"Salah satu kakinya diamputasi setelah ditabrak sebuah mobil 8 tahun silam. Sayangnya, mobil itu kabur, CCTV rusak." Kenan tersenyum getir, seolah hal itu sudah biasa terjadi jika pelakunya orang-orang berduit. "Ada saksi yang mengatakan jika yang menabrak Ilona adalah mobil sport warna merah, tapi..." Ia kembali terkekeh. "Beberapa hari kemudian, kesaksiannya berubah. Entahlah."
Mendengar itu, tubuh Elang seketika mengalami tremor. Jantungnya berdebar kencang, dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Semoga saja ini hanya kebetulan. 8 tahun yang lalu, Elang menabrak seseorang saat dini hari, sepulang dari party kelulusan SMA bersama teman-temannya. Kondisinya setengah mabuk saat itu. Karena takut, di tambah kondisi jalanan yang sepi, ia langsung kabur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Jarum jam menunjukkan pukul sembilan lewat tujuh belas menit. Alih-alih pulang untuk istirahat setlah seharian sibuk di toko bunga, Elang datang ke kafe Kenan setelah mengantar Ilona dan ibunya pulang.
Kafe masih ramai, meski sudah mendekati jam tutup. Hanya ada dua meja kosong, sementara lainnya penuh, dan live music akustik juga masih berlangsung.
Kenan yang ada di balik mesin kasir, memutar kedua bola matanya malas melihat kedatangan Elang. Masih dengan pakaian tadi pagi, bedanya, sekarang sudah terlihat sedikit kusut.
"Bosen Lang, seharian udah ketemu elo, sekarang masih nongol aja dimari." Kenan menghela nafas berat.
"Kopi pahit satu," pinta Elang. Ia berjalan ke arah meja kosong, menjatuhkan tubuhnya di salah satu kursi seolah sudah tidak sanggup berdiri sedetik pun lagi.
"Kebiasaan, gak Ilham gak Elang, kalau pesen bukannya langsung bayar, malah nyelonong tanpa rasa bersalah," gerutu Kenan. Namun melihat penampilan Elang yang kusut, mana bisa ia tak membuatkan pesanannya.
Kenan meletakkan cangkir espresso ke meja hadapan Elang. Uapnya mengepul, tanpa gula sama sekali, sesuai request. Ia menarik kursi, duduk berhadapan.
Elang meneguk kopinya setelah meniup sebentar. Pahitnya benar-benar langsung membuat rahangnya mengeras dan matanya melek.
"Lo ada info kos-kosan gak?" Elang meletakkan kembali cangkir espressonya.
"Kosan?" Kenan mengerutkan kening. "Buat siapa?"
"Gue diusir."
Mata Kenan membulat sempurna. "Sama siapa?"
"Sama diriku sendiri." Elang tertawa. Tawa yang kering dan tak ada lucunya sama sekali. "Sebelum Papa yang melakukannya, bukankah lebih baik aku mengusir diriku sendiri."
"Gak lucu!" Kenan mendengus.
Elang menceritakan semuanya. Tentang perang dingin di dalam mobil bersama Mamanya, juga tentang ancaman Papanya.
Kenan hanya diam. Ia kenal Elang sejak kuliah. Dan ia tahu, ketika Elang sudah bicara dengan nada setenang ini, artinya di dalam kepalanya sudah ada keputusan yang tak bisa diganggu gugat.
"Gue mau keluar dari rumah secepatnya," lanjut Elang. "Kalau bisa besok. Cariin gue kosan."
"Lo yakin mau tinggal di kos? Kenapa gak nyewa apartemen aja?"
"Gue musti ngirit, Ken," Elang tersenyum kecut. "Gue gak hanya keluar dari rumah, tapi juga otomatis berstatus jobless. Lo pikir nyewa apartemen gak butuh duit."
Kenan menghela nafas berat. Elang yang mau kos, kok dia yang gak yakin temannya itu sanggup.
"Cariin kosan yang elit, kos mewah gitu."
"Katanya ngirit," ledek Kenan.
"Minimal ada AC, WiFi, kasur yang layak, kamar mandi dalam, kulkas, dan...bersih. Gue sih gak butuh yang ada kolam renang, pokok yang nyaman aja."
"Heh bego! Lagian mana ada kosan ada fasilitas kolam renang. Ngigau lo! Udah paling bener emang lo nyewa apartemen aja. Lo bawa mobilkan? Nyari kos yang ada parkiran mobil juga gampang-gampang susah. Budget berapa?"
"Tiga juta. Mentok." Elang kembali menyeruput kopi. "Lebih murah lebih baik. Dan kalau bisa, yang lokasinya deket dengan blossom florist."
"Sarap lo, under 3 juta, minta fasilitas kayak hotel." Namun meski menggerutu, jari Kenan tetap menari di atas keyboard layar ponselnya. Mencari informasi tentang kosan yang sesuai keinginan Elang. Muncul 2 pilihan, ia menunjukkan info lokasi dan fotonya pada Elang.
"Terserah lo aja. Lo urus ya, besok kasih tahu gue kalau udah deal."
"Lah, gue gitu yang datengin lokasinya dan ngomong sama orangnya? Kenapa gak lo aja sendiri?"
"Gue kan harus berkemas."
"Terus, gue dapat apa?"
"Pahala."
Kenan auto melotot.
"Thanks ya, gue pulang dulu." Elang bangkit, menepuk bahu Kenan lalu meninggalkan kafe.
"Sial banget gue. Udah dimintain kopi gratisan, dikasih kerjaan gratisan pula." Menatap punggung Elang yang baru saja melewati pintu. "Kalau gak inget lo banyak banget bantu gue pas di Jerman, males gue bantuin elo. Elah, gini banget jadi orang yang punya utang budi."
...----------------...
Meja makan itu terlalu panjang hanya untuk diisi tiga orang. Di atasnya terhidang piring-piring porselen, sendok garpu perak, roti panggang, telur, dan salad yang bahkan belum tersentuh. Pak Hasan fokus membaca koran halaman bisnis. Kopi hitam di hadapannya mulai dingin. Sarapan belum dimulai, masih menunggu Elang yang tak kunjung turun. Mendengar suara derap langkah mendekat, ia melirik dari sudut mata.
"Pagi Mah, Pah."
Elang duduk di kursi yang berhadapan dengan mamanya. Penampilannya jauh dari kata rapi, celana pendek dan kaos oblong, tak seperti orang yang hendak berangkat kerja.
Pak Hasan menutup koran, melipat jadi dua, meletakkan di sudut meja.
"Elang, kamu gak ngantor?" tanya Aida.
Elang menggeleng sambil tersenyum.
"Gak enak badan?" Aida tampak cemas.
"Aku_"
"Tadi malam Mama sudah bercerita," potong Pak Hasan. Suaranya berat, penuh wibawa yang sudah menjadi ciri khasnya. "Tentang usaha baru kamu."
"Kita sarapan dulu aja." Aida memecah ketegangan, mulai gelisah, mencium bau-bau akan adanya perdebatan yang berujung pertengkaran. Ia bangkit, mengambilkan makanan untuk suaminya. "Lang, buruan ambil sarapannya." Ia melihat Elang hanya diam saja.
Elang bangkit, mengambil makanannya. Jujur, ia lapar sekali, efek begadang hingga tengah malam.
"Nama baik keluarga ini bukan mainan," ujar Hasan. "Papa tidak peduli kamu mau buka usaha atau apapun dengan gadis itu, tapi kalau menikahinya, Papa tidak setuju."
Jeda. Suasana terasa lebih dingin.
"Pah, makan dulu," bujuk Aida. Sayangnya, Hasan tak mengindahkan kata-kata istrinya.
"Pagi ini juga, pergi ke rumah Alisya. Minta maaf, perbaikan hubungan kalian sebelum kedua orang tuanya tahu. Bilang ini semua hanya salah paham. Nanti siang kedua orang tuanya pulang, jangan sampai mereka tahu perbuatan kamu."
Elang tersenyum, menatap piring berisi makanan di hadapannya yang belum tersentuh sama sekali. Ia mengambil segelas air putih, diteguknya pelan sampai habis, lalu meletakkan balik. "Elang akan kesana."
"Bagus."
"Bukan untuk memperbaiki hubungan, tapi bilang pada kedua orang tuanya, jika hubungan kami tidak bisa dilanjutkan."
Brakkk
Aida terjangkat kaget saat suaminya menggebrak meja. Kopi yang ada di hadapan Hasan sampai tumpah, buru-buru ia mengambil tisu untuk menyeka agar tidak meleber kemana-mana.
"Apa katamu?" Kedua alis Hasan bertaut.
"Elang akan minta maaf kepada Alisya dan orang tuanya," ujar Elang. Nada suaranya datar. "Karena Elang memang bersalah disini, tapi untuk memperhatikan hubungan, maaf, Elang tidak bisa."
Hasan menarik napas panjang, tatapannya nyalang pada sang putra.
"Keputusan Elang sudah bulat, Pah."
TANG!
Sendok Hasan menghantam piring, rahangnya mengeras.
Aida sampai dibuat gemetaran.
"Kamu sadar apa yang kamu katakan?" bentak Hasan.
Elang hanya diam, gelisah sekaligus gugup. Bisa dibilang, ini pertama kalinya dia menentang sang Papa.
Aida memejamkan mata, takut pertengkaran ini semakin besar.
"Kamu sadar resiko jika menentang Papa?" Kedua telapak tangan Hasan terkepal kuat.
Elang menarik nafas panjang, mengangguk. "Elang sudah putuskan, Elang akan pindah dari rumah ini."
Plak
Aida menjerit. Hasan menampar wajah Elang dengan koran, meninggalkan bekas goresan di pipi akibat pinggiran koran yang tajam.
Hasan tertawa. Tawa yang tidak ada menggambarkan kebahagiaan namun emosi yang meluap. "Pindah? Mau tinggal di mana? Di toko bunga itu?" ejeknya. "Kamu bisa apa tanpa Papa hah!"
Elang bangkit dari duduknya. "Elang sudah mengirimkan email mengenai pengunduran diri ke HRD. Permisi!" Membungkuk sopan, lalu meninggalkan meja makan.
Aida menangis. Ini yang ia takutkan, pertengkaran antara suami dan anaknya yang mengakibatkan keluarga mereka tercerai berai.
"Kau akan menyesal!" Teriak Hasan, nafasnya naik turun, matanya menyala-nyala, menatap punggung Elang yang semakin jauh. "Kamu akan berlutut di kaki Papa dan memohon untuk kembali!"
Langkah Elang terhenti, ia yang berada di anak tangga paling dasar, membalikkan badan. "InsyaAllah gak akan terjadi, Pah." Kemudian ia lanjut.
PRANG
Lengan Hasan menyapu meja, membuat apa yang ada di atasnya terjatuh berhamburan ke lantai. Beberapa piring dan gelas pecah.
Aida menangis, menatap kursi kosong yang ditinggalkan Elang. "Apa tidak bisa dibicarakan baik-baik, Pah."
Hasan mendengus, bangkit, meninggalkan meja makan.
Pagi itu, semua yang terhidang di atas meja terbuang sia-sia. Meja makan bukan lagi tempat bertukar cerita yang hangat seperti biasanya, sudah berubah, menjadi sangat panas sekaligus mencekam.
nangis bener-bener dengan ketulusan & cinta elang yang bukan sekedar mau bertanggung jawab...
beri kesempatan elang untuk menceritakan kejadian 8 Th lalu ILona.. apalagi silikonnya waktu dulu tidak sama dengan elang yang sekarang...
semoga Harimu Luluh dengan ketulusan Cintamu pad elang yang akan membawa kebahagiaan dalam hidupnya ILona...
Semua tidak lepas dari takdir.. begitupun pertemuanmu dengan elang... 😭😭😭💙💛💙😘😘😘
prihatin dengan hubungan yang tulus tapai dinhancurkan hanya gara² masa lalu yang sebenarnya tidak mungkin akan bisa di ulang apalagi kembal... 😥😥😥
klo pun elang hrus dipenjara semoga hub elang dan ilona bisa membaik
Pinter kamu Lang, ngedeketin Ilona biar dia jatuh cinta sama kamu padahal kamu sendiri entah mencintai Ilona secara tulus atau karena rasa iba, entahlah.🙄