NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / One Night Stand / Menikahi tentara
Popularitas:47
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*

Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:

> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26

Suara dari Masa Lalu

Tiga hari setelah serangan, gosip sudah tiba lebih dulu daripada koran pagi.

Bu Rahayu membuka pintu pagar dan menemukan dua perempuan berhenti bicara di seberang jalan. Keduanya pura-pura memeriksa sayur ketika melihatnya.

"Kalau mau bertanya, datang minum teh," kata Bu Rahayu. "Jangan membuat leher sakit karena mengintip."

Kedua perempuan itu segera pergi.

Laras yang berdiri di teras membawa keranjang cucian menahan senyum. "Ibu membuat mereka takut."

"Ibu cuma kasihan pada leher mereka."

Ponsel Bu Rahayu berbunyi. Grup keluarga prajurit kembali ramai.

`Katanya menantu baru Pak Hardjono tidak jelas keluarganya.`

`Ada yang bilang dia masuk kamar Bram sebelum menikah.`

`Tapi serangan preman itu benar. Tania sedang diperiksa.`

Bu Rahayu mengetik jawaban singkat.

`Laras adalah korban dalam perkara yang sedang diproses. Keluarga kami mengenal kebenarannya. Tolong jangan menyebarkan data pribadi atau dugaan.`

Setelah mengirim, ia mematikan suara ponsel.

"Ibu tidak perlu membela saya setiap saat."

"Ini bukan hanya membela. Grup itu harus diingatkan agar tidak berubah menjadi pasar gosip."

"Tapi Ibu bisa ikut dijauhi."

Bu Rahayu mengambil keranjang dari tangan Laras. "Ibu sudah hidup cukup lama untuk tahu siapa yang layak dipertahankan. Tetangga yang pergi karena tidak boleh bergosip bukan kehilangan besar."

Laras tertawa, tetapi kegelisahan tetap bersembunyi di bawah dadanya.

Setiap kali gerbang berbunyi, ia menoleh. Setiap nomor baru muncul, telapak tangannya dingin. Tangkapan layar yang diterima Bram menunjukkan seseorang menanyakan nama Pak Rusdi di beberapa grup daerah.

Belum ada jawaban yang jelas.

Itulah yang justru menakutkan.

Pak Hardjono keluar membawa koran, lalu duduk di kursi teras. "Orang yang mencari data pribadi biasanya berharap kita panik dan membuat kesalahan. Jangan jawab nomor asing dengan informasi apa pun."

"Kalau mereka menghubungi Ibu atau Bapak?" tanya Laras.

"Kami catat, simpan, lalu serahkan kepada polisi."

"Bapak tidak takut nama keluarga ikut terseret?"

Pak Hardjono melipat korannya. "Nama keluarga bukan benda porselen yang pecah karena omongan tetangga. Nama dijaga oleh tindakan. Kalau kami meninggalkanmu demi terlihat bersih, justru saat itu nama kami kotor."

Laras tidak mampu langsung menjawab. Ia hanya duduk di samping lelaki tua itu, menerima secangkir teh yang disodorkan tanpa banyak kata.

***

Siang itu Laras mencoba bekerja di meja makan.

Ia menggambar pola atasan sederhana untuk kemungkinan usaha kecil. Di samping buku sketsa, terdapat catatan harga kain, benang, ongkos jahit, dan uang simpanan yang boleh dipakai tanpa menyentuh dana darurat.

Bik Inah meletakkan semangkuk rujak. "Makan dulu, Mbak. Dari tadi pensilnya diputar, garisnya tidak bertambah."

"Kelihatan sekali saya melamun?"

"Sampai pensilnya mungkin pusing."

Laras mengambil sepotong mangga. "Bik, kalau ada orang datang mencari saya, jangan buka pagar. Panggil Bapak atau Ibu."

"Sudah dipesankan Mas Bram. Satpam depan juga sudah pegang foto orang yang dilarang masuk."

"Foto siapa?"

"Tania dan para lelaki itu. Bukan foto orang tua angkat Mbak, karena kami belum punya."

Laras mengangguk. Ia belum pernah menyimpan foto Pak Rusdi di ponsel barunya. Foto keluarga lama tertinggal bersama barang-barang yang tidak sempat dibawa.

"Kalau seseorang mengaku keluarga saya?"

"Tetap tidak dibuka. Keluarga yang baik tidak keberatan menunggu diperiksa."

Jawaban sederhana Bik Inah membuat bahu Laras sedikit ringan.

Bel rumah berbunyi tidak lama kemudian. Laras dan Bik Inah saling menatap.

"Saya cek dari jendela," kata Bik Inah.

Ternyata kurir membawa kain pesanan. Meski aman, Laras baru sadar napasnya tertahan. Ia memaksa diri mendampingi Bik Inah menerima paket dari balik pagar, memeriksa nama pengirim, lalu menandatangani sendiri.

"Satu bel, satu latihan," gumamnya.

"Besok pasti lebih mudah," kata Bik Inah.

Laras membuka paket di meja. Warna biru tua di dalamnya mengingatkan pada seragam Bram. Ia mulai menggambar kombinasi kerah baru, dan untuk hampir satu jam, ketakutan tidak memegang pensilnya.

***

Bram pulang menjelang magrib dengan seragam berdebu dan sebungkus martabak.

"Suap agar istri tidak marah karena saya terlambat," katanya.

"Saya belum marah."

"Berarti saya datang terlalu cepat."

Laras menyambutnya dengan tangan terlipat. "Kapten Bramantya, jangan membuang uang negara untuk lelucon buruk."

"Martabak dibeli pakai uang pribadi yang pengelolaannya dipegang istri. Secara teknis, kamu yang menyuap dirimu sendiri."

Bu Rahayu yang lewat menggeleng. "Baru menikah sudah pintar cari celah."

Mereka makan bersama di teras belakang. Pak Hardjono bercerita tentang Kinan yang meminta resep sambal melalui telepon tetapi akhirnya memesan makanan daring. Bram diam-diam memindahkan potongan martabak paling banyak cokelat ke piring Laras.

Di tengah makan, Bram memberi kabar bahwa rumah dinas mereka sudah siap ditempati dalam beberapa hari.

"Pagar dan penjagaannya lebih teratur," katanya. "Tetapi keputusan pindah tetap kita bicarakan bersama."

Bu Rahayu menghela napas. "Rumah ini akan sepi."

"Kami masih di Malang, Bu," kata Laras. "Dan saya akan sering datang mengambil masakan Bik Inah."

"Jadi yang dirindukan masakannya?"

"Ibu juga. Tapi masakan lebih mudah dibungkus."

Tawa kecil mengalir di meja. Rencana pindah memberi Laras sesuatu yang konkret untuk dipikirkan selain siapa yang sedang mencari masa lalunya.

"Saya lihat," bisik Laras.

"Saya tidak melakukan apa-apa."

"Kamu bahkan buruk dalam berbohong soal makanan."

"Bagus. Berarti kalau saya berbohong soal hal besar, kamu langsung tahu."

Kalimat itu terdengar santai, tetapi Laras memahami maksudnya. Tidak ada rahasia yang sengaja disimpan tentang pencarian Pak Rusdi. Bram menunjukkan setiap perkembangan, bahkan ketika tidak ada hasil.

Setelah makan, mereka masuk kamar. Bram membuka kancing atas seragam dan duduk di tepi ranjang.

"Hari ini bagaimana?"

"Dua tetangga mengintip. Ibu mengusir dengan kekuatan leher sakit."

"Senjata baru keluarga Adiprawira."

Laras berdiri di antara lututnya dan merapikan kerah seragam. "Saya tidak mau terus bersembunyi di rumah. Besok saya ingin ke pasar lagi."

"Saya tidak akan melarang. Tapi saya antar atau ada yang menemani. Sampai para pelaku ditahan resmi dan ancaman dinilai turun."

"Itu pengamanan atau posesif?"

"Pengamanan. Kalau posesif, saya akan memasukkanmu ke saku seragam."

"Sakumu terlalu kecil."

Bram memeluk pinggangnya. "Itu masalah yang bisa diatasi bagian perlengkapan."

Laras mencubit telinganya, lalu membiarkan kepala Bram bersandar di perutnya. Keheningan di antara mereka tidak lagi terasa canggung.

"Mas Bram."

"Hm?"

"Kalau Pak Rusdi ditemukan, saya tidak tahu apakah saya ingin melihatnya."

"Kamu tidak wajib."

"Tapi kalau saya tidak melihat, dia akan tetap menjadi bayangan."

"Kamu boleh memutuskan setelah dia benar-benar ada di depan pintu hukum, bukan pintu rumah kita."

Laras mengusap rambut pendeknya. "Rumah kita."

Bram mengangkat wajah. "Ada yang salah?"

"Tidak. Saya suka mendengarnya."

Ia menarik Laras duduk di pangkuannya. Ciumannya singkat, hangat, tanpa tuntutan. Laras membalas, lalu menyandarkan dahi ke dahinya.

Ponsel Laras berdering.

Nomor tidak dikenal.

Tubuhnya langsung kaku.

Bram tidak merebut ponsel itu. "Mau diangkat?"

"Kalau bukan dia, saya tidak mau takut selamanya."

Laras menyalakan pengeras suara dan merekam panggilan. Bram duduk di sampingnya.

"Halo?"

Beberapa detik hanya terdengar napas berat.

Kemudian sebuah suara yang sudah bertahun-tahun menguasai mimpi buruknya masuk melalui pengeras suara.

"Larasati... Bapak tahu kamu di mana sekarang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!