NovelToon NovelToon
My Idol Is My Desktop Shortcut

My Idol Is My Desktop Shortcut

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:349
Nilai: 5
Nama Author: TCN_Luna

Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.

Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Gue Cuma Mau Memastikan

Rendra Adijaya punya masalah.

Lagi.

Seharusnya dia sudah terbiasa dengan kenyataan bahwa hidupnya belakangan ini lebih rumit daripada permainan strategi dengan seratus misi sampingan. Sayangnya, terbiasa bukan berarti dia menyukainya.

Apalagi kalau masalahnya menyangkut Naya.

Pukul 06.42, Rendra sudah berdiri di depan gerbang sekolah dengan dua hal di tangannya: tas sekolah dan sekotak susu stroberi.

Bukan cokelat impor. Bukan makanan mahal. Bukan hadiah aneh dengan stiker Discord.

Susu stroberi.

Sesuai kesepakatan.

Dia memeriksa jam tangannya.

Enam lewat empat puluh dua.

Kemudian melihat gerbang.

Enam lewat empat puluh tiga.

Lalu melihat jam tangannya lagi.

“Lo lagi nunggu siapa?”

Rendra menoleh.

Aldi berdiri di sampingnya sambil menguap lebar. Rambutnya masih berantakan, dan tali tasnya menggantung di satu bahu.

“Nggak nunggu siapa-siapa.”

Aldi melihat susu di tangan Rendra.

Lalu melihat gerbang.

Lalu kembali melihat susu.

“Oh.”

Rendra menyipitkan mata. “Oh apaan?”

“Gue baru sadar ternyata ada orang yang bisa bohong dengan wajah sedingin kulkas.”

“Gue nggak bohong.”

“Terus susu itu buat siapa? Satpam?”

“Buat gue.”

Aldi mengangguk serius. “Pantesan rasa stroberi. Rasa favorit lo.”

Rendra terdiam.

Sial.

Dia seharusnya membeli susu rasa cokelat untuk dirinya sendiri, lalu susu stroberi untuk Naya. Dengan begitu, kalau ada yang bertanya, dia punya alasan yang lebih masuk akal.

Sekarang, dia berdiri di depan gerbang dengan susu stroberi yang dibelinya khusus karena Naya pernah bilang dia menyukai rasa itu.

“Jangan bilang lo—”

“Kalau lo lanjut, gue pindahin tempat duduk lo.”

Aldi langsung menutup mulut.

Dua detik kemudian, dia membukanya lagi.

“Gue belum bilang apa-apa.”

“Bagus.”

“Gue cuma mau bilang, semoga hubungan lo dengan susu stroberi langgeng.”

Rendra berjalan meninggalkannya.

Aldi menyusul sambil tertawa.

Dan tepat ketika Rendra memutuskan bahwa pagi ini sudah cukup memalukan, seseorang muncul dari arah parkiran.

Naya.

Rambutnya diikat asal, tasnya menggantung di bahu, dan wajahnya menunjukkan bahwa dia belum sepenuhnya berdamai dengan kenyataan harus bangun pagi.

Rendra langsung berdiri lebih tegak.

Bukan karena sengaja.

Tubuhnya rupanya punya agenda sendiri.

“Pagi,” kata Naya.

“Pagi.”

Naya melirik tangannya.

“Lo beli susu?”

“Iya.”

“Rasa stroberi?”

“Iya.”

“Lo suka stroberi?”

Rendra berhenti bernapas selama setengah detik.

Aldi, yang berdiri di belakangnya, tiba-tiba terlihat sangat tertarik pada langit.

“Kadang,” jawab Rendra.

“Tumben. Gue kira lo tipe orang yang minum kopi hitam tanpa gula sambil membaca laporan keuangan.”

“Kenapa gue harus membaca laporan keuangan pagi-pagi?”

“Biar sesuai sama muka lo.”

Aldi terbatuk untuk menyembunyikan tawanya.

Rendra mengabaikannya.

Dia mengulurkan susu itu kepada Naya.

“Ini buat lo.”

Naya menatap kotaknya, lalu menatap Rendra.

“Katanya buat lo.”

Rendra membeku.

Aldi menunduk. Bahunya bergetar.

“Gue berubah pikiran,” kata Rendra cepat.

“Dalam waktu berapa detik?”

“Perubahan keputusan itu hak setiap manusia.”

Naya menerima susu tersebut sambil menggeleng.

“Ya udah. Makasih.”

Hanya dua kata.

Makasih.

Rendra merasa pagi yang menyebalkan ini mendadak punya nilai guna.

Dia segera mengalihkan pandangan sebelum ekspresinya membocorkan sesuatu yang tidak perlu diketahui publik.

Sayangnya, Aldi sudah melihat semuanya.

Dan Aldi adalah tipe manusia yang tidak pernah menyia-nyiakan informasi berharga.

“Ren,” bisiknya ketika Naya berjalan lebih dulu.

“Apa?”

“Perubahan keputusan itu hak setiap manusia, ya?”

Rendra menatapnya.

“Gue serius. Gue pindahin tempat duduk lo.”

Jam istirahat pertama, Rendra akhirnya membuka laptopnya di perpustakaan.

Dia masih memikirkan surel lama yang ditemukan kemarin. Nama akun pengirimnya terasa familier, tetapi ingatannya belum berhasil menghubungkannya dengan seseorang.

Dia sudah memeriksa beberapa arsip lama. Hasilnya nihil.

Sementara itu, Naya duduk di seberangnya sambil mengerjakan tugas.

“Lo belum nemu apa-apa?” tanyanya.

“Belum.”

“Nama akunnya?”

“Masih gue cari.”

“Kalau nggak ketemu?”

“Gue cari lagi.”

Naya berhenti menulis.

“Lo sadar ada kemungkinan orang itu cuma iseng, kan?”

“Sadar.”

“Dan lo juga sadar kalau terus-terusan memikirkan ini bisa bikin lo capek sendiri?”

Rendra menutup laptopnya setengah.

“Gue nggak suka ada orang yang sengaja memberi petunjuk terus menghilang.”

“Gue juga nggak suka.”

Naya meletakkan pulpennya.

“Tapi jangan sampai lo menganggap setiap orang yang pernah kenal lo sebagai tersangka. Kita belum tahu apakah pesan itu berhubungan sama akun lama, foto yang kemarin, atau sesuatu yang lain.”

Rendra diam.

Dia tahu Naya benar.

Masalahnya, ada bagian dari dirinya yang ingin segera menemukan jawaban. Bukan hanya karena penasaran, melainkan karena dia tidak suka kehilangan kendali atas sesuatu yang menyangkut dirinya sendiri.

Dulu, dia bisa menghabiskan berjam-jam mempelajari sebuah permainan sampai menemukan pola yang tepat. Kalau kalah, dia bisa memeriksa ulang setiap keputusan sampai tahu letak kesalahannya.

Namun, manusia tidak punya panduan strategi.

Dan masa lalu tidak selalu menyediakan tombol untuk mengulang permainan.

“Gue tahu,” katanya akhirnya.

Naya mengangguk, lalu kembali membuka bukunya.

“Bagus. Sekarang bantu gue memahami soal ini.”

Rendra melihat lembar kerja yang didorong ke arahnya.

“Ini materi yang dijelaskan kemarin.”

“Gue tahu.”

“Lo mencatat?”

“Gue mencatat.”

“Terus kenapa—”

“Karena gue nggak ngerti, Rendra.”

Rendra terdiam.

Naya menyandarkan dagu di tangan.

“Kalau lo mau ceramah, gue bisa mengerjakan ini sendiri sambil menderita.”

Rendra mengambil lembar kerjanya.

“Nomor berapa?”

“Nomor tiga.”

Dia membaca soalnya, lalu mulai menjelaskan langkah demi langkah. Naya mendengarkan sambil sesekali mengajukan pertanyaan.

Selama beberapa menit, mereka benar-benar membicarakan tugas sekolah.

Tidak ada akun misterius.

Tidak ada foto lama.

Tidak ada nama pengguna yang membuat Rendra ingin membongkar seluruh sejarah internet.

Hanya tugas matematika dan Naya yang beberapa kali mengerutkan dahi.

Aneh.

Ternyata, dia bisa merasa tenang tanpa harus menyelesaikan semua masalah sekaligus.

Rendra baru menyadari itu ketika Naya berkata, “Oh, sekarang gue ngerti.”

Dia mengangkat kepala.

“Serius?”

“Iya.”

“Coba kerjakan nomor empat.”

Naya langsung menatapnya tajam.

“Kepercayaan lo terhadap kemampuan gue ternyata cuma bertahan tiga detik.”

“Gue cuma mau memastikan.”

“Kalimat favorit orang yang nggak percaya.”

Rendra tertawa kecil.

Dan untuk beberapa saat, itu cukup.

Sore harinya, Rendra membuka Discord setelah selesai mengerjakan tugas.

Satu notifikasi muncul di kotak masuknya.

Dari OldFox.

OldFox: Gue ingat satu hal lagi. Dulu ada orang yang sering bertanya soal nama akun lo.

Rendra segera membalas.

King_Ren: Siapa?

Balasannya tidak langsung datang.

Rendra menunggu.

Satu menit.

Dua menit.

Lima menit.

Dia mengetuk meja dengan ujung jari.

“Kalau lo sudah mulai, selesaikan, dong,” gumamnya.

Ponselnya bergetar.

OldFox: Gue nggak ingat nama lengkapnya. Tapi dia pernah ikut komunitas yang sama. Gue cuma ingat dia cukup dekat sama salah satu anggota lama.

Rendra membaca pesan itu dengan saksama.

King_Ren: Anggota yang mana?

Kali ini, OldFox membalas lebih cepat.

OldFox: Gue lagi coba cari arsipnya. Jangan buru-buru menyimpulkan apa-apa.

Rendra bersandar di kursi.

Kalimat itu terdengar familier.

Jangan buru-buru menyimpulkan apa-apa.

Naya baru saja mengatakan hal yang sama beberapa jam sebelumnya.

Dia menghela napas, lalu membuka percakapan dengan Naya.

Rendra: OldFox ingat ada orang yang pernah bertanya soal nama akun gue.

Naya: Terus?

Rendra: Dia lagi cari arsip lama.

Naya: Oke. Tunggu hasilnya dulu.

Rendra: Iya.

Dia menatap percakapan itu, lalu mengetik lagi.

Rendra: Lo lagi ngapain?

Balasan Naya datang beberapa saat kemudian.

Naya: Makan.

Rendra langsung mengetik.

Rendra: Makan apa?

Dia berhenti.

Menatap kalimatnya sendiri.

Lalu menghapusnya.

Tidak sampai lima detik, dia mengetik ulang.

Rendra: Maksud gue, jangan lupa makan yang bener.

Balasan Naya datang cepat.

Naya: Ren.

Rendra: Apa?

Naya: Gue cuma makan. Bukan sedang menjalankan misi rahasia.

Rendra menutup mata.

Satu masalah selesai.

Masalah lain baru saja dia buat sendiri.

Rendra: Gue cuma mengingatkan.

Naya: Iya, iya. Makasih, Pak Pengingat Nasional.

Rendra meletakkan ponselnya dan menatap langit-langit kamar.

Dia bisa menghadapi lawan yang memiliki peringkat tertinggi di server internasional.

Dia bisa memimpin tim dalam pertandingan yang menentukan reputasinya.

Dia bahkan bisa berdiri di depan kelas meskipun jantungnya berulah.

Namun, mengirim satu pesan sederhana kepada Naya tanpa terdengar seperti orang yang terlalu memikirkannya?

Tampaknya itu masih menjadi tantangan tingkat akhir.

Ponselnya kembali bergetar.

Kali ini, bukan dari Naya.

Sebuah pesan dari akun anonim yang sama seperti pagi tadi.

Unknown: Lo mulai mengingatnya?

Rendra duduk tegak.

Dia membaca pesan itu sekali lagi.

Kemudian membuka profil pengirimnya.

Tidak ada informasi baru.

Tidak ada petunjuk tambahan.

Hanya pertanyaan yang membuat seluruh usahanya sejak kemarin terasa seperti sedang dipantau seseorang.

Rendra tidak langsung membalas.

Dia mengambil tangkapan layar, menyimpannya bersama pesan sebelumnya, lalu meletakkan ponsel di meja.

Untuk pertama kalinya hari itu, tidak ada lelucon yang terlintas di kepalanya.

Kalau orang itu tahu apa yang sedang dia cari, berarti ada kemungkinan pengirimnya juga mengikuti perkembangan penyelidikannya.

Atau lebih buruk lagi, orang itu memang sengaja menunggu sampai Rendra mulai mengingat sesuatu.

Rendra membuka percakapan dengan Naya, tetapi tidak segera mengetik.

Dia tidak ingin menyeret Naya ke dalam sesuatu yang belum dipahaminya.

Namun, dia juga tidak ingin menghadapi ini sendirian.

Setelah beberapa saat, dia mengirim satu pesan.

Rendra: Nay, ada pesan baru. Besok gue tunjukin.

Balasan Naya muncul beberapa detik kemudian.

Naya: Oke. Jangan dibalas dulu.

Rendra membaca pesannya, lalu mengangguk kecil meskipun tidak ada orang yang melihat.

Rendra: Iya.

Dia menutup laptop.

Besok, dia akan mencari tahu lebih banyak tentang akun lama itu.

Bukan karena seseorang menyuruhnya.

Bukan pula karena dia ingin membuktikan bahwa dirinya tidak takut.

Dia hanya ingin tahu siapa yang merasa berhak mengusik masa lalunya—dan kenapa orang itu memilih melibatkan nama yang bahkan sudah lama tidak dia gunakan.

Satu hal yang pasti: kali ini, Rendra tidak akan membiarkan rasa penasarannya membuatnya mengambil keputusan sembarangan.

Setidaknya, itulah rencananya.

Sampai Naya mengirim pesan lagi.

Naya: Btw, susu stroberinya enak. Besok beli lagi kalau lo mau.

Rendra menatap layar.

Kemudian, tanpa sadar, dia tersenyum.

Besok.

Naya bilang besok.

Dia segera membuka aplikasi catatan dan menulis satu baris:

Beli susu stroberi.

Rendra berhenti, melihat catatannya sendiri, lalu menambahkan:

Jangan geer. Itu cuma susu.

Dia membaca kalimat tersebut sekali lagi.

“Gue tahu,” gumamnya.

Lalu menyimpan catatan itu dengan nama:

JADWAL BESOK.

Karena rupanya, menjadi pemain terbaik di dunia jauh lebih mudah daripada menjadi manusia normal di dekat Kanaya Putri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!