NovelToon NovelToon
After The Last Goodbye

After The Last Goodbye

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fhatt Trah

Di balik gemerlap kariernya sebagai aktor papan atas, Ethan Voss menyimpan rahasia besar: pernikahan tanpa cinta bersama Mia Taylor. Pernikahan yang lahir dari utang budi itu terikat perjanjian ketat—dirahasiakan dari publik, tanpa keterikatan emosional, dan wajib berakhir dalam empat tahun.

Selama empat tahun, Mia bertahan hidup bagai bayangan. Ia menelan dinginnya sikap Ethan dan rasa sakit saat melihat pria itu memamerkan kemesraan bersama kekasihnya di media. Saat masa perjanjian usai, Mia pergi dengan tenang, meninggalkan Ethan yang mengira dirinya telah bebas.

Namun, kepergian Mia justru menyisakan kehampaan mendalam. Setelah menemukan rahasia pengorbanan tulus sang mantan istri, Ethan sadar ia telah membuang cinta sejatinya.

Situasi makin rumit dengan hadirnya Liam, investor besar yang selalu ada untuk Mia setelah perceraian. Dengan ketulusannya, Liam siap melindungi Mia dan menjadi saingan berat Ethan yang ingin merebut kembali hati sang mantan istri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Sup Hangat Dan Hati Yang Patah

Keputusan dingin itu sudah terucap. Jane berdiri dari kursinya, merapikan mantel mewahnya tanpa mengumbar kata-kata manis.

“Aku pegang janji itu, Ethan. Jaga kesehatanmu, kita bicara lagi kalau kondisimu sudah benar-benar pulih,” ujar Jane singkat sebelum berbalik dan melangkah keluar kamar.

Begitu pintu VIP tertutup, Ethan memejamkan mata rapat-rapat. Ruangan kembali senyap, menyisakan kekosongan yang amat sangat. Keputusannya baru saja mengunci takdirnya sendiri, namun hatinya terasa kian remuk.

Di luar, Marcus yang baru selesai bertelepon dengan tim humas menyapa Jane sekilas sebelum kembali melangkah menuju kamar Ethan.

Namun, langkahnya terhenti di dekat belokan koridor. Ia melihat sebuah kantong kertas kecil tergeletak di lantai, tepat di samping pintu kamar.

Marcus mengernyit, melangkah mendekat dan memungutnya. Di dalamnya terdapat wadah sup hangat yang masih menguarkan uap tipis, lengkap dengan selipan catatan kecil yang ditulis tangan.

Ia mengenali tulisan itu.

Dengan langkah cepat, ia mendorong pintu VIP.

“Ethan,” panggilnya dengan suara tertahan.

Ethan membuka mata perlahan, menatap manajernya dengan pandangan layu. “Ada apa lagi, Marcus?”

Marcus berjalan mendekat tanpa bersuara, lalu meletakkan kantong kertas itu di atas meja samping tempat tidur Ethan.

“Ini tertinggal di luar pintu.”

Dahi Ethan berkerut. Matanya bertaut pada wadah sup tersebut, lalu tangannya yang gemetar meraih kertas kecil di sebelahnya. Tulisan tangan yang sangat familiar terukir di sana:

'Cepat sembuh, Ethan.'

Seketika, darah Ethan terasa berhenti mengalir.

“Mia...” bisik Ethan parau. Tatapannya beralih menatap Marcus dengan mata membelalak penuh kesadaran yang menghantamnya hebat.

“Dia... dia datang ke sini?”

Marcus mengangguk pelan, wajahnya dipenuhi rasa iba.

“Kurasa begitu. Dan melihat barang ini tergeletak di lantai dekat pintu... dia pasti mendengar obrolanmu dengan Jane.”

Pernyataan Marcus bagaikan petir yang menyambar Ethan di tengah malam. Rasa pening yang tadi menghimpit kepalanya mendadak sirna, tergantikan oleh kepanikan luar biasa.

Mia ada di sana.

Mia mendengar semuanya.

“Tidak... tidak bisa begini!” Ethan mencabut jarum infus di tangannya tanpa memedulikan rasa sakit atau tetesan darah yang mulai keluar dari punggung tangannya.

“Ethan! Apa yang kamu lakukan?! Kamu belum pulih!” teriak Marcus panik, mencoba menahan bahu sang aktor.

“Lepaskan aku, Marcus! Dia salah paham!” jerit Ethan frustrasi. Dengan tenaga tersisa, ia memaksakan tubuhnya bangkit dari ranjang, mengabaikan pandangannya yang sempat menggelap akibat pening berlebih.

Ethan menerobos keluar kamar VIP, mengabaikan panggilan Marcus dan tatapan kaget para pengawal di luar pintu.

Dengan langkah tertatih dan napas memburu, ia berlari menyusuri koridor rumah sakit yang dingin, mencari sosok wanita yang baru saja menghancurkan hatinya sendiri di balik kaca ruangan tadi.

****

Mia duduk bersandar di kursi belakang taksi, menatap kosong ke luar jendela. Kedua tangannya yang berada di atas pangkuan gemetar hebat. Rasa sesak di dadanya terasa begitu meremas, hingga untuk menarik napas pendek pun terasa amat menyakitkan.

Suara dingin Ethan saat mengiyakan tawaran Jane di dalam kamar VIP tadi masih bergema berulang kali di kepalanya, menghantam setiap sudut hatinya tanpa ampun.

Dia benar-benar memilih Jane.

Mia memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan satu tetes air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh membasahi pipi. Wadah sup hangat yang ia siapkan sejak subuh tadi, yang kini tertinggal begitu saja di lantai koridor rumah sakit menjadi saksi bisu betapa bodohnya ia yang sempat berharap bahwa Ethan masih memiliki ruang untuknya.

Ia memeluk tasnya erat-erat dan menyandarkan dahi pada dinginnya kaca jendela taksi, membiarkan keheningan malam menelan seluruh rasa sakit yang tak sanggup ia ucapkan dengan kata-kata.

Sementara itu tepat di depan lobi utama rumah sakit, Ethan menerobos pintu kaca dengan napas tersengal. Punggung tangannya masih meneteskan darah akibat jarum infus yang ditarik paksa. Pandangannya menyapu area luar yang dipenuhi kilatan lampu kamera para wartawan.

“Mia!” teriak Ethan parau, mengabaikan serbuan pertanyaan dan sorotan kamera yang mendadak mengarah padanya.

Matanya sempat menangkap bayangan sebuah taksi kuning yang perlahan melaju meninggalkan pelataran rumah sakit.

Ia mencoba melangkah maju untuk mengejarnya, namun tubuhnya yang belum pulih kehilangan keseimbangan. Pandangannya menggelap mendadak, dan sebelum tubuhnya ambruk ke atas aspal, Marcus bersama tim pengawal berhasil menangkap bahunya.

Sementara dari balik jendela taksi yang terus menjauh, Mia tidak pernah menoleh ke belakang.

****

Pintu kaca lobi rumah sakit bergetar hebat saat para wartawan merangsek maju, mencoba mengambil foto Ethan yang setengah pingsan di pelukan Marcus dan tim pengawal. Jepretan kamera dan kilatan flash membelah kegelapan malam, menciptakan kericuhan yang tak terkendali.

“Amankan Ethan! Bawa masuk kembali ke dalam!” perintah Marcus tegas, suaranya panik melihat darah dari punggung tangan Ethan semakin banyak menetes ke lantai keramik lobi.

Para pengawal langsung membentuk barikade ketat, mendorong mundur kerumunan media yang terus melempar pertanyaan beruntun.

Ethan, yang kesadarannya berada di ambang batas, hanya bisa menatap sayu ke arah jalan raya. Lampu belakang taksi kuning yang membawa Mia perlahan menghilang di balik tikungan, menyisakan kegelapan yang kian pekat.

“Mia...” gumam Ethan sangat pelan, sebelum akhirnya pandangannya benar-benar gelap gulita.

Sementara itu, taksi yang ditumpangi Mia terus membelah keheningan jalanan kota. Sang sopir sesekali melirik dari kaca spion tengah, merasa prihatin melihat penumpang wanitanya yang duduk mematung dengan bahu berguncang pelan.

Tiba-tiba, ponsel di dalam tas Mia bergetar tanpa henti. Nama 'Marcus' tertera di layar.

Ia menatap nama itu cukup lama. Hatinya yang hancur menolak untuk mendengar penjelasan apa pun lagi. Ia tahu Marcus pasti akan membela Ethan, atau mungkin menyampaikan pesan dari aktor besar itu.

Namun, kebenaran yang baru saja ia dengar secara langsung di luar pintu VIP sudah cukup untuk memusnahkan seluruh harapannya.

Dengan air mata yang berlinang, ia menggeser tombol merah dan mematikan daya ponselnya seketika.

Ia melemparkan ponsel itu kembali ke dalam tas. Ia tidak ingin dihubungi. Ia tidak ingin ditemukan.

“Nona, kita sudah sampai.” Suara sopir taksi memecah keheningan, menghentikan kendaraan tepat di depan gerbang kontrakan kecil milik Mia.

Mia menyapu air matanya cepat-cepat, lalu menyerahkan beberapa lembar uang kertas tanpa memedulikan kembaliannya.

“Terima kasih, Pak.”

Ia melangkah turun dan menyusuri gang sempit menuju rumahnya. Setiap langkahnya terasa begitu berat, seolah-olah seluruh tenaganya telah terkuras habis di koridor rumah sakit tadi.

Begitu pintu rumah kayu itu terkunci rapat dari dalam, pertahanannya runtuh sepenuhnya. Ia terduduk merosot di balik pintu, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut, dan membiarkan tangisnya pecah memecah kesunyian malam.

Sementara di tempat yang berbeda, di dalam kamar VIP yang kini kembali dijaga ketat, dokter dan perawat sibuk menangani Ethan yang terbaring tak sadarkan diri dengan selang oksigen dan infus baru yang terpasang.

Marcus berdiri di sudut ruangan dengan wajah pucat, menatap ponselnya yang hanya menghasilkan nada tidak aktif saat menghubungi nomor Mia.

–tbc–

1
sunaryati jarum
Thank Thoor happy endingnya
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): sama²😊😊 thank you udah membersamai perjalanan cinta Liam dan Mia👌🏻😊
total 1 replies
sunaryati jarum
Nikmati kesombongan kamu Jane
sunaryati jarum
Tandingan di publik
sunaryati jarum
Benarkan Jane salah memilih lawan
Tiara Bella
otw thor hehehhe....
Tiara Bella
wow Liam aku padamu banget ini.....
Tiara Bella
penyesalan mu tak ada artinya lg Ethan.....
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): udah telat ya😊
total 1 replies
Tiara Bella
apakah mw mendekati tamat
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): seperti itu😊
total 1 replies
Tiara Bella
aneh si Jane ini kenapa ngerang Mia pdhal ada Liam ada dibelakang Mia....
Tiara Bella
bagus aku suka ceritanya....
Tiara Bella: sama² thor😍/Kiss/
total 2 replies
Tiara Bella
nh gitu cewek klu lg ngambek disun jg Bakalan lumer dia.......Pepet trs liam
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): 🤭🤭🤭 langsung melting
total 1 replies
Tiara Bella
wow Mia aku padamu...😍/Kiss/
Tiara Bella
aku Herman sm Jane Ethan yg salah kenapa yg diserang malah Mia ya.....
sunaryati jarum
Kamu yang akan hancur,Jane.Kau menyerang Mia, berarti menantang Liam.Kau terlalu sombong dan merasa lebih kuat Jane.Mia sekarang lebih kuat,dia juga banyak bukti apalagi dibantu Liam kamu sendiri yang gali lubang untuk kuburmu,ingat Mia itu korban ,selama empat tahun.Dii selama empat tahun mengalah, menerima,dan pasrah tanpa dendam,tapi kamu malah memojokkan Jane, saat ini kemenangan harus milik Mia
sunaryati jarum
Lawan pemberitaan yang dibuat Jane,itu hanya akan menghancurkanh karier Ethan Voss
sunaryati jarum
Jangan goyah , tetep keluarkan pernyataan sesuk realita dengan kemampuan intelektual kamu ,Mia.Beliau hanya menguji nyalimu
sunaryati jarum
Penampilan tenang dan jawaban jujur.Sepertinya penilaian pertemuan pertama oleh Tuan dan Ny Vance positif
sunaryati jarum
Akhirnya keraguan Mia lenyap dan menerima lamaran ,Liam.Semoga acara pernikahan berjalan lancar
sunaryati jarum
Nah ,begitu Mia.Kena provokasi Jame bikin dia makin merasa di atas.Besok berjalan berdua dengan Liam,di depan Jane, untuk membungkam mulutnya yang julid.Mia, korban dari Ethan, yang perlu kau peringatkan itu , Ethan agar jangan mengganggu kehidupan Mia
sunaryati jarum
Jika kamu pergi Jane akan betepuk tangan kemenangan, dengarkan dulu penjelasan Liam,jangan merasa insecure karena provokasi Jane.Bicara dari hati ke hati Mia, orang tua Liam sudah member restu beliau tidak memandang status sosial kamu.Dinginkan kepalamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!