"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Alasan di Balik Pilihan
BAB 2: Alasan di Balik Pilihan
Keheningan di ruang kerja Marko terasa makin mencekam. Tatapan mata pria itu masih mengunci Aluna rapat-rapat, sementara kancing kemeja atas Luna kini sudah terpasang rapi. Jemari Luna reflek menyentuh kerah pakaiannya, merasakan sisa hangat dari sentuhan jemari Marko yang masih tertinggal di sana.
"Kenapa diam? Kamu kaget?" tanya Marko dingin, kembali menegakkan tubuhnya dan melipat kedua tangan di dada.
Luna menghela napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang bergemuruh. Ia menatap Marko mantap, tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Nggak kaget kok, Pak. Cuma... saya makin sadar kalau keputusan saya magang di sini emang nggak salah."
Marko menyipitkan matanya. "Keputusan konyol kamu, maksudnya?"
Luna tersenyum tipis. Pikiran gadis itu mendadak melayang ke peristiwa dua minggu lalu. Peristiwa di mana ia harus mengeluarkan seluruh kemampuan negosiasinya demi meyakinkan sang ayah, Ardi Raharja.
Dua Minggu Lalu — Kediaman Keluarga Raharja
"Nggak! Papa nggak setuju!" suara Ardi terdengar berat dan tegas di ruang keluarga yang luas itu. Pria paruh baya itu meletakkan cangkir tehnya ke piring kecil dengan dentang yang lumayan keras. "Kenapa harus di tempat Marko? Raharja Group kurang besar apa buat tempat kamu belajar, Aluna?"
"Pa, dengerin Luna dulu," bujuk Luna lembut, menggeser duduknya di sofa agar lebih dekat dengan Ardi. Di sudut lain, Sinta—ibu Luna—hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum tipis melihat kelakuan putri tunggalnya.
"Gak ada alasannya, Sayang," Ardi menatap putrinya lekat-lekat. "Raharja Group itu nantinya bakal jadi punya kamu. Semua aset, semua perusahaan retail dan properti kita itu calon milik kamu. Kamu itu penerus tunggal Papa. Buat apa kamu magang jadi staf bawahannya Marko?"
"Justru karena Luna calon penerus Raharja Group, Pa!" potong Luna cepat, melontarkan alasan yang sudah ia rancang semalaman. "Kalau Luna magang di perusahaan Papa sendiri, semua orang bakal memperlakukan Luna kayak anak raja. Mana ada karyawan yang berani negur kalau Luna salah? Mana ada yang berani ngasih tugas berat?"
"Ya tinggal Papa perintahkan biar mereka profesional," sahut Ardi tak mau kalah.
"Nggak bakal bisa, Papa..." Luna merajuk, memegang lengan Ardi sambil memasang wajah memelas. "Semua orang tahu Luna anak Ardi Raharja. Tapi kalau di Janitra Group, Om Marko itu terkenal tegas dan nggak pandang bulu. Luna mau belajar gimana caranya memimpin dari orang yang paling disiplin di industri ini. Kan Om Marko sahabat Papa juga? Papa nggak percaya sama Om Marko?"
Ardi menghela napas kasar, tampak mulai goyah dengan argumen putrinya. "Bukan nggak percaya sama Marko. Marko itu udah kayak saudara buat Papa, dia pasti jaga kamu. Tapi Papa cuma heran aja, kenapa harus dia?"
"Biar Luna dapet pengalaman murni, Pa. Tolong ya? Cuma tiga bulan kok," bisik Luna dengan tatapan memohon yang paling ampuh.
Sinta akhirnya ikut bersuara, mengelus bahu suaminya. "Mas, turutin aja kenapa sih? Bagus kan kalau Luna mau mandiri dan nggak mau memanfaatkan nama besar kamu? Lagipula kalau di tempat Marko, kita bisa tenang karena ada yang ngawasin."
Ardi mengusap wajahnya gusar, lalu menatap Luna pasrah. "Beneran cuma tiga bulan?"
"Iya, Papa! Janji!" seru Luna gembira.
Ardi tidak tahu saja. Di balik semua alasan rasional dan profesional soal bisnis yang dilontarkan Luna, ada satu alasan utama yang disimpan rapat-rahan di dalam dadanya: Marko Janitra sendiri.
Luna tidak peduli seberapa besar kerajaan bisnis Raharja Group yang akan diwariskan padanya kelak. Yang ia pedulikan adalah kesempatan untuk bisa bertatap muka setiap hari dengan pria yang sudah mencuri hatinya sejak usia belas tahun. Pria yang selalu memandangnya hanya sebagai "anak sahabat", tanpa pernah menyadari ada perasaan besar yang tumbuh di sana.
Satu Minggu Lalu — Koridor Kampus
"Lun! Aluna, tungguin dong!"
Suara panggil dari arah belakang membuat langkah Luna terhenti di selasar fakultas. Ia menoleh dan mendapati Kenan sedang berlari kecil menghampirinya. Pria jangkung dengan wajah tampan khas blasteran, gaya kasual yang trendi, dan senyum menawan yang mampu membuat separuh mahasiswi di kampus bertekuk lutut.
Kenan adalah kandidat utama pria idaman di kampus mereka. Putra seorang pengusaha kaya, kapten tim basket, dan sudah terang-terangan mengejar Luna selama satu tahun terakhir.
"Kenan? Ada apa?" tanya Luna datar, membetulkan letak tali tasnya.
"Nanti malam kosong nggak? Anak-anak mau nongkrong di lounge baru daerah Senopati. Ikut yuk? Aku yang jemput," tawar Kenan antusias, menatap Luna dengan binar mata penuh harapan.
"Nggak bisa, Ken. Aku harus siapin berkas buat magang minggu depan," tolak Luna halus namun tegas.
Kenan mendesah pelan, menyisir rambutnya ke belakang dengan jemari. "Lun, kamu tuh selalu ada alasan. Lagian kenapa sih kamu kebiasaan banget harus pusing soal magang? Perusahaan bokap kamu kan raksasa? Tinggal masuk, duduk manis, beres."
"Setiap orang punya standar beda-beda, Ken. Dan aku bukan tipe orang yang suka duduk manis," jawab Luna dingin.
"Oke, oke, maaf," Kenan mengangkat kedua tangannya. "Tapi serius, Lun. Aku kurang apa sih? Satu kampus tahu aku nungguin kamu dari semester lalu. Kamu nggak pernah buka hati sedikit pun buat aku. Ada cowok lain yang lagi kamu taksir?"
Luna menatap Kenan sejenak. Wajah Kenan yang seumuran dengannya, gaya bicaranya yang kekanak-kanakan, sungguh berbanding terbalik 180 derajat jika dibandingkan dengan sosok Marko Janitra. Sosok pria matang, berwibawa, dingin, dan berpostur kekar yang selalu memenuhi isi kepala Luna.
"Aku cuma lagi nggak pengen pacaran, Ken," ujar Luna singkat.
"Sama cowok seumuran kita? Atau kamu emang punya kriteria yang beda?" desak Kenan penasaran.
"Itu bukan urusan kamu. Aku duluan ya, ada kelas," potong Luna cepat tanpa memberi ruang untuk Kenan membalas, lalu berbalik pergi meninggalkan sang "pangeran kampus" yang gigit jari.
Saat Ini — Ruang Kerja CEO Janitra Group
Bayangan ingatan itu buyar seketika saat suara dehaman berat Marko mengembalikan Luna ke alam nyata.
"Mikirin apa kamu? Malah melamun," tegur Marko sambil berjalan kembali menuju kursi kebanggaannya.
"Nggak mikirin apa-apa kok, Pak Marko," jawab Luna tenang, mengulas senyum tipis. "Saya cuma ingat perjuangan saya bisa sampai duduk di ruangan ini hari ini."
Marko yang hendak duduk kembali menahan gerakannya. Ia memandangi wajah Luna yang tampak percaya diri. "Ardi cerita sama saya. Dia bilang kamu ngancam nggak mau makan kalau nggak diizinkan magang di sini."
"Itu hiperbola Papa aja," sahut Luna terkekeh pelan. "Saya cuma meyakinkan Papa kalau Janitra Group adalah tempat terbaik buat saya."
"Dan kamu pikir saya bakal lunak cuma karena kamu anak Ardi?" Marko bersedekap dada, menatapnya tajam dari balik meja. "Di sini, kalau performa kamu jelek dalam dua minggu, saya sendiri yang bakal minta Ardi bawa kamu pulang."
"Coba aja kalau Pak Marko bisa," tantang Luna pelan, melangkah satu piksel lebih dekat ke meja Marko. "Saya bukan cuma bakal bertahan tiga bulan di sini, Pak. Saya bakal bikin Pak Marko mengakui kalau keberadaan saya di perusahaan ini... sangat penting."
Marko menaikkan sebelah alisnya, merasa geli sekaligus heran dengan tingkat kepercayaan diri gadis muda di depannya. "Begitu?"
"Iya. Dan mungkin... bukan cuma penting buat perusahaan," bisik Luna dengan keberanian yang mendadak muncul entah dari mana.
Sebelum Marko sempat membalas perkataan yang terkesan ambigu itu, pintu ruangan CEO mendadak terdorong terbuka tanpa ketukan terlebih dahulu.
"Marko! Bro, sori gue langsung masuk, sekretaris lu lagi—"
Suara itu terhenti seketika. Seorang pria paruh baya berjas rapi berdiri di ambang pintu dengan wajah terkejut. Pria itu adalah Ardi Raharja, ayah Aluna.
Pandangan Ardi berganti-ganti dengan cepat, menatap Marko yang berdiri tegap di balik meja, lalu beralih menatap Aluna yang berdiri sangat dekat dengan posisi duduk Marko.
"Papa?" gumam Luna kaget, refleks mundur satu langkah.
Ardi menyipitkan matanya, menatap putrinya dan sahabat karibnya dengan raut wajah yang mendadak serius dan tidak bersahabat. "Luna? Marko? Kalian... lagi ngapain berdua di sini dengan pintu tertutup rapat?"