NovelToon NovelToon
Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia
Popularitas:373
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.

**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.

Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:

*"Om… aku mencintaimu."*

*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*

Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?

Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.

Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23

Salah Paham

Malam itu berakhir tanpa jawaban.

Setelah beberapa menit berdiri dalam diam, Om Bram melepaskan pergelangan tanganku. Dia mengambil kotak kondom dari meja, memasukkannya kembali ke tas tanpa berkata apa-apa, lalu menyuruhku tidur di kamar tamu.

"Kita bicara besok saat kepalamu jernih," katanya.

Aku ingin membantah bahwa setengah kaleng bir tidak menghapus kesadaranku. Namun rasa lelah menang. Aku naik ke lantai dua, mengunci pintu kamar, dan berbaring tanpa mengganti baju.

Om Bram tetap di bawah.

Saat cahaya pagi masuk melalui tirai, aku melihat bayangan tipis berwarna kebiruan di pergelangan tangan. Tidak parah, tetapi cukup untuk mengingatkan bagaimana emosiku meledak semalam. Telapak tangan yang kupakai menamparnya juga terasa panas dalam ingatan.

Aku turun sekitar pukul enam.

Om Bram masih duduk di sofa dengan pakaian yang sama. Kopi di meja sudah dingin. Rambutnya berantakan, matanya merah, dan bekas telapak tanganku samar terlihat di pipi kiri.

Rasa malu membuat langkahku berhenti.

Mbok Nah keluar dari dapur membawa nampan teh. Pandangannya berpindah dari wajah Om Bram ke pergelangan tanganku, lalu ke barang-barang yang masih berserakan di meja.

"Mbok buatkan sarapan," katanya pelan.

"Nggak usah, Mbok. Aku mau pulang."

"Duduk dulu," kata Om Bram.

Mbok Nah meletakkan nampan. "Mbok cek taman belakang dulu."

Tidak ada yang perlu dicek sepagi itu. Dia hanya memberi kami ruang.

Aku duduk di ujung sofa yang lain. Jarak di antara kami cukup untuk satu orang lagi, tetapi udara tetap terasa sempit.

Kotak kondom berada di atas meja. Segelnya menghadap ke atas sekarang.

Om Bram melihatnya. "Belum dibuka."

Aku meremas ujung baju. "Belum pernah dipakai."

Dia tidak langsung menjawab.

"Aku beli tadi malam," lanjutku. "Di apotek sebelum datang. Aku cuma... aku cuma pengin Om marah. Pengin Om cemburu."

Om Bram mengembuskan napas panjang dan menutup wajah dengan kedua tangan.

"Jadi tidak ada siapa-siapa?"

"Nggak ada."

"Ipang?"

"Teman nongkrong. Dia nggak pernah macam-macam."

Bahu Om Bram turun sedikit, seolah beban yang tidak terlihat akhirnya dilepaskan. Kelegaan itu begitu jelas sampai bagian diriku yang masih kekanak-kanakan hampir merasa puas. Namun bekas merah di pipinya menghapus rasa menang tersebut.

"Maaf aku menampar Om," kataku. "Aku marah, tapi itu tetap salah."

Dia menurunkan tangan. "Saya juga minta maaf karena memegangmu terlalu kuat."

"Nggak sakit lagi."

"Tetap seharusnya tidak terjadi."

Om Bram mengambil kotak itu dan memeriksa segelnya sekali lagi sebelum memasukkannya ke kantong kertas apotek.

"Kita buang ini setelah pembicaraan selesai," katanya.

"Kenapa? Takut melihatnya?"

"Takut kamu menggunakannya lagi sebagai senjata untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain." Tatapannya lurus kepadaku. "Barang itu bukan masalahnya. Orang dewasa berhak menjaga kesehatan dan membuat keputusan tentang tubuhnya. Yang salah adalah kamu sengaja menciptakan ketakutan karena ingin menguji perasaan saya."

Pipiku panas. "Aku tahu itu bodoh."

"Dan saya membuatmu merasa hanya krisis yang bisa menarik perhatian saya. Itu bagian yang harus saya akui."

Aku tidak menyangka dia akan membagi kesalahan. Kemarahan yang sudah kusiapkan kehilangan tempat berpijak.

"Om akan pergi lagi setelah ini?"

"Saya belum tahu cara berada di dekatmu tanpa membuat keadaan lebih rumit." Dia berhenti. "Tapi menghilang bukan jawaban. Saya sudah melihat akibatnya."

Itu belum menjadi janji, tetapi bukan penolakan. Untuk sementara, aku menyimpannya seperti seseorang menyimpan korek api terakhir di tengah hujan.

Kami kembali diam.

Aku memandang ikat rambut hitam di meja. "Om tahu aku datang malam itu?"

Wajahnya berubah serius. "Saya menemukan sandalmu bergeser dan ini tersangkut di pagar. Petugas gerbang bilang kamu masuk, lalu pergi beberapa menit sebelum saya mencari."

"Om mengejar?"

"Sampai ujung jalan. Saya menelepon sepanjang malam."

Aku menunduk. "Aku dengar Nadia."

"Bagian mana?"

"Dia bilang kedinginan. Ada suara kursi, terus Om bilang cukup." Tenggorokanku mengencang. "Aku nggak lihat apa-apa."

Om Bram berdiri, berjalan dua langkah, lalu kembali seolah tidak tahu ke mana harus membawa kegelisahannya.

"Nadia datang dengan alasan mobilnya mogok dan ponselnya mati," katanya. "Dia meminta memakai telepon, lalu tinggal menunggu mobil. Mbok Nah disuruh mencari kebocoran pipa yang ternyata tidak ada."

"Terus?"

"Dia mencoba mendekat. Saya mendorongnya menjauh. Kata `cukup` yang kamu dengar adalah penolakan."

Aku menatapnya.

"Om menolak dia?"

"Iya. Saya bilang saya tidak pernah menganggap Nadia lebih dari masa lalu. Setelah itu saya menyuruhnya pulang."

Sesuatu yang menekan dada selama hampir dua minggu tiba-tiba mengendur. Udara masuk terlalu cepat dan membuat mataku panas.

"Jadi waktu itu Om benar-benar nolak dia?"

"Berapa kali saya harus mengatakan iya?"

"Sampai aku percaya."

"Iya, Sekar. Saya menolaknya. Tidak pernah ada hubungan di antara kami sejak dia kembali, dan dulu pun kami tidak pernah resmi bersama."

"Kenapa Om nggak bilang dari awal?"

"Karena saya tidak tahu kamu melihat foto itu sebagai sesuatu yang perlu dijelaskan. Setelah malam itu, saya juga tidak tahu apa yang kamu dengar. Kamu menolak semua panggilan."

"Aku takut jawabannya lebih buruk."

"Dan saya takut memaksa masuk ke hidupmu setelah mengatakan kamu harus mandiri." Dia mengusap wajah. "Kita berdua terlalu sibuk menebak sampai tidak ada yang benar-benar bertanya."

Aku hampir mengatakan bahwa Nadia sendiri mengaku sebagai pacarnya. Kata-kata itu sudah sampai di ujung lidah, tetapi rasa malu menahannya. Jika kuucapkan, aku juga harus mengakui telah mempercayai perempuan itu tanpa bertanya. Untuk pagi ini, kebenaran tentang malam tersebut terasa cukup.

Om Bram melihat air mataku dan menghela napas.

"Kenapa menangis lagi?"

"Karena Om bikin semuanya susah."

"Kamu membawa kondom untuk membuat saya cemburu dan menyebut saya yang membuat susah?"

Nada suaranya datar, tetapi ada kelelahan yang hampir menyerupai humor. Tawa kecil keluar dari mulutku di antara air mata. Om Bram menggeleng, lalu berjalan ke dapur.

"Mau ke mana?"

"Membuat sarapan sebelum kamu pingsan lagi."

"Mbok Nah tadi mau buat."

"Saya yang akan buat."

Aku mengikutinya sampai pintu dapur. Om Bram membuka lemari, mengambil mi telur, bawang putih, sawi, dan dua butir telur. Dia menatap bahan-bahan itu seperti sedang memimpin rapat yang tidak dikuasainya.

"Om bisa masak?"

"Bisa membaca petunjuk."

"Itu bukan jawaban."

"Duduk."

Lima belas menit kemudian, semangkuk mi kuah diletakkan di depanku. Potongan sawinya tidak rata dan telur rebusnya terlalu matang, tetapi aromanya hangat. Om Bram mendorong sendok ke arahku.

"Makan dulu."

Aku mengambil satu suap. Rasanya sedikit terlalu asin.

"Gimana?" tanyanya.

"Enak."

Dia tahu aku berbohong, tetapi tidak membongkarnya.

Air mataku jatuh satu per satu ke dalam mangkuk. Om Bram mengangkat tangan, seolah hendak menghapusnya. Jemarinya berhenti di udara, lalu turun kembali ke sisi meja.

"Jangan nangis lagi," katanya pelan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!