Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.
Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.
Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?
Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Menghapus Jejak, Melepas Kenangan, dan Perpisahan yang Utuh
Proses melepaskan sesuatu yang pernah mengisi sudut terdalam di hati tidak pernah terjadi dalam satu kejutan besar yang dramatis. Bagi Alee, perpisahan itu berjalan pelan, sunyi, dan penuh kesadaran. Takdir telah mengetukkan palu keputusannya melalui lembar pengumuman universitas yang berbeda, dan kini tibalah saatnya bagi Alee untuk menepati janji yang pernah ia katakan pada dirinya sendiri dan pada Rama: mundur sepenuhnya, menghapus semua kedekatan spesial, dan kembali melangkah sebagai individu yang mandiri.
Pagi itu, kamar Alee terasa teramat hening. Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, memantulkan bintik-bintik debu yang menari di udara. Alee duduk bersila di atas kasurnya, memangku ponsel pintar yang layarnya menyala terang. Jari jemarinya tertegun sejenak di atas ikon aplikasi pesan singkat.
Dengan hembusan napas yang panjang dan perlahan, Alee membuka obrolannya bersama Rama. Di sana, terekam jejak perjalanan panjang yang pernah mereka lalui. Dari obrolan formal seputar tugas kelompok, pesan-pesan singkat saat Rama menanyakan kabarnya, hingga baris-baris kalimat penuh perhatian yang dulu sempat membuat dada Alee berdesir hebat. Alee membaca beberapa baris teratas, tersenyum tipis mengenang masa-masa itu, lalu mengarahkan jarinya ke sudut atas layar.
Tek.
Alee menekan tombol Hapus Chat. Sebuah kotak dialog konfirmasi muncul: Apakah Anda yakin ingin menghapus seluruh riwayat pesan ini?
Tanpa ada keraguan yang tersisa, Alee menekan tombol konfirmasi. Dalam hitungan detik, ribuan baris kata yang pernah menjadi sandaran emosionalnya menguap begitu saja, meninggalkan ruang obrolan yang kosong melompong.
Langkah itu tidak berhenti di sana. Alee beralih ke galeri foto. Jemarinya dengan teliti menggeser puluhan foto dokumentasi kegiatan sekolah. Setiap kali menemukan foto yang menampilkan sosok Rama entah saat pria itu sedang serius memimpin rapat angkatan, tertawa canggung bersama anak-anak cowok, atau foto bersama yang diambil saat acara jalan-jalan ke pantai kemarin—Alee menandainya satu per satu. Foto-foto candid yang dulu sering ia tatap diam-diam sebelum tidur kini ia pindahkan ke tong sampah digital, lalu menghapusnya secara permanen.
Menghapus foto dan pesan teks mungkin terasa mudah, tetapi ada satu benda di sudut kamarnya yang menyimpan bobot kenangan paling berat.
Alee bangkit dari kasur, melangkah mendekati sudut ruangan tempat sebuah gitar akustik bersandar di dinding. Gitar berwarna cokelat kayu itu bukan sekadar instrumen musik biasa. Itu adalah gitar yang Alee beli dengan tabungannya sendiri setelah Rama pertama kali mengenalkannya pada chord dan nada-nada dasar di saung belakang sekolah. Gitar itu adalah saksi bisu bagaimana rasa kagum Alee tumbuh, tempat ia menyalurkan segala kekaguman, kerinduan, hingga rasa kecewanya saat hubungan mereka sempat merenggang.
Alee memegang leher gitar itu, memetik enam senarnya sekaligus dalam satu sapuan pelan. Suara dentingannya bergema merdu di dalam kamar, memanggil kembali ingatan tentang first impression seorang Ramaditya Pratama.
Rama adalah sosok cowok tenang dengan kacamata bening yang selalu ada untuk menenangkannya saat Alee merasa sedih dan kewalahan. Rama adalah orang pertama yang membukakan pintu dunia musik bagi Alee, mengenalkan harmoni, dan memberi warna baru di masa-masa SMA-nya. Namun, Alee sangat sadar, terus menyimpan gitar itu hanya akan membuatnya terus terikat pada bayang-bayang masa lalu yang sudah seharusnya selesai.
Alee mengambil ponselnya kembali, memotret gitar itu dari beberapa sudut yang rapi, lalu mengunggahnya ke aplikasi jual-beli barang bekas dengan harga yang sangat terjangkau.
"Biar gitar ini dipakai sama orang yang benar-benar mau belajar musik dari awal lagi," bisik Alee pada dirinya sendiri.
Hanya butuh waktu dua hari sampai seorang pembeli dari luar kompleks datang ke rumahnya untuk mengambil gitar tersebut. Saat Alee menyerahkan sarung gitar cokelat itu di depan pagar rumah, Kak Maya yang memperhatikan dari teras rumah melangkah mendekat. Sebagai seorang kakak, Kak Maya tahu betul betapa berharganya gitar itu bagi adiknya.
"Beneran dijual, Lee? Bukannya itu gitar kesayangan kamu?" tanya Kak Maya pelan, menatap wajah adiknya dengan gurat simpati.
Alee menoleh, menyunggingkan senyumnya yang paling terang dan renyah senyum khas Alee yang selalu memancarkan ketegaran. "Beneran, Kak. Udah nggak dipakai lagi. Daripada cuma pajangan dan berdebu di kamar, mending jadi uang jajan buat maba, kan?"
Kak Maya mengamati mata adiknya, mencari tanda-tanda kesedihan atau keraguan, tetapi yang ia temukan hanyalah kedamaian yang utuh. Kak Maya mengacak rambut Alee gemas. "Pinter. Berarti adiknya Akang udah bener-bener move on nih?"
"Bukan cuma move on, Kak," jawab Alee santai sambil memasukkan uang hasil penjualan gitar ke dalam dompetnya. "Tapi belajar tahu diri dan tahu batas. Masih banyak hal besar yang harus aku urus buat persiapan masuk Universitas Nusa Bangsa."
Kini, tidak ada lagi yang tersisa. Tidak ada pesan teks untuk dibaca ulang, tidak ada foto untuk ditatap, dan tidak ada gitar untuk dipetik saat sepi menyapa. Rama sosok yang pernah begitu spesial dan menjadi tempat berlabuh saat Alee sedih kini benar-benar telah bergeser posisinya.
Alee tidak membenci Rama, tidak pula menyimpan rasa dendam atau kecewa atas kesalahpahaman yang pernah terjadi. Bagi Alee, Rama adalah bab cerita SMA yang sangat indah, sebuah pelajaran berharga tentang kedewasaan, kejujuran, dan bagaimana merelakan sesuatu yang memang tidak ditakdirkan untuk dimiliki.
Sore harinya, Alee duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir teh hangat buatan Ayah. Angin sore berhembus perlahan, memainkan ujung rambutnya yang terurai. Alee melihat ke arah langit yang bersih tanpa awan gelap. Hatinya terasa begitu ringan dan lapang.
Ia telah berhasil menjatuhkan pilihannya secara sadar: menjauh dari Rama sepenuhnya, memutus segala bentuk kedekatan yang pernah ada, dan membiarkan mereka berdua tumbuh di jalan kehidupan mereka masing-masing. Simfoni lama telah usai dan nadanya telah luruh, namun Alee siap untuk menuliskan melodi barunya sendiri di masa depan yang menanti.