NovelToon NovelToon
Aetherist: Takdir Para Terpilih

Aetherist: Takdir Para Terpilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:124
Nilai: 5
Nama Author: seravya

Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.

Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.

Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.

Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.

Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.

Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Keributan

Rona keemasan perlahan merekah di ufuk timur. Merekahnya pendar matahari pagi itu disambut gembira oleh para Aetherist muda yang sedang mengitari komplek akademi. Usaha mereka menerobos dinginnya fajar akhirnya terbayar.

Profesor Ignatius yang menangkap Pendar surya dari arah timur mendadak menghentikan langkah larinya. Luar biasanya, pria berotot itu sama sekali tidak memancarkan tumpahan keringat atau napas terengah-engah.

"Ayo Anak-Anak, cepat berkumpul di sini!" serunya sedikit berteriak agar terdengar oleh seluruh Aetherist.

Emery menjadi yang pertama melesat tiba di hadapan sang profesor, disusul oleh Andrew dan Snow. Airyn menyusul di belakangnya bersama William, Flora, Stella, dan terakhir Teira. Mereka semua ambruk memburu udara serakus yang mereka bisa. Berlari intensif selama lebih dari satu jam tanpa jeda benar-benar menguras ketahanan fisik mereka.

"Baik, Anak-Anak! Latihan tadi sebenarnya masih sangat jauh dari target ideal. Kalian tidak seharusnya selelah ini hanya karena berlari sedikit. Untuk hari ini cukup, besok kita ulangi lagi!" Pangkas Profesor Ignatius, lalu mendadak melesat pergi begitu saja meninggalkan kedelapan muridnya yang terduduk di atas tanah berpasir.

"Pria itu benar-benar berniat membunuhku secara perlahan..." gerutu Stella dengan tubuh terduduk di tanah, tak lagi punya tenaga untuk merasa jijik dengan hamparan tanah yang berada di bawahnya.

"Tenang saja, aku juga tidak punya niat untuk menyusul mu," timpal Teira datar dengan napas yang masih memburu pelan.

Stella menggeletukkan giginya gusar, namun ia terlalu lelah untuk melayangkan pukulan ke kepala pemuda bermulut pedas itu.

"Oi, Teira... kau menyetrum kami tadi pagi, kan?" sela Snow tiba-tiba. Suaranya dingin dan menusuk. Sangat tidak biasa bagi pemuda kutub itu memprakarsai konfrontasi langsung.

Teira yang terduduk santai di tanah hanya menyunggingkan senyum miring tanpa rasa bersalah. Sementara Andrew yang menangkap respons provokatif itu seketika meledak.

"Lebih baik kau jujur, Teira! Benar yang dikatakan Snow, hah?!" bentak Andrew seraya melompat bangkit dan mencengkeram kuat kerah baju olahraga Teira. Pemuda bersurai ungu plum itu hanya diam menatap Andrew dengan pandangan meremehkan.

"Heh... Kalau iya memangnya kenapa? Lagi pula, aku yang memegang kunci kamar kalian," ujar Teira seraya menyeringai tajam.

Sisa kesabaran Andrew habis seketika. Tangan kanannya mengepal erat, siap melayangkan tinjauan keras tepat ke wajah Teira yang amat menyebalkan.

William dengan sigap memburu maju, menarik kedua tangan Andrew kebelakang dan membawanya mundur menggunakan seluruh kekuatan yang tersisa.

"Lepaskan aku, William!" jerit Andrew meronta gila-gilaan.

"Tenang, Andrew! Ingat peringatan Profesor Alistair kemarin!" tegur William menahan Andrew agar tidak sampai melanggar aturan akademi.

"Hei, aku ikut dong! Kelihatannya seru!" Emery berbinar-binar, melangkah mendekat dan berniat menyumbang pukulan—membuat suasana makin tak terkendali.

"Cih, lambat," desis Snow tajam. Pemuda bersurai putih itu mengambil tindakan sendiri dengan melangkah menerobos, berniat menghantam Teira dengan tangannya sendiri.

"Tetap di tempatmu, Snow!" Airyn dengan sigap pasang badan, membentangkan kedua tangannya menghalangi langkah Snow yang sudah siap melayangkan pukulan.

"Minggir!" gertak Snow dengan iris mata perak yang membeku dingin. Airyn sempat bergidik ngeri—belum pernah ia ditatap sedingin itu oleh siapapun.

"Jangan sok jadi pahlawan! Aku tidak butuh perlindungan dari anak kecil sepertimu!" teriak Teira dari belakang Airyn, harga dirinya terasa diinjak-injak.

Airyn yang mendengarnya seketika berbalik dan menatap Teira dengan pandangan menyengat. "Dasar bocah sok kuat! Kau itu lemah dan tidak tahu terima kasih! Pergi sekarang sebelum wajahmu benar-benar bonyok dihabisi mereka!" semprot Airyn ketus, menyalurkan rasa jengkelnya yang menumpuk.

Teira terpaku. Wajahnya seketika memerah padam menahan malu—baru kali ini dalam hidupnya ada orang yang terang-terangan mencelanya sepedas itu. Biasa dirinya yang melontarkan kalimat tajam, kini ia malah dibuat mati kaku oleh ucapan Airyn. Tanpa mengumbar kata-kata lagi, Teira bangkit dan berlari kencang meninggalkan tempat latihan menuju blok asrama.

"Kau malah membiarkannya kabur," pangkas Snow menatap Airyn lekat-lekat.

"Kau sendiri tahu peraturannya, Snow! Dilarang menyakiti satu sama lain di luar latihan resmi!" tegas Airyn tak gentar.

Snow mendesis gusar, lalu berbalik membelakangi Airyn karena malas berdebat panjang lebar.

Sementara itu, Andrew yang sudah kehabisan napas dan tenaga akhirnya menyudahi perlawanannya. William menghela napas lega dan melepaskan pegangannya—lengannya terasa pegal bukan main.

"Loh... tidak jadi berkelahi, ya?" tanya Emery polos dengan raut wajah kecewa saat melihat semua orang mulai membubarkan diri.

"Tidak, Emery. Kita kembali saja untuk sarapan," pangkas Airyn memijat pelipisnya, lega karena tidak ada pertarungan yang meletus pagi ini.

Mendengar kata 'sarapan', Emery dengan bersemangat membantu Stella berdiri lalu setengah menyeret gadis pirang itu menuju gedung utama ke kantin akademi.

"Aku lelah sekali... Ayo ke kantin, sebentar lagi kelas pagi dimulai," ajak William menghampiri Airyn dan Flora. Ketiganya berjalan bersama menuju kantin.

Kantin utama sudah cukup ramai dipadati oleh murid-murid biasa akademi. Emery dan Stella sudah lebih dahulu duduk dan melahap porsi sarapan mereka. Airyn masuk ke barisan antrean untuk mengambil jatah hidangannya.

"Selamat pagi, Airyn!" sapa Barnaby ramah dari balik meja hidangan.

"Pagi, Paman Bar! Hari ini aku mau jus saja," pangkas Airyn mendahului pertanyaan sang koki.

"Baiklah, satu kotak jus jeruk segar untukmu!" Barnaby memberikan sekotak jus ke atas piring Airyn.

Airyn mengamati area kantin sejenak. "Hmm... Paman melihat temanku yang berambut ungu?" tanya Airyn karena tidak mendapati keberadaan Teira di meja mana pun.

"Sepertinya dia belum ke sini. Kenapa? Apa dia melewatkan sarapan paginya?" tanya Barnaby heran.

"Aku tidak tahu, Paman. Apa Paman punya roti atau camilan yang bisa dibungkus? Nanti akan kubawakan untuknya," tawar Airyn.

"Tentu saja ada!" Barnaby bergegas ke ruang penyimpanan belakang. Airyn menepi sebentar memberikan jalan pada murid lain yang mengantre di belakangnya.

Tak lama kemudian, Barnaby kembali dengan sebuah kantong kertas ditangan.

"Ini, Airyn. Cukup untuk ganjal perut sampai jam makan siang nanti," ujar sang kepala koki.

Airyn menyunggingkan senyum tulus dan mengucapkan terima kasih sebelum berbalik menuju meja teman-temannya.

Snow dan Andrew terlihat ikut bergabung di meja sarapan, namun Teira tetap tidak memunculkan batang hidungnya bahkan hingga mereka selesai sarapan.

Usai sarapan, para Aetherist muda kembali ke blok asrama untuk mandi dan berganti seragam. Flora menggunakan kamar mandi lebih dahulu, sementara Airyn memanfaatkan waktu untuk menyeberang ke blok asrama putra, berniat menitipkan bungkusan roti untuk Teira.

Namun begitu melintasi batas lorong asrama putra, Airyn mendapati William sedang berdiri mondar-mandir dengan raut kebingungan.

"Hei William, ada apa?" tanya Airyn menghampiri pemuda bersurai nila itu.

"Teira tidak ada di kamarnya, Airyn. Dan seluruh barang peribadinya di lemari sudah dikemas bersih," terang William cemas. Airyn seketika tersentak kaget.

"Tenang, William. Dia tidak mungkin nekat melarikan diri keluar dari kompleks akademi. Paling cuma masih di suatu tempat di sekitar sini," pangkas Airyn mencoba menenangkan William.

William menghela napas panjang. "Ini semua tidak akan terjadi kalau Profesor Seraphina tidak menugaskannya untuk membangunkan kami..."

"Teira juga diberi kunci kamar kalian?"

William mengangguk lesu. "Benar. Aku terbangun karena kaget sekujur tubuhku rasanya seperti ditusuk-tusuk jarum. Snow meyakini kalau Teira sengaja memanfaatkan kejutan listrik statis Aether-nya agar kami terbangun seketika."

Airyn meringis membayangkan rasa tersetrum listrik di pagi hari. "Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Sebentar lagi kelas pagi pertama kita akan dimulai. Aku yakin Teira pasti akan muncul di kelas nanti," pangkas Airyn optimis.

William mengangguk setuju. Mereka berdua bergegas bersiap, berniat mencari keberadaan pemuda bersurai ungu itu saat sesi kelas gabungan dimulai nanti.

1
Nizam Rayna
pada suatu hari ada hidup binatang rusa dia sedang berjalan di
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!