ZONA DEWASA‼️
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Mobil sport mahal milik Moreno perlahan memasuki area parkiran kampus. Pria itu mengarahkan kendaraannya menuju area parkir yang agak tersembunyi—persis seperti yang diwanti-wanti oleh Luna sepanjang perjalanan.
Begitu mesin mobil mati, Luna langsung celingukan ke kanan dan ke kiri, matanya sibuk memantau area sekitar melalui kaca jendela untuk memastikan tidak ada mahasiswa lain yang melihat mereka.
Aksi was-was Luna itu rupanya berhasil memancing kekesalan Moreno. Pria itu mendengus kasar.
"Ngapain lo celingukan gitu? Kayak maling tau enggak."
Luna mengerucutkan bibirnya, menatap Moreno dengan wajah sebal.
"Tentu aja gue harus mantau keadaan! Jangan sampai ada yang liat kita datang barengan ke kampus."
Mendengar penolakan terang-terangan itu, Moreno memutar tubuhnya menghadap Luna. Cengkeraman jemarinya di atas setir mobil seketika mengetat, sedikit mengepal membendung amarah yang mendadak bangkit.
"Apa masalahnya kalau orang-orang tau kita datang bareng?" tanya Moreno dengan nada rendah yang menuntut.
"Bukannya bagus? Supaya enggak ada cowok-cowok brengsek yang berani deketin lo."
Mata Luna membelalak lebar. "Reno! Gue kan udah turutin semua kemauan lo! Gue mohon, jangan bikin hidup gue makin sulit di kampus..."
Melihat raut memelas sekaligus frustrasi di wajah Luna, Moreno akhirnya menghela napas berat. Tensi kaku di bahunya sedikit mengendur.
"Oke," cetus Moreno datar. "Gue kasih lo kelonggaran. Tapi ada syaratnya."
Luna mengerutkan kening. "Syarat apa lagi?"
"Sebelum turun, lo harus cium gue dulu," perintah Moreno tanpa beban.
Luna melotot tak percaya. "Loh! Tadi kan di penthouse lo udah cium gue berkali-kali! Kenapa sekarang minta cium lagi?!"
"Suka-suka gue," balas Moreno santai seraya mengetukkan jarinya ke setir.
"Cepat mendekat."
Luna memutar bola matanya malas, menggerutu dalam hati atas kesewenang-wenangan bule posesif ini.
Namun, sadar menolak hanya akan membuang waktu dan memicu keributan baru, Luna akhirnya mengalah. Gadis itu memajukan tubuhnya mendekati Moreno.
Melihat Luna yang akhirnya menurut, senyum tipis terbit di bibir Moreno. Pria itu menyandarkan kepala, lalu mengangkat satu jarinya untuk menunjuk ke arah bibirnya sendiri—menagih kecupan dari Luna.
Luna semakin memajukan tubuhnya dan—sesuai perintah Moreno—ia langsung mengecup bibir pria itu dengan sangat cepat, sekadar menempelkan bibirnya tak sampai satu detik.
Moreno mendesis pelan, menatap Luna dengan raut tak puas.
"Dih, singkat amat? Ciuman lo enggak niat banget."
"Apaan sih, Ren?!" protes Luna gemas seraya melirik jam di ponselnya.
"Gue bisa telat masuk kelas kalau lo tahan- terus kayak gini!"
Moreno akhirnya mengalah, mengangkat kedua tangannya santai.
"Ya udah, turun sana."
Tanpa membuang waktu lagi, Luna membuka pintu dan turun dari mobil mewah itu. Sambil bersikap seolah tak terjadi apa-apa, ia berlari-lari kecil menuju gedung fakultasnya dengan perasaan lega.
Jam perkuliahan akhirnya usai. Luna bersama sahabatnya, Dita, melangkah masuk ke area kantin kampus yang cukup ramai untuk membeli makanan favorit mereka. Tanpa Luna sadari, di sudut kantin yang cukup strategis, Moreno bersama gengnya sudah duduk santai sejak tadi.
Mata abu-abu milik Moreno langsung terkunci pada sosok Luna sejak pertama kali gadis itu melangkahkan kaki ke dalam kantin. Pandangannya terus mengawasi setiap pergerakan Luna tanpa berkedip.
Hal itu rupanya menarik perhatian Dimas yang duduk di sebelahnya. Merasa aneh dengan fokus sahabatnya, Dimas menyenggol lengan Moreno.
"Lihatin apaan sih lo dari tadi? Serius amat."
Moreno tak menjawab. Pria itu hanya menyesap jus di mejanya beberapa kali, lalu kembali melemparkan pandangannya ke arah Luna.
Dimas mengoper pandangannya mengikuti arah mata Moreno hingga akhirnya menangkap sosok Luna di dekat stan makanan. ekspresi jahil langsung terbit di wajah Dimas.
"Oalah... ngeliat si Luna," goda Dimas seraya menatap Moreno curiga.
"Jangan-jangan lo naksir ya sama dia?"
Moreno melirik Dimas tajam, menjawab dengan nada ketus dan asal-asalan.
"Bacot lu. Siapa juga yang naksir sama cewek gila kayak dia?"
Dimas yang tahu betul sejarah percekcokan awal antara Moreno dan Luna justru tertawa terkekeh.
"Halah! Walaupun lo bilang dia gila, Sejujurnya Luna itu cantik banget, Ren. Kalau dia jomblo, gue juga mau kali kalau dijadiin pacarnya."
Seketika itu juga, tatapan Moreno mendingin. Manik matanya menyipit, melayangkan lirikan tajam ke arah Dimas.
Dimas yang menyadari perubahan raut Moreno mengerutkan kening heran.
"Kenapa lo liat gue kayak gitu? Gue kan enggak salah bicara. Lagian lo kan juga bukan pacarnya Luna!"
"Muka lo jelek. Bikin mood gue hilang," sahut Moreno asal seraya membuang muka.
Dimas kembali tertawa makin keras. Ia sudah hafal betul dengan karakter Moreno yang mirip roller coaster—suasana hatinya bisa naik dan turun secara mendadak tanpa alasan yang jelas.
Luna dan Dita melangkah mantap membawa nampan berisi makanan pesanan mereka, menyusuri sudut-sudut kantin kampus yang mulai dipadati mahasiswa lain. Setelah menemukan meja kosong di area tengah, keduanya langsung duduk dan menikmati makanan dengan lahap.
Di sela-sela makan, tawa kecil dan obrolan ringan mengalir, mencairkan suasana penat setelah jam perkuliahan yang melelahkan.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Saat Luna baru saja mengangkat gelas jus alpukatnya dan hendak meminumnya, tiba-tiba seorang mahasiswi berpenampilan mencolok—yang dikenal sebagai salah satu pemuja rahasia Adrian—lewat tepat di belakang punggung Luna. Dengan sengaja, mahasiswi itu menyenggol dan menabrak bahu Luna cukup keras.
Prang! Byur!
Gelas yang dipegang Luna terlepas, dan tumpahan jus alpukat yang kental seketika tumpah ruah, mengotori bagian depan kemeja putih yang dikenakannya.
Luna terkejut bukan main. Ia reflek berdiri sambil menepuk-nepuk kemejanya yang basah dan lengket. Saat ia menoleh dengan mata membelalak, mahasiswi itu memasang ekspresi pura-pura polos tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Ups, sorry... gue enggak sengaja," ucap mahasiswi itu dengan nada meledek yang kentara.
"Lagian lu sih, duduknya halangin jalan. Sumpah, gue beneran enggak liat ada lo di sini."
Belum sempat Luna membuka mulut untuk merespons, Dita sudah lebih dulu meledak. Emosi sahabatnya itu tersulut seketika.
"Mata lo ditaruh di mana, hah?!" bentak Dita tajam, berdiri dan menatap mahasiswi itu sengit.
"Badan kita sebesar ini masih dibilang enggak kelihatan?! Jelas banget lo sengaja nabrak dia!"
Alih-alih meminta maaf, mahasiswi itu justru mendengus meremehkan, melipat tangan di dada.
"Ih, santai aja kali mbak ngegas banget. Kaki gue tadi kan emang agak terkilir, jadi oleng. Lagi pula, si Luna juga enggak kenapa-napa, kan? Cuma ketumpahan jus doang, enggak usah lebay deh!"
Luna menghela napas panjang. Ia tahu betul mahasiswi itu sengaja mencari gara-gara karena iri padanya perihal tempo hari dia terlihat dekat dengan Adrian.
Merasa tidak ingin memperpanjang masalah dan menjadi tontonan satu kantin, Luna lantas menyentuh lengan Dita.
"Udah, Dit... udah, enggak usah dilanjutin," ucap Luna sabar, berusaha menahan sabar.
"Gue enggak apa-apa kok."
"Tapi, Lun! Baju lo kotor banget gitu! Jelas-jelas dia sengaja!" protes Dita tidak terima.
"Enggak apa-apa, nanti juga bisa dibersihin di toilet," balas Luna tenang, meski dalam hati ia merasa risih.
Tanpa mereka sadari, seluruh insiden kecil itu tertangkap jelas oleh sepasang mata abu-abu tajam di sudut ruangan. Moreno, yang sejak tadi terus mengawasi gerak-gerik Luna dari meja gengnya, mendadak menghentikan kunyahannya.
Rahang tegas pria itu mengeras seketika. Tanpa berkata sepatah kata pun, Moreno tiba-tiba bangkit berdiri dari kursinya. Gerakan mendadak itu membuat Dimas dan teman-teman gengnya terkejut.
"Eh, Ren? Mau ke mana lo?" tanya Dimas heran, melihat Moreno melangkah pergi dari meja.
Moreno melirik sekilas dengan tatapan datar, menjawab sekenanya,
"Mau pesan makanan."
Dimas langsung menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, bingung dengan perkataan Moreno. Ia menatap piring Moreno yang isinya bahkan masih utuh. Masak iya mau pesan makanan lagi? Orang makannya aja belum habis... batin Dimas.
Moreno melangkah santai menuju salah satu stan makanan, memesan semangkuk bakso kuah yang masih mendidih dan mengepul panas. Tanpa terburu-buru, ia meletakkan mangkuk itu di atas nampan, lalu berbalik arah dengan gerakan yang terukur.
Matanya secara presisi mengunci keberadaan mahasiswi yang baru saja mencari masalah dengan Luna. Saat mahasiswi itu berjalan hendak keluar dari area kantin, Moreno sengaja melangkah cepat memotong jalurnya.
Bruk! Byur!
Dengan gerakan mantap dan disengaja, Moreno membenturkan tubuhnya tepat ke arah mahasiswi itu, memiringkan nampannya hingga kuah bakso yang masih panas menyiram bagian depan baju gadis itu.
"AAAAKH! PANAS!"
Mahasiswi itu menjerit histeris seraya memegangi dadanya yang kesakitan akibat siraman kuah mendidih. Dengan amarah menyala-nyala, ia berbalik tajam, siap menyemprot dan memaki siapapun orang ceroboh yang telah mencelakainya.
Namun, kalimat makiannya mendadak tertahan di tenggorokan.
Di hadapannya, Moreno berdiri tegap dengan satu tangan berada di dalam saku celana. Dengan sorot mata abu-abu yang dingin dan mengintimidasi, bibir tersenyum miring yang kentara sekali ejekannya.
"Ups... sorry. Gue enggak sengaja," ucap Moreno datar, mengulang persis kalimat yang tadi diucapkan mahasiswi itu kepada Luna.
Melihat sosok Moreno—pria yang ditakuti dan berpengaruh di kampus ini—nyali mahasiswi itu seketika menciut habis. Wajahnya yang semula merah padam karena marah kini berubah pucat pasi.
Sambil meringis menahan perih pada kulitnya yang memerah, mahasiswi itu menunduk takut.
"E-enggak apa-apa, Kak... enggak apa-apa," bisiknya terbata-bata, tak berani menatap mata Moreno sedikit pun sebelum akhirnya ngacir pergi dari kantin.
Atmosfer di seluruh kantin mendadak senyap seketika. Tak ada satu pun mahasiswa yang berani bersuara.
Begitu pula dengan Luna. Gadis itu tertegun membeku di tempatnya, menatap punggung tegap Moreno yang masih berdiri tak jauh darinya.
Dita, yang berada di samping Luna, langsung menyenggol lengan sahabatnya pelan seraya berbisik heboh.
"Lun... gila, Lun! Itu si Moreno barusan sengaja ngebalasin perbuatan cewek tadi ke lo, kan?!"
Luna tidak menjawab sepatah kata pun. Namun, di dalam hatinya juga bertanya-tanya apakah Moreno sedang membelanya saat ini??