Terlahir kembali sebagai NPC ber-skill ampas [Fortify], Raka—yang kini bernama Kayy—hanya ingin hidup tenang dan memanjakan istrinya, Alya.
Siapa sangka, kebiasaannya merawat gubuk jutaan kali malah mengubah rumah dan pekarangannya menjadi [Sanctuary Domain]—zona perlindungan mutlak terkuat di dunia yang membalatkan semua sihir pemusnah, sementara sayur kebunnya sanggup menyembuhkan luka fatal secara instan.
Kini, di saat dunia terancam hancur oleh Raja Iblis, para Pahlawan malah mengantre dan berlutut di pagar rumahnya demi meminta bantuan. Namun bagi Kayy, tak ada urusan dunia yang lebih penting daripada menyeduh teh sore bersama Alya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA DI BALIK CANGKIR TEH
Suasana sore di pinggiran Hutan Kelam menyajikan pemandangan yang begitu syahdu. Angin sepoi-sepoi berembus lembut, membelaikan hawa dingin yang menyejukkan ke area pekarangan gubuk. Kebun wortel emas dan bunga lavender milik Kayy tampak menari-nari kecil disiram cahaya matahari terbenam yang berwarna jingga keemasan.
Setelah tiga hari berlalu sejak peristiwa menegangkan di Ibukota Kerajaan dan kunjungan maaf dari Arthur Sang Pahlawan, kehidupan sehari-hari pasangan suami istri muda itu kembali berjalan normal. Tidak ada lagi ancaman Shadow Vanguard, tidak ada lagi ketakutan dari kerajaan, dan tidak ada lagi intrik politik yang mengintai dari kegelapan.
Di teras gubuk kayu yang hangat, Alya duduk bertopang dagu di atas meja kayu. Ia mengenakan gaun katun sederhana berwarna krem yang berpadu indah dengan warna kulitnya yang halus. Sepasang mata jernihnya tak lepas memperhatikan sosok Kayy yang sedang menyiram tanaman bunga lavender di sudut pekarangan.
Pria yang baru berusia dua puluh tahun itu tampak begitu menikmati momen sederhananya. Kayy mengayunkan alat siram seng dengan santai, bersenandung kecil tanpa beban. Pakaian petaninya yang sedikit kusam dan lengan bajunya yang digulung hingga ke siku sama sekali tidak memancarkan kesan sebagai sosok penyusup mengerikan yang baru saja menundukkan seluruh Kerajaan beberapa hari lalu.
Alya menyentuh cangkir tembikar emas pemberian Kerajaan yang masih hangat di tangannya. Uap teh kayu manis mengepul tipis, menyebarkan aroma harum yang memanjakan penciuman.
Namun, di balik senyum tipis di bibirnya, pikiran Alya melayang pada percakapannya dengan Arthur kemarin lusa.
“Lady Alya... aku sungguh meminta maaf,” ucap Arthur saat itu dengan wajah penuh rasa malu dan hormat. “Waktu gerbang istana hancur dan aku melihat Kayy berjalan keluar dari kabut asap... tekanan fisiknya begitu pekat hingga pedang suci di tanganku terlepas sendiri. Lututku kaku tak sanggup berdiri. Pria itu... suamimu itu... bukanlah manusia biasa.”
Kenangan akan ucapan Arthur terus bergema di benak Alya. Ia menghembuskan napas pelan. Rantai rahasia di antara mereka berdua kini menjadi satu-satunya puzzle yang belum lengkap.
"Kayy?" panggil Alya lembut. Suaranya melintasi pekarangan yang tenang.
Kayy menghentikan gerakan alat siramnya. Ia menoleh, lalu menyunggingkan senyum hangatnya yang khas senyum malas yang selalu berhasil membuat hati Alya merasa aman. "Ya, Sayang? Mau tehnya ditambah lagi?"
Alya menggeleng pelan seraya tersenyum manis. Ia menepuk bangku kayu panjang di sebelahnya. "Kemari sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan."
"Baiklah," sahut Kayy santai. Ia meletakkan alat siram seng itu di samping sumur, mengelap kedua tangannya yang sedikit basah pada kain lap, lalu melangkah santai menuju teras gubuk.
Kayy mendaratkan tubuhnya di sebelah Alya. Dengan gerakan alami yang begitu terlatih oleh waktu, tangan kanan Kayy terulur merengkuh jemari lentik Alya, menggenggamnya hangat di atas meja.
"Ada apa, Hm? Tampaknya ada yang mengganggu pikiranmu dari tadi," tanya Kayy penuh kelembutan. Matanya menatap lurus ke dalam iris mata Alya.
Alya diam sejenak, menikmati kehangatan usapan ibu jari Kayy di punggung tangannya. Ia memberanikan diri menatap dalam-dalam ke mata suaminya.
"Kayy..." Alya memulai dengan nada amat lembut. "Aku tahu kamu adalah suamiku yang penyabar, suka berkebun, dan selalu memasak sup kentang yang enak untukku. Tapi... setelah apa yang terjadi kemarin di markas bayangan dan istana... aku sadar ada satu hal besar yang belum pernah kamu ceritakan padaku."
Kayy mengangkat satu alisnya. Ia terkekeh canggung seraya mengusap tengkuknya. "Soal kekuatan fisikku? Bukankah aku sudah bilang dari dulu? Aku ini cuma petani yang rajin latihan angkat beban dan mencangkul tanah keras di hutan—"
"Kayy," potong Alya pelan, namun tegas. Kali ini matanya tak membiarkan Kayy menghindar. "Tidak ada petani biasa di dunia ini yang sanggup meremukkan benteng sihir Divine Kerajaan hanya dengan kibasan tangan kosong."
Kayy terdiam seketika.
"Bahkan kemarin Arthur menceritakan semuanya padaku," lanjut Alya, senyum tipis nan penuh arti terukir di bibirnya. "Dia bilang, seorang Pahlawan Kerajaan yang memegang pedang suci pun sampai menjatuhkan senjatanya dan berlutut tak berdaya hanya karena melihatmu berjalan masuk. Kamu membuat seluruh Kerajaan gemetaran tanpa menggunakan sebilah pedang atau mantra sihir sedikit pun."
Suasana di teras gubuk mendadak hening. Embusan angin sore berbisik pelan menyapu rambut pirang keemasan Alya.
Kayy menatap Alya cukup lama. Senyum malas yang biasa menghiasi wajahnya perlahan luntur, berganti menjadi sebuah tatapan yang sangat dalam dan jujur.
Kayy menghela napas panjang, meremas jemari Alya dengan lebih erat.
"Alya..." suara Kayy terdengar pelan dan hangat. "Kamu... tidak takut kalau tahu rahasia asal-usulku yang sebenarnya?"
Alya tidak langsung menjawab. Ia justru mendekatkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya dengan penuh rasa percaya di bahu kokoh Kayy. Ia menghirup aroma tubuh suaminya aroma kayu pinus, tanah segar, dan kehangatan yang selalu menjadi benteng teraman baginya.
"Kenapa aku harus takut pada pria yang mengacaukan satu Kerajaan hanya karena cangkir teh istrinya pecah?" bisik Alya terkekeh pelan di bahu Kayy. "Aku tidak takut, Kayy. Aku cuma ingin mengenali seluruh bagian dari pria yang sangat kucintai ini."
Mendengar ucapan tulus itu, dada Kayy berdesir hangat. Rasa canggung dan ragu yang sempat terlintas di benaknya menguap tanpa bekas. Ia menyandarkan pipinya di atas kepala Alya, mengecup lembut helai rambut istrinya.
"Sebenarnya..." Kayy memulai bercerita dengan nada suara yang tenang, "...aku ini adalah seorang reinkarnator."
Alya mendongak sedikit dari bahu Kayy, mengerutkan dahinya heran. "Reinkarnator?"
"Ya. Di kehidupanku yang sebelumnya, aku bukan tinggal di dunia sihir ini," ungkap Kayy seraya menatap jauh ke arah langit sore. "Aku tinggal di sebuah dunia lain yang penuh dengan gedung-gedung tinggi, di mana tidak ada sihir sama sekali. Di kehidupan itu, aku hanyalah seorang pemuda biasa yang bekerja keras setiap hari."
Alya menyimak setiap patah kata suaminya tanpa menyela.
"Sampai suatu malam..." suara Kayy melembut, ada sedikit kekehan pahit di bibirnya. "...ketika aku sedang berjalan pulang ke tempat tinggalku di sebuah lorong apartemen yang sepi, seorang pencuri mencegatku. Terjadi perkelahian singkat, dan aku terbunuh di tempat itu setelah tertusuk senjata tajam milik pencuri itu."
Mata Alya terbelalak kaget. Jemarinya mendadak menggenggam erat tangan Kayy, merasakan rasa sakit dan kepedihan dari ingatan masa lalu suaminya.
"Tapi ternyata takdir berkata lain," lanjut Kayy pelan seraya membalas genggaman Alya. "Saat membuka mata kembali, aku terlahir kembali di dunia sihir ini sebagai seorang bayi dua puluh tahun yang lalu. Dan bersamaan dengan reinkarnasi itu, aku terlahir membawa bakat pasif unik bernama [Fortify]."
Kayy melepaskan jemarinya pelan. Dengan kibasan tangan ringannya, sebuah layar hologram keemasan beredar samar di udara terbuka—sebuah jendela status transparan yang hanya bisa dibuat oleh sihir tingkat tinggi atau sistem bawaan lahir.
Kayy menyentuh panel itu, menampilkannya tepat di depan pandangan Alya.
* * * STATUS KARAKTER: KAYY
* Usia: 20 Tahun
* Pekerjaan: Petani / Penjaga Gubuk
* Skill Pasif Utama: [Fortify - MAX] (Level Maksimum / Tidak Terbatas)
* Kekuatan Fisik (STR): MAX (999.999+)
* Ketahanan Tubuh (VIT): MAX (999.999+)
* Kecepatan Gerak (AGI): MAX (999.999+)
* wadah mana (INT): MAX (999.999+)
* Karakteristik Efek: Setiap detik hidup di bumi/dunia sihir, seluruh atribut otomatis bertambah & berlipat ganda tanpa batas.
Mata Alya terbelalak lebar. Mulutnya sedikit terbuka, kehabisan kata-kata saat membaca angka-angka MAX yang berderet di layar transparan tersebut. Sebagai mantan Saintess yang mengerti struktur sihir dunia ini, status dengan angka sembilan berderet tak terbatas itu adalah hal yang benar-benar mustahil secara logika sihir.
"Sistem [Fortify] ini bekerja secara otomatis melipatgandakan dan memperkuat fisik tubuhku setiap detik, 24 jam sehari, tanpa henti sejak aku masih bayi," jelas Kayy seraya mengibaskan tangan menutup kembali layar status itu. "Jadi, bayangkan penumpukan penguatan fisik yang terus berjalan tiap detik selama dua puluh tahun hidupku di dunia ini. Di usia lima belas tahun, aku sadar semua statistikku sudah menyentuh angka MAX absolut dan terlalu berbahaya jika sampai diketahui orang lain."
Alya menahan napas sejenak, membayangkan betapa luar biasanya perjalanan hidup Kayy yang terlahir kembali dengan kekuatan fisik sebesar itu.
"Makanya di usia lima belas tahun, aku memilih pergi dari keramaian," sambung Kayy lembut. "Aku datang ke Hutan Kelam, membangun segel Sanctuary Domain untuk menyembunyikan aura kekuatanku, dan memilih hidup sederhana sebagai petani biasa. Aku cuma ingin menikmati kehidupan kedua ini dengan tenang. Sampai akhirnya... tiga tahun lalu, di usiaku yang ketujuh belas, aku menemukan seorang wanita cantik berselimutkan luka melarikan diri ke tepi hutanku."
Kayy menoleh, menatap lurus mata Alya dengan pendar kehangatan murni.
"Saat merawatmu dan melihat senyummu pertama kali..." bisik Kayy, "...aku sadar bahwa kehidupan kedua dan status MAX tiada tanding ini diberikan padaku bukan untuk berperang, tapi untuk satu alasan: melindungimu dan membangun sebuah rumah bersamamu."
Air mata haru menetes perlahan di pipi Alya. Rasa penasaran yang menyelimutinya kini berganti menjadi rasa cinta dan rasa syukur yang teramat dalam.
Pria yang ditakuti seluruh Kerajaan seorang pemuda reinkarnasi berusia 20 tahun yang terbunuh secara tragis di masa lalunya kini berdiri sebagai pelindung utamanya yang paling hangat dengan statistik tak tertandingi.
Alya merengkuh leher Kayy, menarik suaminya ke dalam pelukan yang sangat erat.
"Terima kasih... terima kasih sudah terlahir kembali dan menemukanku di dunia ini, Kayy," bisik Alya terisak bahagia dalam pelukan suaminya.
Kayy tertawa lembut, membalas pelukan Alya dengan protektif dan hangat, menyelimuti tubuh istrinya dari angin sore yang kian dingin.
"Jadi..." Alya melepaskan pelukannya perlahan, mengusap air matanya seraya tersenyum jahil yang manis. "...suamiku ini ternyata seorang reinkarnator dengan status MAX yang menyamar jadi petani?"
Kayy tertawa renyah sambil mengusap hidung Alya gemas. "Petani biasa, Sayang. Sekarang dan selamanya, aku cuma Kayy. Pemuda dua puluh tahun yang tugas utamanya mencintai istrinya, mengurus kebun wortel, dan membelikan kayu manis di pasar."
"Dan melindungi cangkir teh emasku," tambah Alya mengedipkan mata.
"Tentu saja. Siapa pun yang berani menyentuh cangkir tehmu lagi, akan kuhancurkan kerajaannya sampai tak tersisa," sahut Kayy bercanda penuh keyakinan.
Tawa bahagia Alya bergema di teras gubuk, menyatu dalam keharmonisan senja Hutan Kelam.
Kayy menyerahkan cangkir tembikar emas berisi teh hangat pada Alya. Mereka berdua duduk bersanding di teras, menyesap teh kayu manis seraya menyaksikan matahari tenggelam sempurna.
Dunia di luar sana boleh saja penuh pertumpahan darah dan takdir yang kejam. Namun di gubuk kayu ini, di bawah perlindungan abadi sang reinkarnator bertubuh status MAX dan kehangatan cinta mereka berdua, kedamaian sejati telah tercipta selamanya.