Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
"Tenang, Sof." kata Tina yang mengerti kegelisahan Nismara.
"Eh, serius nih. Gimana tentang Om Mario itu?' Nismara berbisik takut.
"Ada apa?" Ella bertanya dengan wajah serius. Lalu Nismara bercerita soal keributan kecil tadi.
Ella menarik nafas. "Ya sebaiknya kamu tanyakan saja ke Om Mario dia mau imbalan apa. Kebiasaan di sini gitu, Sof. Dia nanti tidak akan berhenti menagih sebelum merasa kamu membayarnya."
"Brengsek!" kata bagian lolos begitu saja dari bibir sensual Nismara.
"Kasih aja lima atau sepuluh juta." kata Tina ringan seakan-akan duit itu senilai recehan.
Nismara melirik. Mendadak dia punya ide. Kemudian dia memasang wajah gelisah. "Mana ada aku uang segitu? Aku kabur bawa uang papiku nggak seberapa, terbatas untuk hidup sebulan dua bulan."
Ella menyeringai. "Wah wah ada yang mau bermalam sama Om Mario kayaknya."
Nismara memucat. "Serius? Hanya cuma bantuin jadi member gym, bayarannya segitu mahalnya?" suara Nismara parau.
"Jangan nakutin anak baru, El." suara Tina bercampur tawa.
"Eh ini serius girls. Beneran nanti dia bisa minta gitu?" Nismara meradang. Membayangkan nya saja sudah sangat menjijikan apalagi sampai kejadian sungguhan.
"Nggak - nggak, Sof. Kalau dia nggak minta uang, pasti dia hanya minta dinner kok " Tina menjawab serius.
"Sambil raba- raba dikit lah, tukas Ella cepat. Di akhiri dengan kikikan Ella dan Tina.
"Kalau pun minta uang aku nggak punya banyak." Nismara menggigit bibirnya. Mode on acting.
"Jadi kamu mau kerjaan?" timpal Ella. Benar-benar inilah reaksi yang Nismara harapkan.
Namun Nismara masih di yang berpura-pura berpikir.
"Kerjaan gampang. Ikut pemotretan aja sama Tina!"
"Heh?" Tina dan Nismara berseru berbarengan.
Tina memandang Nismara. Membelalak menelusuri dari atas ke bawah lalu diulangi lagi dari atas ke bawah tingkahnya seperti baru saja melihat wujud Nismara.
"Emang kamu mau?" tanya Tina.
"Maulah, duit gede loh. Cuma tinggal sedikit doang, cekrek, dolar!" timpal Ella.
"Beneran kamu mau, Sof?" tanya Tina lagi.
Nismara memandang Tina dan Ella bergantian. Lalu mengangguk ragu-ragu. "Kalau lihat dulu kamu pas lagi pemotretan boleh nggak? Caranya gimana gitu, aku suka selfie tapi nggak ngerti bosan untuk pemotretan.
"Itu gampang. Tapi aku mau tanya dulu jawab dengan jujur ya!" Tina lagi-lagi memandang Nismara tajam.
"Iya."
"Kamu masih perawan nggak?"
"Hah? Gimana?"
"Hish, udah tinggal jawab kok!" Tina mengulangi pertanyaannya. "Masih perawan nggak?"
Nismara melirik random. Dia berpikir apa dampak kalau dia jawab jujur bahwa dia sudah tidak perawan.
"Jawab nggak usah malu, pakai pikir lama." kata Tina mendesak. "Masih perawan nggak?"
"Enggaaak." jawab Nismara sambil meringis.
"Udah kuduga." cetus Ella.
"Ya, gagal deh." Tina per kata sambil menjungkit kan separuh alisnya.
"Maksud nya yang boleh ikut pemotretan cuma yang masih perawan aja gitu?"
"Bukan, Sofia, ih lemot juga nih anak. Maksud nya kamu bisa jual keperawanan kalau kamu masih perawan. "
"Hah?" Nismara melotot sempurna.
"Ih, biasa aja. Harta yang paling berharga haruslah dihargai. Misal seratus juta, dua ratus juta hihihi."
Ella tertawa. "Kamu mau ngajarin Sofia biar dia kayak Sherin?"
Degh!
Jantung Nismara seperti terkena pukulan. Sekuat tenaga dia tetap memasang gestur tubuh tenang dan tidak merespon apa yang dikatakan gadis gelap itu barusan.
"Eh, enak aja, kalau Sherin mah dia yang minta sendiri, dia kan emang penasaran banget sama mister Thrang."
Ella terdiam. Dia sedang asyik menyeruput jus jeruknya. Tina pun melakukan hal yang sama. Obrolan tentang sharing yang ingin Nismara dengar kelanjutannya seperti menguap begitu saja.
Nismara masih berusaha bersikap santai meski dadanya bergemuruh setengah mati. Dia terdekat harus bisa menemui orang yang dimaksud.
"Sof." Tina mencolek Sofia. Gadis itu mengulur telepon genggam miliknya. Nismara segera menerimanya.
Pada layar telepon itu melihat sebuah foto tiga orang gadis dengan pose yang sangat menantang, dengan posisi masing-masing seperti hendak saling menjamah. Hanya sebuah celana dalam dan Stiletto heels dengan warna senada yang menempel di tubuh polos mereka. Nismara mati-matian menahan gemuruh yang membakar dadanya ketika melihat salah satu dari tiga gadis tak berbaju itu adalah Sherin.
Tina, Sherin dan entah siapa dalam foto itu jelas diarahkan oleh orang profesional dalam bidang fotografi. Bukan sekedar foto t3l4nj4ng biasa.
"Gimana menurutmu?" Tina bertanya sambil menengadahkan tangan meminta telepon genggamnya kembali.
"Hah?" Nismara menoleh. Berpura-pura loading, lalu meringis. Padahal otaknya mencari kata-kata yang sekira pas untuk memancing lebih banyak lagi informasi mengenai Sherin.
"Mau nggak kalau difoto kayak gitu?" tanya Tina lagi.
Ella memandang Nismara dengan tatapan jenaka.
"Bayaran nya gede nggak?" jawab Nismara sambil menutup mulutnya lalu terkekeh di belakang telapak tangannya.
"Jelas dong." Tina mengerling.
*Tapiiiii kalau Papi Mamiku tau gimana?" Nismara pura-pura cemas.
"Tenang, ini diedarkan hanya di Eropa dan Amerika. Jadi amaaaan. Dan hanya kalangan tertentu kok. Ya kali foto mahal gini bisa dinikmati para gembel." Tina tertawa dengan nada congkak.
"Tapiiii......" Nismara sengaja menggantungkan kalimatnya.
"Halah, kalau banyak tapinya nggak usah aja!" tukas Tina tinggi.
"Bukan gitu." Nismara menoleh pada Ella. "Punyaku lebih gede dari kamu, jadi pasti bayarannya jauh lebih gede juga kan?"
Ella langsung terbahak kencang. "Gue suka gaya elo, Sofia!"
"Kampret juga Lo, Sof." Tina menyimpan telepon genggamnya lagi. "Ya udah nanti aku bilang dulu sama Wei ya!"
"Wei?"
"Dia fotografernya."
"Oh, Okey."
Satu setengah jam kemudian, Tina mengajak Nismara pindah ke lantai dua. Ella sudah pulang lima belas menit yang lalu.
Saat memasuki lift, Tina memberi banyak wejangan pada Nismara. Yang intinya harus pandai menutup mulut dari semua yang berhubungan dengan Mahkota Gym, apalagi tentang dunia foto-foto dewasa yang akan dia perkenalkan sebentar lagi.
Sampai di lantai dua, Tina meminta Nismara menunggu di sebuah ruang lua, secara lobby hotel bintang lima. Letaknya persis di depan pintu lift. Sedang Tina menghilang ke arah kiri. Nismara tidak berani memindai ruangan, meskipun dia sangat ingin. Entah mengapa Nismara merasa ada orang yang sedang mengawasi dirinya dari bagian ruangan lain lewat CCTV yang banyak tertempel di atas tembok.
Nismara hanya menyandarkan tubuhnya ke kursi yang empuk dan berbau enak tersebut. Berpura-pura kelelahan sambil memejamkan mata. Gadis rambut sebahu itu memicing sebentar ketika lift bunyi lalu membuka. Terlihat dua gadis cantik masuk dan berjalan ke arah yang sama dengan Tina tadi. Wajah dua Gadis itu pernah Nismara lihat di ruang fitness.
Meskipun sempat melirik, Nismara bersikap seolah-olah tak peduli dengan mereka. Bahkan ketika salah satu dari mereka berbisik sambil menunjuk dirinya. Dia memilih untuk memejamkan matanya kembali.
"Sofia. Heh, malah tidur!" Tina sudah kembali. Ada laki-laki tinggi kurus dan berkulit pucat di belakang Tina.
Nismara meringis pura-pura malu.
"Ini Wei, yang aku ceritakan tadi."
Nismara berdiri, dia mengulurkan tangan namun tiga detik kemudian dia tarik kembali. Laki-laki pucat yang bernama Wei itu tidak membalas maksudnya, tangan Wei tetap bersedekap di depan dadanya sendiri. Mata Wei nyalang menelusuri tubuhnya.
Nismara melirik Tina, dan gadis itu langsung menyungging senyum canggung.
"Kau sudah kasih tahu dia, Tin?" Wei menoleh pada Tina.
"Udah, We."
"Dan kamu sanggup?" kini Wei kembali menatap Nismara.
Nismara kembali melirik Tina, dan kali ini Tina mengangguk samar. Nismara refleks mengikuti gerakan kepala Tina. "Udah Bang eh Kak "
"Panggil Wei aja." Desis Tina.
"Ya, Wei, aku sanggup." Nismara berlagak sedikit genit.
"Good."
Wei balik badan menuju arah dari arah dia datang tadi. "Besok jam setengah satu siang, aku tunggu di sini!" seru Wei sambil terus berjalan.
Tina tersenyum pada Nismara. Mengacungkan kedua Ibu jari tangannya lalu tergopoh-gopoh lalu menyusul Wei.
Nismara pun berjalan ke lift. Dia memilih langsung turun di basement aja.
"Sofia!"
teka teki nya dapat. suka banget.