NovelToon NovelToon
Genius Keturunan Klan Phoenix

Genius Keturunan Klan Phoenix

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:35.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Riu Han melangkah keluar dari pintu teleportasi yang menghubungkan Alam Bawah ke Dunia Atas, namun terpisah dari dua sahabatnya, Genbu si Kura-kura Hitam dan Bai Wing si Harimau Putih, karena sistem pengiriman yang acak. Sendirian di hamparan bunga asing, ia bergegas menuju arah kepulan asap untuk mencari petunjuk.

Kedatangan Riu Han ternyata memancarkan Aura Giok Nirvana yang telah hilang selama dua puluh tahun, menarik perhatian dua penguasa di tempat itu — masing-masing mengutus orang kepercayaan mereka, Bai Mo dan Zi Lan, untuk mengawasi sosok yang membawa aura tersebut.

Sementara itu, Riu Han tiba di sebuah pondok kayu dan bertemu dengan Su Zan Si, seorang pemburu tunggal yang ternyata juga berasal dari Alam Bawah. Su Zan Si dengan ramah memberikan arahan serta penjelasan penting: mengapa kekuatan dan gerakan Riu Han terasa terbatas di sini, bagaimana energi tubuhnya akan menyesuaikan diri, serta gambaran luas tentang dunia ini yang terdiri dari Empat Wilayah dan puluhan alam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Mengamankan Peninggalan Empat Binatang Suci

Long Siu terdiam sejenak, menimbang gagasan itu dalam-dalam. Di saat yang sama, suara Qin Siue terdengar jelas di benak mereka berempat, menembus ruang yang memisahkan mereka.

"Sebaiknya memang diambil semuanya," ucap roh tua itu dengan bijak. "Andai dibiarkan di sini, peninggalan agung ini hanya akan terbaring sia-sia. Belum lagi tak ada jaminan tempat ini akan tetap aman selamanya. Kalian mampu membuka formasi pelindungnya hari ini — bukankah suatu hari nanti akan ada orang lain yang juga berhasil melakukannya, lalu menyalahgunakannya?"

Kata-kata itu sederhana namun tak terbantahkan. Keempatnya mengangguk setuju. Mengambil ketiga tubuh yang tersisa bukan sekadar mengambil harta — itu adalah menjaga warisan suci agar tidak jatuh ke tangan yang salah, yang mungkin akan menggunakannya untuk kejahatan atau keserakahan.

Setelah sepakat, Long Siu menunjuk arah pertama, lalu perlahan kembali ke dalam Cincin Ruang. Riu Han, Genbu, dan Bai Wing melesat menuju lembah yang dituju. Di sana, tersembunyi di balik tebing curam dan kabut tipis, mereka menemukan formasi pelindung yang bercahaya samar — sama persis dengan yang dijumpai sebelumnya. Riu Han berdiri diam sejenak, mencocokkan pola dan simbol, lalu menyusun pintu pembuka dengan ketelitian penuh. Batu Roh diletakkan, energi mengalir, dan pintu terbuka.

Mereka melangkah masuk ke dalam gua yang luas dan sejuk. Di tengah ruangan, terbaring sosok yang membuat napas mereka tertahan — seekor Phoenix raksasa, sebesar naga emas yang telah mereka temukan, namun memancarkan cahaya tujuh warna pelangi yang lembut namun memukau. Setiap helai bulunya memancarkan cahaya yang berbeda, menyatu bagaikan lengkung langit setelah hujan. Saat mereka melangkah mendekat, tekanan yang dahsyat menyelimuti ruangan, menghimpit tubuh mereka seakan ada gunung yang menindih pundak. Darah di dalam tubuh Riu Han, Genbu, dan Bai Wing mendidih, merespons kekuatan leluhur itu, lalu perlahan tekanan itu lenyap seketika — ditolak oleh kemurnian darah mereka sendiri.

Riu Han mendekat perlahan, memberi hormat dengan penuh rasa segan.

"Yang terhormat Tetua Phoenix... maafkanlah kami yang muda. Kami memindahkan tubuh-Mu bukan untuk mengganggu ketenangan-Mu, melainkan untuk melindunginya. Di tempat baru, tubuh-Mu akan terjaga dengan baik, dan suatu hari nanti akan berguna kembali bagi dunia. Lebih baik daripada terbaring sendirian di sini, tak dilihat siapa pun, hingga waktu memudarkan kemuliaan-Mu."

Setelah mengucapkan permohonan itu, Riu Han menghubungi Qin Siue. Dengan gerakan lembut namun pasti, ia menarik tubuh Phoenix yang bercahaya itu naik perlahan, lalu menyatukannya ke dalam Cincin Ruang. Qin Siue menempatkannya di tempat yang sama dengan tubuh Naga — di area yang luas, bersih, dan terhormat, berdiri sejajar bagaikan dua pelindung yang tak akan tergoyahkan.

Tugas pertama selesai. Mereka kembali ke udara, melesat menuju lembah kedua. Di sana, di tempat yang tertutup pepohonan lebat, formasi pelindung kembali menyambut mereka. Langkah yang sama diulang — mengamati, memahami, menyusun pintu, membuka jalan. Di dalam gua itu, terbaring sosok harimau putih raksasa bersayap lebar, bulunya berkilauan bagaikan perak murni yang dipoles, cakarnya tajam namun tenang. Sekali lagi tekanan menghantam mereka, sekali lagi darah mereka merespons dan menolaknya, dan ketenangan kembali menyelimuti ruangan.

Riu Han mengucapkan kata-kata penghormatan yang sama, memohon izin dan pengertian, lalu menarik tubuh Harimau Putih itu masuk ke tempat perlindungannya. Genbu dan Bai Wing menatap dengan mata berbinar — ini adalah bagian dari sejarah mereka sendiri, warisan yang kini berada di tangan mereka untuk dijaga.

Mereka bergegas menuju tempat terakhir. Jaraknya agak jauh, tersembunyi di balik pegunungan yang tertutup kabut abu-abu. Formasi pelindungnya tampak lebih tua, lebih tenang, seakan telah tidur sejak awal dunia. Riu Han membukanya dengan hati-hati. Di dalam gua yang gelap dan sejuk, terbaring sosok kura-kura hitam raksasa — cangkangnya keras bagaikan gunung yang kokoh, permukaannya berukir pola alam yang tak terhapus waktu. Di sampingnya melilit ular besar yang menyatu dengannya, tenang dan tak bergerak. Tekanan yang dipancarkannya berbeda — berat, mantap, tak tergoyahkan seperti bumi itu sendiri. Darah mereka mendidih, lalu tekanan itu hilang, digantikan oleh rasa damai yang mendalam.

Riu Han memberi hormat, memohon izin, dan memindahkan tubuh Xuanwu ke tempat yang sama — di antara ketiga saudaranya, sehingga keempatnya kini berkumpul kembali di satu tempat, setelah terpisah selama puluhan ribu tahun.

Tugas selesai. Keempat peninggalan suci telah diamankan.

Ketiganya melesat tinggi ke langit yang cerah, memanggil Long Siu. Sosok pemuda itu muncul di samping mereka, menatap ke arah Cincin Ruang yang bercahaya samar di jari Riu Han, matanya penuh haru dan syukur.

"Semua sudah beres," ucap Riu Han tenang. "Apa lagi yang patut diambil di tempat ini?"

Long Siu merenung sejenak, lalu menatap mereka satu per satu. "Tempat ini menyimpan banyak hal, namun yang paling berharga sudah kalian bawa. Ada hal lain yang perlu dibicarakan — sesuatu yang penting bagi masa depan kita. Mari masuk ke dalam Cincin Ruang dulu, beristirahatlah, dan aku akan berbicara dengan Qin Siue."

Riu Han mengangguk setuju. Mereka mencari tempat yang sepi di bawah kanopi pohon raksasa, lalu lenyap dari tempat itu — masuk ke dalam ruang yang aman, tempat di mana keempat Binatang Roh Suci kini terbaring berdampingan.

1
Bg Byl
Cerita yang cukup menarik dg alur cerita yg lambat tapi cukup detail untuk dapat dinikmati. Tetap semangat Thor, sehat selalu & terima kasih. ❤️
Edu Juan
lama kuat mc nya
Adek Darmansyah
Gass truss thorr
Adek Darmansyah
mantap alur ceritanya, walaupun ada sedikit kosakata yg terlalu kekinian,👍👍
Adek Darmansyah
Gas truss thorr
Iwan Duan
lanjooooooot
M Amir
lanjuuuttt Q tunggu
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
ceritanya jadi berubah ya, yin lin jadi rui lin, yang tadinya saudara angkat jadi kakak beradik 😄😄😄
jhoni
keren jalan cerita , berbudil luhur tapi ga naif
jhoni
pasti niru jurus son goku neh, kamehame ya thor😜
M Amir
lanjuuuttt👍👍👍🙏🙏
Prima Saputra
Seru banget ni cerita mudah2an ngga putusditengah jalan.
M Amir
lanjuuuutttt👍👍👍
M Amir
lanjuuut
M Amir
up yg banyak tor👍👍👍
GeBe AW
bagus, saya selalu mengikutinya,
M Amir
seharusnya novel ini menjadi yg no 2 setelah bo cang
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
M Amir
lanjuuuttt👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!