NovelToon NovelToon
TAWANAN MUSUHKU

TAWANAN MUSUHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

ZONA DEWASA‼️
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Sesampainya di area parkiran penthouse, Luna segera berlari-lari kecil menuju pintu lift khusus yang terhubung langsung dengan lantai paling atas. Di dalam lift yang bergerak naik, jemarinya tak berhenti meremas satu sama lain.

Rasa cemas menggerogoti pikirannya, terus membayangkan kemarahan dan hal gila apa yang bakal Moreno lakukan padanya saat mereka bertemu nanti.

​Dengan napas yang masih memburu dan jantung berdegup kencang, Luna menyentuh layar digital pintu dan menekan digit kode akses.

​Bip, bip, bip... Cklek.

​Pintu penthouse terbuka perlahan. Luna melangkah masuk dengan sangat berhati-hati, memajukan kepalanya lebih dulu untuk memantau situasi.

​Namun, bukannya sambutan amukan atau tatapan tajam yang mengerikan, Luna justru dibuat heran. Suasana di dalam penthouse terasa sangat sunyi, dingin, dan gelap gulita tanpa ada satu pun lampu yang menyala.

​"Reno...?" panggil Luna pelan, suaranya bergema tipis di dalam ruangan yang luas itu.

​Tak ada jawaban.

​Luna melangkah lebih dalam, menelusuri sudut-sudut penthouse—mulai dari area dapur hingga koridor depan kamar—namun tak menemukan tanda-tanda keberadaan pria itu.

​"Apa dia belum pulang...?" gumam Luna pada dirinya sendiri.

​Mengetahui bule sinting itu belum menampakkan batang hidungnya, seluruh ketegangan yang menumpuk di tubuh Luna menguap seketika. Ia berjalan cepat ke arah ruang tengah lalu menjatuhkan dirinya di atas sofa empuk dengan helaan napas lega yang sangat panjang.

​Luna memejamkan mata, menyandarkan kepalanya. Setidaknya untuk saat ini, ia bisa menikmati masa-masa tenang, terbebas sementar dari kegilaan Moreno.

Di tempat lain, musik dentuman bass bergema memenuhi sudut Club Culture. Di dalam area VIP lounge, Moreno duduk menyandar santai bersama gengnya. Jemari panjangnya memegang gelas kristal berisi wine mahal yang sesekali ia teguk perlahan, sementara bibirnya menghembuskan asap tipis dari cerutu di sela jarinya.

​Mata abu-abu Moreno tertuju pada seorang lady companion (LC) berbusana sangat minim yang tengah menari stripper di hadapan meja mereka. Teman-temannya bersorak ramai, bersiul-siul heboh menikmati lekuk tubuh sang penari yang sengaja memancing hasrat.

​Dimas yang duduk di samping Moreno melirik sahabatnya itu.

"Gimana, Ren? Dari tadi lo ngelihatin terus, tertarik lo sama penari itu?"

​Moreno memutar wine di gelasnya, lalu menjawab dengan raut datar seraya melempar pandangan bosan.

"Biasa aja. Enggak ada seksi-seksinya."

​Dimas seketika tertawa mendengarnya.

"Anjir! Mata lo udah buta apa gimana, Ren?! Cewek setengah bugil gitu lo bilang biasa aja? Gue aja yang ngeliat dari tadi junior gue udah bangun! Masa lo sama sekali enggak terangsang sih?"

​"Gak," sahut Moreno singkat,dan dingin.

​Dimas mengerutkan kening, menatap Moreno dari atas ke bawah dengan penasaran.

"Bentar... lo beneran cowok normal, kan? Jangan-jangan lo gay lagi?"

​"Sialan lo," maki Moreno tajam.

"Gue normal. Gue cuma enggak nafsu liat cewek gituan."

​Dimas yang sebenarnya diam-diam curiga dengan tingkah laku Moreno akhir-akhir ini menyunggingkan senyum jahil, menyindir halus sahabatnya.

​"Atau... lo cuma bisa nafsu kalau ngeliat Luna yang telanjang?"

​Deg.

​Tubuh Moreno membeku seketika.

​Kalimat asal dari mulut Dimas itu menghantam kepalanya. Dalam sekejap, bayangan Luna langsung menari-nari dan memenuhi seluruh isi pikirannya.

​Dada Moreno bergemuruh. Rasa panas mendadak menjalar ke seluruh aliran darahnya. Entah kenapa, persis seperti sindiran Dimas, hanya dengan membayangkan tubuh Luna, hasrat liar yang selama ini terpendam di balik sikap dinginnya mendadak bangkit begitu saja.

Melihat Moreno yang membisu dengan tatapan kosong, Dimas makin gencar menggodanya. Ia menyenggol bahu Moreno seraya terkekeh jahil.

​"Tuh kan, bener! Kenapa lo tiba-tiba diam gitu, Ren? Pasti otak lo langsung jalan membayangkan si Luna, kan?"

​Moreno tersentak pelan dari lamunannya, lalu buru-buru menutupi gejolak di dadanya. Ia kembali menyesap wine-nya dalam satu tegukan besar.

​"Enggak usah ngasal," cetus Moreno dingin.

"Kata siapa gue mikirin dia? Lagian Luna itu biasa aja, enggak ada seksi-seksinya. Nggak menarik sama sekali."

​Dimas tertawa makin keras. Ia tahu betul sahabatnya itu sedang melakukan penolakan mati-matian.

"Halah, bohong banget lo!!."

​Dimas menyandarkan punggungnya di sofa, menyilangkan tangan di dada seraya memancing lebih dalam.

"Kalau menurut pandangan gue sih, Luna itu tipe cewek yang makin dilihat makin menggoda. Manis, polos, tapi punya aura yang bikin penasaran."

​Dimas melirik reaksi Moreno dari sudut matanya sebelum meluncurkan umpan pamungkas.

"Gimana kalau gue aja yang coba dekatin dia? Siapa tahu dia mau jadi pacar gue, kan?"

​Klek. Moreno meletakkan gelasnya agak keras di atas meja. ​Rahang Moreno mengeras seketika.

​"Gak boleh," potong Moreno cepat, suaranya terdengar rendah dan menekan.

​Dimas menaikkan sebelah alisnya, menyunggingkan senyum penuh kemenangan.

"Lho? emang kenapa enggak boleh? Katanya lo enggak tertarik sama dia?"

​Moreno menelan ludah, sadar kalau reaksinya barusan terlalu impulsif. Pria itu mengalihkan pandangan dan menjawab sekenanya dengan nada sengit,

"Mana mau Luna sama cowok bentukan kayak lo? Mending lo sadar diri."

​Dimas kembali terkekeh geli melihat Moreno yang berbelit-belit menutupi keposesifannya. "Dasar gengsi langit ke Tujuh," batin Dimas.

Kecurigaannya bahwa Moreno punya keterikatan yang tidak wajar dengan Luna kini makin terbukti.

Merasa makin gerah dan terdesak oleh pertanyaan-pertanyaan Dimas yang menyudutkannya, Moreno akhirnya bangkit berdiri dari sofa. Wajahnya terasa panas akibat bayangan Luna yang terus berputar di kepalanya.

​"Mau ke mana lagi lo?" nyeletuk Dimas menahan tawa.

​Moreno melirik tajam. "Gue mau ke toilet. Kenapa? Lo mau ikut juga?"

​Dimas tersenyum mengejek seraya menepuk paha Moreno.

"Oalah... mau ke toilet toh? Jangan-jangan mau 'bersolo ria' di dalam sambil ngebayangin muka Luna ya, Ren?"

​"Bacot lo, brengsek!" maki Moreno kasar sebelum melangkah pergi meninggalkan VIP lounge dengan kekesalan yang makin membumbung tinggi, sementara Dimas hanya tersenyum geli menikmati penderitaan sahabatnya.

​Di dalam toilet, Moreno memutar kran dan membasuh wajahnya berulang kali dengan air dingin. Ia menatap pantulan dirinya di cermin—napasnya sedikit memburu dan otaknya masih dipenuhi keinginan liar pada gadis itu.

​Setelah menenangkan diri, Moreno melangkah keluar dari toilet untuk kembali ke mejanya. Namun, saat melewati sebuah meja privat di sudut club, langkah kaki Moreno mendadak berhenti.

​Di meja itu, duduk beberapa pria paruh baya yang tampak mapan. Salah satu dari mereka—seorang pria matang berpenampilan klimis dan glamor dengan pakaian branded, jam tangan mewah, serta cerutu di jemarinya—sedang berbicara jumawa pada rekan-rekannya.

​"Coba saja kalau kesepakatan waktu itu enggak batal," ucap pria glamor itu seraya menghembuskan asap cerutu.

"Harusnya sekarang gue udah nikahin anak gadisnya Ryan Damaris. Imbalannya padahal lumayan, gue siap jadi investor utama di perusahaannya. Tapi si Ryan tiba-tiba ngebatalin gitu aja tanpa alasan jelas."

​Teman-temannya tertawa menggoda. "Berarti Bos belum beruntung aja itu mah!"

​Pria itu mendengus terkekeh.

"Padahal gue udah ngebet banget mau jadiin cewek itu istri ketiga gue. Tipe gue banget—cantik, mulus, kelihatan polos..."

​Seketika itu juga, darah Moreno naik sampai ke ubun-ubun. Telinganya terasa panas mendengarkan nama Luna dijadikan bahan fantasi menjijikkan oleh pria paruh baya di hadapannya.

​Tanpa aba-aba, Moreno melangkah mendekat dan langsung mencengkeram erat kerah kemeja mahal pria tersebut, menariknya berdiri hingga tumpah minuman di meja.

​"S-siapa lo?! Berani-beraninya—"

​Bugh!!

​Belum sempat pria itu menyelesaikan kalimatnya, sebuah bogeman mentah yang teramat keras menghantam telak rahang pria glamor itu hingga tersungkur jatuh menabrak meja!

​"Anjing!" maki Moreno dengan mata yang sudah memerah menahan amarah.

"Berani-beraninya lo mau jadiin Luna istri ketiga lo, dasar tua bangka mesum!"

1
tattoo
aku selalu baca.. sampai tamat ya 🌚
Meow: Thank you supportnya🙏
total 1 replies
tattoo
mayan🌚
tattoo
pas.. 🌚 anak kuliahan
tattoo
suka🌚
tattoo
kirimkan visual luna dan reno 🌚🌚🌚
tattoo
lagiii🌚
tattoo
bernada sekali😭
tattoo
novel stuck with you up tidak? kalau up lanjut aku mau baca
Meow: Halo kak terima kasih atas atensinya novel stuck with you akan update 1-2 hari lagi 🙏
total 1 replies
tattoo
masih ori ga lu ren? 🐊
tattoo
jangan kasih ampun! plok2 segera🌚🌚🌚
tattoo
cie 🐊
tattoo
semangat ya.. harus sampai ending☻️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!