Alena tidak pernah menyangka akan dinikahi oleh Aditya Pradana, CEO dingin yang juga mantan kakak iparnya.
Tujuannya satu: menjadi ibu untuk Sean, anak tiri berandal yang membencinya setengah mati.
Sean melakukan segala cara untuk mengusir Alena.
Balapan liar, berkelahi, membolos.
Tapi Alena yang berjilbab ini tidak takut.
Ia lawan balik Sean di arena balap dan di lapangan futsal.
Hingga Sean diam-diam kagum dan berbisik, "Siapa sebenarnya kamu, Bunda?"
Di sisi lain, Aditya Pradana yang dibantu Rendra, mulai menyadari...
Adik iparnya yang dulu pendiam itu, kini menjadi wanita yang tidak bisa ia lepaskan.
Pernikahan kontrak ini, apakah akan berakhir dengan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Jam 10.00 pagi
Polda Metro Jaya, ruang mediasi lantai 2, AC dingin 18 derajat.
Hari ini adalah hari penentuan. Setelah laporan polisi LP/B/1234/VIII/2026 kemarin jam 12.00 siang, Clarissa Wijaya dipanggil wajib datang. Kalau tidak datang, langsung jemput paksa.
Jam 09.55, pintu ruang mediasi kebuka.
Clarissa masuk. Beda banget dari Clarissa yang biasanya.
Tidak ada lagi dress merah marun Chanel seksi yang dipakai di gerbang Pondok Indah sambil teriak-teriak "Adit aku pulang dari London!". Tidak ada lagi dress sutra hitam mahal yang dipakai di Hotel Mulia Sky Suite 45 bareng bule palsu Robert Smith Fund. Tidak ada lagi seragam suster palsu Shopee 150 ribu + heels Chanel putih lepas sebelah yang dipakai kemarin nguping di lantai 5 VIP Pondok Indah Hospital.
Hari ini Clarissa pakai dress putih polos panjang sampai lutut, tidak ada merk, rambut diikat kuncir kuda polos, tanpa make up, muka pucat, mata sembab, bawa map plastik bening, dan didampingi pengacara murah yang dia sewa dadakan semalam 2 juta.
Di seberang meja mediasi yang panjang, sudah duduk keluarga Pradana lengkap.
Aditya pakai jas hitam Pradana Group, kemeja putih, dasi hitam, muka dingin namun tenang di sebelahnya Alena pakai dress hamil longgar warna putih sage, wajahnya pucat tapi berusaha tegar, tangan kanan pegang perut terus, tangan kiri digenggam Aditya erat. Di belakang Alena berdiri Sinta bodyguard mantan Polwan, pakai kemeja hitam, tangan di belakang, tatapannya tajam ke Clarissa.
Sean di sebelah Alena,mukanya masih emosi begitu melihat Clarissa.
Penyidik duduk di tengah, buka berkas.
"Baik, kita mulai mediasi terakhir sebelum kasus naik ke kejaksaan. Saudari Clarissa Wijaya, Anda mengakui pada hari Senin jam 08.15 pagi, Anda menyamar menjadi suster magang dengan seragam palsu, name tag palsu tulisan Suster Clara - Magang, untuk masuk ke lantai 5 VIP Pondok Indah Hospital dan menguping ruang USG 5 tempat pasien atas nama samaran Nyonya A yang ternyata adalah Bu Alena Pradana yang sedang USG.
Ruang mediasi hening.
Clarissa nunduk, air mata jatuh ke meja mediasi, tak lama setelah ia mengangguk pelan.
"Iya Pak... saya akui Pak... saya khilaf Pak... saya..."
Pengacara murahnya langsung potong, mencoba membela, "Pak Penyidik, klien kami hanya ingin memberi ucapan selamat kepada nyonya Pradana atas kehamilannya namun klien kami berfikir jika ia akan memberikan kejutan dulu dengan mengenakan pakaian suster Pak, jadi..."
Belum selesai pengacara Clarissa ngomong, Aditya yang dari tadi diam , dengan suara pelan tapi menusuk.
"Memberi ucapan selamat?"
Satu pertanyaan itu bikin pengacara Clarissa diam.
Aditya berdiri pelan, tangan masih menggenggam tangan Alena, mata dinginnya menatap Clarissa tajam.
" Ini sudah kesekian kalinya nyonya Clarissa!"
"Pertama, teriak-teriak di gerbang Pondok Indah jam 19.00 bilang istri saya perebut.
"Kedua, kirim buket 100 tangkai mix merah putih inisial R, tulis kartu 'Dari Pengagum Rahasiamu R - Robert', fitnah biar saya cemburu sama istri saya sendiri di Cafe Senopati."
"Ketiga, bawa bule palsu guru les bahasa Inggris Kemang ngaku Robert Smith Fund UK, bawa ke Hotel Mulia Sky Suite 45, mau jebak saya tanda tangan kontrak bodong 2 Triliun biar proyek Senopati Tower hancur.
"Keempat, kemarin, nyamar jadi suster, pakai seragam palsu name tag palsu, masuk lantai 5 VIP, tempel kuping di pintu ruang USG tempat istri saya itu obsesi Clarissa!"
Tiap kalimat Aditya, Clarissa makin nunduk, nangis makin keras.
Ruang mediasi terasa menegangkan banget. Sinta bodyguard di belakang Alena sampai mengepalkan tangan.
Clarissa yang terpojok, mencoba menggunakan jurus terakhirnya, jurus drama yang selalu dia pakai 25 bab kemarin. Dia melihat ke Alena, dengan mata sembab, suara dibuat memelas agar Alena terbuai.
"Alena... Alena maafin aku Alena... aku cuma sayang sama Adit Alena... aku kenal Adit 5 tahun di London Alena, kita S2 bareng di London Alena, aku temenin Adit dari nol Alena, aku... aku cuma iri Alena bisa kasih Adit anak Alena... aku jauh lebih dulu mengenal dia alena..tapi setelah aku pikir-pikir akhirnya aku sadar Len,kalau aku ingin berteman baik dengan kamu jadi aku ingin memberikan ucapan selamat atas kehamilan kamu dengan cara memberikan kamu kejutan di rumah sakit."
Semua orang diam dan mendengar drama memuakan itu.
Tapi hari ini beda,
Untuk pertama kalinya , Alena Pradana yang biasanya hanya bisa diam, sabar, hanya bisa menangis di pelukan Aditya dan Sean, yang selalu bilang "udah Mas biarin aja Mas", hari ini dia berdiri.
Alena berdiri pelan, tapi punggungnya tetap tegak, tangan kanan tetap memegang perut, tangan kiri ia lepaskan dari genggaman Aditya, mata berkaca-kaca tapi tajam, tidak takut lagi.
Sinta bodyguard yang berdiri di belakang Alena sampai kaget, mau menahan, tapi Aditya memberi kode tangan, biarin.
Alena berbicara dengan suara pelan tapi jelas, tegas, semua orang di ruang mediasi dengar, bahkan AC 18 derajat seakan berhenti.
"Cukup Mbak Clarissa."
Satu kalimat itu bikin Clarissa diam, menatap Alena.
Alena terdiam sejenak air matanya jatuh tapi suaranya tidak lagi terdengar gemetar.
"Mbak Clarissa, saya diam selama ini bukan karena saya bodoh Mbak, bukan karena saya perempuan kampung hanya bisa menyelesaikan urusan dapur,bukan juga karena saya takut sama Mbak."
"Saya diam karena saya menghormati Mbak sebagai masa lalu suami saya Mbak. Saya pikir Mbak S2 London, Mbak pinter, Mbak paham ,bijak dan bakal mengerti sendiri Mbak."
"Di gerbang rumah saya jam,tepat didepan mata saya mba, teriak-teriak bilang saya seorang perebut, satpam Rudi sampai bingung, saya diam Mbak, saya minta pak Rudi untuk tidak bicara kasar dan mengusir mba dengan halus Mbak, saya suruh Mbak pulang baik-baik."
"Di Cafe Senopati, Mbak kirim buket 100 tangkai mix merah putih inisial R, dengan tulisam pengagum rahasia, fitnah biar Mas Adit cemburu sama saya, saya diam juga Mbak, saya cuma peluk Mas Adit di rumah, saya bilang udah Mas biarin aja."
"Di Hotel Mulia Sky Suite 45, Mbak bawa bule palsu guru bahasa Inggris Kemang ngaku Robert Smith Fund UK investor 2 Triliun, mau jebak Mas Adit tanda tangan kontrak bodong biar proyek Senopati Tower hancur, saya juga masih diam Mbak, saya cuma doain Mas Adit di rumah."
"Tapi kemarin Mbak, jam 08.15 pagi, di Pondok Indah Hospital lantai 5 VIP, Mbak nyamar jadi suster Mbak, pakai seragam palsu, masuk ruang steril Mbak, tempel kuping di pintu USG saya Mbak..."
Suara Alena mulai pecah, tangan yang pegang perut makin erat.
Dari situ saya tidak bisa diam lagi Mbak."
"Ini bukan tentang Mas Adit lagi Mbak, ini tentang anak saya Mbak, ini tentang adik Sean Mbak."
Alena menangis, tapi tetap berdiri tegak.
"Saya mohon Mbak Clarissa, cukup Mbak, saya mohon Mbak berhenti Mbak, saya lagi hamil Mbak, saya takut Mbak, saya takut anak saya kenapa-kenapa Mbak."
Ruang mediasi hening total 10 detik.
Aditya yang melihat Alena berani bicara tegas pertama kali setelah selama ini mencoba sabar, langsung berdiri, memeluk Alena dari samping, mencium kening Alena didepan penyidik dan Clarissa, dengan bangga tanpa rasa malu ataupun canggung.Dia merasa bangga istrinya bisa membela dirinya dan calon bayinya didepan penyidik tanpa rasa takut.
"Sayang kamu keren banget sayang, Mas bangga banget sama kamu sayang," bisik Aditya di telinga Alena.
Sean yang di sebelah, yang biasanya cuma bisa marah-marah ke Clarissa, sekarang matanya tampak merah, ia bertepuk tangan pelan, "Bunda keren... Bunda keren banget... akhirnya Bunda angkat bicara..."
Clarissa yang duduk di seberang, melihat Alena yang terlihat kalem bisa berbicara setegas itu meskipun sambil pegang perut, untuk pertama kalinya, dia merasa malu, malu beneran, bukan malu drama palsu, tapi malu dari hati.
Dia menangis, tapi kali ini nangis beneran, tanpa teriak, tanpa drama peluk kaki Aditya, hanya menunduk, air matannya jatuh ke dress putih polosnya.
"Maafin aku Alena... maafin aku... aku iri Alena... aku iri kamu bisa dapatin Adit ,bisa kasih Adit anak... aku tidak bisa melihat semuanitu.. aku jahat Alena... maafin aku..."
Penyidik yang melihat suasana sudah haru, mengetuk meja.
"Baik, karena ada pengakuan, ada permintaan maaf tulus, dan ada itikad baik dari kedua belah pihak, kita buat surat perjanjian damai. Poinnya: Saudari Clarissa Wijaya dilarang mendekati keluarga Pradana radius 500 meter, dilarang akses Pondok Indah Hospital dan rumah Pondok Indah, wajib ikut konseling psikolog 3 bulan di RS yang ditunjuk, dan wajib hapus semua foto dan akun second @claire.london.92. Jika melanggar, kasus langsung naik pidana penjara 2 tahun."
Clarissa mengangguk sambil menangis,ia kemudian menandatangani kertas perjanjian dengan tangan gemetar, sampai air matanya jatuh membasahi sebagai kertas.
Alena juga tanda tangan, tangan masih gemetar, tapi sekarang bisa tersenyum lega.
Jam 11.30, keluar dari Polda, sinar matahari Jakarta terasa terik.
Alena yang stres dari tadi, langsung mual berat, muntah di tempat sampah depan Polda, karena benar-benar sudah tidak bisa ditahan lagi.
Aditya yang melihat langsung panik, tidak peduli dilihat banyak polisi dan wartawan,ia langsung menggendong Alena ala bridal style, dan diawa lari ke mobil Alphardnya,Sinta turut berlarian membuka pintu mobil untuk majikannya.
Sean yang melihat Ayah menggendong alena ala drakor, tersenyum sambil mengabadikan momen tersebut, "Wah Ayah romantis banget!"
Di dalam mobil Alphard, Aditya terus menopang tubuh Alena yang tiduran di pelukan Aditya, wajahnya tampak pucat.
Aditya berbisik pelan dan mencium kening Alena berkali-kali.
"Sayang kamu keren banget tadi sayang, Mas bangga banget sama kamu sayang, kamu ibu yang kuat sayang, hebat sayang."
Alena tersenyum pucat.
Mobil Alphard dikemudikan dengan pelan pulang ke Pondok Indah, di belakang diikuti mobil patroli, surat perjanjian disimpan dengan baik oleh Kaka Sean.
Rumah Pondok Indah jam 12.00 siang itu benar-benar aman, tenang, tanpa Clarissa.
Bersambung