis pasien, bahkan beberapa kali membantu dokter jaga hanya agar pikirannya tidak kembali mengingat pertengkarannya dengan Kaia.
Begitu pintu tertutup, keheningan langsung menyambutnya. Ia melepas sepatu, menyusunnya rapi di rak penyimpanan.
Pandangannya tanpa sadar melirik jam dinding. Pukul delapan pagi. Biasanya... di jam seperti ini aroma kopi hangat sudah memenuhi apartemen.
Suara dentingan spatula dari dapur terdengar pelan. Atau Kaia muncul dengan celemek sederhana sambil tersenyum kecil.
"Sarapan dulu, Kak."
Entah sejak kapan pemandangan itu menjadi bagian dari rutinitas paginya. Namun hari ini tidak ada apa-ара.
Apartemen terasa begitu sunyi. Elio mengerutkan dahi. Tanpa sadar ia mencari sosok yang selama ini ia acuhkan.
"Kaia?" gumamnya lirih. "Belum bikin kopi?" Elio mendecak pelan. "Mungkin masih di dapur."
Ia berjalan menuju dapur.Namun langkahnya kembali terhenti. Kompor bersih, wajan tergantung rapi.
"Kaia?"
Tak ada jawaban. Ia mengembuskan napas pendek, lantas melepas jas dokternya, meletakkannya di keranjang cucian. Di area loundry, sosok perempuan itu pun tidak ada di sana.
"Mungkin masih tidur?"
Namun baru dua langkah menuju kamar, ia mendadak berhenti. Keningnya berkerut semakin dalam.
"Tunggu..." Suara itu hanya berupa bisikan.
Sejak kapan... aku tahu jam berapa biasanya dia membuat kopi?
Sejak kapan... aku hafal kalau dia selalu menungguku pulang?
Sejak kapan... aku mencarinya begitu masuk ke rumah?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tak mampu ia jelaskan.
Ia menggeleng pelan, seolah menolak pikiran itu. "Lebay."
Ia kembali melangkah menuju kamar. Tapi kali ini, ada rasa tidak nyaman yang perlahan merambat di dadanya.
Pintu kamar didorong perlahan. Tatapannya langsung menyapu seluruh ruangan. Ranjang tertata rapi.
Tak ada bekas seseorang baru saja bangun tidur. Wardrobe sedikit terbuka. Pakaian-pakaian Kaia masih tergantung rapi di dalamnya.
Sepintas semuanya terlihat biasa. Namun ketika matanya jatuh ke atas nakas di sisi ranjang... langkah Elio terhenti.
Di sana tergeletak sebuah cincin. Cincin pernikahan mereka. Di sampingnya terdapat kartu ATM yang selama ini ia berikan sebagai nafkah bulanan. Dan sebuah amplop putih.
Jantung Elio berdetak lebih cepat. Entah mengapa telapak tangannya mendadak terasa dingin.
Dengan gerakan tergesa ia mengambil amplop itu. Jemarinya bahkan hampir merobek ujung kertas saat membukanya. Matanya bergerak cepat membaca setiap kalimat.
****
Kak El...
Pernikahan kita terjadi karena permintaan terakhir Kak Kiara. Sebuah keterpaksaan yang membuat kita terikat dalam satu hubungan yang seharusnya tidak pernah ada.
Selama ini kita hanya saling menyakiti. Aku sudah mencoba bertahan tapi kali ini aku menyerah.
Aku juga kehilangan Kak Kiara. Dia bukan hanya tunangan Kak El, tapi juga kakak satu-satunya yang selalu melindungiku.
Aku bukan penyebab kematiannya. Dan Mamaku bukan perempuan perebut suami orang.
Tentang perceraian, semuanya sudah kuwakilkan kepada Pak Sigit. Semoga setelah ini Kak El benar-benar menemukan kebahagiaan.
_Kaia
Ruangan mendadak terasa begitu sunyi.
Elio masih terpaku. Tangannya perlahan mengepal hingga surat itu kusut.
"...Kaia." Suara itu nyaris tak terdengar. Dadanya mendadak sesak. Rasanya baru kali ini ia benar-benar merasakan sesuatu yang selama ini tak pernah ingin ia akui.
Rasa kehilangan.Pikirannya dipenuhi potongan-potongan kenangan.Kaia yang selalu menunggunya pulang.
Kaia yang diam-diam membuatkan sarapan.
Kaia yang tertatih mengantar kan makan siang ke rumah sakit.Kaia yang selalu berkata pelan menuruti permintaannya.Namun semua itu justru selalu ia balas dengan tatapan dingin.
"Kenapa..." gumamnya lirih. "Kenapa pergi seperti ini?"
Tiba-tiba sesuatu terlintas di kepalanya. Rumah Hadinata. Pasti Kaia ada di sana.
Ia segera membalikkan badan, berniat menyusul. Namun baru saja membuka pintu apartemen...
langkahnya terhenti. Maika berdiri di depan sana. Di sampingnya ada Sienna. Wajah kedua perempuan itu tampak pucat.
Mata Maika bahkan sembap seperti habis menangis. Tanpa banyak bicara, Maika langsung masuk ke dalam apartemen.
Tangannya menggenggam selembar surat. "Pagi ini Mom dapat surat dari Kaia." Suara perempuan itu bergetar. Ia menyerahkan surat tersebut kepada Elio. "Kaia pamit sama Mommy..."
Kalimat itu membuat napas Elio tercekat. Maika menatap putranya lekat-lekat. Tatapan yang biasanya lembut kini dipenuhi kekecewaan.
"Sebenarnya... Apa yang terjadi sama rumah tangga kalian?"
Elio menundukkan kepala.Rahangnya mengeras. Bibirnya seolah terkunci tak mampu menjawab pertanyaan itu.
Maika menggeleng pelan. Air mata kembali jatuh di pipinya. "Kenapa Kaia sampai memilih pergi? Kenapa dia ingin bercerai darimu, El?"
Ruangan kembali dipenuhi keheningan. Bibir Elio terasa kelu. Ia tidak mampu menjawab pertanyaan ibunya.
Pandangannya hanya terpaku ke lantai.
"Pasti ada sesuatu yang kalian sembunyikan." Suara Maika bergetar menahan kecewa. "Di depan Mommy dan Daddy, kalian terlihat baik-baik saja. Bahkan Mommy mengira kalian mulai saling menerima."
Tak ada jawaban.Apartemen kembali tenggelam dalam keheningan.
Sementara itu, Sienna melangkah menuju dapur untuk mengambil segelas air. Saat hendak menekan tombol dispenser, pandangannya tertumbuk pada sebuah strip obat yang hampir kosong.
Alisnya langsung bertaut. Ia mengambil strip itu, membaliknya beberapa kali.Sebagai dokter, ia mengenali obat tersebut hanya dengan sekali lihat.
Matanya melebar. "Ini..." Sienna berjalan cepat kembali ke ruang tengah. "Mom..."
Maika mengangkat wajah.Sienna menyerahkan strip obat itu. "Ini pil kontrasepsi."
Wajah Maika berubah.Tatapannya perlahan beralih kepada putranya. "Jadi... selama ini kalian sengaja menunda punya anak? Tapi di depan kami, kalian selalu bilang tidak menundanya?"
Elio mengepalkan jemarinya. "Itu..."Tenggorokannya terasa kering.
"Aku yang menyuruh Kaia meminumnya, Mom."
Kalimat itu keluar dengan suara serak. Entah mengapa,setelah mengucapkannya, bayangan wajah Kaia yang menangis di pagi setelah malam pertama mereka kembali memenuhi kepalanya.
"Aku nggak mau punya anak yang lahir dari rahim kamu."
Dulu ia mengucapkannya tanpa sedikit pun merasa bersalah. Tapi kini kalimat itu justru terdengar begitu kejam di telinganya sendiri.
Tatapan Maika semakin kecewa. "Kenapa, El?"
"Kami..." Elio menelan ludah kasar. "Kami belum saling mencintai."
Maika tertawa hambar.Tawa yang justru terdengar lebih menyakitkan. Tiba-tiba ingatannya kembali ke masa muda yang kelam. Saat Yama menodainya atas dasar sebuah dendam.
"Belum saling mencintai?" Ia berdiri. Tatapannya lurus menusuk putranya. "Kalau memang belum mencintainya, kenapa kamu terus meminta hakmu sebagai suami? Kamu pikir perempuan itu tidak punya hati? Kamu pikir setiap malam kamu boleh menyentuh tubuhnya, tapi setiap pagi kamu bisa bersikap seolah dia tidak ada?"
Suara Maika mulai meninggi. "Mommy sudah menganggap Kaia seperti anak sendiri. Dia selalu tersenyum di depan Mommy. Padahal ternyata selama ini dia menyembunyikan semua penderitaannya. Dari bayi dia ditinggal ibunya, El. Ayahnya selalu menyalahkannya. Dan sekarang kamu malah menambah penderitaannya."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata perempuan paruh baya itu. "Lihat, dia memilih pergi. Demi Tuhan,El..." napas Maika bergetar. "Cari Kaia. Sampai ke ujung dunia sekalipun. Mommy tidak ingin perceraian ini terjadi. Dan dengarkan baik-baik. Menantu Mommy hanya Kaia."
Setelah mengatakan itu, Maika berbalik, menoleh pada putrinya. "Nena. Ayo kita pulang."
"Iya, Mom." Sienna mengikuti langkah ibunya. Namun sebelum keluar dari apartemen, ia berhenti tepat di samping Elio.
Tatapannya tidak lagi dipenuhi candaan seperti biasanya. "Kamu terlalu mengedepankan ego, El.
Padahal... Kaia itu perempuan paling sabar dan penurut yang pernah aku kenal."
Sienna menepuk pelan bahu saudara kembarnya. "Semoga belum terlambat, ya Bro." Lalu ia pergi.
Pintu apartemen kembali tertutup. Keheningan mendadak terasa begitu menyesakkan. Elio mengusap wajahnya kasar.
Tanpa pikir panjang ia menyambar kunci mobil. Selama perjalanan menuju rumah keluarga Hadinata,jemarinya berkali-kali menekan nomor Kaia.
Satu kali.
Dua kali.
Lima kali.
Sepuluh kali.
Namun yang terdengar hanya suara operator. "Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif."
Rahang Elio mengeras.
"Gimana bisa..." gumamnya pelan. Kaia bahkan meninggalkan ponselnya di apartemen. Berarti... perempuan itu memang sengaja menghilang.
Ia menginjak pedal gas lebih dalam. Tak lama kemudian, mobilnya memasuki halaman rumah keluarga Hadinata.
Begitu mobil berhenti, Elio langsung turun. Ia menekan bel beberapa kali. Tak berselang lama, Simbok membuka pintu.
"Den El?"
"Mbok..." napas Elio masih memburu. "Kaia ada di sini?"
Simbok menggeleng pelan.Ia teringat pesan Farida untuk tidak membocorkan kunjungan Kaia.
"Non Kaia sudah lebih dari seminggu tidak pulang ke sini, Den."
Jantung Elio terasa jatuh.Kalau bukan di rumah orang tuanya... lalu Kaia pergi ke mana?
"Siapa, Mbok?"
Suara berat dari arah dalam membuat keduanya menoleh.Fadlan berjalan mendekat dengan langkah tenang seolah ia tidak mengetahui apapun masalah rumah tangga putrinya.
Meski wajahnya terlihat sedikit pucat karena tenggorokannya masih sakit,sorot matanya tetap setajam biasa.
"Oh, ini Den Elio, Tuan."
Simbok sedikit bergeser memberi ruang untuk Elio masuk.Elio segera menyalami dan mencium tangan mertuanya.
"Masuk dulu."
Mereka duduk berhadapan di ruang tamu. Fadlan tidak langsung bertanya. Ia justru menuangkan teh hangat ke dalam cangkirnya terlebih dahulu.
Menyesapnya perlahan.Barulah ia mengangkat pandangan. "Ada apa, El? Jarang sekali kamu datang pagi-pagi begini."
Elio menunduk. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata pelan, "El mencari Kaia, Pa."
"Mencari Kaia?"
"Iya."
"Kaia pergi dari apartemen."
Fadlan hanya mengangguk pelan, seolah baru mendengar kabar itu.
"El kira... dia pulang ke sini."
"Sayangnya tidak." Fadlan tetap tenang. Suasana kembali hening. Fadlan menatap wajah menantunya beberapa saat.
"Memangnya kalian bertengkar?"
Pertanyaan itu membuat Elio terdiam cukup lama. "...Iya."
"Cukup besar?"
Elio mengangguk lemah.Fadlan kembali
menyandarkan punggungnya ke sofa. Wajahnya tetap datar.Namun di balik ketenangan itu, dadanya terasa sesak. Kali ini ia berbohong demi melindungi Kaia.
"Kalau Kaia datang ke sini," ucap Fadlan akhirnya, "Papa akan segera menghubungimu."
Elio mengangguk pelan."Terima kasih, Pa." Saat ia hendak berpamitan, suara mesin mobil memasuki halaman rumah Hadinata terdengar dari luar.
Tak lama kemudian, langkah sepatu pantofel bergema di teras. Beni, asisten sekaligus sekretaris pribadi Fadlan, masuk sambil membawa sebuah map kulit berwarna hitam.
"Permisi, Pak." Ia menundukkan kepala hormat.
Fadlan mengangguk singkat. "Ada apa, Ben?"
Beni melirik sekilas ke arah Elio, seolah ragu menyampaikan laporannya di hadapan sang menantu.
Namun melihat Fadlan tidak memberi isyarat apa pun, ia akhirnya melanjutkan. "Pagi ini saya mendapat telepon dari Pak Sigit." Ia menarik napas pelan. "Beliau menyampaikan bahwa Non Kaia sudah resmi mengajukan gugatan cerai."
Deg.
Tubuh Elio membeku.Jantungnya seperti berhenti berdetak sesaat. Jadi... Kaia benar-benar tidak sedang menggertak nya.
Perempuan itu sungguh memilih pergi. Dan benar-benar ingin mengakhiri pernikahan mereka.
Beni kembali membuka map di tangannya. "Masih ada satu laporan lagi, Pak."
Ia menyerahkan beberapa lembar dokumen kepada Fadlan. "Tim investigasi kita berhasil melacak penyebar pertama berita tentang almarhum Ibu Ivanka dan Non Kaia pada hari pernikahan."
Tatapan Fadlan berubah tajam. "Siapa?"
"Perusahaan media digital yang berbasis di Singapura."Beni berhenti sejenak.
"Perusahaan itu terafiliasi dengan Bu Rosmalia."
Suasana ruang tamu mendadak sunyi. Rahang Fadlan mengeras. Jemarinya perlahan mengepal di atas map.
"Jadi... Rosmalia yang menyebarkan semua fitnah itu." Nada suaranya terdengar begitu rendah. Namun justru itulah yang membuat amarahnya terasa lebih mengerikan. "Beni... Keluarkan bukti yang selama ini aku simpan. Rosmalia sudah terlalu jauh."
Sementara itu... wajah Elio perlahan kehilangan warna. Rosmalia. Bukankah selama ini perempuan itu terus mengatakan bahwa Ivanka adalah perebut suami orang?
Bukankah selama ini ia mempercayai semua ucapan itu... tanpa pernah mencari tahu kebenarannya?
Dadanya mendadak terasa sesak. Satu per satu potongan kejadian mulai tersusun di kepalanya. Ucapan dan tangisan Kaia.
Tatapan perempuan itu setiap kali ia menghina mendiang Ivanka. Dan surat yang ditinggalkan Kaia pagi ini.
"Mamaku bukan perempuan perebut suami orang."
Kalimat itu kini kembali menggema di telinganya.Akhirnya Elio mulai meragukan semua kebencian yang selama ini ia pelihara.
Fadlan mengangkat wajah.Tatapannya lurus menembus Elio.
"Elio." Suara berat itu membuat Elio mengangkat kepala perlahan. "Sebenarnya... Apa yang terjadi dengan rumah tangga kalian?"
Fadlan kembali melanjutkan. "Mungkin selama ini aku bukan ayah yang baik untuk Kaia." Nada suaranya terdengar lebih pelan. "Tapi aku mengenal putriku. Kaia bukan perempuan yang akan lari hanya karena satu atau dua pertengkaran. Kalau dia memilih pergi... berarti ada sesuatu yang benar-benar menghancurkan hatinya."
Kalimat itu menghantam dada Elio keras, ia menunduk. Suaranya berubah serak. "Beri saya satu kesempatan lagi, Pa. Jangan urus perceraian ini."
Elio mengepalkan kedua tangannya. "Saya akan mencari Kaia. Saya akan memperbaiki semuanya."
Fadlan tidak menjawab, tatapannya tetap datar. Ia hanya menatap menantunya beberapa saat tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Keheningan itu justru terasa lebih menyesakkan daripada kemarahan. Elio membungkukkan badan singkat.
"Saya pamit. Saya akan menemukan Kaia. Dan saya akan membuktikan bahwa saya bisa memperbaiki rumah tangga kami." Ia berbalik lalu berjalan keluar.
Suara mesin mobil semakin lama semakin menjauh hingga akhirnya menghilang dari halaman.
Fadlan menatap dari jendela kaca besar, tatapannya mengikuti mobil itu sampai benar-benar lenyap dari pandangan.
Beberapa detik kemudian,sudut bibirnya bergerak tipis, senyum pahit seorang ayah yang baru pertama kali memilih berada di pihak putrinya.
"Carilah, Elio..." gumamnya lirih. "Carilah Kaia sampai ke ujung dunia sekalipun." Ia mengembuskan napas panjang."Kamu tidak akan menemukannya."
...****************...
* Bersambung *
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝 *
*Terimakasih🙏*
*Salam manis dari AUTHOR ☺️*
*ig@putri_miceela.*
Aku boleh mampir kan, Kak? 🙏🙏🙏😁