Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.
Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.
Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA PULUH EMPAT
"Kakak iparku yang baik, bagaimana jika adik kesayanganmu itu tahu bahwa kejadian empat tahun yang lalu adalah rencana kakak kandungnya sendiri?"
Zain mengucapkan kalimat itu dengan sangat lancar, nada suaranya begitu tenang, namun menyembunyikan ancaman yang teramat tegas dan mematikan.
Arbara tidak langsung menjawab. Pria berjas mahal itu perlahan menyalakan sebatang rokok, menyesapnya dalam-dalam, lalu meminum secangkir espresso yang sudah hampir dingin. Punggung Arbara bersandar santai ke sandaran kursi kulit kafe tersebut. Ia sama sekali tidak panik, seolah-olah situasi tertekan seperti ini sudah menjadi santapan sehari-harinya.
"Zain... Zain... Zain..." Arbara terkekeh pelan, hembusan asap rokok melayang dari bibirnya. "Mengapa kamu selalu mengancamku dengan hal yang sama? Aku sama sekali tidak masalah jika kamu membocorkan hal itu kepada adikku tercinta. Mungkin jika dia tahu, dia justru akan sangat berterima kasih padaku."
"Benarkah?" desis Zain dengan pandangan tajam, merapikan kacamata tipisnya. "Lalu bagaimana jika yang terjadi justru sebaliknya? Bagaimana jika dia membencimu seumur hidupnya?"
"Tidak mungkin," sahut Arbara percaya diri, mengetuk abu rokoknya ke dalam asbak. "Aku melakukan suatu kebaikan untuk masa depannya, bukan kejahatan."
"Tapi gara-gara peristiwa empat tahun yang lalu itu, Mara-ku yang lembut mengalami trauma psikis yang mendalam!" potong Zain, suaranya dipenuhi ketegangan yang tertahan. "Kamu kakak kandungnya, tetapi kamu sangat kejam, Bara."
Arbara tertawa renyah, sebuah tawa dingin yang membuat orang di sekitarnya merinding. "Kalau aku kejam, lalu kamu apa, Zain? Licik? Hahaha! Kaellan Zain Alfatih, kamu sangat tahu jika minuman malam itu sudah aku campurkan dengan obat, dan kamu tetap meminumnya secara sadar."
"Aku hanya membuat segalanya berjalan lancar, bukan?" balas Zain datar.
Zain memalingkan wajahnya sejenak ke arah jendela kafe, menyembunyikan kilat mata yang menggelap.
"Ya... Ya... Kamu memang sangat jenius dalam hal apa pun," puji Arbara seraya menghirup kembali rokoknya. "Tak salah aku merencanakan semua ini. Daripada adikku yang sangat cantik itu jatuh ke tangan siluman rubah tua yang hendak memanfaatkannya."
Mendengar hal itu, jemari Zain di atas meja mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarahnya memuncak membayangkan ancaman masa lalu itu.
"Ayahku yang sangat baik itu..." lanjut Arbara dengan nada mencemooh, "tega menjual adikku sendiri demi mendapatkan secuil harta tambahan. Memang brengsek."
"Jangan membicarakan orang yang sudah mati," pangkas Zain dingin.
"Ya... Ya... Ya... Untungnya kamu sangat jenius," balas Arbara menatap Zain penuh arti. "Aku merasa banyak berutang budi dan nyawa padamu. Makanya aku percayakan dan titipkan adikku pada orang yang tepat."
Zain menghela napas panjang, kepalannya perlahan mengendur. "Kali ini aku senang mendengar ucapanmu, Bara."
Tak ada seorang pun di dunia ini yang tahu, bahwa kematian ayah Arbara dan Amara empat tahun lalu sebenarnya adalah hasil rekayasa dingin dari otak jenius Zain. Sebuah taktik rapi hingga diagnosis medis menyatakan ayah mereka meninggal secara alami akibat serangan jantung mendadak.
Arbara memperbaiki posisi duduknya, lalu menatap Zain dengan raut amat serius. "Ingat satu hal, Zain. Sebelum Amara lulus kuliah dan meraih gelarnya, kamu tidak boleh menyentuhnya."
Gleg.
Hampir saja Zain tersedak oleh salivanya sendiri mendengar patokan syarat dari Arbara. Namun, sebagai seorang pria yang pandai menyembunyikan emosi, ekspresi di wajah tampannya sama sekali tidak berubah. Tetap datar dan tak tersentuh.
Perlahan, Zain berdiri dari kursinya, merapikan jas tebal yang melekat di tubuh tegapnya.
"Maaf, Kakak iparku yang baik," bisik Zain seraya menyunggingkan senyum tipis yang amat tipis di bibirnya. "Janji itu tidak bisa aku tepati. Tubuh kecil adikmu... membuat juniorku selalu tidak tenang."
Zain membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan meja kafe dengan gerakan terburu-buru, tanpa memedulikan tatapan terpana Arbara.
Di mejanya, Arbara yang baru saja hendak menghabiskan sisa espresso dalam cangkirnya mendadak tersedak hebat.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Cairan hitam pahit itu membuat Arbara terbatuk-batuk parah hingga wajahnya merah padam. Pengacara kondang yang tak pernah kalah di ruang sidang itu memaki Zain habis-habisan dalam hati, namun ia sama sekali tak sanggup mengejar adik iparnya yang sudah melesat pergi.
"Zain!!! Kurang ajar kamu, dasar mesum!!"
Matahari baru saja terbenam sempurna ketika Zain menginjakan kaki di rumahnya. Pria itu melangkah cepat menaiki anak tangga menuju kamar utama, berniat memeriksa kondisi Amara.
Di dalam kamar yang hangat, Amara sedang bersandar lemah di kepala ranjang. Selang infus di punggung tangannya sudah dilepas sejak sore tadi oleh Bibi Ayu karena cairannya telah habis.
Zain mendekat, menempelkan telapak tangannya di kening Amara untuk mengecek suhu tubuh. "Panasmu sudah turun."
Zain kemudian mengeluarkan semangkuk bubur hangat yang sempat ia beli di perjalanan pulang.
"Aku tidak mau bubur lagi, Kak Zain," cicit Amara pelan saat melihat mangkuk sterofoam itu. "Aku ingin makan makanan yang lain."
Zain tidak menuruti permintaan itu sedikit pun. Wajahnya tetap kaku tanpa senyum. "Kamu baru sembuh dari maag. Jangan aneh-aneh. Buka mulutmu."
Dengan penuh ketegasan yang tak terbantahkan, Zain menyuapi Amara sendok demi sendok. Selama proses menyuapi itu, Amara diam-diam menunggu momen ajaibnya. Ia memasang telinganya lebar-lebar, berharap gema suara batin Zain kembali terdengar seperti kemarin. Namun hingga satu jam berlalu dan bubur di mangkuk habis tak bersisa, suasana di dalam kepalanya tetap hening. Tidak ada satu ocehan batin pun yang melintas.
Mungkinkah harus ada kontak fisik dulu baru suaranya bisa kedengaran? batin Amara penasaran. Tapi bagaimana caranya agar aku bisa mencium Kak Zain tanpa ketahuan kalau aku sengaja?
Zain berdiri, merapikan nampan dan bersiap untuk melangkah keluar kamar, melihat pemicunya akan pergi, Amara memberanikan diri. "Kak Zain..." panggilnya dengan suara bergetar dan ragu. "Bisakah... Kak Zain tidur di sini bersamaku malam ini?"
Zain menghentikan langkahnya di dekat pintu, namun ia tidak berbalik.
melihat respons kaku suaminya, hati Amara mencelos nyeri. "Tapi tidak apa-apa kalau Kak Zain merasa jijik denganku... Aku tidur sendiri saja."
Zain tetap tidak bersuara sepatah kata pun. Pria itu melanjutkan langkahnya dan keluar begitu saja, membiarkan pintu kamar tertutup rapat.
Rasa kecewa dan terhina yang membakar dada membuat air mata Amara menetes seketika. Ia menarik selimut hingga menutupi kepala, lalu menangis sesenggukan di dalam kegelapan. Ia meratapi nasibnya yang merasa terus-menerus ditolak oleh suami sendiri.
Setengah jam berlalu dalam hening. Isak tangis Amara perlahan mereda dan ia nyaris tenggelam dalam lelapnya yang menyiksa.
Sreek...
Selimut di bagian pinggangnya mendadak terangkat. Sebelum Amara sempat mencerna keadaan, sebuah lengan tegap yang hangat menyusup ke bawah pinggangnya dan merengkuh tubuh kecil Amara ke dalam sebuah dekapan yang amat erat.
Bau wangi kayu cendana dan citrus menyeruak masuk ke indra penciumannya.
Amara menyunggingkan senyum tipis di balik selimut. Dengan perlahan, ia memutar tubuhnya menghadap pria yang kini berbaring di sisinya.
Cup!
Tanpa memberi jeda, Amara menyapukan bibirnya, mendaratkan sebuah kecupan manis dan mendadak tepat di atas bibir tipis Zain.
Keduanya mendadak membeku dalam kesunyian yang pekat. Tak ada satu pun dari mereka yang berani menggerakkan tubuh.
Namun di balik keheningan malam yang membisu itu, dua hal mendadak terjadi bersamaan, Amara dapat merasakan dengan amat jelas dada tegap Zain yang menempel pada dadanya bergetar hebat akibat detak jantung pria itu yang berlarian liar tak terkontrol dan detik berikutnya, gema suara batin Kaellan Zain Alfatih meledak dahsyat di dalam kepala Amara, menyuarakan jeritan batin yang sanggup membuat Amara menahan tawa kencang setengah mati.
’DEMI TUHAN! DIA MENCIUMKU LAGI! JANTUNGKU BISA PECAH KALAU DIA TERUS-TERUSAN MENYERANGKU SEPERTI INI! OH ADIK JUNIORKU YANG MALANG, BERSABARLAH INI UJIAN BERAT.'
gak liat situasi apa gimana dah, istri abis sakit malah membrutal wkwkwkwk
gmn yx kalo zain tau Amara bisa dgr suara hati ny🤭🤭🤭😂😂😂
plot twist nya pas mau pisah malah hamidun miss 🤣