💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍
Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.
Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.
Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.
Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
SUV hitam yang bodinya kini dipenuhi bekas tembakan dan penyok itu meluncur masuk ke dalam bunker utama Mansion Adhitama.
Gerbang titanium berlapis ganda tertutup rapat di belakang mereka, mengunci dunia luar yang baru saja mencoba merenggut nyawa Alana.
Jace beserta selusin pasukan elit sudah bersiaga di area parkir bawah tanah tersebut. Saat pintu mobil terbuka, Jace langsung melangkah maju, raut wajahnya tegang namun penuh perhitungan.
"Laporan, Jace," perintah Elvano tanpa basa-basi, melepas jasnya yang terasa sesak dan melemparnya asal ke atas kap mobil. Kemeja putihnya yang digulung hingga siku memperlihatkan otot lengannya yang menegang keras.
"Perimeter mansion aman seratus persen, Tuan Muda. Area Rosewood Academy telah dikelilingi oleh Tim Delta berpakaian preman. Tuan Muda Bastian sedang memantau saluran komunikasi kepolisian dan Sindikat Bayangan dari ruang server utama." Jace melirik sekilas ke arah retakan kaca mobil yang mengerikan, lalu menunduk hormat.
"Kami gagal mendeteksi penembak jitu itu lebih awal. Saya siap menerima hukuman."
"Bukan salahmu. Mereka menggunakan peluru subsonic jarak jauh dan menyembunyikan hawa panas," sahut Alana dingin. Wanita itu melangkah dari sisi mobil, mengikat asal rambut panjangnya menjadi cepol berantakan. Kacamata tipisnya memantulkan cahaya lampu neon garasi.
"Di mana ruang servernya? Aku punya banyak hal yang harus dihancurkan hari ini."
Melihat transisi Alana dari seorang target pembunuhan menjadi predator yang siap menerkam, Elvano mendengus pelan, sebuah kebanggaan liar berdesir di dadanya. Pria itu menepuk bahu Jace kilat.
"Kumpulkan seluruh kapten distrik. Kita deklarasikan status Siaga Merah malam ini," perintah Elvano, sebelum melangkah lebar menyusul Alana.
Udara di dalam ruang server utama di sayap timur terasa beku karena pendingin ruangan yang dipasang maksimal. Layar-layar monitor raksasa menampilkan ribuan baris kode, peta satelit, dan diagram aliran dana.
Di tengah ruangan, Bastian berdiri dengan lengan kemeja tergulung, menatap layar utama dengan kening berkerut dalam.
"Kau lama sekali," gerutu Bastian tanpa menoleh saat pintu otomatis terbuka.
"Aku sudah berhasil melacak jalur rekening yang mereka gunakan untuk memasang nilai buronan Lana. Ini uang kotor dari tiga perusahaan cangkang di Kepulauan Cayman."
"Bagus. Berapa total dana operasional yang mereka simpan di sana?" Alana langsung mengambil alih kursi utama, menggeser posisi Bastian dengan santai. Jemarinya mulai menari di atas keyboard dengan kecepatan yang nyaris tidak bisa diikuti oleh mata telanjang manusia biasa.
"Sekitar lima ratus juta dolar," jawab Bastian, memutar kursi di sebelahnya dan mencondongkan tubuh untuk melihat layar Alana.
"Tapi keamanan mereka berlapis. Mereka menggunakan protokol enkripsi kuantum. Jika kita mencoba meretasnya secara remote dari sini, server mereka akan melakukan auto-burn alias menghancurkan data itu sendiri dalam hitungan tiga puluh detik. Uangnya akan hilang, tapi tidak akan masuk ke kantong kita."
"Aku nggak akan membiarkan uang itu hangus, Kak Bas. Itu namanya pemborosan," seringai mematikan terbit di sudut bibir Alana.
"Jika mereka menginginkan kepalaku seharga sepuluh juta, aku akan merampas seluruh dana lima ratus juta mereka sebagai ganti rugi serangan pagi ini."
Di sudut ruangan, Elvano bersandar pada meja kaca, menyilangkan kedua lengannya di dada. Matanya yang tajam menatap interaksi antara Alana dan sepupunya. Meski percakapan mereka murni soal taktik siber, kedekatan jarak dan bahasa tubuh mereka yang terlalu santai kembali memantik ego posesif sang Tuan Muda.
Elvano berdeham keras, menarik perhatian kedua hacker jenius itu.
"Lalu bagaimana caramu memindahkan setengah miliar dolar tanpa memicu protokol auto-burn mereka, Alana?" tanya Elvano mutlak, melangkah maju hingga berdiri tepat di belakang kursi Alana. Pria itu sengaja menempatkan tubuh besarnya sebagai tembok pemisah antara Alana dan Bastian.
Alana menengadah, menatap pria arogan di atasnya. "Sistem enkripsi kuantum mereka tidak bisa ditembus dari jarak jauh. Tapi, setiap sistem pasti memiliki server fisik tempat data itu berlabuh—sebuah cold storage."
Alana mengetik beberapa baris perintah, dan peta kota di layar utama dengan cepat melakukan perbesaran hingga fokus pada sebuah titik di area pelabuhan utara.
"Mereka menyembunyikan cold storage itu di bawah sebuah pabrik farmasi kosong milik perusahaan cangkang mereka," jelas Alana. Matanya berkilat penuh tekad.
"Aku tidak bisa meretasnya dari sini. Tapi jika aku bisa menyusup ke dalam ruangan server itu dan mencolokkan drive berisi backdoor code buatanku langsung ke mainframe mereka... aku bisa membekukan protokol keamanan mereka, memindahkan seluruh dananya, lalu mengunci mereka dari sistem mereka sendiri selamanya."
Keheningan yang tegang turun menyelimuti ruangan itu.
Bastian bersiul pelan, menggelengkan kepalanya. "Itu brilian, Al. Tapi itu juga misi bunuh diri. Pabrik itu pasti dijaga oleh puluhan tentara bayaran kelas atas."
"Nggak ada yang mustahil," jawab Alana datar.
"Tidak!" suara bariton Elvano menggelegar, memotong seluruh rencana itu secara absolut.
Alana langsung memutar kursinya, menatap tajam pria itu.
"Apa maksudmu 'tidak'?"
"Maksudku, kau tidak akan menginjakkan kakimu di sarang tikus itu, Alana," desis Elvano, mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua tangannya mencengkeram erat sandaran kursi Alana. Urat di lehernya menonjol keras.
"Satu jam yang lalu, peluru senapan runduk nyaris memecahkan kepalamu. Kau adalah buronan nomor satu mereka saat ini. Mengirimmu langsung ke markas mereka sama saja menyerahkan nyawamu di atas nampan perak!"
"Ini bukan soal gengsimu, Elvano!" Alana ikut meninggikan suaranya, berdiri dari kursinya hingga wajah mereka kini berdekatan, saling menantang. Aroma vanilla dan musk kembali bertubrukan di udara.
"Itu enkripsi kuantum! Pasukanmu tidak bisa sekadar menendang pintu dan menembak komputernya! Aku harus berada di sana untuk mengeksekusi kodenya secara manual! Atau kau lebih suka kita diam saja di mansion ini sambil menunggu mereka mengirim penembak jitu lain ke sekolah keponakanku?!"
"Aku akan memimpin penyerbuan itu sendiri," geram Elvano, matanya menggelap.
"Berikan alat sialan itu pada Jace atau Bastian. Biar mereka yang mencolokkannya."
"Kode ini reaktif!" balas Alana tak mau kalah, dadanya naik turun menahan amarah.
"Sistem mereka akan melawan saat backdoor-ku masuk! Harus ada hacker tingkat tinggi yang menetralisir perlawanan logaritma itu secara real-time. Kak Bas hebat, tapi algoritma ini buatanku, dan hanya aku yang tahu ritmenya!"
"El," Bastian tiba-tiba menyela dengan nada serius, mengangkat tangannya seolah menengahi dua singa yang sedang berebut dominasi.
"Al, benar. Source code-nya terlalu spesifik. Kalau aku yang masuk dan gagal mengimbanginya, lima ratus juta dolar itu akan hangus, dan mereka akan segera memindahkan markas mereka."
Elvano memejamkan matanya selama dua detik. Rahangnya berkedut keras. Di satu sisi, insting mafianya yang kejam mengakui bahwa taktik Alana adalah langkah mematikan yang brilian.
Memotong urat nadi keuangan Sindikat Bayangan akan melumpuhkan musuh dari dalam. Namun di sisi lain, insting primitifnya sebagai seorang pria menolak keras untuk membawa wanita yang perlahan mulai menguasai pikirannya ini ke medan perang.
Elvano membuka matanya, menatap lurus ke kedalaman mata Alana yang menyala penuh keberanian dan keras kepala. Wanita ini tidak butuh diselamatkan dan dikurung di menara gading. Dia butuh dibiarkan memegang senjata.
"Baik," bisik Elvano, suaranya merendah menjadi geraman berbahaya yang membuat bulu kuduk Alana meremang.
Elvano menipiskan jarak, ibu jarinya terangkat dan mengusap pelan sisa darah yang mengering di pelipis Alana—bekas goresan kaca dari serangan tadi pagi. Sentuhan itu sangat lembut, berbanding terbalik dengan aura membunuh yang menguar dari tubuhnya.
"Kau ikut dalam penyerangan malam ini," lanjut Elvano mutlak.
"Tapi kau harus menempel padaku. Kau bergerak dalam bayanganku, bernapas dalam izinku, dan menunduk saat kuperintahkan. Aku akan membuka jalan darah untukmu menuju server itu, dan kau merampok mereka sampai habis."
Alana menelan ludah, jantungnya kembali berdegup kencang melihat sorot mata posesif dan mematikan di hadapannya. Ia tidak mundur, melainkan mengangkat dagunya menantang.
"Buka jalan setajam yang kau bisa, Tuan Adhitama," bisik Alana tak kalah dingin, senyum kemenangan terukir di wajah cantiknya.
"Karena aku tidak akan meninggalkan satu sen pun untuk biaya pemakaman mereka."
Bastian, yang sejak tadi menjadi penonton drama intens tersebut, hanya bisa memutar bola matanya dan bergumam pelan pada dirinya sendiri.
"Demi Tuhan, kalian berdua benar-benar pasangan psikopat yang diciptakan untuk satu sama lain."
Bersambung...