Selama tujuh malam, dia memimpikan hal buruk tentang pria yang selama ini dicintainya. Ketika hari lamaran tiba, dia memilih membatalkan perjodohan dan menjadikan Arus, pria berandal yang dibenci warga desa, sebagai alasannya.
Namun, semakin dekat dengan Arus, semakin dia menyadari bahwa pria itu tidak seperti yang orang-orang katakan. Di balik luka dan reputasinya, tersimpan kehidupan yang tak pernah dia bayangkan.
Awalnya hanya pelarian. Tapi bagaimana jika arus yang dia ikuti justru membawanya menemukan cinta yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
"buk garam nya sebungkus"
"eh, nak Alya... Baru pulang ngajar ya...?" tanya ibuk warung.
Alya mengambil garam dan menyodorkan uang...
"ia buk, garam di rumah habis. karena lewat jadi sekalian"
"eh nak Alya, baru pulang dari mengajar" sapa seseorang.
Alya menoleh, melihat juita ibu dari arus.
"eh tante Juita..." sapa Alya.
Juita mendekati wanita itu, ia tak lupa memberi barang di warung untuk menghormati pemilik warung.
Juita memilih milih sayur sambil berkata.
"nak Alya, Tante denger kamu menolak nak Bagas karena arus anak Tante."
mendengar ini Alya langsung menunduk. dia tak menyangka kabar ini sampai ke telinga Juita, padahal awalnya dia hanya menggunakan nama arus karena arus adalah orang yang selalu menyelamatkannya dalam mimpi.
Namun karena sudah begini, Alya tak dapat berbuat apapun lagi.
"benar Tante, aku mencintai arus" ucap Alya akhirnya.
Walau Alya bisa di bilang cukup takut kepada arus, tapi dia tak bisa juga jujur kalau arus hanya sebagai alasannya saja, dia takut jika itu di lakukan pria itu akan merasa di rendahkan.
Juita tak langsung menjawab, ia lebih memilih mengambil beberapa sayuran dan mengajak Alya pulang bersama.
"Tante, biar Alya bawakan" tawarnya.
Juita tersenyum sembari memberikan beberapa keresek ke Alya.
"nak Alya, apa kamu yakin sama arus. Bukan bermaksud menolak, tentu Tante sebagai ibunya sangat ingin arus mendapatkan istri yang baik sepertimu. tapi Tante sebagai ibunya juga tau sifat arus yang sulit di kendalikan, Tante takut kamu malah hanyut terbawa sifatnya."
Alya tau itu, dan hal ini juga yang ia takutkan. Namun jika tak dengar arus, kemungkinan papanya akan memintanya kembali dengan Bagas.
Alya mengangguk yakin..
"Alya yakin Tante, jika suatu hari bisa menjadi istri kak arus Alya akan berusaha mengubah sifatnya."
Juita mengangguk, tentu sebenarnya dia senang anak yang ia pikir tak akan mendapatkan istri itu, malah di lamar oleh gadis terbaik di desa ini.
"kamu benar, kata orang cinta adalah senjata paling bagus untuk mengubah sifat seseorang." ucap Juita.
Tak terasa, mereka sudah berhenti di depan gerbang rumah berlantai 3.
Alya memberikan barang Juita....
"tak ingin masuk dulu..."tawar Juita.
Alya menggeleng....
"tidak usah Tante sepertinya mama sudah menunggu garamnya.."jawabnya sopan.
Juita tersenyum dan melangkah masuk.
Alya yang menunggu Juita benar benar masuk rumah, dia malah melihat Bagas yang ke luar dari rumah arus.
Tatapan keduanya bertemu, terlihat jelas tatapan kecewa yang begitu dalam dari raut wajah Bagas..
Sedangkan Alya tak mau terus menatap pria itu, ia berbalik hendak pulang.
Dari matanya terlihat masih ada rasa cinta saat menatap Bagas, namun rasa takut juga menyertai di matanya..
"ly.... Dari mana...?" basa basi Bagas.
Alya tak berbalik.
"maaf, mamaku menunggu belanjaan di rumah" ucapnya langsung berlalu pergi.
Sedangkan Bagas terus menatap Alya sampai ia masuk ke gerbang rumahnya.
Kebetulan gerbang rumah Alya bisa terlihat dari gerbang rumah arus, karena rumah mereka hanya berjarak beberapa rumah saja.
Bagas menarik napasnya, sedikit dalam.
"bahkan menjawab pertanyaan kecilku kau tak mau, ly.... Sebenarnya apa salahku...?" gumamnya
"loh, gak jadi pulang" ucap seseorang yang menghancurkan lamunan Bagas.
"jadi, ini mau pulang" ungkap Bagas dengan mata masih menatap ke gerbang rumah Alya.
anhar, mengikuti arah tatapan sahabatnya itu.
Walau Bagas lebih muda 2 tahun darinya, tapi Anhar lebih suka bermain dengan Bagas, dari pada teman teman sebayanya.
"sudahlah, jika jodoh tak akan kemana"
Anhar menepuk pundak sahabatnya itu.
Anhar mencoba tersenyum, lalu pamit pergi.
Malam harinya, arus yang tak kelihatan sedari pulang tadi akhirnya keluar kamar sambil menenteng tas.
"mau ke mana lagi" tegur dewangga ayahnya arus.
"mau main." jawabnya singkat.
Walau menjawab, tapi arus sama sekali tak menghentikan langkahnya.
Brak....
Suara meja makan terdengar....
"arus, kamu bukan anak SMA lagi... Sekarang pria sesuai mu pada sibuk nyari kerja, sedangkan kamu hanya main setiap hari...!"
arus tak memperdulikan amarah ayahnya itu, ia tetap melangkah pergi.
Deru motor sport nya akhirnya benar benar meninggalkan rumah.
Dewangga duduk dengan amarah masih meliputi dirinya.
"kenapa anak ini menjadi seperti ini, padahal di keluarga kita tak ada yang seperti itu" kesalnya.
Juita mengelus punggung suaminya itu, agar amarahnya berkurang.
"pa, arus sudah besar. Dia akan sulit mendengarkan nasihat kita, mungkin dia baru bisa berubah jika menjadi suami"
Juita mulai melancarkan aksinya.
"menjadi suami...?"
Juita mengangguk...
"ia, coba lihat anak pak Komar. Dulu dia jarang sekali mau pergi ke kebun, tapi habis nikah. Hampir setiap pagi kita ngeliat dia pergi ke kebun kan.."
"tapi ma, siapa yang mau jadi in dia suami. Sedangkan orang satu desa sudah tau kelakukan anak kita itu"
"pa, ingat Alya gak...?" tanya Juita.
"Alya...? Alya anaknya pak Juan...?"
Juita mengangguk....
"tapi .. mana mau dia arus, Alya itu anaknya pintar dan baik. Walau tak jadi menikah dengan Bagas, tapi masih banyak pria yang mengantri untuk melamarnya. Dari pada memilih arus lebih baik dia memilih pria lain"
"kalo itu mama jamin Alya mau, tadi di warung mama sudah tanya sendiri."
"tanya ke siapa....?"
tanya dewangga ragu.
"ke Alya lah, ke siapa lagi" jawab Juita..
"Mama yakin... Alya iklas menerima..?"
"papa kok ngomongnya gitu, arus itu anak kita Lo. Gitu gitu dia ganteng"
"kalo soal tampang papa, yakin. Tapi sifat...? Mama tau sendiri sifat anak kita, lagi pula nak Alya pasti bukan yang memandang dari fisik"
"percaya deh pa, Alya mau kok..."
"ya sudah, tapi apa Juan mau arus jadi menantunya...?"
Juita mulai menggeser kusinya mendekat.
"nah ini tugas papa, kalok papa yang bilang langsung ke pak Juan, pasti dia gak akan nolak" bujuk Juita.
"enggak enggak...."tolak dewangga.
"ma, pa.... Anhar pamit dulu" ucap Anhar berpamitan.
Kedua orang itu langsung menatap anaknya.
"mau ke mana.... ?" tanya dewangga.
"mau pergi beli hantaran untuk lamaran Anhar besok..." jawabnya.
Mendengar ini, kedua orang tua itu langsung saling menatap.
Karena pembicaraan tentang arus, mereka hampir lupa kalau anak pertamanya ini akan lamaran.
"kamu pergi sama siapa, apa perlu mama temenin untuk memilih barang."
"gak usah ma, Anhar pergi bareng Bagas. Tapi pulangnya mungkin agak malam."
kedua orang tua itu mengangguk....
"ya sudah, kalo begitu bawa mobil... Hati hati juga di jalan, gak usah buru buru" pesan dewangga.
Anhar mengangguk, ia akhirnya berjalan pergi.
Sedangkan di rumah Alya, kini dia tengah terduduk merenung di kamar.
Perasaannya gelisah, apa lagi setelah melihat Bagas tadi siang.
Di luar pintu kamar, ana melihat putrinya yang hanya melamun itu. Sebelum akhirnya ia melangkah masuk.