Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.
*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*
Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**
Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
BAB 26
SELALU MINTA IZIN
`Pak Bram, apakah tawaran untuk bicara masih berlaku?`
Wulan menatap pesan itu selama lima menit sebelum menekan kirim.
Ia sedang berdiri di toilet pusat perbelanjaan, membawa dua kantong sayur dan satu bungkus ayam. Dika berada di rumah bersama Bu Suminah. Dimas bekerja. Tak ada seorang pun yang tahu Wulan sengaja memilih tempat ramai agar tidak merasa sedang bersembunyi terlalu jauh.
Jawaban Bram datang satu menit kemudian.
`Masih. Apakah Ibu ingin bertemu di tempat umum?`
`Iya.`
`Saya bisa kirim Pak Anto. Kalau Ibu lebih nyaman naik taksi sendiri, saya kirim alamatnya saja.`
Pilihan itu membuat Wulan menutup mata sesaat.
`Saya naik taksi sendiri.`
`Baik. Saya menunggu.`
Tidak ada pertanyaan kenapa ia berubah pikiran. Tidak ada kalimat kemenangan. Bram bahkan mengirim lokasi sebuah restoran di dalam hotel, bukan kamar atau apartemen pribadi.
Wulan hampir membatalkan tiga kali di perjalanan.
***
Bram berdiri ketika ia memasuki restoran.
Kemejanya putih tanpa dasi. Meja yang dipilih berada di sudut, cukup jauh dari pengunjung lain untuk bicara, tetapi tetap terlihat oleh pramusaji dan kamera ruang publik.
"Terima kasih sudah datang, Bu Wulan."
"Saya cuma punya satu jam."
"Saya mengerti. Ibu mau duduk di dalam atau dekat lorong?"
Wulan memilih kursi dekat lorong. Tas belanja ia letakkan di bawah kaki seperti pengingat bahwa setelah ini ia harus pulang memasak.
Bram menyodorkan daftar menu. "Boleh saya pesan teh untuk Ibu?"
"Teh hangat. Nggak usah makanan."
"Baik."
Ia memanggil pramusaji, memesan dua teh, lalu menunggu sampai mereka kembali sendirian.
"Ibu ingin mulai dari mana?"
Wulan meremas ujung kerudung. "Kenapa saya?"
"Karena Ibu melihat orang lain bahkan ketika mereka tidak melihat Ibu."
"Pak Bram hampir nggak kenal saya."
"Benar. Karena itu saya minta kesempatan untuk mengenal, bukan mengaku sudah tahu semuanya."
Teh datang. Bram menunggu Wulan menambahkan gula sendiri, lalu bertanya seperti apa hari-harinya. Pertanyaan biasa itu membuat Wulan kikuk. Ia bercerita tentang bangun sebelum azan Subuh, menyiapkan sarapan, mengantar Dika, berbelanja, membersihkan rumah, membantu tugas sekolah, lalu menunggu Dimas pulang tanpa tahu jamnya.
"Kedengarannya Ibu bekerja lebih panjang daripada kebanyakan orang di kantor saya," kata Bram.
"Itu cuma pekerjaan rumah."
"Pekerjaan tetap pekerjaan meski tidak ada slip gaji."
Tak seorang pun pernah mengucapkan kalimat itu kepadanya. Selama ini, rumah yang bersih dianggap muncul dengan sendirinya. Makanan hangat baru terlihat ketika terlambat. Dika yang sehat menjadi hal biasa, sedangkan satu nilai turun selalu menjadi kesalahan ibunya.
"Saya nggak menceritakan itu supaya dikasihani," ujar Wulan.
"Saya tidak kasihan. Saya kagum, sekaligus heran kenapa orang di rumah Ibu tidak mengatakannya."
Wulan menunduk pada teh yang mulai beruap tipis. Setiap jawaban Bram seperti mengangkat pekerjaan yang selama ini dibuat tak terlihat, menaruhnya di atas meja, lalu menyebutnya berharga.
"Saya istri pegawai Bapak."
"Dan saya sudah mengeluarkan diri dari semua evaluasi langsung atas Mas Dimas. Saya tidak akan memakai pekerjaan atau jabatan untuk mendekati Ibu."
"Tetap saja salah."
Bram tidak membantah. "Saya tahu ada batas yang sedang kita dekati. Kalau Ibu bilang berhenti, saya berhenti."
Wulan mengangkat wajah. "Kenapa Bapak selalu bertanya izin untuk hal kecil?"
"Karena yang kecil bagi saya mungkin besar bagi Ibu."
Jawaban itu begitu sederhana hingga membuat mata Wulan panas.
Dimas tak pernah bertanya kursi mana yang membuatnya nyaman. Bu Suminah tak pernah bertanya apakah ia ingin hamil lagi. Bahkan urusan datang ke acara perusahaan diputuskan tanpa menunggu jawabannya.
Di depan laki-laki yang hampir asing ini, satu kata `boleh` dikembalikan kepadanya berkali-kali.
"Malam itu," kata Wulan, "Bapak pikir saya siapa?"
"Saya pikir Ibu adalah seseorang yang memilih mencium saya."
"Saya kira Bapak Mas Dimas."
"Saya tahu setelah mendengar suara Ibu. Saya berhenti."
"Bapak menyesal?"
Bram memandang cangkirnya. "Saya menyesal kita sama-sama tidak tahu. Saya tidak menyesal tahu rasanya dekat dengan Ibu."
Wulan seharusnya marah. Ia justru menahan napas.
"Saya bermimpi tentang Bapak," akunya.
Jari Bram berhenti di gagang cangkir, tetapi wajahnya tetap tenang.
"Terima kasih sudah jujur."
"Jangan senang dulu."
"Saya tidak mau membuat Ibu merasa pengakuan itu menjadi utang."
Wulan tertawa kecil, nyaris sedih. "Bapak selalu bicara seperti semua jawaban ada di tangan saya."
"Memang seharusnya begitu untuk diri Ibu sendiri."
Air mata yang ditahannya akhirnya jatuh. Wulan cepat-cepat menghapusnya, malu menangis di restoran mahal dengan kantong sayur di bawah meja.
Bram mengeluarkan saputangan, tetapi tidak langsung menyerahkan.
"Boleh?"
Wulan mengangguk.
Saputangan itu diletakkan di dekat tangannya, bukan digunakan untuk menyentuh wajahnya. Wulan mengambilnya sendiri.
"Saya suka Bapak," katanya pelan. "Tapi saya nggak akan cerai dari Mas Dimas."
Bram menatapnya lama. Tidak ada bujukan agar ia meninggalkan rumah, tidak ada janji hidup mewah, dan tidak ada serangan terhadap Dimas.
"Karena Dika?" tanyanya.
"Karena Dika, keluarga, dan karena saya belum tahu siapa saya kalau bukan istri dan ibu di rumah itu."
"Saya mengerti."
"Jadi setelah ini kita jangan bertemu."
"Kalau itu keputusan Ibu, saya patuhi."
Jawaban tersebut menimbulkan rasa kehilangan yang lebih cepat daripada dugaan Wulan.
Bram merentangkan telapak tangannya di atas meja, berhenti di tengah jarak antara mereka.
"Boleh saya pegang tangan Ibu satu kali sebelum kita pulang?"
Wulan memandang tangan itu. Bersih, tenang, dan tidak bergerak mendesak.
Ia meletakkan tangannya di atas telapak Bram.
"Boleh."
Jemari Bram menutup perlahan. Tak ada tarikan agar ia mendekat. Hanya kehangatan yang stabil, seperti seseorang sedang berkata bahwa ia ada tanpa meminta imbalan.
"Kalau nggak nyaman, bilang," katanya.
"Saya nyaman."
Mereka duduk begitu sampai teh mendingin.
Ketika Wulan menarik tangan, Bram langsung melepaskan.
"Saya tidak akan memaksa Ibu bercerai," ucapnya. "Tapi perasaan saya tidak selesai hanya karena kita berhenti bertemu."
"Itu urusan Pak Bram."
"Benar. Ibu tidak bertanggung jawab atasnya."
Untuk kedua kalinya hari itu, Wulan merasa dihormati justru pada saat ia sedang melakukan sesuatu yang salah.
***
Pak Anto menunggu di lobi, tetapi Wulan memilih tetap pulang dengan taksi. Bram tidak mempersoalkan. Ia hanya meminta Wulan mengirim satu pesan setelah tiba dengan aman.
Wulan turun dua gang sebelum rumah agar tetangga tidak bertanya kenapa ia membawa kantong belanja dari arah jalan besar. Langit mulai gelap. Bau gorengan dari warung bercampur asap kendaraan.
Sebelum mencapai gerbang perumahan, ia mengetik satu kata.
`Sudah.`
Bram membalas.
`Terima kasih sudah memberi kabar.`
Tak ada panggilan sayang. Tak ada permintaan bertemu lagi.
Di depan rumah, WhatsApp dari Dimas masuk.
`Besok malam acara kantor. Pakai baju yang benar. Jangan terlambat.`
Wulan menatap pemberitahuan dingin itu, lalu melihat saputangan Bram yang masih berada di tangannya.
Besok malam, ia akan berdiri di satu ruangan bersama kedua laki-laki itu.