Aria Utama, seorang arsitek bertangan dingin, mendadak terjebak dalam pusaran konflik dua pria paling dominan di kota. Di satu sisi ada Adrian Mahardika, CEO dingin dari Mahardika Group yang menawarkan perlindungan, kestabilan, dan cinta yang tenang. Di sisi lain ada Dante Vance, pemimpin sindikat kejahatan paling tak tersentuh yang siap menghancurkan dunia demi mendapatkan Aria. Saat rahasia masa lalu terkuak, Aria harus memilih antara kepastian yang aman atau gairah yang mematikan di tengah pertumpahan darah dan perebutan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aletaia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Sang Raja Kegelapan
Gemetar halus menguasai jemari Aria saat ia memandangi kunci perak di atas meja riasnya. Pesan terselubung dari Dante Vance terus bergema di kepalanya bagaikan dentang lonceng kematian. Dermaga barat, pukul delapan malam. Ancaman untuk meratakan proyek Mahardika Grand Tower bukan sekadar gertakan kosong; Dante adalah pria tanpa aturan hukum yang memegang kendali atas kegelapan kota ini.
Sepanjang hari berikutnya, Aria tidak bisa berkonsentrasi. Setiap kali Adrian menelepon untuk menanyakan progres desain atau sekadar memastikan keadaannya, suara sang CEO yang hangat dan protektif justru membuat rasa bersalah menyelimuti dada Aria. Jika ia memberitahu Adrian, perang terbuka antarkubu dipastikan pecah malam ini—dan darah akan tumpah.
Pukul setengah delapan malam, Aria mengambil keputusan nekat.
Dengan mengenakan pakaian serba hitam dan mantel tebal, ia mengelabui dua pengawal pribadi suruhan Adrian yang berjaga di koridor apartemennya lewat pintu darurat. Di basement, mobil sedan hitam milik Dante sudah menunggunya dengan lampu yang mati. Seorang pengawal berbadan tegap membukakan pintu tanpa mengucap sepatah kata pun.
Mobil meluncur cepat membelah kegelapan malam menuju kawasan pelabuhan tua di pinggir kota. Area dermaga barat yang terisolasi itu dikelilingi oleh kontainer-kontainer besi berkarat dan deburan ombak laut yang guram.
Di ujung dermaga, berdiri sebuah bangunan bekas gudang kapal yang megah namun tampak dingin dari luar. Saat pintu besi gudang dibuka, Aria tersentak. Di dalam, interiornya disulap menjadi markas modern bergaya industrial-gothic yang sangat mewah. Puluhan pria berjas hitam dengan senjata terselubung berdiri sigap di setiap sudut, mempertegas hierarki kepemimpinan yang mutlak.
Di tengah ruangan, duduk seorang pria di atas kursi kulit besar dengan segelas whisky di tangannya.
Dante Vance.
Pria itu mengenakan kemeja hitam yang digulung hingga siku, memperlihatkan tato guratan rantai dan naga di lengan bawahnya. Saat menyadari kedatangan Aria, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang berbahaya.
"Kau tepat waktu, manis," suara Dante yang berat dan bernada serak beresonansi di ruangan yang sunyi. Ia mengisyaratkan para pengawalnya untuk keluar dan memberi mereka ruang.
"Aku datang ke sini bukan untuk bermain-main, Dante," tegas Aria, menghentikan langkahnya beberapa meter dari pria itu. "Tarikh ancamanmu pada proyek Mahardika. Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku?"
Dante meletakkan gelas kristalnya ke atas meja kayu solid, lalu berdiri. Posturnya yang tinggi menjulang dan langkah kakinya yang tenang terpancar bagaikan seekor pemangsa yang mendekati mangsanya.
"Aku menginginkan apa yang seharusnya menjadi milikku," ujar Dante pelan, berhenti tepat di hadapan Aria. Bau alkohol mahal dan aroma tembakau eksklusif bercampur minyak wangi maskulinnya menyelimuti indra penciuman Aria.
"Aku bukan milik siapa pun!" balas Aria berani, mendongak menatap sepasang mata abu-abu yang tajam dan liar di hadapannya.
Dante terkekeh rendah, suara tawa yang membuat dada Aria bergetar. Tangan Dante yang kasar namun bertindak lembut terangkat, menyelipkan sehelai rambut Aria ke belakang telinganya. Sentuhan jemarinya yang hangat meninggalkan jejak sengatan listrik di kulit leher Aria.
"Kau menyelamatkan nyawaku, Aria. Di duniaku, ketika seseorang menyelamatkan nyawa Raja Mafia, dia menjadi bagian dari takdir raja itu," bisik Dante dengan nada obsesif yang pekat. "Adrian Mahardika menawarkan dunia kaca yang rapuh dan penuh kebohongan. Tapi di sini, di duniaku... aku bisa memberimu kekuasaan mutlak yang tak bisa dibeli dengan uang."
"Adrian melindungiku! Dia tidak menggunakan cara kotor seperti mengancam orang yang tak bersalah!" cetus Aria, secara tak sadar membela sang CEO.
Kilatan amarah membakar mata abu-abu Dante mendengar nama Adrian disebut dari bibir Aria. Cengkeraman tangannya di leher belakang Aria sedikit mengerat—tidak menyakiti, namun mengunci pergerakan wanita itu secara mutlak.
"Kau tidak tahu apa-apa tentang Adrian Mahardika," desis Dante dengan rahang mengeras rapat. "Di balik setelan jas mewahnya, keluarga Mahardika dibangun di atas darah dan penderitaan keluargaku. Ayahnya membantai keluargaku untuk merebut takhta bisnis ini! Dan Adrian adalah penerus dari iblis itu."
Aria tertegun, matanya melebar melihat penderitaan dan kegelapan mendalam yang terpancar sekilas dari balik mata sang Raja Mafia.
"Aku akan menghancurkan kerajaan kacanya, Aria. Dan aku ingin kau berdiri di sampingku saat gedung itu runtuh," bisik Dante rapat di depan bibir Aria. Napas hangatnya berembus di kulit wajah Aria, menciptakan dorongan gairah dan bahaya yang tak terelakkan.
"Dante... jangan lakukan ini..." bisik Aria pasrah, dadanya naik turun dengan detak jantung yang berpacu liar.
"Sudah terlambat untuk mundur, manis," ujar Dante penuh penekanan. Ia melepaskan cengkeramannya, lalu meraih tangan kiri Aria dan memasukkan kembali cincin perak berukir naga itu ke jari manis Aria secara paksa.
"Malam ini kau melihat duniaku. Mulai sekarang, ingatlah bahwa setiap kali kau berada di dekat Adrian, bayanganku selalu mengawasimu."
Dante membungkuk sedikit, mendaratkan ciuman singkat namun membakar di sudut bibir Aria—sebuah klaim kepemilikan yang dingin dan pekat, sebelum berbalik dan menyuruh pengawalnya untuk mengantar Aria pulang.
Aria berdiri terpaku di dermaga yang dingin, memandangi cincin di jari manisnya dengan perasaan berkecamuk yang kian membakar jiwa. Ia menyadari satu hal: dirinya telah masuk terlalu dalam ke dalam pusaran kegelapan Dante Vance, dan tidak ada jalan kembali.