Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.
Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.
Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?
Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Rapat Pertama, Perdebatan Panas, dan Kopi Tanpa Gula
Lampu neon di ruang Sekretariat BEM FISIP Universitas Nusa Bangsa memancarkan cahaya putih yang agak menyilaukan. Bau spidol papan tulis, tumpukan berkas proposal yang menumpuk di rak kayu, dan aroma pahit kopi hitam berbaur menyengat di udara sore yang mulai berganti malam. Jarum jam dinding menunjuk ke angka tujuh lewat lima belas menit, namun ruangan berukuran tujuh kali lima meter itu masih dipenuhi oleh belasan anggota BEM yang duduk melingkar mengelilingi meja kayu panjang.
Aleena yang akrab disapa Alee duduk di jajaran kursi paling ujung bersama tiga mahasiswa baru lainnya yang juga lolos seleksi magang. Dengan kemeja santai tergulung hingga pertengahan lengan dan celana kain hitam, Alee menyandarkan punggungnya tenang. Sebuah notebook bergaris dan pulpen hitam tergenggam santai di tangannya. Gaya petantang-petentengnya sama sekali tidak menguap, meski beberapa senior dari divisi lain sesekali menatap para anggota magang baru dengan pandangan menguji.
Di ujung meja utama, Arlan Bachtiar berdiri tegap di depan papan tulis putih. Kemeja hitam khas BEM yang ia kenakan tergulung rapi hingga ke siku, memperlihatkan jam tangan melingkar di pergelangan tangan kirinya. Dengan spidol hitam di tangan kanan, Arlan memimpin rapat pleno pertama untuk koordinasi agenda besar Pekan Komunikasi dan Budaya FISIP.
"Gua mau menekankan satu hal untuk agenda Agustus depan," ujar Arlan, nada suaranya berat, lugas, dan berwibawa khas seorang Ketua BEM. "Tahun lalu, publikasi kita dianggap terlalu kaku dan formal sama mahasiswa umum. Akibatnya, tingkat partisipasi penonton dari luar fakultas anjlok hampir tiga puluh persen. Tahun ini, gua enggak mau hal konyol itu terulang lagi."
Arlan membalikkan badan, menatap seluruh anggota rapat lurus-lurus dengan sorot mata yang tajam. "Divisi Humas harus punya konsep publikasi baru yang gebrakan. Gua mau semua konten promosi terkonsep rapi, terstruktur, dan formal sesuai standar kampus sebelum disebar ke media sosial."
Seorang senior Divisi Humas bernama Bagas mengangkat tangan. "Gua setuju sama pandangan lu, Lan. Rencana kita adalah bikin beberapa siaran pers resmi di situs kampus, poster cetak berseri di setiap lorong, sama baliho besar di gerbang utama FISIP. Itu cara paling aman dan kelihatan profesional."
Sebagian besar anggota di ruangan itu mengangguk-angguk setuju dengan usulan Bagas. Namun, di sudut meja tempat para maba duduk, Alee tampak memutar pulpennya pelan sambil mengetukkan jemarinya di atas meja. Dahinya sedikit berkerut, menandakan ada ide yang bertolak belakang di dalam kepalanya.
Arlan, yang matanya selalu peka menangkap gerak-gerik sekecil apa pun di dalam ruangan rapat, menghentikan ketukan spidolnya di papan tulis. Pandangan mata tajamnya terkunci tepat pada sosok Aleena.
"Aleena," panggil Arlan singkat, memutus keriuhan gumaman anggota rapat. "Lu kelihatan punya pendapat lain. Coba sampaikan."
Seluruh pasang mata di ruangan itu seketika tertuju pada Alee. Dania, yang duduk dua kursi di sebelah Alee, refleks menahan napas dan memberi kode lewat tarikan pelan di kemeja Alee agar sahabatnya itu tidak bertindak nekat di rapat pertama mereka.
Namun Alee bukanlah tipe gadis yang suka menahan pemikiran jujurnya hanya karena rasa segan. Alee meletakkan pulpennya di atas catatan, berdiri sedikit rileks dari kursinya, lalu menatap Arlan dan para senior tanpa rasa canggung sedikit pun.
"Izin menyampaikan pendapat, Kak Arlan dan rekan-rekan senior," tutur Alee dengan suara renyah namun amat mantap. "Menurut saya, konsep siaran pers resmi dan baliho besar itu udah Kuno. Anak-anak zaman sekarang enggak bakal berhenti di lorong cuma buat baca tiga paragraf panjang di papan pengumuman. Kalau kita pakai pendekatan kaku kayak gitu lagi, angkanya bakal anjlok lagi tahun ini."
Bagas, senior Humas yang menyampaikan ide tadi, langsung mengernyitkan dahi. "Terus menurut lu yang masih maba ini, konsep kayak gimana yang efektif, Aleena?" tanya Bagas dengan nada sedikit tersindir.
Alee menyunggingkan senyum tipisnya yang menantang. "Kita pakai pendekatan storytelling visual di media sosial. Bikin konten video pendek berbasis konflik nyata mahasiswa seperti keresahan akademik atau dinamika perkuliahan lalu kita hubungkan dengan tema acara Pekan Komunikasi. Pendekatannya bukan menyuruh orang datang, tapi bikin mereka merasa terkait. Jangan jualan acara, tapi jualan emosi."
Suasana ruangan mendadak hening sejenak. Beberapa senior berbisik-bisik, kaget melihat keberanian seorang maba magang yang secara terbuka mematahkan usulan senior divisi.
Arlan menatap Alee tanpa mengedipkan mata. Senyum tipis yang amat samar muncul di sudut bibir sang Ketua BEM. Arlan menyilangkan tangannya di dada, melangkah dua tindak mendekati meja rapat.
"Pendapat yang berani," kata Arlan dengan suara bernuansa baritone yang memenuhi ruangan. "Tapi konsekuensinya, eksekusi video berkonsep storytelling butuh waktu dua kali lebih lama dan risikonya tinggi kalau alurnya garing. Lu sanggup tanggung jawab buat konsep itu, Aleena?"
Alee menegakkan bahunya, menatap lurus iris mata Arlan yang pekat. "Kalau Kak Arlan kasih kepercayaan itu ke gue, gue bakal pastikan keterlibatan mahasiswa naik dua kali lipat dari tahun lalu. Kalau gagal, gue siap keluar dari magang BEM."
Dania di sebelah Alee hampir tersedak es tehnya mendengar pertaruhan nekat sahabatnya itu. Namun Arlan justru menepuk tangannya sekali, memecah ketegangan di ruangan.
"Diterima," putus Arlan tegas. "Divisi Humas akan pakai konsep dari Aleena. Bagas, lu dampingi dia untuk susun breakdown idenya besok malam."
Rapat pleno malam itu akhirnya selesai pukul delapan lewat tiga puluh menit. Saat para anggota mulai berkemas dan meninggalkan sekretariat, Alee masih duduk merapikan catatannya.
Sebuah cangkir keramik berisi kopi hitam pekat diletakkan pelan di atas meja tepat di samping notebook Alee. Alee mendongak dan menemukan Arlan berdiri di dekatnya, sudah melepas gulungan kemejanya.
"Kopi hitam tanpa gula. Penawar buat maba yang suka ngambil risiko besar di rapat pertama," ujar Arlan santai sambil menyandarkan pinggulnya di tepi meja.
Alee terkekeh pelan, meraih cangkir itu dan menyesapnya sedikit. Rasa pahit yang kuat menyengat lidahnya. "Makasih, Pak Ketua. Tapi gue serius sama omongan gue tadi."
Arlan menatap Alee dengan sorot mata yang hangat dan penuh penghargaan—sebuah tatapan yang membuat jantung Alee berdesir pelan tanpa sebab.
"Gua tau lu serius, Alee," bisik Arlan pelan, menyebut nama panggilannya untuk pertama kali dengan nada yang amat lembut. "Dan itu alasan kenapa gua percaya sama lu."
Malam yang dingin di lorong gedung FISIP terasa hangat. Di antara kepulan aroma kopi pahit dan tatapan mata Arlan yang dalam, Alee sama sekali belum menyadari bahwa pria tegas yang kini berdiri di hadapannya kelak akan menjadi bagian paling manis sekaligus paling menyakitkan dalam lembar sejarah hidupnya.