Status calon nyonya Kim yang sudah diketahui seantero kota, seharusnya tinggal menunggu pengesahan sebentar lagi, ketika tiba-tiba terjadi perubahan kandidat.
Bagaimana tidak? Tuan Muda Kim - Alexander Kim, yang sebentar lagi akan menikah, malah terjebak satu malam dengan wanita asing yang berakhir final.
Harga yang sangat mahal yang harus dibayar Alexander, sebagai seorang pria, anak, pengusaha dan calon politikus. Benar-benar mahal dan berat, tapi dia tetap membayar karena tidak ingin menjadi Ayah yang gagal.
Tapi bahkan setelah semua harga mahal itu, Alexander yang sudah berkorban banyak masih harus stress menghadapi Soraya -- wanita malam itu, yang hidup tanpa beban.
•
“Kenapa berpisah dengan tunanganmu? Kenapa tidak kalian saja yang merawat anak kita!?” ujar Soraya, yang sukses membuat Alexander sakit kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isaidno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4.
Sementara di belahan dunia yang lain, wanita yang tengah menjadi beban pikiran Alexander belakangan ini, dengan bahagia merayakan dirinya yang terpilih sebagai bagian penyelenggara tour pameran seni berskala internasional.
Meskipun masih seorang mahasiswa, namun jangkauan pengetahuan Soraya dalam seni, khususnya seni lukis, benar-benar harus diapresiasi oleh kampus dan para kurator terkenal.
Seperti kali ini, dia harus mengambil sedikit izin untuk pergi ke negara Montero, guna andil dalam acara besar ini.
“Wih, packingnya banyak banget, nggak mau sekalian pindah Sor?” sindir Ines, yang sedikit kesal karena tadinya mereka hendak pergi bertiga sekiranya Soraya jadi berangkat. Namun sayang, kampus dan tugasnya yang suka tiba-tiba menjadi penghalang, baik bagi Ines maupun Julia.
“Buset, julid amat jadi orang,” balas Soraya dengan kekehan.
Mempersiapkan barang-barangnya dalam satu koper besar dengan satu tas tentengan, ini tidak terlalu berlebihan untuk seminggu perjalanan.
“Sor, kau hati-hati yah disana. Terus kalau dapat uang jasa, jangan lupa bagi-bagi ke Julia yang pas-pasan ini.” Tunjuk Julia pada dirinya sendiri.
Soraya meskipun terkekeh dibuat, tetap mengangguk. “Iya deh, kalau perlu aku bawain oleh-oleh juga.”
“Mm, … kalau oleh-oleh nggak ada, hole-hole juga boleh.”
“HAHAAA, HAHAA ….”
Tawa pecah di antara mereka, sebelum sebuah bantal melayang ke arah Ines.
“Jorok amat!” protes Soraya yang langsung melemparkan bantalnya.
Ya, mereka berada di kamar Soraya untuk membantunya bersiap-siap, karena sudah dua hari semenjak Soraya merasa malas beranjak dari tempat tidur tanpa alasan.
•
Sementara kembali ke salah satu ibu kota paling menyenangkan, Alexander berusaha fokus seharian pada pekerjaannya setelah tadi pagi merasakan tekanan yang kuat.
Dia berusaha tidak memikirkannya, tapi semua tetap ada dalam pikirannya.
TUK, TUK, TUK.
“Masuk.”
Seorang wanita paruh baya dengan kacamata dan sedikit cengiran tampak dari pintu.
“Maaf Bos, … anda belum akan kembali?” tanyanya langsung.
Alexander menatap dinding sebelah kiri, dimana jam hitam mewah berada disana. Waktu menunjukkan hampir pukul enam sore, dan ini adalah waktu untuk pulang.
Menelan ludah kasar, Alexander membuka kancing atas bajunya, mencoba mencari udara segar yang sebenarnya sudah segar-segar saja.
“Dimana Sekretaris Karel?” Alih-alih menjawab, Alexander malah bertanya.
“Sekretaris Karel pergi tadi sekitar pukul tiga sore dan belum kembali sampai sekarang,” jawab wanita itu.
Alexander pun mengangguk. Dia tahu bahwa mungkin sang Sekretaris sedang melakukan perintahnya, itulah kenapa asisten sang Sekretaris berbicara untuknya sekarang.
“Jika dia tiba, suruh langsung temui aku.”
Mendengar ini, sang asisten Sekretaris memasang wajah cengo. Dia datang sebagai perwakilan karyawan-karyawan yang tidak bisa pulang karena Bos mereka masih di kantor.
Dan apa itu perintah untuk memberi tahu Sekretaris Karel saat kembali?
Apakah itu artinya dia harus menunggu pula?
Dengan pemikiran ini, dia hampir menangis dibuat.
“Bos, jadi kami belum boleh pulang?”
Mendengar ini, sebelah alis Alexander terangkat.
“Apa maksudmu So-Ra?”
So-Ra, sang asisten, kembali memperjelas perkataannya. Walaupun sungkan, namun dia cukup nyaman mengutarakan maksudnya. Itu karena mengingat kepribadian baik sang Bos yang terkenal.
“Bagaimana, Bos?”
Alexander mengangguk.
“Ah, ya benar. Yang lain silahkan pergi, aku tidak ingin dituntut untuk kesalahan penyelewengan hak karyawan.”
“Benarkah Bos?”
“Mm, tapi hanya yang lain, kamu tidak.”
“Bos?”
So-Ra menjatuhkan rahangnya tidak percaya, bahwa dia benar-benar disuruh menunggu Sekretaris Karel, disaat yang lain pulang.
Tapi Alexander yang sebenarnya tidak enak, mencoba tidak menatap mata So-Ra yang syok. Dia yakin sang Sekretaris akan segera kembali membawa informasi atas Soraya yang dia minta. Saking tidak sabarnya dia, hingga dia merasa perlu agar orang lain membawa Sekretaris Karel padanya langsung.
Beruntung, So-Ra tidak semenyedihkan pikirannya.
Tepat saat karyawan mulai berhamburan keluar gedung, disitulah Sekretaris Karel akhirnya datang sebagai penyelamatnya.
TUK. TUK. TUK.
Pintu diketuk lagi dengan sopan, dan Alexander langsung mengenali sang pengetuk.
Dia yang sedang bersandar di kursi kebesarannya, sontak berdiri menyambut Karel.
“Bos, maaf. Informasi yang anda minta benar-benar sulit, jadi saya harus pergi ke seorang ahli.”
“Sulit?”
Alexander terdiam. Dia sedikit heran karena biasanya hal seperti ini tidaklah lama.
“Baiklah, tidak mengapa.”
Karel pun menyerahkan tablet tipis ke tangan Alexander, yang sudah kembali berkeringat di ruangan yang dingin.
Menggeser bagian-bagian layar, dia akhirnya mendapati foto-foto dari sosok Soraya.
“Akun Nona ini privat dan hanya ada satu dalam jejak masanya. Sedikit sulit karena dia tidak menggunakan namanya sendiri sebagai username, Bos. Tapi memang ini adalah tren di kalangan anak muda. Beruntung kita memiliki beberapa ahli terbaik yang bisa menghubungkan kita langsung ke akunnya yang di-private.”
Mendengar penjelasan panjang Karel, alis Alexander mengernyit. Dia tidak mengerti benar teknologi media sosial dan tidak paham kenapa nama yang cantik seperti Soraya menggunakan username aneh, yang bisa membuat lidah keseleo.
Tapi menatap setiap feed foto, dia mendapati bahwa gaya Soraya sedikit hedonis.
Tipikal anak orang kaya yang sembrono dan berani.
“Terima kasih banyak, Karel. Kamu pulang dan istirahatlah.”
Mendengar ini Karel mengangguk, namun seolah enggan, langkahnya berat untuk pergi. Dia tahu tidak peduli seberapa dekatnya dia dengan Alexander, pria di depannya tetaplah sang Bos. Dia memiliki batasan-batasan yang tidak bisa dilanggar.
Namun begitu, Karel tetap tidak bisa diam saja.
Sebelum dia menjadi sekretaris Alexander, dia adalah orang yang dipercaya Ayah Alexander, Tuan Kim. Dia harus menjadi jembatan antara dua orang ini.
“Bos, maaf kalau saya lancang, tapi boleh saya tahu siapa wanita muda ini?”
Alexander yang menghadapi pertanyaan ini sedikit sensitif dibuat.
“Bukan siapa-siapa, jangan dipikirkan.”
Tapi Karel jelas tidak percaya.
Karena ini pertama kalinya dalam hidup, dia melihat Alexander begitu banyak bergerak untuk seorang wanita. Hal yang bahkan tidak dilakukan pria itu pada kekasihnya.
Mengelap tangannya yang basah di kain celana, Karel mempertimbangkan apa yang hendak dikatakan lagi.
“Kalau begitu baiklah. Saya tampaknya khawatir tidak perlu, mengira ada orang lain selain Nona Hana haha-haa ….”
Karel mencoba menyatakan kekhawatirannya melalui lelucon, tapi Alexander hanya semakin terbaca ketika dia tidak sanggup tertawa akan hal itu.
•
Pukul 01.00 A.M.
Semenjak kejadian di kantor hingga pulang ke apartemen, bukannya membaik, Alexander malah semakin gelisah.
Kegelisahan ini semakin bertambah acap kali dia melihat postingan media sosial Soraya. Postingan yang membuatnya tidak sadar telah menghabiskan waktu cukup lama untuk memeriksa akun gadis itu dan kesulitan berpaling.
“Oh Tuhan, apa yang kulakukan?”
Refleks Alexander melepas ponselnya seolah lama terhipnotis.
Mengusap wajahnya dengan tangan, dia sadar betapa parah dia larut. Bahkan saat ini dia masih memakai sepatu dan setelan pakaian sejak kemarin pagi, karena hari telah berganti.
Menatap ke langit-langit ruang tamunya, Alexander merasa kosong seolah tidak mengenal dirinya sendiri.
Kini tangan kanannya berganti terkepal, disaat seluruh tubuhnya bersandar penuh di sofa.
Menghirup aroma kayu yang masih khas sampai pada apartemennya, Alexander mengulum senyum kekecewaan.
Kecewa pada dirinya sendiri tentang apa yang terjadi.
“Haruskah aku memberitahu Hana soal ini?” timbang Alexander serius.
Dan semakin ditimbang, semakin yakin dia dengan pemikiran ini.
Ya, jika dia sudah mendapatkan kepastian bahwa tidak ada hasil apapun setelah malam itu dengan Soraya, maka dia akan jujur kepada Hana.
Entah wanita itu akan menerimanya atau tidak, dia tidak ingin memulai pernikahan dengan sesuatu yang disembunyikan.
Setidaknya itulah yang dipikirkan Alexander.
Tapi takdir adalah penentuannya.
•
Seminggu kemudian berlalu, Soraya menikmati hari terakhirnya di Montero, karena sebentar lagi dia harus kembali.
Tapi mengira dirinya hanya kelelahan biasa akibat persiapan pameran yang intens, pada hari terakhir itu Soraya tidak bisa menahan dirinya dari jatuh sakit.
Beruntung, meskipun bukan sahabatnya, tapi ada seorang siswa lain dari jurusan seni yang sekampus dengannya, ikut dalam pameran itu sebagai salah satu seniman.
Dengan ini, meskipun tidak terlalu dekat, Soraya memiliki orang yang bisa membantu mengantarnya ke rumah sakit.
Canggung memang, apalagi ini adalah teman lelaki.
“Gavin, terima kasih sudah mengantarku. Kau kembalilah lebih dahulu.”
Tapi pria bernama Gavin, dengan rambut blonde dan gaya yang nyentrik itu, menggeleng tidak setuju.
“Tidak bisa, Soraya. Kita harus kembali bersama ke hotel. Rasanya tidak etis meninggalkan teman di kota asing seperti ini.”
Mendengar kebaikan Gavin dibalik penampilannya yang acak-acakan khas seniman, Soraya sangat berterima kasih.
“Baiklah, kalau begitu aku masuk dulu.”
“Ya, silahkan,” persilahkan Gavin.
Namun ketika Soraya berdiri dari kursi tunggu, Gavin tiba-tiba memanggilnya lagi.
“Soraya ….”
Melihat ke arah Gavin yang mengangkat kamera ke arahnya, Soraya dengan refleks mengangkat sebelah bahunya dan memonyongkan bibir ke depan untuk berpose miring di depan ruang pemeriksaan.
Keduanya tertawa bersama, sebelum Soraya akhirnya masuk ke ruang pemeriksaan.
Melihat tidak adanya keberatan dari Soraya ketika dia mengambil foto, maka Gavin, sama seperti anak muda lainnya, meng-upload foto tersebut di bagian story media sosialnya dengan caption cepat sembuh, sambil menandai Soraya.
Sesuatu yang hampir tidak ada salahnya.
Tapi tidak bagi Alexander yang sekarang seolah kecanduan memeriksa setiap kegiatan media sosial Soraya.
Mulai dari cerita-cerita yang dibagikan wanita muda itu, postingan, hingga bahkan siapapun yang menandai Soraya tidak lepas dari pemantauan Alexander.
Jadi kini, melihat Soraya ditandai oleh Gavin di rumah sakit, Alexander antara keinginan dan insting, melihat sesuatu yang salah disana.
•
•
Sementara kembali pada Soraya di ruang pemeriksaan dokter yang khas serba putih, dia duduk dengan wajahnya yang pucat di depan seorang dokter perempuan paruh baya.
“Dengan Nona Soraya, .. Al-Kala?”
“Iya benar, Dokter.”
“Anda tampak pucat.”
Soraya tersenyum canggung.
“Jadi apa keluhan lain anda, Nona Soraya?”
Menelan saliva, Soraya mulai menjelaskan masalah kesehatannya yang mengganggu belakangan ini. Dia menjelaskan sejelas-jelasnya tanpa memikirkan apapun.
“Jadi begini, Dok, ….”
Soraya mulai dari kondisi tubuhnya yang sering pusing dan mudah lelah. Seluruh punggungnya juga nyeri, lalu kemudian ada perutnya yang terasa kembung terus-terusan tapi juga kram.
Mendengar ini, dokter wanita di depannya mengangkat sebelah alis tinggi. Dia mencatat hal-hal ini, sebelum akhirnya bicara.
“Apa ada gejala lain yang tidak biasa? Misal seperti keputihan? Atau bagaimana dengan siklus menstruasi? Apa semua tampak lancar?”
Mendengar ini alis Soraya menyatu. Matanya tampak menatap ke bawah, dengan serius mengingat apa yang terjadi.
Dia tidak yakin dengan keputihan, tapi soal menstruasi, dia baru saja mengalami menstruasi meski hanya sedikit sekali dan tidak pada tanggal biasanya.
Tidak menyembunyikan hal ini, Soraya dengan begitu detail menjelaskan, yang membuat sang dokter tiba-tiba mengulum senyum dan mengambil alat standar memeriksa.
“Baik Nona Soraya, tolong berikan tanganmu. Kita akan melakukan cek dasar, sebelum kau naik ke tempat itu.”
Tunjuknya pada bed pasien.
Melihat bed pasien dengan beberapa alat di sampingnya, Soraya sedikit gugup. Banyak pengalaman dengan tempat tidur pasien membuatnya mulai gelisah.
Namun begitu, dia tetap mengikuti arahan sang dokter dan membiarkan dirinya diperiksa.
Mulai dari cek tekanan darah dan sebagainya, hingga akhirnya tiba di bed pasien.
“Tarik nafas, jangan tegang. Dalam pengalaman sebagai dokter, kondisi anda ini harusnya bukanlah sesuatu yang buruk.”
“Benarkah?”
Dokter mengangguk dengan senyuman penuh arti pada Soraya. Membuat Soraya dengan segala riwayat kesehatannya merasa ini janggal.
“Apa itu, Dok?”
“Ini adalah transvaginal ultrasound.”
“Apa?”
Soraya syok.
Namun dengan senyuman, akhirnya sang dokter tidak tahan untuk memberitahu diagnosisnya kepada Soraya, bahwa ada kemungkinan wanita di depannya itu tengah hamil.