Cattleya tak menduga pesta kemenangan saat timnya menjuarai kejuaraan akan membuatnya meninggalkan dunianya. Ia terbangun di tubuh seorang antagonis dalam sebuah novel yang dibacanya.
Cattleya yang diketahui mengandung anak kaisar diangkat menjadi selir. Dia tak bisa menjadi permaisuri karena sudah ada Adelle seorang putri Duke yang memang digadangkan jadi calon permaisuri.
Namun bisikan-bisikan yang datang ke telinganya yang mengatakan bahwa dirinya lebih pantas menjadi permaisuri membuat gadis pemalu itu menjadi berambisi. Terlebih Kaisar juga tak pernah mengacuhkan dirinya. Hingga pada akhirnya Cattleya meracuni Adelle dan dirinya dieksekusi mati.
Mengetahui hal tersebut, Cattleya pun memilih jalur aman, dia kabur dan bersembunyi. Namun plot novel tersebut tetap saja membuat dirinya ditemukan.
"Plot novel sialaaaan!!!"
Akankah Cattleya bisa mengubah plot novel tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyarui, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
One Night 26
Sudah seminggu berlalu semenjak Lucien meninggalkan kastel di utara. Di awal, Cattelya merasa ada yang kurang, namun lama-lama dia menjadi terbiasa. Telebih Cattleta setiap malam menggunakan ruang latihan.
"Woaaah tubuhku benar-benar jauh lebih baik. Aku juga bisa menggunakan kemampuanku di kehidupan yang sebelumnya."
Cattleya tersenyum senang setelah selesai bermain dengan tombak. Apa yang dilakukan membuat tubuhnya terasa panas, sehingga keringat mengucur deras meski udara malam begitu dingin.
Kepala kesatria yang tiap hari menjaga Cattleya, tentu melihat setiap tindakan Cattleya. Termasuk mengetahui bahwa sang calon permaisuri mempunyai cukup ilmu bela diri.
"Luar biasa," ucapnya.
Tak ingin menganggu latihan sang nyonya, ia tetap diam ditempatnya. Dan setiap ada orang yang hendak menuju ke tempat itu, segera dihadang olehnya.
Bahkan beberapa kesatria pun, ikut bergabung dengannya untuk menonton.
"Bukankah Yang Mulia nampak luar biasa, ketua?" ucap salah satu dari mereka.
"Benar. Jarang sekali nona bangsawan yang seperti itu. Yang Mulia? Hmm ya, seharusnya kita memanggil beliau demikian. Cepat pergi, beliau sudah selesai dan hendak kembali ke kamar."
Ketua dan para anak buahnya segera membubarkan diri. Mereka tak ingin Cattelya melihat apa yang mereka lakukan.
Tapi ternyata mereka salah, Cattleya tahu betul bahwa dirinya diperhatikan. Namun dia tak ambil pusing. Dia hanya ingin melakukan apa yang ingin dilakukan.
Di sini, Cattleya seolah bisa menjadi dirnya sendiri. Dia bisa kembali melakukan hal yang disukainya seperti di masa lalunya.
Haaah
Cattleya menghembuskan nafasnya panjang. Ia yang baru saja mandi, tengah mengeringkan rambutnya. Cattleya sejenak tersenyum melihat putranya yang sudah tertidur pulas.
"Nak, mungkin kita akan selamanya hidup dalam persembunyian. Maafkan ibu ya sayang, kamu tak bisa hidup layaknya bangsawan pada umumnya. Tapi dari pada hidup dalam pengasingan yang sepi, lebih baik menjadi orang biasa namun kita bisa selalu bersama."
Cattleya naik ke atas ranjang, dia merebahkan tubuhnya di sana. Tak lama, Cattleya sepenuhnya terlelap. Dia tak membutuhkan waktu lama untuk terjaga. Tubuhnya yang lelah memudahkannya untuk bisa segera istrahat.
Malam itu berlalu dengan cepat. Fajar kembali menyingsing. Akan tetapi matahari masih malu-malu untuk menampakkan tubuhnya.
"Selamat pagi."
Mata Cattleya membelalak saat melihat Lucien yang sudah ada di depan matanya. Pria itu duduk di bibir ranjang dengab tatapannya yang lembut ke arahnya.
Cattleya yang sepenuhnya sadar, langsung menutupi tubuhnya dengan selimut. Gaun malam yang dikenakan sangat tipis dan seksi, sehingga cukup malu jika dilihat oleh Lucien.
"T-tuan, kapan Anda datang?" tanya Cattleya dengan wajah yang sedikit bersemu merah.
"Baru saja, belum lama. Tidur mu nyenyak sekali sampai tak melihat aku datang," jawab Lucien. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh helai rambut yang menutupi mata Cattleya.
Degh!
Debaran dada Cattleya tba-tiba meningkat. Tangan Lucien yang menyentuh kulit wajahnya terasa hangat dan juga lembut.
"I-iya. S-saya ~"
"Bersiaplah, mari kita sarapan."
Lucien beranjak dari duduknya dan melenggang meninggalkan kamar Cattleya. Tanpa Cattleya ketahui, pria itu sedang menyentuh dadanya yang juga bergemuruh.
Lucien menyandarkan tubuhnya di depan pintu dan memejamkan matanya sejenak.
"Dia cantik sekali, bahkan baru saja bangun tidur pun juga canti. Dan sialnya hasrat ku bangun saat melhatnya tadi. Dasar brengsek kamu Lucien. Bisa-bisanya kamu berhasrat begitu melihat Cattleya yang tidur. Tapi dia cantik sekali, sungguh."
TBC