Karena memiliki masalah keluarga yang cukup rumit, membuat Ranaya melampiaskan hidupnya di lantai disko. Motonya: Boleh nakal, asal tahu batas. Sayangnya, malam itu, batasnya benar-benar terlewati. Sebuah kecelakaan brutal membuat tubuhnya koma, sementara rohnya malah asyik gentayangan!
Sialnya, jadi arwah itu enggak segampang di film-film. Niat hati melompat elegan masuk kembali ke tubuhnya, Ranaya malah nyungsep di kolong ranjang. Masalah bertambah pelik ketika ia tau apa penyebab kecelakaan yang menimpanya. Ternyata ada udang di balik bakwan.
Berbekal status hantu amatiran dan bantuan seorang cowok indigo yang super cuek bebek, Ranaya harus menyelamatkan nyawanya sendiri. Kalau gagal? Ya wassalam, siap-siap saja jadi Kuntilanak Gen-Z selamanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha Annisa Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si Ratu Dugem
Suara dentuman musik memenuhi ruangan dengan aroma alkohol yang menyeruak ke seluruh penjuru. Para gadis dengan pakaian serba kekurangan bahan meloncat dengan setengah kesadaran mengikuti irama musik.
"Wah, rasanya kaki gue udah melayang!" Celoteh gadis dengan gaun berwarna merah maroon yang robek hingga pangkal paha. Rambut pirangnya yang terurai panjang, menutupi sebagian wajahnya karena loncat dan berjoget secara brutal. Dialah Ranaya Putri Cassandra. Katanya si Ratu Dugem dengan moto, boleh nakal asal tau batasan.
"Nay... Nyokap lu telpon lagi ni!" Gadis dengan gaun hitam di sampingnya menarik lengan Ranaya, hingga gadis itu keluar dari kerumunan manusia yang sedang mabuk kepayang.
"Biarin aja, gue mau terbang lagi!" Ranaya merentangkan tangannya. Menirukan gaya terbang ala-ala.
"Udah, udah, ayok pulang! Nanti gue lagi yang kena semprot Nyokap lu!" Agatha, sahabat sejati, sehati dan sehidup semati Ranaya menyeret gadis itu keluar dari club menuju parkiran. Dibandingkan Ranaya, bisa dibilang Agatha sedikit lebih waras.
"Enggak mau pulang, maunya digoyang—" Ranaya meracau sembari menggoyangkan pinggulnya. Membuat Agatha kembali menghela napas panjang, sebelum akhirnya memaksa gadis itu masuk ke dalam mobil.
Agatha yang masih cukup sadar mengemudikan mobil membelah kesunyian malam. Jalanan saat itu sepi, hanya ada satu-dua kendaraan yang melintas. Kecepatan mobil pun dipacu perlahan, memberi ruang bagi Ranaya yang mulai tepar di kursi penumpang.
Namun tiba-tiba, dua sorot lampu tembak menyilaukan mata muncul dari arah berlawanan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan dengan kecepatan tinggi, memakan lajur mereka.
Agatha panik dan membanting setir sekuat tenaga. Tapi terlambat.
BRAAAKKK!
Suara decit ban yang bergesekan dengan aspal kalah telak oleh hantaman besi. Mobil merah kesayangan Ranaya ditabrak telak dari sisi kanan. Bodi mobil itu ringsek seketika, terpelanting, lalu berguling beberapa kali di atas aspal sebelum akhirnya berhenti dalam posisi terbalik. Pecahan kaca berhamburan di udara bak hujan kristal.
Teriakan histeris Agatha terpotong tiba-tiba oleh benturan keras. Setelah itu... semuanya sunyi. Gelap pekat. Hanya sayup-sayup terdengar suara klakson yang bersahutan dan derap langkah orang-orang yang berlarian panik mendekat.
*****
Rumah Sakit Atmaja
Di sebuah ruang VVIP. Seorang wanita menangis tanpa suara di samping tubuh Ranaya yang terbaring lemah. Tangannya mengusap pelan punggung tangan gadis itu. "Sayang... bangun, yuk. Mama udah di sini."
Hening. Ranaya masih terpejam rapat. Wajah cantiknya terlihat sangat pucat dengan luka di sekujur tubuhnya. Sejak awal dia sudah tidak sadarkan diri dan dinyatakan koma. Hal itu terjadi karena ia tidak menggunakan sabuk pengaman, meski airbag penumpang sempat mengembang, tubuhnya tetap terpelanting saat mobil terguling. Berbanding terbalik dengan Agatha yang sudah siuman karena terlindungi sabuk pengaman dan airbag.
"Ma?" Ranaya yang sejak tadi berdiri di sisi ranjang kebingungan saat melihat Mamanya menangis di samping tubuh yang mirip dengan dirinya sendiri. Gadis itu diam beberapa detik, mencoba mencerna apa yang terjadi.
"Oh My God! Jangan bilang gue udah meninggal sekarang dan ini—" Ranaya mencoba menyentuh tubuh yang terbaring lemah itu, namun jemarinya menembus selimut seolah itu hanyalah udara kosong, "J-jasad gue?"
"No! Ini enggak mungkin!" Ranaya menggeleng tak percaya, ia menggerakan tangannya secara brutal, mencoba untuk menyentuh pundak Mamanya, "Mama!
Look at me! I'm here, Ma!"
Hasilnya nihil. Tangannya kembali menembus tubuh wanita itu berkali-kali.
"Ini seriusan? Gue udah mati? Gue mati konyol?!" Ranaya mengacak rambut pirangnya, frustasi. Namun, beberapa detik kemudian, dia teringat dengan sahabatnya, Agatha. "Tha, lu mati juga, 'kan?"
Gadis itu menatap sekeliling. Menatap pintu lalu berlari mencari keberadaan Agatha. Tepat di kamar sebelah. Agatha terbaring dengan mata yang terbuka lebar dan sedang diperiksa oleh seorang dokter. Ranaya mendekat dengan pelan. Tubuhnya menembus pintu ruangan, berdiri tepat di depan ranjang Agatha.
"Tha? Lu masih hidup?" Ranaya mencondongkan tubuhnya, melihat wajah Agatha lebih dekat. Memperhatikan setiap hembusan dan tarikan napas Agatha. "Beneran masih hidup ni bocah! Enggak setia banget, ih!"
Ranaya menghentak-hentakkan kakinya. Tantrum karena tak terima kalau dia tidak sehidup semati dengan Agatha.
"Gue tempelin lu seumur hidup, Tha!" Meski kesal, ada sedikit perasaan lega di lubuk hati Ranaya karena tau kalau Agatha baik-baik saja. Gadis seperti Agatha memang berhak memiliki hidup yang lebih panjang darinya, pikir Ranaya.
Ranaya keluar dari kamar Agatha. Kembali ke kamarnya, lalu memeluk sang mama meskipun wanita itu tidak bisa merasakannya.
"Hmm. Maaf, ya, Ma. Karena Naya bikin Mama sedih lagi. Tapi Mama jangan khawatir, Naya akan tetap ada di sisi Mama selamanya."
Cukup lama Ranaya memeluk Mamanya hingga ia tersadar satu hal. "EH, TUNGGU DULU!"
Ranaya kembali menatap tubuhnya. "Ih, bego banget, ini mah gue belum mati!" ucapnya saat sadar kalau dirinya masih bernapas dan masih ada berbagai macam alat bantu yang menempel di tubuhnya.
"Oke." Ranaya merapikan rambutnya yang acak-acakan. "Harusnya ini gue tinggal masuk lagi kan ke tubuh gue?" Ia mengambil ancang-ancang untuk melompat masuk lagi ke dalam tubuhnya. Namun, alih-alih kembali ke dalam tubuhnya, ia justru berakhir nyungsep di bawah ranjang rumah sakit.
"Aduh, Oon banget!"
lnjut kk, aku makin penasaran, ditunggu bab selanjutnya nnti malem
🏃♀️