"Kamu yang menginginkan pernikahan ini. Jadi jangan salahkan aku setelah aku tidur denganmu. Besok aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai!"
Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar hatiku. Ijab kabul baru saja dilontarkan oleh lelaki yang kucintai sejak dulu, Danu Saliyo.
Aku tidak pernah menyangka, menjadi istrinya justru membuatku harus berbagi suami dengan wanita yang dicintainya.
Hingga akhirnya aku memilih berhenti mencintai Danu.
Namun, semua tak berjalan sesuai keinginanku, sekarang waktunya ia mengejarku.
Bagaimana cerita selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 POv dinda
Aku menatap matahari yang mulai berubah kekuningan. Senja kembali menyapa. Tanpa terasa, aku sudah berada di Ujung Kulon selama satu bulan penuh. Aku bersyukur karena sakit hati yang dulu begitu menyiksa perlahan-lahan mulai mereda.
Ternyata benar, kesibukan bisa membantu seseorang melewati masa sulit. Setiap hari aku disibukkan dengan berbagai kegiatan sebagai relawan medis. Aku membantu memeriksa kesehatan warga, memberikan pengobatan kepada mereka yang membutuhkan, serta ikut dalam pelayanan kesehatan ke daerah-daerah yang cukup jauh dari fasilitas medis. Terkadang, aku bahkan harus menghabiskan sebagian besar waktuku untuk menangani warga yang datang silih berganti.
Meski melelahkan, pekerjaanku memberiku banyak hal berarti. Aku bisa menggunakan ilmu yang kupelajari untuk membantu orang lain sekaligus memberi diriku kesempatan untuk menata kembali perasaan yang sempat berantakan.
Awalnya memang tidak mudah. Ada kalanya kenangan masa lalu datang begitu saja, terutama ketika malam tiba dan semua kegiatan sudah selesai. Namun, perlahan-lahan aku mulai terbiasa menjalani hari tanpa terus memikirkan apa yang sudah terjadi.
Aku juga belajar memahami bahwa tidak semua hal yang kuinginkan harus kumiliki. Terkadang, melepaskan sesuatu yang selama ini kupertahankan justru menjadi cara terbaik untuk menemukan ketenangan.
Aku mengembuskan napas panjang, lalu mengalihkan pandangan dari matahari yang semakin rendah. Setidaknya, sekarang aku tidak lagi terus-menerus menyalahkan diri sendiri atas sesuatu yang tidak bisa kuubah.
"Din, kamu melamun lagi?"
Suara Siska membuatku menoleh. Sahabatku itu berjalan menghampiri sambil membawa dua gelas minuman.
Satu minggu setelah aku tiba di Ujung Kulon, Siska menyusul untuk ikut menjadi relawan. Aku senang dengan kehadirannya karena pekerjaan terasa lebih menyenangkan ketika ada sahabat yang bisa diajak berbagi cerita. Namun, ada satu hal yang terkadang membuatku geleng-geleng kepala. Kakaknya yang bernama Tegar ternyata ikut menjadi relawan juga.
Aku teringat kejadian beberapa waktu lalu ketika Danu meneleponku. Saat itu, dia mendengar suara Tegar di dekatku dan langsung marah. Perubahan nada bicaranya sempat membuatku heran, tetapi aku tidak ingin memperpanjang masalah itu dalam pikiran. Aku sudah cukup lelah memikirkan persoalan yang sama dan tidak ingin kembali terjebak di dalamnya.
Aku tersenyum kecil pada Siska. "Nggak. Aku cuma menikmati senja."
"Menikmati senja atau mengenang masa lalu?" godanya sambil menyodorkan satu gelas kepadaku.
Aku menerima minuman itu, lalu meliriknya malas. "Kamu ini, memangnya aku nggak boleh menikmati senja tanpa memikirkan masa lalu?"
"Boleh, dong. Aku cuma memastikan saja." Siska duduk di sampingku. "Soalnya, dulu setiap kali kamu melamun, ujung-ujungnya pasti memikirkan masalah yang sama."
Aku terkekeh kecil. "Sekarang sudah nggak lagi. Aku sudah capek memikirkan sesuatu yang cuma bikin pusing."
Siska langsung menoleh dengan ekspresi terkejut. "Wah, perkembangan yang bagus! Akhirnya sahabatku ini mulai bisa menikmati hidup."
"Memangnya selama ini aku nggak menikmati hidup?"
"Menikmati, sih. Tapi kadang-kadang wajahmu kelihatan seperti orang yang habis kehilangan separuh dunia."
Aku tertawa mendengar komentarnya. "Kamu memang nggak bisa kalau nggak meledek, ya?"
"Kalau nggak meledek kamu, hidupku kurang berwarna."
Aku menggeleng sambil tersenyum. Ada benarnya juga perkataan Siska. Selama ini, aku terlalu sibuk memikirkan persoalan pribadi sampai terkadang lupa menikmati hal-hal sederhana di sekitarku.
"Sudahlah, jangan bahas yang aneh-aneh. Aku sedang menikmati hidupku yang sekarang," kataku sebelum menyesap minuman.
"Nah, begitu dong!" Siska menepuk bahuku. "Lagian, masih banyak hal yang bisa kamu lakukan di sini. Besok kita juga ada kegiatan pemeriksaan kesehatan bersama warga. Jangan sampai kamu malah malas bangun pagi karena terlalu lama menikmati senja."
"Siap, Dokter Siska!" jawabku bercanda.
Siska tertawa mendengar jawabanku. Aku pun ikut tertawa, menikmati sore yang terasa begitu menyenangkan.
Sejak berada di Ujung Kulon, aku kembali menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana. Ada kepuasan tersendiri setiap kali berhasil membantu warga yang membutuhkan pengobatan. Aku juga bisa bercanda bersama teman-teman tanpa harus terus dibayangi persoalan pribadi.
Hidupku ternyata tidak harus selalu berpusat pada satu orang. Masih banyak hal berharga yang bisa kulakukan dan banyak orang yang bisa kubantu.
"Din, Sis, kalian belum pulang?"
Aku menoleh ketika Tegar tiba-tiba muncul sambil membawa beberapa bungkus makanan ringan. Entah sejak kapan dia berada di sana. Kedatangannya membuat Siska langsung mengalihkan perhatian dari gelas kosong di tangannya.
"Kakak dari mana?" tanya Siska.
"Baru dari tempat relawan lainnya. Tadi ada yang mengajak ngobrol, jadi agak lama." Tegar meletakkan makanan yang dibawanya di atas meja, lalu melirikku. "Kalian sudah makan?"
"Sudah, Kak," jawabku.
"Makan malam, maksudku."
Aku terdiam sebentar, lalu menggeleng. "Belum."
"Nah, kan!" Siska langsung menyahut. "Aku juga belum makan malam. Kakak bawa makanan, ya?"
Tegar menghela napas melihat adiknya yang langsung bersemangat. "Kamu ini kalau dengar makanan memang paling cepat."
"Daripada dengar ceramah Kakak, lebih baik makan."
Aku spontan tertawa mendengar jawaban Siska. Tegar hanya menggeleng, lalu mengeluarkan beberapa bungkus makanan dari kantong plastiknya.
"Aku tadi beli lebih. Kalau kalian belum makan, ambil saja."
Siska langsung mengambil satu bungkus, sedangkan aku masih duduk sambil memperhatikan mereka.
"Din, ini buat kamu." Tegar menyodorkan sebungkus makanan kepadaku. "Tadi aku lihat kamu sibuk seharian. Jangan sampai lupa makan."
Aku menerima makanan itu sambil tersenyum. "Terima kasih, Kak."
"Sama-sama."
Setelah membagikan makanan, Tegar ikut meladeni ocehan Siska yang mengeluh karena pilihan camilannya tidak sebanyak yang dia inginkan.
"Kak, kenapa punyaku cuma satu?"
"Karena kamu sudah mengambil satu sebelum dibagikan."
"Itu beda!"
"Bedanya di mana?"
Aku kembali tertawa melihat mereka berdebat. Sepertinya, di mana pun berada, Siska dan kakaknya memang tidak bisa menghabiskan waktu tanpa saling mengusik.
"Kalian kalau bertengkar bisa sampai besok, ya?" godaku.
Siska langsung menoleh kepadaku. "Din, kamu jangan membela Kak Tegar. Dia memang suka mencari masalah denganku."
"Lho, aku cuma menjawab pertanyaanmu," sahut Tegar santai.
"Sudah, sudah. Aku tidak mau ikut campur," kataku sambil mengangkat kedua tangan.
Tegar tertawa kecil. "Bagus. Jangan ikut-ikutan adikku. Nanti kamu ikut pusing."
"Memangnya Kakak tidak pusing menghadapi Siska setiap hari?" tanyaku.
"Pusing, sih. Tapi mau bagaimana lagi? Dia adikku sendiri."
"KA-KAK!"
Aku dan Tegar langsung tertawa melihat Siska yang protes keras. Melihat tingkah mereka, aku ikut merasa senang. Obrolan ringan seperti ini membuatku bisa menikmati waktu tanpa harus membahas persoalan yang selama ini membebani pikiran.
Setelah menghabiskan makanan, aku membantu membereskan bungkus-bungkus yang tersisa. Tegar sempat mengambil beberapa bungkus dari tanganku dan membuangnya ke tempat sampah.
"Biar aku saja, Din."
"Nggak apa-apa, Kak. Aku bisa sendiri."
"Aku tahu kamu bisa. Tapi tempat sampahnya memang mau kubuang sekalian."
Aku mengangguk dan membiarkannya membantu. Tegar memang sudah lama bersikap baik padaku. Aku menganggapnya sebagai kebaikan seorang kakak pada sahabat adiknya, jadi aku tidak pernah berpikir terlalu jauh tentang sikapnya.
"Besok kalian ada jadwal pemeriksaan kesehatan lagi, kan?" tanya Tegar setelah selesai membereskan meja.
"Iya, Kak. Pagi-pagi kami harus berangkat ke daerah sebelah."
"Kalau begitu, jangan tidur terlalu malam. Perjalanan ke sana lumayan jauh."
"Siap, Kak," jawabku sambil tersenyum.
Kami pun akhirnya memilih untuk kembali ke kamar masing-masing. Namun, saat bangkit dari tempat duduk, tiba-tiba kepalaku terasa pusing dan perutku bergejolak. Aku mencoba bertahan sambil mengatur napas, tetapi pandanganku justru berkunang-kunang.
Tubuhku sempoyongan hingga hampir terjatuh. Untungnya, Kak Tegar yang berdiri tidak jauh dariku langsung sigap menangkap tubuhku.
"Din, kamu nggak apa-apa?" tanyanya khawatir.
Aku belum sempat menjawab. Tangannya masih menahan tubuhku agar tidak terjatuh, sementara aku berusaha menenangkan diri. Posisi kami mungkin terlihat seperti sedang berpelukan bagi siapa pun yang melihatnya.
Saat itulah, suara yang sangat kukenal terdengar dari arah belakang.
"Kalian ngapain?"
mantan suami pecundang🙄🙄
km selalu mnyudutkn dan mnyalahkn dinda.... atas smua yg trjadi... pdahal dinda gak melakukn ksalahan....
krna smuanya demi perempuan trcintamu....🙄🙄🙄
ap km g makin nyesel tuh.... sdh brp ratus kata mnyakitkn yg km tancapkn ke hati dinda...