"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29. Masih kritis
Danu dan dua orang perawat langsung menerobos masuk ke ruang ICU.
"Tekanan darahnya melonjak drastis! Pasien mengalami disinkronisasi ventilator!" teriak perawat sembari menyiapkan obat penenang.
Di tengah kekacauan itu, kelopak mata Adam mendadak terbuka lebar! Matanya yang merah dan sayu menatap lurus tepat ke wajah Fitri yang berada di dekatnya. Bibirnya yang tertutup selang oksigen bergerak-gerak, mencoba membocorkan sebuah kata tanpa suara.
Namun, sebelum kata itu terucap sempurna, mata Adam mendadak membelalak hebat. Tubuhnya mendadak kejang kencang di atas tempat tidur, disusul bunyi alarm panjang yang jauh lebih keras dari sebelumnya!
BEEEEEEEEEP...
Layar monitor tidak lagi menunjukkan garis lurus, melainkan pola gelombang acak yang sangat berantakan dan berbahaya Ventricular Fibrillation! Jantung Adam kini tidak lagi memompa, melainkan bergetar liar tanpa kontrol menuju kematian total!
"VF! Ambil defibrillator sekarang juga!" teriak Danu panik, mendorong Fitri menjauh dari ranjang. "Fitri, keluar sekarang! Kondisinya membahayakan!"
Fitri terdorong mundur ke luar pintu ICU, menatap dalam histeria saat tubuh Adam kembali dikerumuni tim medis yang berjuang keras menahan nyawanya di ambang batas terakhir!
THUMP!
Dada Adam terhentak hebat untuk kesekian kalinya saat kejutan listrik menerjang tubuhnya. Danu dan tim medis bergerak secepat kilat, menyuntikkan amiodaron dan melakukan resusitasi dengan konsentrasi penuh.
Di luar kaca, Fitri menutup mulutnya rapat-rapat, air matanya tak henti-hentinya menetes membasahi baju sterilisasi yang ia kenakan. Berulang kali ia menahan napas setiap kali melihat grafik monitor yang tak beraturan itu.
BEEP... BEEP... BEEP...
Secara perlahan, keajaiban kembali terjadi. Gelombang Ventricular Fibrillation yang mengerikan itu perlahan surut, berganti menjadi detak jantung teratur meski masih sangat lemah. Tekanan darahnya mulai merangkak naik dan stabil.
Danu menghembuskan napas panjang. Ia mengusap dahinya yang basah oleh keringat, lalu mengangguk pelan ke arah perawat untuk memasang obat penenang dosis rendah agar tubuh Adam tak lagi menolak ventilator.
Beberapa menit kemudian, Danu melangkah keluar menemui Fitri.
"Dia selamat, Fit," bisik Danu dengan suara yang serak karena lelah. "Ritme jantungnya berhasil dikontrol lagi. Masa krusialnya sudah lewat, tapi kita harus membiarkannya istirahat total sampai pengaruh obat penenangnya habis."
Fitri terduduk lemas di bangku koridor, menyandarkan kepalanya ke dinding. Rasa lega luar biasa membuncah di dadanya, bercampur aduk dengan kepedihan yang sulit dijelaskan. "Makasih banyak, Mas Danu... Makasih udah berjuang sejauh ini buat nyelamatin dia."
Danu tersenyum lembut, ikut duduk di samping Fitri dan mengusap punggung tangannya hangat. "Sama-sama. Sekarang kamu juga harus istirahat. Biar tim ICU yang jaga Pak Adam malam ini."
Tiga hari berlalu. Kondisi fisik Adam yang berada di ruang perawatan intensif perlahan-lahan membaik. Selang ventilator yang menyiksa itu akhirnya dicabut, digantikan dengan kanul oksigen tipis di hidungnya.
Siang itu, matahari Bandung bersinar lembut menembus jendela kaca ruang rawat inap. Fitri melangkah masuk membawakan nampan berisi makanan lunak dan obat-obatan rutin.
Saat pintu terbuka, mata Adam yang sayu dan cekung bergerak pelan. Pria itu tampak begitu kurus, tulang pipinya menonjol, dan tatapannya penuh rasa bersalah yang teramat dalam. Begitu melihat sosok Fitri berdiri di ambang pintu, bibir Adam yang pucat dan pecah-pecah gemetar hebat.
"Fit... ri..." panggil Adam dengan suara yang sangat parau, hampir tenggelam oleh desis aliran oksigen.
Fitri menarik napas panjang, mencoba menguasai dirinya. Ia menaruh nampan di atas meja samping ranjang, lalu menatap Adam tanpa ekspresi kebencian, melainkan hanya tatapan teduh seorang perawat.
"Jangan banyak gerak dulu, Mas," kata Fitri pelan. "Jantung Mas Adam belum stabil betul. Nanti dadanya sakit lagi."
Air mata Adam menetes melewati pipinya yang tirus. Tangan kirinya yang gemetar mencoba meraih ujung lengan baju Fitri, namun jemarinya terlalu lemah.
"Maaf... Maafkan Mas, Fit..." bisik Adam terbata-bata, suaranya tercekik oleh tangis yang ditahannya. "Mas... Mas jahat banget sama kamu dan Aiden dulu... Mas terbuai sama Rosa... Mas udah buang kamu..."
Fitri berdiri mematung. Kata-kata yang dulu sangat ingin ia dengar saat ia dicampakkan, kini terucap dari bibir pria yang terbaring tak berdaya di hadapannya. Namun rasa sakit yang dulu membakar hatinya kini telah reda, berganti menjadi kedamaian yang sudah ia temukan bersama Danu.
"Mas Adam," potong Fitri lembut namun tegas. "Masa lalu itu udah lewat. Aku udah memaafkan Mas Adam sejak lama. Bukan demi Mas, tapi demi kedamaian hatiku sendiri dan tumbuh kembang Aiden."
Mata Adam membelalak pelan, tak menyangka kata-kata anggun itu keluar dari bibir wanita yang dulu pernah ia injak-injak harga dirinya.
"Tapi... apa Mas masih boleh... ketemu Aiden sekali aja, Fit?" tanya Adam penuh pengharapan, matanya menatap Fitri memohon. "Mas cuma pengen peluk dia... Mas pengen minta maaf..."
Fitri menghela napas pendek. Ia merogoh saku jas putihnya, lalu meletakkan foto kecil Aiden yang ada di dalam tas kain usang Adam ke atas meja.
"Aiden tumbuh jadi anak yang sehat dan pintar, Mas. Tapi saat ini, aku belum bisa bawa dia ke sini," ujar Fitri jujur. "Aiden masih terlalu kecil buat paham semua kekacauan ini. Aku gak mau mentalnya terganggu. Kalau Mas Adam beneran nyesel, sembuh lah dulu. Buktikan kalau Mas bisa jadi pribadi yang lebih baik."
Di saat yang sama, pintu kamar rawat terbuka pelan. Dokter Danu melangkah masuk membawa berkas rekam medis Adam. Melihat kedatangan Danu, raut wajah Adam mendadak berubah menjadi penuh penyesalan dan rasa malu yang membakar batinnya. Pria yang dulu ia caci-maki dan anggap sebagai pengganggu, kini justru menjadi sosok yang menyelamatkan nyawanya dari kematian.
Danu mengulas senyum profesional, memeriksa infus dan monitor di samping ranjang Adam tanpa ada jarak sedikit pun.
"Kondisi jantung Anda makin membaik, Pak Adam," kata Danu tenang sembari mencatat grafik perkembangan. "Tapi ingat, hindari stres berat dan pikiran negatif. Kerusakan otot jantung Anda cukup riskan kalau sampai kena serangan susulan."
Adam menatap Danu dengan mata berkaca-kaca, tenggorokannya terasa tersumbat penyesalan. "Dokter Danu... kenapa... kenapa Dokter mau nyelamatin saya? Padahal saya udah pernah jahat sama Dokter... saya udah hina Dokter..."
Danu menghentikan catatannya sejenak. Ia menatap Adam lurus-lurus dengan tatapan mata yang jujur dan berwibawa.
"Tugas saya sebagai dokter adalah menyelamatkan nyawa tanpa memandang siapa pasiennya, Pak Adam," jawab Danu lugas. "Dan sebagai calon suami Fitri, saya paham betul kalau Fitri tidak akan pernah tenang kalau ada manusia yang menderita di depan matanya. Saya menyelamatkan Anda demi tugas saya, dan demi menjaga ketenangan hati wanita yang saya cintai."
Kata-kata Danu menusuk tepat ke ulu hati Adam. Rasa malu dan kekagumannya bertabrakan hebat. Ia sadar betapa jauhnya kualitas dirinya dibandingkan dengan Danu—pria yang kini menjadi pelindung bagi mantan istri dan anaknya.
Danu menepuk pelan bahu Adam. "Fokus saja untuk pemulihan Anda. Soal biaya perawatan awal, Yudi sudah mengurus administrasi darurat, dan sisanya akan dibantu oleh pihak rumah sakit."
Setelah Danu dan Fitri pamit keluar untuk memeriksa pasien lain, Adam terdiam sendirian di kamar rawatnya yang hening. Ia menatap langit-langit kamar dengan air mata yang terus mengalir deras. Penyesalan itu terasa jauh lebih menyiksa daripada rasa sakit fisik akibat serangan jantungnya.
Dua minggu berlalu. Hari penyeleksian akhir kondisi Adam pun tiba. Dokter menyatakan Adam sudah cukup stabil untuk rawat jalan, meski ia harus rutin meminum obat seumur hidupnya dan menghindari aktivitas fisik yang berat.
Siang itu, Adam berdiri di lobi utama Rumah Sakit Medika Utama dengan pakaian sederhana yang dibawakan Yudi. Tubuhnya masih tampak kurus dan jalannya sedikit lambat, namun napasnya tak lagi sesak.
Dari kejauhan, ia melihat Fitri dan Danu berjalan berdampingan di koridor. Mereka tampak serasi, tertawa kecil sembari membahas berkas pasien di tangan Danu. Di mata Adam, pemandangan itu terasa begitu indah sekaligus menyakitkan—sebuah bukti nyata bahwa kehidupan Fitri kini jauh lebih bahagia tanpa kehadiran dirinya.
Adam melangkah mendekati mereka. Fitri dan Danu terhenti, menatap Adam dengan ramah.
"Mas Adam udah boleh pulang hari ini?" tanya Fitri halus.
Adam mengangguk pelan. Ia menyatukan kedua telapak tangannya di dada, membungkukkan badannya dalam-dalam di hadapan Fitri dan Danu.
"Fit... Dokter Danu... Terima kasih banyak buat semuanya," ujar Adam dengan suara bergetar. "Terima kasih udah kasih saya kesempatan kedua buat bernapas. Saya janji... saya gak akan pernah ngeganggu kehidupan kalian lagi."
Fitri menatap mantan suaminya itu dengan mengulas senyum tipis yang tulus. "Semoga Mas Adam bisa buka lembaran baru yang lebih baik di luar sana."
"Terima kasih, Fit..." Adam menghela napas panjang, lalu membalikkan badannya dan melangkah pelan meninggalkan lobi rumah sakit menuju jalan raya.
Namun, baru beberapa langkah Adam berjalan menyeberangi pelataran lobi menuju gerbang luar, sebuah mobil hitam ber-kaca gelap mendadak berhenti keras di pinggir jalan!
CKITTTTTL!
Pintu mobil itu terbuka kasar. Dari dalam mobil, muncul sosok wanita dengan pakaian lusuh, rambut acak-acakan, dan wajah yang penuh kemarahan histeria yaitu Rosa!
"Adam! Jangan kabur kamu, Adam!" teriak Rosa histeris sembari berlari menerjang ke arah Adam.
Mata Adam membelalak horor. Langkah kakinya terhenti seketika.
"Rosa?!" seru Adam shock.
Rosa mencengkeram kerah baju Adam dengan brutal, matanya merah menyala bagaikan orang kesurupan. "Gara-gara kamu, polisi nyariin aku! Utang-utang kamu atas nama aku bikin aku dikejar debt collector Kamu harus tanggung jawab, Adam! Kamu gak boleh enak-enakan sembuh di sini!"
"Lepas, Rosa! Kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi!" bentak Adam berusaha mendorong Rosa dengan tenaganya yang masih lemah.
"Gak bisa!" jerit Rosa gila. Tiba-tiba, dari balik tas selempangnya yang kusam, Rosa menarik keluar sebuah pisau lipat yang mengkilap di bawah sengatan cahaya matahari!
Orang-orang di lobi rumah sakit berteriak histeris! "Awas! Dia bawa pisau!"
Fitri dan Danu yang masih berdiri di lobi tersentak kaget melihat keributan itu.
"Mas Adam!" teriak Fitri panik saat melihat Rosa mengayunkan pisau tajam itu secara tidak terkontrol ke arah dada Adam yang baru saja dioperasi!
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.