Setelah tewas dalam invasi brutal yang meluluhlantakkan kotanya, Yang Zhen tiba-tiba terbangun kembali ke masa remaja saat ia masih menjadi murid akademi yang selalu dicap sebagai pecundang.
Namun, berbekal ingatan masa depan dan pusaka kuno Gulungan Dewa Naga yang memberinya kekuatan, ia kini bersumpah untuk memutarbalikkan takdir dan menginjak-injak siapa pun yang berani meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bba 32
Langkah Yang Zhen bergema pelan di atas lantai batu granit arena utama. Ribuan pasang mata menatapnya dengan berbagai macam ekspresi, mulai dari cemoohan, rasa kasihan, hingga rasa penasaran yang mendalam.
Di tengah arena, sebuah Batu Pengukur Kekuatan setinggi dua meter berdiri kokoh. Guru pengawas yang bertugas menunjuk batu tersebut dengan wajah datar.
"Yang Zhen, gunakan serangan terkuatmu pada batu ini untuk mengukur tingkat kultivasimu." instruksi guru pengawas tersebut.
Alih-alih memasang kuda-kuda bertarung, Yang Zhen justru berjalan melewati batu pengukur itu begitu saja. Ia melangkah menuju meja panitia dan langsung merampas artefak pengeras suara spiritual dari tangan seorang panitia yang sedang melongo.
"Hei! Apa yang kau lakukan?!" bentak panitia itu terkejut.
Yang Zhen mengabaikannya dan mengetuk artefak itu dua kali. Suara ketukan jarinya bergema nyaring ke seluruh penjuru arena, memaksa semua orang untuk memusatkan perhatian padanya.
"Selamat pagi, seluruh warga Kota Awan Merah dan para petinggi yang terhormat." sapa Yang Zhen dengan suara lantang dan penuh percaya diri.
"Hari ini, aku tidak akan membuang waktu kalian dengan memukul sebongkah batu bodoh ini." lanjutnya sambil memutar artefak itu di tangannya. "Aku berdiri di sini untuk memberikan sebuah pertunjukan yang jauh lebih menghibur."
Di kursi kehormatan VVIP, alis Zhao Tian berkedut dengan keras. Firasat buruk mulai merayapi hati rubah tua tersebut.
"Bocah ini... apa yang sedang dia rencanakan?" batin Zhao Tian sambil mencengkeram pegangan kursinya.
"Pertunjukan ini berjudul: Kebodohan dan Kemunafikan Keluarga Zhao." seru Yang Zhen yang seketika membuat seluruh stadion meledak dalam keributan.
Ribuan murid dan penonton tersentak kaget. Menghina keluarga penyumbang dana terbesar di depan umum adalah tindakan bunuh diri yang sangat bodoh.
"Tutup mulutmu, Sampah!" teriak seorang murid kelas elit yang merupakan loyalis Keluarga Zhao dari bangku penonton.
Yang Zhen hanya tersenyum meremehkan dan mengeluarkan sebuah benda dari dalam Cincin Penyimpanannya. Ia melemparkan benda itu ke lantai arena hingga bergemerincing nyaring.
Trang!
Benda itu adalah belati melengkung dengan ukiran tengkorak berdarah di gagangnya. Itu adalah senjata khas milik pemimpin Tiga Iblis Bayangan yang ia bunuh di Hutan Kabut Kematian.
"Apakah Patriark Zhao Tian mengenali belati ini?" tanya Yang Zhen sambil menatap lurus ke arah kursi VVIP.
Wajah Zhao Tian seketika berubah menjadi sedikit pucat, namun ia dengan cepat menguasai dirinya dan memasang ekspresi marah yang dibuat-buat.
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Bocah Gila!" bantah Zhao Tian dengan suara keras. "Kepala Akademi Feng, apakah Anda akan membiarkan murid ini memfitnah keluarga penyumbang dana secara terang-terangan?!"
Semua mata kini beralih ke arah Master Feng. Biasanya, Kepala Akademi akan langsung tunduk dan menghukum siapa pun yang berani menyinggung Keluarga Zhao demi uang tahunan mereka.
Namun kali ini, Master Feng tetap duduk dengan tenang. Ia perlahan berdiri, dan aura Tahap Inti Emas Bintang Dua meledak dari tubuhnya, menyapu seluruh arena dengan tekanan yang luar biasa.
Wush!
"Akademi Bela Diri Awan Merah adalah tempat suci untuk mencari kebenaran dan ilmu." ucap Master Feng dengan suara berwibawa yang menggema ke seluruh penjuru. "Biarkan Yang Zhen menyelesaikan kalimatnya. Siapa pun yang berani menginterupsi akan berhadapan denganku."
Zhao Tian membelalakkan matanya tidak percaya. Bukan hanya karena Master Feng berani menentangnya, tapi juga karena lonjakan kekuatan Kepala Akademi yang tiba-tiba meningkat pesat itu.
"Patriark Zhao, belati ini milik pembunuh bayaran yang Anda sewa untuk membunuhku." lanjut Yang Zhen kembali mengambil alih panggung.
"Tidak hanya itu, Anda juga menyuap Lu Feng untuk meracuni Presiden Gu demi menguasai Asosiasi Alkemis." bongkar Yang Zhen tanpa ampun. "Dan jangan lupakan monopoli bodoh Rumput Darah yang membuat kas Keluarga Zhao bangkrut dalam semalam."
Suasana arena benar-benar kacau balau. Informasi rahasia tingkat tinggi itu dilemparkan begitu saja ke hadapan publik, menelanjangi seluruh konspirasi kotor Keluarga Zhao.
Su Tian yang duduk di sebelah Master Feng tersenyum penuh arti. Ia menoleh ke arah Chen Fei yang juga sedang menyeringai puas.
"Sepertinya Keluarga Zhao sudah tidak memiliki tempat lagi di kota ini, Patriark Zhao." sindir Su Tian sambil menyesap tehnya dengan santai.
"Militer juga tidak akan mentolerir pengkhianatan yang mengancam stabilitas kota." tambah Chen Fei dengan nada mengancam.
Zhao Tian merasa dunia di sekelilingnya berputar. Ia dikepung dari segala arah. Uang, reputasi, dan aliansi politiknya telah dihancurkan hingga berkeping-keping oleh seorang pemuda berusia lima belas tahun.
Akal sehat rubah tua itu akhirnya putus. Matanya memerah dipenuhi oleh niat membunuh yang sangat buas.
"Han Sen!" raung Zhao Tian dengan suara menggelegar. "Bunuh bocah keparat itu sekarang juga! Bunuh juga semua orang yang menghalangi!"
Han Sen yang berdiri di belakangnya segera mencabut pedangnya dan memberikan isyarat tangan ke arah atap tribun utara dan selatan.
Syuut!
Puluhan prajurit bayangan yang sedari tadi bersembunyi di atap tribun langsung berdiri dan menarik busur panah mereka. Anak panah beracun berwarna hijau diarahkan lurus ke jantung Yang Zhen di tengah arena.
Di saat semua orang menjerit panik melihat kemunculan pasukan bayangan itu.
Wang Hao sedang berbaring tengkurap di balik sebuah pilar penyangga atap. Seluruh tubuhnya gemetar dan keringat membasahi pakaiannya. Ia bisa melihat lima orang pemanah bayangan berdiri hanya beberapa meter darinya, bersiap melepaskan tembakan.
'Aku tidak boleh takut... Yang Zhen mempercayaiku.' batin Wang Hao sambil menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. 'Jika aku gagal, sahabatku akan mati tertembus puluhan panah.'
Keberanian yang selama ini terpendam di balik tumpukan lemaknya akhirnya bangkit. Wang Hao merogoh kantung kulit di pinggangnya dan mengeluarkan tiga butir Kristal Ledakan Gila yang memancarkan pendaran merah.
"Makan ini, sialan!" teriak Wang Hao sambil melempar ketiga kristal itu sekuat tenaga ke arah kelompok pemanah tersebut.
Trang! Trang! Trang!
Kristal-kristal itu membentur lantai batu di bawah kaki para pemanah. Salah satu pemanah menunduk dengan kening berkerut, tidak menyadari bahwa ia baru saja menyentuh detonator maut.
"Benda apa ini...?" gumam pemanah itu.
Boom!
Blaar!
Ledakan dahsyat berwarna merah bercampur serpihan es tajam meledak seketika, merobek atap tribun utara hingga hancur berkeping-keping. Gelombang kejutnya melemparkan tubuh para pemanah bayangan itu ke udara seperti boneka jerami yang terbakar.
Hampir di detik yang sama, ledakan serupa juga terjadi di atap tribun selatan. Wang Hao telah menyewa seorang murid bayaran kelas bawah sebelumnya hanya untuk melemparkan sisa kristal itu di sisi lain stadion.
Kekacauan absolut melanda seluruh penjuru akademi. Puing-puing atap berjatuhan, sementara asap merah tebal menyelimuti area tribun.
Jeritan panik para penonton saling bersahutan saat mereka berlarian mencari jalan keluar. Para guru akademi segera bergerak membuat perisai Qi untuk melindungi murid-murid yang tidak bersalah.
Di kursi kehormatan, Zhao Tian terhempas ke belakang akibat gelombang kejut dari ledakan tersebut. Wajahnya dipenuhi debu dan matanya membelalak ngeri melihat pasukan elit rahasianya musnah dalam satu tarikan napas.
"A-apa yang baru saja terjadi?!" gagap Zhao Tian dengan tubuh bergetar hebat. "Dari mana bocah itu mendapatkan peledak spiritual tingkat tinggi?!"
Su Lin dengan sigap melompat ke depan ayahnya dan Master Feng. Gadis itu menciptakan dinding es tebal untuk menahan puing-puing batu yang beterbangan ke arah kursi VVIP.
'Ini adalah kekuatan sebenarnya dari Kristal Ledakan Gila itu.' batin Su Lin dengan napas memburu. 'Yang Zhen benar-benar telah merencanakan pembantaian ini dengan sempurna.'
Di tengah arena yang diselimuti asap dan debu, sosok Yang Zhen berdiri tak tergoyahkan. Artefak pengeras suara di tangannya telah hancur, namun senyum di wajahnya semakin melebar.
Ia menatap sisa-sisa loyalis dan pengawal elit Keluarga Zhao di tribun bawah yang kini telah menghunus senjata mereka dengan amarah membabi buta.
"Bunuh Yang Zhen! Balaskan dendam Patriark!" teriak salah satu komandan pengawal Keluarga Zhao.
Puluhan petarung elit yang rata-rata berada di Tahap Pengumpulan Qi Tingkat Enam melompat turun dari tribun, menerjang lurus ke arah Yang Zhen seperti kawanan serigala buas.
Yang Zhen memutar lehernya hingga terdengar bunyi retakan ringan. Energi elemen air dan tanah perlahan mengalir keluar dari Dantiannya, membalut kedua lengannya dengan aura biru dan coklat keemasan yang saling melilit.
"Akhirnya pertunjukannya dimulai." gumam Yang Zhen dengan mata memancarkan kilatan iblis. "Mari kita lihat berapa banyak anjing yang bisa kubantai hari ini."
Yang Zhen menghentakkan kakinya ke lantai arena, menyongsong puluhan petarung elit itu sendirian tanpa rasa takut sedikit pun.
Tirai Ujian Akhir telah resmi ditutup, digantikan oleh panggung eksekusi berdarah yang akan mengubah sejarah Kota Awan Merah untuk selamanya.