NovelToon NovelToon
Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Langkah kaki Naya menggema di atas marmer lobi utama The Ritz, berirama mantap dan elegan. Ia baru saja meninggalkan ballroom—dan Eylo Lais—di belakangnya. Meski penolakan sang predator bisnis itu mutlak dan tanpa ampun, wajah Naya tetap tenang seperti permukaan danau yang membeku. Tidak ada gurat kepanikan, hanya kalkulasi dingin tentang langkah apa yang harus ia ambil selanjutnya untuk menyelamatkan megaproyek Labuan Bajo.

Di luar lobi, hujan badai masih mengguyur dengan brutal. Kilat sesekali menyambar, menerangi langit malam yang pekat.

Naya berhenti di area ruang tunggu valet, membuka tas clutch beludrunya untuk mengambil ponsel. Ia berniat mengirim pesan kepada sopir pribadinya agar segera merapat ke lobi. Pikirannya dipenuhi oleh deretan angka, strategi cadangan, dan wajah arogan Eylo Lais yang harus ia taklukkan besok pagi.

Ia begitu tenggelam dalam pikirannya sendiri hingga ia sama sekali tidak menyadari langkah tergesa-gesa seseorang yang datang dari arah pintu masuk putar.

Brak!

Bahu Naya berbenturan cukup keras dengan dada bidang seseorang. Tabrakan itu terjadi begitu cepat. Tas clutch di tangan Naya terlepas, jatuh menghantam lantai marmer hingga isinya—sebuah lipstik dan ponsel—berserakan.

"Ah, maaf! Maafkan saya, saya benar-benar tidak sengaja," sebuah suara pria muda terdengar panik dan penuh penyesalan.

Pria itu langsung berjongkok, dengan cekatan mengumpulkan barang-barang Naya yang berserakan dan memasukannya kembali ke dalam tas clutch tersebut.

Naya menarik napas pendek, menstabilkan tubuhnya. "Tidak apa-apa, saya juga kurang mem—"

Kalimat Naya terputus di udara.

Pria itu bangkit berdiri dan mengulurkan tas clutch tersebut ke arah Naya. Saat itulah, di bawah temaram cahaya lampu kristal lobi, pandangan mereka bertubrukan.

Waktu seolah ditarik paksa hingga berhenti berdetak.

Naya mematung. Matanya melebar menatap wajah pria di hadapannya. Pria ini masih sangat muda, usianya mungkin sebaya dengan Kafka, sekitar dua puluh empat tahun. Wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas namun memancarkan kehangatan, kontras dengan kemeja kasual dan jaket yang sedikit basah terkena tempias hujan. Secara fisik, pria ini sama sekali tidak mirip dengan Kafka. Kulitnya sedikit lebih terang, dan bentuk matanya berbeda.

Namun, saat Naya menatap ke dalam mata pria itu... sebuah desir angin yang luar biasa kencang menghantam jiwanya.

Ada sebuah sensasi familier yang menampar Naya dengan sangat brutal. Sebuah keakraban tak kasat mata yang merayap naik dari ujung kakinya, menyelimuti dadanya dengan rasa hangat yang sudah dua tahun ini mati. Ia merasa mengenal pria ini. Ia merasa jiwanya mengenali sesuatu di balik tatapan mata asing tersebut. Rasa familier itu begitu kuat, begitu mengikat, hingga tangan Naya tanpa sadar bergetar saat menerima tasnya kembali.

Di saat yang bersamaan, reaksi yang jauh lebih dahsyat sedang menghancurkan pertahanan pria itu.

Begitu mata pria itu terkunci pada sepasang mata Naya—mata yang menyimpan ketegasan seorang pemimpin namun sekaligus menyimpan samudra duka yang tak berujung—sebuah rasa nyeri yang luar biasa tajam tiba-tiba menusuk bagian dalam tubuhnya.

Bukan di jantungnya, melainkan tepat di bawah tulang rusuk kanannya. Di ulu hatinya.

Rasa nyeri itu bukan rasa sakit medis akibat luka fisik. Itu adalah sebuah luapan emosi yang begitu masif, asing, dan menuntut, seolah ada entitas lain di dalam tubuhnya yang meraung-raung ingin keluar, meronta-ronta merengkuh wanita di hadapannya ini. Dadanya sesak oleh keputusasaan dan rasa rindu yang sama sekali tidak ia pahami asal-usulnya.

Pria itu tersentak. Napasnya mendadak putus-putus. Ia secara refleks mencengkeram kemejanya di bagian perut atas, wajahnya memucat menahan sensasi nyeri yang seolah merobek kewarasannya.

"Anda... Anda tidak apa-apa?" Naya bertanya, suaranya terdengar jauh dan bergetar. Ia melangkah maju secara insting, melihat pria itu meringis kesakitan dengan mata yang masih terus menatapnya lekat-lekat, seolah pria itu sedang melihat hantu.

Pria itu memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang, berusaha menekan rasa nyeri emosional yang tidak masuk akal itu. Saat ia membuka mata kembali, rasa sakit itu perlahan mereda, namun getaran di jiwanya sama sekali tidak hilang.

"Saya... saya baik-baik saja," jawab pria itu dengan suara serak, masih menatap Naya dengan intensitas yang kebingungan. Ia memaksa dirinya berdiri tegak, membenarkan letak jaketnya. "Hanya... sedikit kram. Maafkan kecerobohan saya, Nona. Saya sedang terburu-buru mencari kakak saya yang sedang menghadiri acara di dalam."

Naya menelan ludah, berusaha keras membangun kembali dinding profesionalitasnya yang mendadak runtuh oleh interaksi sepuluh detik barusan.

"Tidak apa-apa. Saya juga sedang tidak fokus," ucap Naya, memaksa seulas senyum tipis.

Pria muda itu terdiam sejenak. Logikanya menyuruhnya untuk segera pergi mencari kakaknya, namun kakinya seolah dipaku ke lantai marmer. Ia tidak bisa memalingkan pandangannya dari wajah Naya. Ada dorongan gila di dalam dirinya yang menyuruhnya untuk melindungi wanita ini, sebuah insting protektif yang meledak entah dari mana.

Dengan gerakan kaku, pria itu mengulurkan tangan kanannya.

"Saya Arham," ucap pria itu, suaranya mengalun pelan menembus riuhnya suara hujan di luar sana. "Arham Baskara."

Naya tertegun mendengar nama belakang itu. Baskara. Jadi, pria ini adalah adik dari Arga Baskara, CEO yang sering mencoba mendekatinya. Usianya seumuran dengan Kafka.

Naya menatap uluran tangan itu. Jantungnya berdetak dengan ritme yang aneh. Perlahan, Naya mengangkat tangan kanannya dan menyambut jabatan tangan Arham.

"Naya Adiraja," balas Naya pelan.

Saat kulit mereka bersentuhan, sebuah sengatan listrik tak kasat mata menyambar keduanya. Bagi Naya, sentuhan itu membangkitkan hantu dari masa lalu yang ia pikir sudah beristirahat dengan tenang. Namun bagi Arham, sentuhan itu membuat organ hati di dalam tubuhnya berdenyut keras, seperti merasa bahagia dan sedih di satu waktu.

1
Bebe Honey
mantap ceritanya Kak...terima kasih 😍
none name
up ka
Hk Hk
lanjut thorrrr, semangat
Hk Hk
bagus ceritane Thorrr😍
none name
up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!