"Salah satu kakinya diamputasi setelah ditabrak sebuah mobil 8 tahun silam. Sayangnya, mobil itu kabur, CCTV rusak." Kenan tersenyum getir, seolah hal itu sudah biasa terjadi jika pelakunya orang-orang berduit. "Ada saksi yang mengatakan jika yang menabrak Ilona adalah mobil sport warna merah, tapi..." Ia kembali terkekeh. "Beberapa hari kemudian, kesaksiannya berubah. Entahlah."
Mendengar itu, tubuh Elang seketika mengalami tremor. Jantungnya berdebar kencang, dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Semoga saja ini hanya kebetulan. 8 tahun yang lalu, Elang menabrak seseorang saat dini hari, sepulang dari party kelulusan SMA bersama teman-temannya. Kondisinya setengah mabuk saat itu. Karena takut, di tambah kondisi jalanan yang sepi, ia langsung kabur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Suasana sedikit terasa tegang. Bu Ella yang berdiri di samping Ilona juga gelisah. Sebagai sesama wanita, apalagi sudah banyak makan asam garam kehidupan, ia faham betul arti ekspresi yang ditunjukkan Aida, wanita itu tidak menyukai putrinya.
Bahkan Eliana yang sedang melayani pembeli, sampai tak bisa fokus. Ia takut ada kata-kata ibunya Elang yang nanti menyakiti hati Kakaknya. Jangan sampai hari bahagia ini, rusak gara-gara lidah tak bertulang.
"Taruh aja dulu." Aida mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.
Ilona menaruh bunga tersebut di atas meja, di depan Aida.
"Bisa bayar cashless kan?"
Ilona menggeleng cepat. "Tidak usah, Tante. Toko ini juga milik Elang." Menatap Elang yang terlihat gelisah di samping Mamanya. "Anggap saja, ini hadiah untuk Tante."
Aida tersenyum simpul. "Keluarga atau apapun, tetaplah customer saat membeli sesuatu di toko. Saya cuma mau menyarankan, kalau mau usaha makin maju, bersikaplah profesional."
"I, iya, Tante." Ilona menunduk, menelan ludah susah payah sambil memainkan jemari.
Aida mengambil bunga di atas meja kasir, balik badan lalu pergi begitu saja.
Elang membuang nafas kasar sambil mengusap tengkuk. Jujur, ia tak enak hati pada Ilona dan ibunya atas sikap mamanya. Melihat Mamanya sudah keluar, ia segera meminta maaf. "Maafin Mamaku ya. Gak usah dimasukin hati kata-katanya. Bu, saya minta maaf." Menatap Bu Ella sungkan.
"Yang dikatakan Mama kamu bener kok." Ilona berusaha untuk tetap tersenyum di depan Elang.
Elang keluar, dengan langkah terburu-buru menyusul Mamanya yang sudah masuk ke dalam mobil. Membuka pintu belakang, duduk di samping Mamanya.
Pintu mobil kembali ditutup. Hawa dingin AC terasa sekali, wangi mawar putih dari buket di pangkuan Aida menyebar. Hening cukup lama, dingin.
"Jangan jalan dulu, Pak." Elang memberi tahu supir.
Aida menyentuh kelopak mawar di pangkuannya. "Dia baik-baik saja." Nadanya tenang, tatapannya lurus pada mawar putih. "Dia bisa tersenyum. Bisa menyapa tamu. Bahkan bisa jalan seperti orang normal. Dia punya skill, lihai merangkai bunga. Mama lihat beberapa buket yang di display. Perempuan sekuat itu nggak butuh lagi dikasihani." Menoleh pada Elang.
Elang menghela nafas berat. "Bukan soal dikasihani, Ma."
"Terus apa?" Potong Aida cepat. "Kamu mau nungguin dia tiap hari, takut dia jatuh? Takut dia sedih? Takut dia tak bisa melanjutkan hidup?" Ia menatap kedua mata Elang. "Dia gak butuh kamu. Dia fine, dia bisa jalan. Dia baik-baik saja."
"Mama gak bisa langsung memutuskan seperti itu hanya dengan melihat hari ini."
"Alisya yang tidak baik-baik saja sekarang, Lang. Dia terpuruk setelah kamu putusin. Dia nangis tiap hari. Mama sampai khawatir dia sakit."
Elang tertawa kecil, pahit. "Mama khawatir pada gadis patah hati yang nangis, tapi bisa-bisanya Mama gak khawatir pada gadis yang kehilangan kakinya. Yang putus kuliah, yang bahkan untuk bisa bikin toko gini aja, ia gak ada cukup modal. Mah, Alisya itu cantik, kaya, pendidikan tinggi. Dia memang sedang patah hati sekarang, tapi percayalah, dia akan segera move on."
"Ini bukan hanya soal Alisya atau gadis itu, mana yang lebih menderita, tapi ini soal kamu juga. Kamu itu calon CEO, Elang. Kamu butuh pasangan yang bisa mendampingi kamu di berbagai acara. Wanita yang smart, selevel, juga tidak merepotkan. Setidaknya, tidak harus selalu memakai baju panjang untuk menutupi kaki palsunya. Percaya sama Mama, gak mudah punya pasangan seorang disabilitas."
Elang tertawa ngakak. "Tadi Mama bilang dia baik-baik saja, sekarang Mama mempermasalahkan soal disabilitasnya. Gimana sih, Mah?" Ia tersenyum kecut. "Mah, Ilona memang terlihat baik-baik saja sekarang, tapi apa Mama tahu, ia menjalani masa-masa sulit beberapa tahun yang lalu. Apa menurut Mama, kehilangan kaki itu tidak lebih mengenaskan dari pada kehilangan pacar?"
Aida hanya diam.
"Ilona butuh waktu bertahun-tahun hanya untuk bisa kembali menatap dunia, Mah. Ia butuh waktu lama untuk bisa berhadapan dengan orang yang menatapnya kasihan dan berbisik-bisik soal kondisinya. Dia putus kuliah, dia hampir bunuh diri, dan dia.." Elang menarik nafas dalam, mengurangi sesak di dada sebelum melanjutkan ucapan. "Dia kehilangan mimpinya untuk jadi atlet renang. Mama bilang dia bisa jalan, dia baik-baik saja, tapi Mama gak tahu, dia gak nyaman dengan kaki prostetiknya, Mah." Matanya mulai berkaca-kaca. "Kaki itu kadang membuatnya sakit. Dia juga butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri dengan kaki palsunya. Dia jatuh berkali-kali saat awal mula memakai. Rasanya aneh. Apa Mama fikir, rasanya pakai kaki prostetik, sama seperti rasanya kita pakai sepatu? Enggak gitu, Mah."
Elang menatap keluar, memperhatikan Ilona yang terlihat sedang melayani pembeli yang baru datang. Bagian depan toko hampir full kaca, jadi ia bisa melihat.
"Mama enak, bisa pakai sepatu hak tinggi, bisa pakai rok selutut, sementara dia." Elang tersenyum, namun matanya berkaca-kaca. "Mama bisa bermain di pantai tanpa khawatir, sementara dia, dia harus melepas dulu kakinya, karena takut beberapa bagiannya rusak kena air laut. Dia tak bisa berlarian di bibir pantai, Mah, dia tak bisa mendaki gunung, dia tak bisa..." Elang menyeka air matanya.
"Mama bisa memutuskan dia baik-baik saja hanya dengan melihat kondisinya beberapa saat. Apa Mama gak mikir, saat tidur dia tak memakai kaki prostetiknya. Malam-malam ia terbangun, harus berjalan dengan tongkat untuk ke kamar mandi. Dia melakukan apapun di kamar mandi hanya dengan satu kaki. Apa Mama masih bisa bilang, dia baik-baik saja?" Ia sungguh tak habis fikir, bisa-bisanya Mamanya se nirempati ini."Kaki prostetik itu tidak melekat 24 jam seperti kaki kita, Mah."
Elang membuang nafas kasar, tersenyum menatap Mamanya. "Elang gak tahu lagi harus seperti apa menjelaskan pada Mama. Mungkin, Mama baru bisa berempati, saat hal yang sama terjadi pada aku atau Kak Marsha." Ia membuka pintu, lalu keluar begitu saja.
klo pun elang hrus dipenjara semoga hub elang dan ilona bisa membaik
Pinter kamu Lang, ngedeketin Ilona biar dia jatuh cinta sama kamu padahal kamu sendiri entah mencintai Ilona secara tulus atau karena rasa iba, entahlah.🙄