• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.
• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Di Bawah Langit Senja dan Deru Mesin
Lonceng panjang tanda berakhirnya jam pelajaran terakhir berdentang nyaring, memicu gemuruh sorak-sorai dari penjuru gedung SMA Taruna Bangsa. Dalam sekejap, koridor sekolah langsung dipadati oleh ratusan murid yang berhamburan keluar bagai kawanan lebah. Namun, bagi Eca, bunyi bel tersebut tidak membawa angin segar kebebasan. Alih-alih merapikan buku untuk pulang, dia hanya bisa menghela napas panjang, menatap lesu ke arah bangku kosong di sebelahnya setelah Nadya pamit pulang duluan sambil memberikan lambaian tangan penuh simpati.
Eca menyampirkan tas ransel hitamnya di bahu, melangkah gontai menuruni anak tangga menuju lantai satu. Sesuai dengan status barunya sebagai "asisten pribadi seumur hidup", dia tidak memiliki pilihan selain berjalan lurus menuju sarang sang iblis.
Cklek.
Eca mendorong pintu ruang OSIS tanpa mengetuk, ekspresi wajahnya sengaja dibuat sedatar mungkin. Di dalam ruangan, Angkasa sudah berdiri di dekat meja kerjanya, sedang memasukkan beberapa dokumen ke dalam map kulit cokelat. Cowok jangkung itu menoleh, sepasang mata elangnya langsung mengunci sosok Eca yang berdiri kaku di dekat pintu.
"Lo telat tiga menit, Alesya," tegur Angkasa dengan suara baritonnya yang rendah dan dingin, tanpa mengalihkan sisa fokusnya dari map di tangannya.
"Koridor macet, Ketua. Lagian gue ke sini cuma mau ngambil ponsel gue yang lo sita tadi pagi," sahut Eca ketus, melangkah mendekat dan langsung mengulurkan telapak tangan kanannya di depan dada Angkasa.
Angkasa tidak langsung memberikan ponsel tersebut. Dia justru merogoh saku celananya, mengeluarkan benda persegi panjang hitam milik Eca, namun tetap menggenggamnya tinggi-tinggi di luar jangkauan tangan Eca. "Ponsel lo bakal gue balikin. Tapi nggak sekarang. Sore ini lo ada tugas lapangan bareng gue."
"Hah?! Tugas lapangan apa lagi sih? Kan berkas yayasan udah beres semua tadi siang!" protes Eca, matanya melebar kesal di balik lensa kacamata bulat tebalnya. Pipi cewek itu mulai mengerucut sebal, membuat Angkasa tanpa sadar menyunggingkan senyuman tipis yang sangat samar di sudut bibir tipisnya.
"Kita harus meninjau langsung lokasi panti asuhan di pinggir kota untuk acara bakti sosial bulan depan. Donatur yayasan minta laporan visual dan fisik tempatnya sore ini juga," jelas Angkasa tenang. Dia menyampirkan jas almamater OSIS-nya di satu bahu, lalu menyambar kunci motor sport-nya dari atas meja. "Gak ada bantahan, Asisten. Ayo jalan."
Eca hanya bisa menghentakkan kakinya ke lantai keramik dengan dongkol setengah mati. Merutuki nasib sialnya yang harus kembali terjebak berduaan dengan makhluk paling berbahaya bagi kesehatan jantungnya di sekolah ini.
Dengan langkah berat yang diseret-seret, Eca mengekor di belakang Angkasa yang berjalan tegap membelah area parkir khusus pengurus OSIS. Punggung lebar cowok itu tampak begitu kokoh di balik kemeja putihnya yang disingsingkan hingga sebatas siku. Ketika mereka tiba di depan sebuah motor sport hitam legam berkapasitas mesin besar, Eca menelan ludahnya berat. Benda itu terlihat seperti monster besi yang siap melemparkannya ke aspal kapan saja.
Angkasa mengambil helm sewarna motornya yang tergantung di spion, lalu melemparkannya dengan santai ke arah Eca. Refleks Eca yang cukup payah membuatnya hampir saja menjatuhkan helm tersebut jika saja ia tidak cepat-cepat mendekapnya ke dada.
"Pake," perintah Angkasa singkat sembari memakai helmnya sendiri.
"Gak ada helm yang banyakan kacanya atau yang... agak kecilan gitu? Ini kegedean di kepala gue, Angkasa!" protes Eca sambil berusaha mengancingkan tali helm yang terasa rumit. Jari-jarinya yang gemetar malah membuat tali itu semakin kusut.
Melihat Eca yang kesusahan, Angkasa mengembuskan napas pendek dari balik kaca helmnya yang dibuka setengah. Dia melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Eca bisa mencium aroma parfum maskulin bercampur wangi mint yang samar dari tubuh cowok itu. Jantung Eca langsung berdetak dua kali lebih cepat.
"Diem," bisik Angkasa rendah. Tangan kekar cowok itu terulur, dengan telaten merapikan anak rambut Eca yang mencuat di sekitar telinga sebelum menarik tali helm dan mengancingkannya dengan bunyi klik yang mantap. Jarak wajah mereka yang hanya berkisar belasan sentimeter membuat Eca menahan napas, matanya mengerjap panik di balik kacamata bulatnya. Setelah memastikan helm terpasang sempurna, Angkasa menepuk pelan puncak helm Eca. "Naik. Keburu sore."
Eca menaiki jok belakang motor sport yang posisinya jauh lebih tinggi dengan canggung. Begitu mesin motor dinyalakan, deru mesin yang menggelegar langsung menggetarkan pijakan kakinya. Tanpa peringatan, Angkasa menarik gas, membuat motor melesat membelah gerbang SMA Taruna Bangsa. Eca terpekik pelan, secara refleks mencengkeram erat pinggiran jaket almamater yang dipakai Angkasa, enggan menyentuh pinggang cowok itu secara langsung meskipun tubuhnya terdorong ke depan akibat percepatan motor.
Mereka membelah jalanan kota yang mulai padat oleh kendaraan. Di bawah langit yang perlahan berubah warna menjadi jingga keemasan, deru mesin motor sport itu memecah keheningan sore. Kecepatan Angkasa yang stabil namun gesit memotong kemacetan membuat Eca perlahan bisa menguasai rasa takutnya. Dari balik punggung Angkasa, Eca memperhatikan siluet kota yang bergerak cepat di kanan kiri mereka. Semburan angin sore menerpa wajahnya, memberikan sensasi dingin yang sedikit menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.
Setelah menempuh perjalanan hampir empat puluh lima menit menuju pinggiran kota yang lebih sepi, motor Angkasa akhirnya berbelok masuk ke sebuah halaman luas dengan papan nama kayu yang sudah agak kusam: Panti Asuhan Kasih Bunda. Rumah besar bergaya kolonial itu terlihat bersih, meski cat dindingnya sudah mulai mengelupas di beberapa sudut.
Begitu motor berhenti sempurna, Eca bergegas turun dengan kaki yang terasa sedikit lemas. Dia langsung melepas helmnya dan menghirup udara segar dalam-dalam. Sementara itu, Angkasa memarkirkan motornya dengan cekatan, menurunkan standar, dan melepas helm, menampakkan rambut hitamnya yang sedikit berantakan namun justru menambah kesan karismatik.
Sebelum Eca sempat melayangkan protes atas aksi kebut-kebutan tadi, pintu utama panti asuhan terbuka. Seorang wanita paruh baya berwajah teduh melangkah keluar dengan senyuman hangat yang merekah.
"Angkasa! Akhirnya kamu datang juga, Nak," sapa wanita itu, yang langsung dikenali Eca sebagai Ibu Pengurus Panti.
Wajah Angkasa yang biasanya sedingin es di sekolah tiba-tiba mencair. Sebuah senyuman tulus—jenis senyuman yang belum pernah Eca lihat sebelumnya sepanjang ia mengenal cowok itu—terukir di wajah Angkasa. "Sore, Ibu Rahma. Maaf agak terlambat, tadi jalanan lingkar luar agak padat." Angkasa maju dan menyalimi tangan Ibu Rahma dengan penuh hormat.
"Ah, tidak apa-apa. Wah, hari ini kamu bawa teman?" Ibu Rahma menoleh ke arah Eca yang berdiri canggung di samping motor.
"Sore, Bu. Saya Alesya, asisten... maksudnya pengurus OSIS juga," potong Eca cepat sebelum Angkasa mengatakan sesuatu yang aneh seperti 'budak seumur hidup'.
"Mari masuk, Nak Alesya, Angkasa. Anak-anak sudah menunggu di dalam," ajak Ibu Rahma ramah.
Saat mereka melangkah masuk ke dalam aula panti yang merangkap sebagai ruang bermain, gemuruh suara anak-anak langsung menyambut mereka. Sekitar lima belas anak dengan rentang usia lima hingga sepuluh tahun langsung berlarian menghampiri Angkasa.
"Kak Angkasa datang!" teriak seorang anak laki-laki berkaus biru sambil memeluk kaki Angkasa.
Eca tertegun di tempatnya. Dia menyaksikan bagaimana sang "Ketua OSIS Iblis" yang ditakuti seluruh murid SMA Taruna Bangsa itu berlutut di lantai keramik, membiarkan anak-anak kecil itu berhamburan ke pelukannya. Angkasa tertawa renyah, mengacak-acak rambut mereka satu per satu, dan mengeluarkan beberapa kotak susu serta camilan dari dalam tas ranselnya yang ternyata sudah ia persiapkan sebelum berangkat.
"Alesya, jangan cuma bengong di situ. Sini," panggil Angkasa, menoleh ke arah Eca dengan tatapan mata yang tidak lagi tajam, melainkan hangat dan mengundang.
Eca berdeham pelan, mencoba menetralkan rasa terkejutnya, lalu berjalan mendekat. Selama dua jam berikutnya, waktu seakan berjalan begitu cepat. Eca bertugas mengambil foto-foto dokumentasi fasilitas panti menggunakan kamera saku yang diberikan Angkasa, sementara Angkasa sendiri sibuk memeriksa kondisi atap yang bocor di dapur bersama Ibu Rahma, lalu kembali ke aula untuk membacakan dongeng bagi anak-anak yang lebih kecil.
Melihat cara Angkasa mendengarkan cerita anak-anak dengan penuh kesabaran, tanpa ada tanda-tanda arogansi atau sifat diktator yang biasa ia tunjukkan di ruang OSIS, membuat sudut pandang Eca bergeser. Di balik topeng kedisiplinan yang kaku dan menakutkan itu, ternyata ada hati yang luar biasa lembut. Cowok itu benar-benar peduli pada kelayakan acara bakti sosial ini, bukan sekadar mencari nama atau memenuhi formalitas program kerja.
Ketika jarum jam menunjukkan pukul setengah enam sore, langit di luar telah sepenuhnya berubah menjadi merah bata bercampur ungu tua yang pekat. Angkasa berpamitan kepada Ibu Rahma dan anak-anak yang tampak berat melepas kepergiannya.
"Ini ponsel lo," ucap Angkasa tiba-tiba saat mereka sudah kembali berdiri di samping motor sport. Dia menyodorkan benda persegi panjang milik Eca yang sejak pagi disitanya. "Tugas lapangan lo selesai dengan baik. Terima kasih atas bantuannya, Alesya."
Eca menerima ponselnya, namun matanya tetap tertuju pada wajah Angkasa yang diterpa cahaya temaram lampu jalan yang baru menyala. "Lo... ternyata gak seburuk yang gue kira, Ketua," gumam Eca pelan, hampir tak terdengar.
Angkasa menaikkan sebelah alisnya, seringai tipis kembali muncul di bibirnya, mengembalikan aura angkuh yang familier. "Gak usah berlebihan. Gue tetep bos lo di sekolah. Sekarang pake helm lo, kita pulang sebelum jalanan makin gelap."
Eca mencibir kecil, namun kali ini tanpa rasa kesal yang berarti. Dia memakai helmnya sendiri dengan mudah karena talinya sudah diatur oleh Angkasa tadi. Saat dia naik ke jok belakang, motor sport itu kembali menderu, memecah kesunyian pinggiran kota.
Di bawah langit senja yang perlahan menggelap dan di antara deru mesin yang konstan, Eca tidak lagi mencengkeram jaket Angkasa dengan panik. Dia membiarkan kedua tangannya berpegangan pada pembatas besi di belakang jok, menikmati embusan angin malam yang mulai dingin, sambil menyadari bahwa ada banyak rahasia yang tersembunyi di balik punggung tegap cowok yang sedang memboncengnya ini. Sebuah awal baru dari hubungan rumit mereka tampaknya baru saja dimulai di sepanjang aspal jalan pulang.