Selama menikah, Gia menyamar jadi istri polos yang cuma tahu urusan dapur. Tapi Aldo sang suami, malah menceraikannya demi cewek lain yang katanya anak direktur. Gia cuma tersenyum dan langsung tanda tangan. Lagipula, cape berpura-pura miskin!
Keesokan harinya, Aldo dengan sombong menghadiri rapat sebagai manajer baru di perusahaan raksasa VK Group. Dia berniat pamer demi bikin Gia menyesal.
Tapi saat pintu rapat terbuka, Komisaris Utama sekaligus pemilik saham terbesar masuk dengan anggun.
Itu Gia!
Gia tersenyum manis menatap mantan suaminya yang pucat pasi. "Manajer Aldo, buatkan saya kopi. Jangan lambat, gajimu saya yang bayar sekarang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24. DSJBB
Langkah kaki Elkan memburu meninggalkan kemegahan ballroom. Dua pengawal berbadan tegap langsung bergerak sigap membuka pintu darurat bercat hijau itu, membentuk formasi pengamanan di hadapan sang CEO.
Udara dingin koridor darurat langsung menyambut penciuman begitu pintu tertutup rapat dari bisingnya musik orkestra. Suasana di tangga darurat itu tampak temaram, hanya diterangi lampu sensor kuning yang berpendar sayup-sayup di setiap lantai.
"Cek lantai atas dan bawah. Jangan biarkan dia lolos!" perintah Elkan tajam kepada dua pengawalnya, suaranya menggema di antara dinding beton bertulang.
Elkan sendiri memilih menuruni anak tangga darurat menuju lantai dasar. Setiap derap pantulan sepatunya di lantai semen terdengar nyaring. Pikirannya berkecamuk. Farhan, pria brengsek yang pernah hampir menghancurkan hidup Gia, pria yang dua tahun lalu divonis mendekam di penjara keamanan maksimum di luar negeri atas skandal penggelapan dana. Bagaimana mungkin pria itu bisa berkeliaran bebas di pusat kota malam ini? Apakah ada celah hukum yang dimanfaatkan keluarganya, atau ini hanya bayangan paranoia semata akibat rentetan teror sebelumnya?
Ceklek.
Di lantai bawah dekat pintu keluar basement parkir, suara gesekan sepatu terdengar samar. Elkan menyipitkan mata, mengandalkan insting bela dirinya yang tajam. Ia melangkah tanpa suara, merapat ke dinding semen, lalu menerobos pintu keluar darurat menuju area parkir basement yang remang-remang.
Sementara itu, di dalam ballroom. Gia berusaha keras mempertahankan senyum tenang di hadapan para kolega bisnis yang masih berdatangan memberikan selamat. Namun, jemarinya di balik gaun navy blue bergetar hebat. Jantungnya berdegup kencang, memompa adrenalin yang tidak karuan. Ingatannya kembali ditarik pada masa-masa kelam saat ia harus menanggung utang budi dan pengkhianatan keji dari Farhan. Bayangan pria itu tersenyum licik di atas penderitaannya seakan menghantuinya lagi.
"Tidak, Gia. Kamu bukan wanita lemah yang dulu lagi," batin Gia mencoba menenangkan diri. Ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya dengan anggun di samping Nyonya Sophia yang tampak menyadari perubahan raut wajah menantunya.
"Ada yang mengganggu pikiranmu, sayang?" bisik Nyonya Sophia lembut, merapikan selendang sutra di bahu Gia.
"Ah, tidak apa-apa, Mama. Cuma sedikit lelah," balas Gia tersenyum tipis, berusaha menepis rasa khawatirnya pada Elkan.
Kembali ke basement parkir, Elkan menyusuri deretan mobil mewah yang terparkir sunyi. Suasana di lantai bawah tanah itu terasa pengap dan lembap. Tiba-tiba, bayangan sesosok pria berjaket tebal melintas cepat di balik pilar beton nomor empat puluh dua, menuju arah mobil van hitam berpelat nomor palsu yang mesinnya sudah menyala.
"Hei! Berhenti!" bentak Elkan keras, berlari kencang memotong jalur pelarian pria tersebut.
Pria bertopi hitam itu terkejut. Saat ia berbalik, lampu sorot basement memperjelas wajahnya yang tirus dengan seringai tipis di sudut bibir. Benar dia, Farhan. Wajah itu mungkin sedikit lebih kurus dan kuyu, tetapi sorot mata licik itu tidak pernah salah.
"Lama tidak jumpa, Presdir Vance," sapa Farhan sinis, suaranya parau namun penuh kebencian. Tangannya dengan cepat merogoh kantong jaketnya, menarik keluar sebuah remote kecil. "Kalian pikir kalian bisa hidup bahagia di atas penderitaanku? Permainan ini baru saja dimulai!"
Tanpa diduga, dari arah kegelapan sudut parkir, dua orang bertubuh kekar mendadak muncul menyerang Elkan dari samping secara membabi buta. Pukulan kilat melayang ke arah wajah Elkan.
Elkan yang memiliki refleks luar biasa berhasil menghindari hantaman pertama, lalu melayangkan tendangan telak ke dada penyerang pertama hingga terjatuh membentur kap mobil. Namun, kesempatan sepersekian detik itu dimanfaatkan oleh Farhan untuk melompat masuk ke dalam van hitam yang langsung tancap gas meninggalkan area parkir dengan kecepatan tinggi menderu.
Bumm! Ban mobil van itu berdecit nyaring membelah tikungan tajam basement.
Dua pengawal pribadi Elkan yang baru saja tiba di lokasi langsung mengangkat senjata api non-letal, bersiap menembak ban belakang. "Tahan!" teriak Elkan dengan napas memburu, mengangkat tangan untuk menghentikan pengawalnya. "Jangan tembak di sini. Terlalu banyak warga sipil di atas. Catat plat nomornya dan lacak lewat satelit VK Group sekarang juga!"
"Baik, Tuan!" jawab pengawal itu patuh.
Elkan berdiri tegak di tengah basement yang sunyi, merapikan kerah jasnya yang sedikit kusut. Manik matanya menatap tajam ke arah bekas laju kendaraan Farhan. Pria itu tidak datang untuk sekadar bernostalgia; kedatangan Farhan membawa ancaman nyata yang jauh lebih berbahaya daripada Aldo maupun Clara. Ada sindikat atau kekuatan gelap di belakang Farhan yang sengaja dilepaskan untuk merusak malam pertunangannya dengan Gia.
Beberapa menit kemudian, Elkan kembali melangkah masuk ke dalam ballroom dengan ekspresi wajah yang kembali terkendali rapat-rapat. Ia tidak ingin membuat Gia panik di tengah tamu-tamu penting mereka.
Begitu melihat Elkan berjalan mendekat dengan setelan rapi tanpa luka fatal, Gia langsung melangkah menyambutnya. Kekhawatiran terpancar jelas di manik mata cantiknya.
"Elkan? Kamu tidak apa-apa? Siapa tadi di sana?" cecar Gia dengan suara setengah berbisik begitu tiba di hadapan tunangannya.
Elkan meraih kedua tangan Gia yang terasa dingin, lalu menggenggamnya erat-erat untuk menyalurkan kehangatan dan rasa aman. Senyum tipis yang menenangkan terukir di bibir tampannya.
"Cuma bayangan masa lalu yang salah alamat, sayang," jawab Elkan lembut, sengaja menyembunyikan identitas Farhan untuk sementara waktu demi menjaga ketenangan mental Gia malam ini. "Semuanya sudah ditangani anak buahku di luar. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan."
Gia menatap lekat ke dalam mata cokelat gelap Elkan, mencari keraguan di sana, namun yang ia temukan hanyalah ketulusan dan perlindungan mutlak. Ia pun mengangguk perlahan, membiarkan dirinya percaya.
"Baiklah," ucap Gia lirih, kembali merangkul lengan kokoh Elkan. "Kalau begitu, mari kita lanjutkan pesta ini. Kita buktikan bahwa tidak ada satu hantu pun dari masa lalu yang bisa merusak apa yang sudah kita bangun."
Alunan musik orkestra kembali mengalun megah, memecah kesunyian malam dan merangkul kembali kemewahan pesta dansa. Di bawah pendar lampu kristal, Gia dan Elkan berdampingan erat, siap menghadapi apa pun badai yang diam-diam sedang dikirimkan oleh musuh dalam selimut di luar sana.