Sejumlah muslimah berjilbab didera berbagai permasalahan pelik yang menyerang pilihan jalan mereka untuk berhijab.
Barada, Rina Viona, dan para personel Geng Bintang Tujuh, dituntut memecahkan masalah rumit yang mereka hadapi, termasuk masalah percintaan.
Lalu bagaimana cara mereka bertahan dalam balutan jilbabnya yang harus menghadapi tantangan perkembangan zaman yang semakin terbuka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Memata-matai Barada
*Masnaini Muslimah Rekayasa*
Senin sore, Silva kembali dijemput oleh Nury.
“Aku ada teman sekolah tapi lain kelas. Namanya Badar. Mungkin bisa Nury rekomendasikan ke Kumbang,” kata Silva setelah duduk nyaman di samping Nury.
“Oke, biar kita minta Peri Data cek profilnya,” kata Nury sambil menjalankan mobilnya pelan-pelan di antara keramaian, seiring pada keluarnya para siswa meninggalkan sekolah itu.
“Lihat, itu anak yang aku maksud!” seru Silva pelan sambil menunjuk kepada kerumunan siswa di gerbang yang bergerak keluar.
“Yang mana?” tanya Nury seraya menghentikan sejenak mobilnya.
“Yang bersepeda.”
Mereka melihat ada dua siswi berjilbab yang bergerak dengan sepeda meninggalkan gerbang sekolah.
“Berjilbab?” tanya Nury seraya kembali menjalankan mobilnya.
“Iya.”
“Apakah dia berani lepas jilbab?” tanya Nury.
“Sepertinya tidak. Mungkin jika bergabung dengan kita, dia akan menjilbabisasi kita semua. Sebab, seorang ketua geng perempuan di sekolah bisa dia buat berjilbab,” ujar Silva.
“Kata dari mana itu ‘jilbabisasi’?” tanya Nury.
Silva tertawa sendiri yang membuat Nury tersenyum.
“Dari London, hahaha!” kata Silva.
Nury lalu menekan sebuah tombol putih di setir kemudi.
“Oke, Nuri Pelangi silakan masuk!”
Tiba-tiba terdengar suara perempuan dari dalam saluran telepon yang terpasang khusus di mobil itu. Suara itu adalah milik seorang wanita bernama Peri Data.
“Nuri Pelangi bersama Anggrek London. Ada rekomendasi nama Badar dari Anggrek London untuk rekrutan baru. Harap dicek profilnya di sekolah,” kata Nury dengan menyebut nama sandinya dan nama sandi Silva Monica.
“Oke, tunggu sejenak,” kata Peri Data dalam sambungan komunikasi itu.
Komunikasi mereka sejenak terhenti, tapi masih tersambung. Sepuluh detik kemudian, Peri Data kembali bersuara.
“Tidak ada siswa yang bernama Badar di sekolah itu. Cek ulang nama lengkapnya!”
“Cari siswi yang fotonya berjilbab!” kata Nury.
“Tunggu sejenak!”
Kembali dialog itu terhenti, menunjukkan bahwa Peri Data sedang bekerja cepat.
“Oke, sedang dicari. Daaan...” Peri Data memanjangkan suaranya. Lalu lanjutnya, “Ketemu. Ada dua siswi dengan foto profil berjilbab. Siswi SMU bernama Nursamaya dan Barada siswi SMK akuntansi.”
“Barada!” seru Silva yakin. Silva memang tidak tahu nama asli siswi akuntansi yang biasa dipanggil dengan nama “Badar”, tapi ia yakin bahwa “Barada” adalah nama aslinya.
“Baik. Jika ingin tahu lengkap profilnya, silakan datang ke markas agar sekalian bisa langsung diajukan ke Kumbang!” kata Peri Data.
“Siap!” kata Nury lalu menutup teleponnya dengan menekan ulang tombol putih kecil tadi. Lalu katanya kepada Silva, “Kita ke markas sebentar.”
Setelah melalui perjalanan yang cukup macet, mobil biru itu akhirnya memasuki kawasan pergudangan yang tidak ramai oleh kendaraan. Hanya terlihat beberapa mobil truk kontainer sedang parkir di beberapa titik.
Mobil akhirnya bergerak masuk ke salah satu bangunan dari deretan bangunan pergudangan yang serupa konstruksinya. Ternyata mobil Nury masuk ke sebuah bengkel besar. Tampak beberapa pria sibuk dengan kerjaannya masing-masing. Ada yang sedang membongkar kerangka mobil, ada yang sedang mengecat body mobil bagus, ada pula yang sedang duduk merokok dengan segelas kopi di sisinya, sementara wajahnya dekil oleh coretan oli kering. Seorang wanita cantik berwajah Tionghoa tampak duduk di belakang meja menghadapi komputer sambil kepalanya miring menjepit gagang telepon dengan bahunya.
Para pekerja bengkel itu tampak tidak begitu menggubris mobil biru mewah yang datang, seolah mobil itu sudah biasa datang ke tempat itu.
Mobil Nury berhenti di salah satu sudut yang lantai bersihnya memiliki garis cat yang terang.
Bregr!
Tiba-tiba lantai yang dipijak oleh mobil Nury bergerak naik seluas satu petak yang cukup menadahi mobil kecil itu. Ada empat pilar besi di bawah lantai yang bergerak mendorong ke atas. Hingga akhirnya petakan lantai bermesin itu menyatu dengan lantai dua dan mobil Nury tidak terlihat lagi dari bawah.
Setelah petakan lantai itu berhenti di lantai dua, kini mobil Nury menemukan satu jalan baru yang menurun. Jalan menurun itu pun tidak terlihat keberadaannya dari lantai bawah atau depan bengkel.
Mobil Nury meluncur turun lalu berhenti di jalan buntu seperti sebuah kamar lift khusus untuk mobil. Pintu kamar di belakang mobil langsung menutup sendiri.
Di dinding tepat di sisi pintu sopir, ada sekotak angka-angka dan huruf. Nury mengulurkan tangannya keluar dan menekan sejumlah kombinasi angka dan huruf.
Tiiit!
Terdengar lengkingan suara agak panjang setelah itu. Lalu lantai kamar itu meluncur jatuh ke bawah membawa mobil tersebut. Tidak jelas seberapa dalam lantai lift itu meluncur hingga akhirnya berhenti. Pintu lift yang kini berada di depan mobil terbuka.
Mobil kembali berjalan dan berhenti di area parkiran yang luas. Agak gelap suasananya. Hanya beberapa lampu yang menyala di tempat yang berada jauh di bawah permukaan tanah itu. Tampak terdapat pula beberapa kendaraan mewah berbagai jenis parkir di sana.
Nury dan Silva keluar dari mobil dan langsung berjalan menuju ke salah satu pintu yang tertutup. Untuk membuka pintu itu, Nury harus menekan beberapa nomor kunci dan mendekatkan mata kanannya kepada alat sensor retina.
Klik!
Terdengar suara seperti kunci terbuka. Barulah mereka bisa masuk. Nury dan Silva harus melalui lorong yang agak panjang dan dua pintu yang harus dibuka dengan nomor pin tanpa sensor mata lagi.
Mereka masuk ke sebuah ruangan yang memiliki layar puluhan monitor di dinding sehingga membentuk sebuah layar raksasa. Di ruangan itu duduk dua orang gadis di kursi yang berbeda dan masing-masing sedang menghadapi beberapa komputer besar di meja masing-masing. Uniknya, kedua gadis itu memiliki rupa yang kembar. Selain memakai baju yang berbeda jenis dan warna, keduanya juga memiliki rambut yang berbeda warna. Gadis cantik yang berambut hitam hanya dikenal dengan nama “A” dan gadis yang rambutnya separuh diwarnai hijau bernama “H”. Kedua gadis berkacamata itulah yang sering disebut dengan nama Peri Data. Keduanya bertugas khusus di bidang data dan informasi. Keduanya menjadi pusat titik komunikasi dan pusat informasi. Keduanya pula yang menjadi penyambung perintah melalui telepon.
“Kalian sudah datang,” sapa A seraya tersenyum kepada Nury dan Silva. Lalu katanya kepada Silva, “Aaah, kamu lebih Indonesia dengan rambut hitam, Sil.”
“Inikah gadis yang kamu maksud, Sil?” tanya H sambil menekan satu tombol.
Di layar raksasa muncul gambar foto separuh badan seorang siswi berjilbab yang tidak lain adalah Barada, gadis yang biasa dipanggil dengan nama Badar.
“Hanya ini datanya yang kita dapat?” tanya Silva, karena yang tertera selain foto adalah data-data yang tidak lebih dari biodata formal di sekolah.
“Data ini terlalu miskin. Dia tidak punya akun sosmed?” tanya Nury.
“Tidak ada, sepertinya dia gadis kolot. Nomor telepon yang tertera pun bukan nomor teleponnya,” kata H.
“Dia mahir beladiri, aku sudah jajal sebentar keahliannya tadi di sekolah. Dia juga penganut yang taat berjilbab dan puasa di hari Senin,” kata Silva.
“Tapi kamu yakin dengan dia, Sil?” tanya Nury.
“Yakin 75 persen,” jawab Silva dengan wajah serius menatap wajah besar Barada di layar raksasa itu.
“Oke, rekomendasikan gadis itu ke Kumbang, A. Agar cepat didata di kediamannya dan di lingkungannya,” tandas Nury.
“Baik,” jawab A seraya tersenyum lalu jari-jarinya bermain di depan salah satu komputer.
“Ada menu apa hari ini di dapur?” tanya Nury.
“Lima menu laut. Rugi kalau kalian tidak makan di sini, sebab Kang Asep sedang senang hati yang artinya semua takaran garam kecap saosnya, sempurna,” jawab H.
Sehari kemudian, orang-orang asing yang tidak dikenal dan diketahui, bermunculan mengawasi tindak tanduk gadis berjilbab yang bernama Barada, baik di lingkungan rumahnya, dalam perjalanan sekolah, hingga ketika Barada berlatih silat di malam hari bersama teman-teman seperguruannya.
Dalam beberapa hari, Barada selalu diawasi dan diikuti oleh beberapa orang secara diam-diam.
Hingga suatu hari di ruangan Peri Data, Kumbang Langit masuk bersama dua asistennya yang bernama Monorama yang berhidung mancung dan Lenggy Matulasa yang berwajah hitam manis.
“Tunjukkan hasil tim yang mengawasi anak itu!” perintah Kumbang.
H dengan cepat memainkan jari-jari lentiknya di keyboard lalu terakhir tekan enter. Maka di layar raksasa terpampang berbagai foto sosok Barada yang dipotret oleh orang-orang yang mengikutinya secara diam-diam. Bahkan ada pula beberapa rekaman video, salah satunya menunjukkan ketika Barada berlatih silat di malam hari bersama teman-temannya.
“Kemahirannya mungkin bisa mengalahkan agen kita jika satu lawan satu. Tidak ada kondisi di luar rumah yang bisa memaksa dia lepas jilbab. Artinya, Barada gadis yang fanatik sama hijab. Tidak pernah membawa alat komunikasi. Jika dia mau menelepon, dia pinjam telepon. Beberapa foto menunjukkan dia menghormat ojigi seperti orang Jepang dan Korea, itu keunikan yang dia jadikan budaya pribadinya. Senin dan Kamis rutin puasa. Orangnya gampang tertawa dan tidak pernah terlihat marah. Akrab dengan warga lingkungan. Ibunya ibu rumah tangga, ayahnya seorang tokoh agama setempat, kakak lelakinya seorang wartawan di kantor berita Islam di Jakarta Pusat. Dua adiknya ditempatkan di pesantren. Tapi dia terlalu hitam untuk misi di SMA Generasi Emas,” ujar A menjelaskan sebelum diminta.
“Kulit hitamnya dapat diputihkan. Coba video latihannya,” kata Kumbang.
H lalu menyingkirkan semua gambar yang lain dan memutar satu video tentang Barada di layar raksasa itu.
Dalam video yang diputar, tampak Barada yang berseragam silat warna hitam mengenakan jilbab putih. Rekaman menunjukkan satu per satu murid Perguruan Tapak Emas menunjukkan kemampuannya dalam menyelesaikan latihan Tendangan Derajat Langit. Ketika giliran Barada tampil, ia menunjukkan gerakan dan tendangan yang terbaik dari rekan-rekannya yang hampir semua gagal menyelesaikan tendangan tinggi di udara.
“Video lain!” perintah Kumbang.
H menayangkan video Barada yang lain. Video kali ini menunjukkan Barada yang masih berpakaian silat menggoes sepeda di malam hari di jalan raya. Kecepatan sepedanya menunjukkan ia terburu-buru. Terlihat Barada begitu gesit mengendarai sepeda. Pada akhir rekaman, Barada ditabrak sebuah mobil boks saat berbelok mau masuk ke perumahan, tapi ia tidak apa-apa, hanya nyaris terjebur ke got dan sepedanya yang rusak. Namun, Barada tetap berlari pergi meninggalkan insiden yang hampir mencelakainya.
Kedua video itu direkam oleh mata-mata Kumbang tanpa sepengetahuan Barada atau orang lain.
“Perintahkan Ksatria Brussels untuk melakukan penyergapan nanti malam!” perintah Kumbang.
“Siap!” jawab A. (RH)
gak heran kalo jandanya sekaliber bunda Maia dapatnya duda sekaliber Irwan Mursi 🤣🤣 eh kok malah ngelantur gue 🤣🤣🤣