Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.
Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.
Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.
Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?
Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Suara deru mesin SUV hitam legam itu meraung pelan, membelah terik siang kota yang menyengat hingga ke ubun-ubun. Tepat pukul dua belas lewat lima belas menit, kendaraan tersebut meluncur parkir di balik rimbunnya pohon ketapang di ujung jalan samping sekolah, sebuah titik buta yang steril dari pengawasan Pak Heri maupun kamera CCTV yang kabelnya sudah putus separuh.
Alea melompat masuk ke kursi penumpang depan dengan kelincahan yang nyaris bisa menyaingi pencuri profesional yang baru saja sukses membobol brankas. Ia melempar tas punggungnya ke jok belakang, lalu buru-buru merogoh saku rok, memindahkan gepokan uang hasil berjualan remahan kue ke dalam dompet kanvasnya yang warnanya sudah pudar dan sedikit dekil.
"Oke, Bos Arka!" seru Alea bersemangat, merapikan kerah seragamnya sambil menatap lembaran uang merah dan biru di telapak tangan.
"Argo waktu kerja paruh waktu gue resmi dimulai detik ini juga. Jadi, cepat jelaskan, bisnis apa yang mau lo tawarkan sampe harus 'menculik' gue keluar sekolah? Asal lo tau, kalau urusannya menyangkut pencucian uang atau penyelundupan organ dalam, tarif jasanya naik dua kali lipat!"
Arka duduk di balik kemudi, seragam kemeja lengan panjangnya digulung rapi hingga siku. Ia hanya melirik sekilas ke arah gadis di sebelahnya. Sudut bibirnya berkedut tipis, menahan seringai geli yang hampir lolos melihat bagaimana Alea selalu mengukur segala sesuatu di dunia ini dengan kacamata ekonomi kelas teri.
"Bukan pencucian uang," jawab Arka tenang sambil memasukkan persneling, lalu melajukan mobilnya dengan halus meninggalkan area sekolah.
"Gue hanya butuh lo buat temani gue ke suatu tempat untuk membeli sesuatu."
Alea langsung menyipitkan matanya penuh kecurigaan. Ia menoleh menatap tajam profil samping pemuda itu.
"Beli sesuatu? Jangan bilang lo mau ngajak gue ke mal mewah terus nyuruh gue jadi stuntman uji coba baju antipeluru? Atau lo mau manfaatin gue sebagai perisai hidup jika tiba-tiba ada yang datang melempar granat?!"
"Jangan kebanyakan nonton drama," balas Arka datar, pandangannya tetap lurus menembus kaca depan.
"Gue hanya butuh seseorang yang memiliki selera ekonomi paling realistis sedunia untuk bantu gue milih sebuah barang."
"Wah, pujian macam apa itu, njir?!" protes Alea mendengus kesal, melipat kedua tangannya di dada.
"Tapi ngomong-ngomong, kita mau ke mana, sih? Jalurnya bukan ke pusat kota atau mal elite, kok makin masuk ke kawasan pertokoan tua ya?"
SUV itu kini memasuki distrik komersial lama, area pertokoan peninggalan era kolonial yang bangunannya didominasi arsitektur art deco bercat pudar, deretan toko kelontong oriental dengan pintu besi berkarat, serta papan nama yang tulisannya nyaris tak terbaca dimakan usia.
Di sinilah pusat barang loak, onderdil mesin bekas, toko barang antik misterius, dan pasar grosir rempah tertua di kota itu berkumpul.
Arka membelokkan kendaraannya ke halaman parkir sempit di samping gedung tua berlantai tiga, lalu mematikan mesin.
"Turun," titahnya singkat, namun nadanya tidak kasar, lebih terdengar seperti ajakan yang tidak perlu dibantah.
Begitu pintu mobil dibuka, aroma khas langsung menyergap indra penciuman: perpaduan kayu jati tua yang lembap, debu jalanan yang halus, bau besi berkarat, serta wangi rempah tajam yang terbawa angin dari gudang di seberang jalan. Alea menutup hidungnya sebelah, mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan kening berkerut.
"Lo mau ngajak gue liat barang antik?" tanyanya menyelidik, mengekor di belakang langkah lebar Arka.
"Atau lo mau ngubur rahasia besar di ruang bawah tanah toko ini? Kalau iya, sewa tenaga gali kubur dibayar di luar paket, ya!"
Arka mengabaikan ocehan tak berujung itu. Ia berjalan pasti melewati deretan kios sempit yang menjual rongsokan, hingga langkahnya terhenti di depan sebuah toko di ujung lorong yang tampak paling suram, namun juga paling mencolok keberadaannya.
Toko itu tak memiliki papan nama yang layak. Di balik jendela kaca patri yang kusam dan berdebu tebal, terpajang benda-benda yang seakan menyimpan kisah dari masa lalu: jam saku emas berantai perak yang berhenti berdetik tepat pukul tiga, patung perunggu singa bermata batu merah imitasi, tumpukan buku tebal berbahasa Belanda bersampul kulit yang mengelupas, hingga belasan bilah belati kuno berukir rumit yang memancarkan aura berbahaya namun memesona.
Suasana di depan toko itu sunyi senyap, seolah terpisah dari hiruk-pikuk kota di luar sana.
Arka mendorong pintu kayu jati tua berukuran besar itu.
Kriet… Bunyi engsel yang kering berderak pelan, disambut denting lonceng kecil berkarat yang tergantung di ambang pintu.
Udara di dalam ruangan mendadak terasa jauh lebih dingin, menyentuh kulit dengan kelembapan yang sejuk.
Cahaya lampu gantung bergaya antik memancarkan pendar kuning temaram, menari lembut di permukaan benda-benda kuno yang berjejer rapi. Di balik meja kasir kayu tebal yang dipenuhi tumpukan koin kuno dan lup pembesar, duduk seorang pria paruh baya yang badannya sedikit membungkuk.
Kacamata berbingkai kawatnya melorot di ujung hidung, sementara tangannya sibuk membersihkan laras pistol revolver antik menggunakan kain flanel kecil.
Pria tua itu mendongak perlahan saat lonceng berbunyi. Saat matanya menangkap sosok Arka yang berdiri tegak dengan aura kekuasaan yang tak bisa disembunyikan, gerakannya terhenti seketika. Ada hormat yang bercampur gentar di sorot matanya yang sudah keriput dimakan waktu.
"Tuan Muda Arka," sapanya serak berat, membungkuk sedikit dari balik meja. "Sudah lama sekali Anda tidak melangkahkan kaki ke tempat ini. Ada angin apa sehingga pewaris takhta Adiwangsa meluangkan waktu ke lapak tua yang penuh debu ini?"
Arka melangkah mendekat, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Wajahnya tetap tenang, sedatar permukaan danau tanpa riak.
"Saya tidak mencari senjata atau barang selundupan hari ini, Tuan Miller."
Mendengar namanya disebut, Tuan Miller, kolektor barang antik ternama yang juga informan senior jaringan bawah tanah di bawah pimpinan Arka, mengangkat sebelah alisnya. Ia mengalihkan pandangan ke arah gadis sederhana yang berdiri di samping pemuda itu, matanya menyelidik dari atas hingga bawah.
"Lalu… gadis kecil ini?" tanyanya penuh selidik. "Apakah anggota baru divisi intelijen? Atau… target terakhir yang sengaja kau bawa ke sini sebelum dikirim ke perairan dalam?"
Belum sempat Arka menjawab, Alea sudah melangkah maju dua langkah. Urat lehernya menegang, dan dengan telunjuk yang menuding tepat ke arah dada pria tua itu, ia membela dirinya dengan penuh semangat.
"Hei, Kakek Tua! Jaga mulut tajam lo, ya!" omelnya tanpa gentar sedikit pun.
"Gadis kecil, katanya?! Kepala lo peyang! Asal lo tahu, status gue di sini jauh lebih terhormat daripada sekadar target! Gue ini klien VIP yang dibayar mahal! Manajer pribadi! Freelancer multitalenta! Dan yang paling penting, gue bukan barang rongsokan yang nasibnya bisa lo tebak seenak jidat!"
Tuan Miller tertegun. Puluhan tahun ia hidup di dunia gelap, berurusan dengan pembunuh berdarah dingin, bandar internasional, dan pengkhianat klan yang gemetar hanya menatap matanya, baru kali ini ada seorang siswi SMA berseragam kusam yang berani membentaknya di tempat sendiri.
Namun bukannya marah, pria tua itu justru tertawa serak, suaranya berderak seperti batuk yang tak kunjung reda. Ia melepas kacamata tebalnya, menatap Arka dengan pandangan takjub bercampur geli.
"Luar biasa," gumamnya sambil menggeleng pelan.
"Di mana Tuan Muda menemukan makhluk langka ini? Dia bahkan berani berteriak di hadapanmu Tuan Muda, namun Tuan Muda tidak melenyapkannya dalam hitungan detik?"
Arka melirik sekilas ke arah Alea yang masih bersungut-sungut dengan tangan berkacak pinggang, lalu kembali menatap sang kolektor tua. Sudut bibirnya terangkat tipis, namun menyiratkan sesuatu yang lebih dalam sekadar hiburan semata.
"Dia bukan seseorang yang bisa dibuang begitu saja, Tuan Miller," ucapnya tenang, namun nada bicaranya mengandung penegasan yang tak terbantahkan.
"Karena kalau dia hilang, tidak ada lagi yang berani menawar kerugian finansial dengan perhitungan uang receh."
Alea mendengus kesal, menurunkan tangannya. "Udah, nggak usah drama! Cepet katakan apa yang mau dibeli? Waktu istirahat gue makin menipis, di tambah sore nanti gue masih harus kembali mengepel lantai kafe sebelum shift dimulai!"
Arka berbalik sepenuhnya menghadap gadis itu. Sorot matanya yang hitam pekat menatap lurus ke dalam manik mata Alea, menciptakan keheningan sesaat yang membuat napas gadis itu tertahan tanpa sadar. Tangan Alea yang tadinya mengepal menahan kesal perlahan mengendur. Keseriusan di wajah pemuda itu begitu nyata, begitu tulus, hingga ocehan protes di lidah Alea mendadak lenyap.
"Gue bawa lo ke sini… karena gue ingin lo pilihkan sebuah hadiah ulang tahun untuk seseorang."
Bersambung...
udh lah jngan suka mancing2 Alea yg bar2 ini, bisa kena bogem loh buru**nya nnt 😂😂😂